
Kejadian menyakitkan memang tidak semudah membalikan telapak tangan untuk sembuh. Butuh waktu seumur hidup guna melupakan serta mengabaikannya.
Berkali-kali dikhianati, dibohongi, serta disakiti menjadikan Ayana tidak mudah percaya pada kata-kata yang Zidan lontarkan.
Hatinya sudah tertutup oleh rasa sakit yang tidak bisa sembuh dalam waktu dekat. Ia meremas seprei tempat tidur besar itu menyalurkan kepedihan dalam dada.
Lagi dan lagi air mata meluncur begitu deras. Ayana mengusapnya kasar membuat Zidan yang menyaksikan itu pun tertegun.
"Bagaimana bisa aku membuatnya menangis lagi," benaknya cemas.
Napas Ayana seketika semakin berpacu kencang, dadanya naik turun bersamaan keringat dingin bermunculan di pelipisnya.
Sekuat tenaga ia menahan diri untuk tidak memberontak. Namun, lagi dan lagi kejadian masa lalu hinggap membentuk sebuah adegan yang tidak bisa dihentikan.
Ayana meremas sekuat tenaga jari jemarinya hingga menimbulkan ruam merah. Zidan pun tersadar dan seketika bangkit dari duduk.
Suara decitan kursi itu membangunkan amarah Ayana. Ia kembali memberontak, menyibakkan selimut dan turun dari ranjang.
Ia berdiri di sisi lain tempat tidur berseberangan dengan Zidan. Maniknya memerah, sorot matanya menyala-nyala memandangi sang lawan.
"JANGAN PERNAH KAMU MENGGANGGU HIDUPKU LAGI!"
Zidan tersentak mendengar suara teredam penuh luka terlontar dari bibir pucat Ayana. Ia menyaksikan bola mata itu bergulir perlahan ke samping dan secepat kilat sang istri menyambar pecahan kaca yang tertinggal di lantai.
Zidan terbelalak saat menyadari jika Ayana mengarahkannya pada pergelangan tangan sebelah kiri.
"TIDAK!" Zidan berteriak kencang dan berlari sekuat tenaga menerjang tubuh mungil sang istri.
Kejadian itu secepat kilat, bersamaan dengan guntur yang tiba-tiba saja datang saling bersahutan. Kegelapan menguasai dengan air hujan turun dengan sangat deras.
...***...
Langkah demi langkah menelusuri lorong yang sudah bertahun-tahun dirinya lewati. Tapak kaki tertinggal di belakang memperlihatkan noda merah menyala mengikuti ke mana ia pergi.
Sampai tidak lama berselang ia tiba di salah satu pintu bercat putih. Tangan ringkih nya terulur menggenggam handle lalu menariknya ke bawah.
Tanpa diduga pintu itu terbuka dan memperlihatkan lagi kenangan satu setengah tahun lalu. Wajah dingin tanpa ekspresi di dalamnya menatap lekat pemandangan di depan.
Sungguh menggetarkan perasaan, pikirnya saat melihat ruangan tersebut masih sama seperti terakhir kali ia meninggalkannya.
__ADS_1
Kejadian yang ia lakukan di sana meninggalkan jejak tanpa berubah sedikit pun. Ia berjalan masuk dan mendapati satu-satunya lukisan berdiri tegak di tengah-tengah ruangan.
Ia membuka kain penutup dan seketika terpaku pada karyanya yang tertinggal di kediaman itu. Dadanya bergemuruh, mengalirkan rasa sakit tiada akhir.
Ia meremas dada sebelah kiri mencoba mengenyahkan kepedihan. Namun, sekuat apa pun ia berusaha luka itu tidak pernah hilang.
"Bayiku," katanya lirih memandangi potret seorang bayi tengah tertidur di atas awan putih.
Liquid bening meluncur bagaikan aliran sungai yang mengalir deras. Ayana mengusapnya kasar dengan tangan kanan terulur ke depan.
Jari telunjuknya menyentuh permukaan kanvas yang terasa dingin.
"Bayi kecilku," ucapnya lagi. "Bayiku yang malang, maafkan Mamah sayang. Mamah sudah gagal menjadi ibu yang baik untukmu. Mamah tidak bisa menjaga, melindungi, dan membiarkanmu pergi dari perut Mamah."
"Mamah sangat menyayangimu, sayang. Bayiku yang malang, kamu terpaksa harus pergi karena keegoisan ayahmu. Maaf, Mamah benar-benar minta maaf tidak bisa melindungi mu dengan baik." Ayana terus me-racau di depan gambarnya sendiri.
Ditemani linangan air mata Ayana masih berdiri diam di sana. Tanpa mengindahkan rasa sakit di telapak tangannya yang robek, ia terus menyentuh wajah sang bayi dari lukisan itu.
