
Ucapan selamat terus berdatangan dari tamu undangan yang ikut senang kala mengetahui keberadaan Ghazella Arsyad.
Di tengah berjuta kebahagiaan yang dirasakannya, tiba-tiba saja Ayana di hadapkan pada sepasang suami istri. Mereka menatapnya dalam nan lekat layaknya orang tua yang sudah lama tidak bertemu dengan anaknya.
Ayana memandangi ayah dan ibunya yang berada di kedua sisi meminta bantuan. Menyadari permintaan tersebut, Celia dan Aidan pun mengerti.
"Oh, Tuan dan Nyonya Ashraf, selamat datang. Terima kasih sudah memenuhi undangan kami," kata Celia ceria mengalihkan perhatian.
Seketika Lina dan Arshan pun menoleh padanya dan mengembangkan senyum canggung. "Sama-sama, terima kasih sudah memberikan undangan pada kami," balas Celia.
"Tidak masalah, kami memang sengaja mengundang orang-orang terdekat saja untuk memperkenalkan putri kedua kami," lanjut Celia lagi.
Sekilas, Lina menoleh pada Ayana yang tengah mengangkat kedua bibir sempurna. Degup jantungnya meningkat tajam saat bayangan satu setengah tahun lalu hinggap dalam ingatan.
Lina berkeringat dingin menyaksikan menantu kesayangan serta anak dari orang kepercayaannya terbujur kaku dengan kondisi mengenaskan.
Siapa orang di hadapannya ini? Apa benar dia putri keluarga Arsyad? Pikiran Lina berkecamuk.
"Nyonya, Anda tidak apa-apa?"
Suara yang sangat dihapalnya menyapa mengalirkan kristal bening dari pelupuk mata. Celia, Aidan, Danieal, dan Ayana pun kelimpungan.
"Nyo-Nyonya?" panggil Ayana lagi.
Kini perhatian Lina sepenuhnya pada Ayana yang langsung menggenggam kedua tangannya erat. Ia bisa merasakan getaran di tangannya membuat mereka saling pandangan.
"Ayana ... menantuku," kata Lina tanpa sadar dengan suara gemetar.
"Eh? Ma-maaf Nyonya sepertinya Anda salah mengira. Kedua putra Anda pun pernah menyebutkan nama yang sama, tetapi ... saya Ghazella. Ghazella Arsyad, bukan Ayana." Ia menggelengkan kepala beberapa kali meyakinkan wanita paruh baya di hadapannya.
Mendengar itu, Arshan merangkul bahu sang istri menyadarkannya. "Sayang, kamu sudah salah mengira. Saya minta maaf, semenjak menantu kami meninggal satu setengah tahun lalu keluarga kami sudah salah mengenali seseorang," lanjut tuan besar tersebut.
__ADS_1
Ayana tersenyum simpul dan mengangguk sekilas. "Ah begitu rupanya? Apa wanita itu mirip sekali dengan saya? Karena baik Nyonya ataupun kedua putra kalian menyebut saya dengan nama tadi."
"Mirip, sangat-sangat mirip. Apa Anda bisa membayangkan jika di dunia ini ada orang yang benar-benar mirip seratus persen?" Zidan mengambil alih.
Ayana menoleh pada pria jangkung tepat di sebelah Lina. Ia mendengus pelan dan menarik sebelah sudut bibirnya singkat.
"Saya percaya jika di belahan bumi ini kita memiliki kembaran. Apa Anda lupa ada anak kembar yang identik? Bisa saja orang yang mirip dengan kita pun bisa seratus persen sama," kata Ayana tanpa keraguan sedikit pun.
Dalam diam Danieal terkesima dengan keseriusan serta ketegasan yang dimilikinya. Ia sadar hal itu dilakukan Ayana untuk menghapus masa lalu.
Bola mata cokelat susunya bergulir memandangi sang mantan suami dari adik sambungnya ini dalam diam. Ia membaca gerak-gerik Zidan yang berharap wanita di hadapannya adalah sang istri.
"Ah~ penyesalan memang selalu datang terlambat. Apa dia benar-benar menyesal sudah menyia-nyiakan Ayana? Sayang sekali, wanita ini sudah bukan orang yang kalian kenal. Aku tidak bisa membayangkan, apa yang sudah kamu lakukan pada Ayana? Sampai-sampai dia mengalami depresi berkepanjangan hingga trauma."
"Butuh waktu sekitar enam bulan baginya untuk bisa mengontrol diri sendiri. Waktu itu Ayana sering mengamuk dan tidak peduli pada keselamatannya. Bahkan sampai sekarang trauma itu masih ada dan belum sembuh sepenuhnya."
"Lalu ...." Pandangan Danieal pun jatuh ke bawah pada lengan Ayana yang terbungkus gaun. "Dia nekad mau mengakhiri hidupnya. Ya Allah, sesakit apa luka yang diberikan pria ini? Apa rasa cinta itu sudah membutakannya? Penyesalan tidak cukup untuk mengembalikan rasa sakit yang Ayana tanggung. Dia harus menerima ganjaran serta balasan atas apa yang sudah dilakukan," monolog Danieal dalam diam.
Daineal pun sadar dari lamunan panjang dan menatap orang-orang di sekitarnya bergantian. "Ah, iya kenapa, Dek?" tanyanya terkejut.
"Apa yang sedang Mas pikirkan? Dari tadi aku memanggilmu," jelas Ayana.
Dengan kikuk Danieal menggaruk belakang kepalanya seraya tertawa canggung. "Ma-maaf aku tidak fokus, jadi ada apa?" tanyanya balik.
Ayana memutar bola mata bosan, "Antarkan aku menemui tamu yang lain."
"Oh, iya baiklah, ayo." Danieal langsung menggandeng lengan sang adik membuat Zidan maupun Gibran terkejut. "Maaf yah Tuan, Nyonya, saya harus mengantarkan adik manis ini ke para tamu yang lain," candanya.
Ayana tergelak seraya memukul pelan lengan sang kakak. "Mas bisa saja."
Pemandangan tersebut membuat keluarga Arshaf tidak percaya, sampai kedua insan itu pun beranjak dari hadapannya. Dalam diam Zidan menatap kosong pada mereka, dada sebelah kirinya berdenyut nyeri. Ia seolah menyaksikan sang istri tengah bermesraan bersama pria lain.
__ADS_1
Merasakan atmosfer berbeda, Celia dan Aidan pun mengambil alih keadaan. "Mereka memang senang bercanda, sejak kecil Danieal selalu memanjakan adiknya," tutur Aidan membuat atensi mereka kembali padanya.
"Ah, oh begitu yah, sungguh hubungan saudara yang sangat baik," balas Arshan menimpali.
"Tapi kenapa Nyonya dan Tuan baru memperkenalkannya sekarang?" tanya Zidan yang sedari tadi penasaran akan hal tersebut.
Aidan menoleh pada sang istri dan merangkulnya hangat. "Karena selama ini Ghazella menetap di luar negeri. Anak itu memang tidak mau diketahui oleh publik, makanya baru kesampaian sekarang."
Zidan mengangguk mengerti, pandangannya jatuh pada Ayana yang tengah menebar senyum pada tamu undangan.
Banyak wanita paruh baya mengelilinginya menampilkan aura seorang Ayana yang begitu hangat. Entah sadar atau tidak, Zidan ikut mengembangkan senyum.
Gibran yang sedari tadi sudah hengkang dalam pertemuan mereka pun mengikuti arah pandangannya. Seraya menggenggam segelas jus ia turut memperhatikan Ayana.
"Sungguh wanita yang tidak bisa ditebak," gumamnya dalam benak.
Zidan tidak bisa melepaskan pandangan dari Ayana. Ia berjalan beberapa langkah mencoba untuk lebih dekat dengannya.
Ia begitu merindukan sosok sang istri hingga tanpa sadar terus memperhatikan Ayana. "Bahkan kamu memiliki senyum yang sama seperti dia. Ayana ... apa kamu benar-benar orang asing? Ghazella Arsyad, kenapa kamu menggunakan nama itu? Sayang, tidak bisakah kamu melihatku?"
Bersamaan dengan ucapan terakhir dalam benaknya tercetus, Ayana menoleh ke depan hingga membuat tatapan mereka bertemu. Seketika denyut jantung Zidan meningkat tajam.
Ia melebarkan pandangan saat sorot mata itu seperti milik mendiang istrinya. Dalam delusi yang mengalirkan kepelikan, mereka saling tatap satu sama lain.
Musik lembut pun kembali berdengung menemani kenangan yang tercetus dari sorot mata masing-masing. Penyesalan sampai luka menganga menari dalam ingatan.
Baik Ayana maupun Zidan tidak ada satu pun dari mereka mengalihkan pandangan. Pria itu semakin yakin jika sosok di hadapannya merupakan sang istri.
Penyesalan terus menggerogoti sanubari mengantarkan pada sebuah pengharapan. Ia yakin dan sangat yakin jika Ghazella Arsyad adalah Ayana, wanita yang dulu pernah disakitinya begitu kuat.
Ia harap waktu bisa berhenti berputar dan membawanya untuk mengutarakan maaf. Zidan benar-benar menyesal atas apa yang sudah diperbuatnya waktu itu.
__ADS_1