Sedetik kemudian bibirnya melengkung membentuk bulan sabit sempurna. Bak dua orang berbeda, Ayana benar-benar seperti orang lain.
Ia pun tertegun kala memandangi ada tulisan lain di bawah kata-kata yang dirinya bubuhkan.
Kalimat itu membuatnya menyeringai lebar seraya mengepalkan kedua tangan.
...***...
Galeri magnolia kembali terbuka, sang owner yang dari kemarin tanpa ada kabar kini sudah kembali lagi. Tidak ada siapa pun di sana, selain Ayana yang tengah membereskan barang-barang di ruangan sebelah.
Ia meletakan satu lukisan yang baru saja dibawanya dari mansion sang pianis. Senyum pun mengembang kembali di wajah pucat nya.
Ia masih memakai pakaian yang sama dari pesta undangan Presdir Han. Gaun itu sudah robek di beberapa bagian dan juga ada noda merah di sekitarnya.
Bau anyir pun tidak bisa menutupi apa yang sudah terjadi. Ia juga menutupi luka di telapak tangan sebelah kanan hanya dengan perban seadanya.
"Sayang," panggilnya pada gambar seorang bayi.
Tidak lama berselang pintu pun terbuka kasar. Tanpa mengindahkan keberadaannya, Ayana terus menautkan kedua tangan sembari memandang lurus ke depan. Kedua sudut bibinya masih melengkung sempurna dengan makna berbeda.
"Apa yang kamu lakukan pada Zidan?" tanya seseorang yang tiba-tiba saja datang tanpa di undang.
__ADS_1
Ia mencengkram kedua bahu Ayana kencang. Perlahan kedua matanya menatap sosok di hadapannya.
"Kenapa?" tanya lirih.
Seketika Danieal merinding mendengar suara sang adik. Ini pertama kalinya ia melihat Ayana dalam kondisi benar-benar terpuruk.
"A-apa yang kamu lakukan pada Zidan?" ucapnya lagi dengan nada bicara berubah menjadi ketakutan.
Ayana menghempaskan tangan sang kakak dan kembali menatap lukisan buatannya satu setengah tahun lalu. Danieal pun mengikuti arah pandangnya dan seketika tersadar akan sesuatu.
"Astaghfirullah, Ayana," benaknya.
Ia pun memperhatikan kondisi Ayana yang benar-benar jauh dari kesan bersih. Ia juga terkejut kala mendapati perban di tangan kanannya berubah warna menjadi merah menyala.
Ia meraihnya membuat sang empunya terperangah. Ayana menariknya kasar menghempaskan tangan Danieal.
"Apa yang ingin kamu lakukan?" Nada dingin membuat Danieal tercengang.
Ia menyadari jika kondisi Ayana berada di tahap paling buruk. Seketika rasa bersalah bersarang di dada, kala tadi ia langsung menanyakan hal yang seharusnya tidak usah dikatakan dulu.
Ayana menyeringai melihat perubahan air muka sang kakak.
"Kalian sama saja, hanya menilai dari satu sisi. Secara objektif tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. PERGI KAMU DARI SINI! AKU BILANG PERGI!" Ayana berteriak kencang hingga membuat urat-urat di lehernya menonjol, meskipun terhalang hijab.
Danieal gemetaran mendapati kondisi Ayana jauh berbeda dari sebelumnya.
"Te-tenang Ayana, aku tidak bermaksud-"
Ayana menghempaskan lukisan itu pada Danieal, beruntung sang dokter bisa menghindarinya membuat karya itu tergeletak di lantai.
Namun, sayang beribu sayang lukisan yang diberi nama bayi kecilku itu robek tepat di tengah-tengah.
Ayana berteriak histeris menyaksikan pemandangan mengiris perasaan. Ia berjongkok, menyapukan kedua tangan di atasnya hingga darah dari luka yang tidak benar diobati berceceran di sana.
Hal tesebut semakin menjadikan keadaannya tidak karuan. Ayana terus menerus berteriak, menangis, dan meracau tidak jelas.
Danieal yang menyaksikan hal itu dibuat tercengang. Ia takut sekaligus khawatir pada kesehatan mental sang adik. Ia berusaha menenangkan Ayana, tetapi tetap saja gagal.
"Ya Allah, Ayana. Kenapa bisa seperti ini? Bukannya kamu sudah sembuh?" ucapnya membatin.
__ADS_1
Ayana terus menangis memanggil-manggil bayi yang sudah hilang dalam kandungan. Sebagai calon seorang ibu dalam kondisi terpuruk, ia sangat terluka dan kehilangan.