Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 119


__ADS_3

Aroma cendana berkibar menemani sepasang insan yang tengah saling membutuhkan kehadiran satu sama lain.


Sedari tadi mereka terus menerus melakukan penyatuan. Sesekali keduanya saling menjauh untuk meraup pasokan oksigen dan setelah itu pagutan pun kembali terulang.


Begitu seterusnya, lalu tidak lama berselang tangan berurat sang pianis terulur menggapai handle pintu dan membukanya lebar.


Sembari menggendong istrinya, Zidan keluar tanpa melepaskan pagutan tersebut. Ia berjalan di lorong mencapai kamar pribadi mereka.


Beruntung para asisten rumah tangga pada saat malam menjelang, mereka sudah meninggalkan kediaman utama.


Para pekerja itu melipir ke belakang untuk beristirahat. Jadi, tidak ada yang bisa mengganggu ataupun menghalangi keinginan sang tuan muda.


Beberapa saat kemudian, pintu kayu bercat cokelat gelap tertangkap pandangan. Zidan kembali membukanya dan seketika membawa sang istri masuk.


Punggung tegapnya pun bersandar nyaman di balik pintu jati sembari menuntaskan keinginan masing-masing.


Tidak lama berselang, penyatuan keduanya terhenti. Ayana maupun Zidan saling menjauhkan diri dengan dada naik turun mencoba memberikan oksigen ke dalamnya.


Di bawah lampu temaram wajah keduanya merah padam. Bibir mereka pun membengkak seiring penyatuan yang berkali-kali dilakukan.


Sudut mulut mereka pun mengembang mengutarakan kebahagiaan satu sama lain.


"Sayang, apa kamu mau melakukannya?" tanya Zidan lembut dengan keinginan mencuat dalam sorot matanya.


Ayana memalingkan wajah sebentar ke sebelah merasakan jantungnya semakin berdegup kencang. Kata-kata yang tidak pernah ia pikirkan selama ini akan terlontar dari seorang Zidan tercetus jua.


Sedetik kemudian ia kembali menatap pasangannya lagi. Tubuh ramping itu semakin merapat ke badan kekar sang suami.


Ia pun mendekatkan wajah ke samping telinga Zidan.


"Lakukan, apa pun yang ingin Mas lakukan. Aku ... akan melakukan tugas sebagai istri lagi mulai malam ini," ungkap Ayana dengan suara lirih nan lembut.


Mendapatkan lampu hijau Zidan bergegas membawa Ayana ke tempat tidur dan meletakkannya dengan lembut penuh kehati-hatian, layaknya sosok itu sangat rapuh.


Diperlakukan begitu lembut dan perhatian membuat Ayana terus menerus mengembangkan senyum lebar.


"Kamu yakin?" tanya Zidan setelah sang terkasih berada di bawahnya.

__ADS_1


Tanpa ragu Ayana mengangguk mengiyakan membuat sang pianis ikut melengkungkan kedua sudut bibir.


Jari jemari lentik itu mengusap pelan pelipis pujaan hatinya. Kepala bersurai hitam legamnya pun mengangguk beberapa kali.


"Aku mencintaimu," ungkap Zidan kembali.


Mendapatkan pengakuan cinta untuk kesekian kali, membuat Ayana semakin yakin jika pria ini benar-benar tulus.


Ia melihat tatapan mata sang suami begitu mendamba serta ada kilatan cinta di dalamnya. Ayana terus menerus membuka hatinya lagi untuk tetap bersama pria ini.


"Ya Allah, jika memang Mas Zidan jodoh sebenarnya bagi hamba ... maka rahmatilah pernikahan kami dan ... semoga kami bisa bersama selamanya hingga jannah-Mu," benak Ayana sambil mengulurkan tangan ke leher suaminya lagi.


"Apa yang kamu pikirkan, hm? Aku sangat mencintaimu, Ayana ... benar-benar mencintaimu."


Ayana terkesiap kala air mata turun menetes di atas pipinya. Zidan menangis mengungkapkan lagi dan lagi perasaan terdalam.


Manik jelaga Ayana pun melebar melihat betapa tulus dan ikhlas perasaan yang disampaikan Zidan kepadanya.


Ia menarik punggung kekar itu ke dalam pelukan dan dengan lembut mengusapnya berkali-kali.


"Em, aku tahu. Mas sudah mencintaiku, terima kasih banyak," balasnya kemudian.


Di keheningan malam sayup-sayup deru napas keduanya saling bertubrukan. Gerakan demi gerakan melayang di udara mengantarkan kesenangan lain.


Ayana tidak kuasa membendung kebahagiaan dan mengungkapkannya lewat air mata. Kini ia mendengar namanya yang disebut bukan Bella ataupun wanita lain.


Malam yang indah tercatat dalam sejarah kehidupan Ayana, bagaimana keduanya melakukan hubungan malam pengantin sebenarnya.


...***...


Selesai melakukan hal itu mereka pun jatuh terlelap. Zidan membuka mata lagi dan melihat jam masih menunjukkan pukul setengah tiga dini hari.


Bola mata cokelat susunya bergulir memindai seseorang yang tengah tertidur di samping kanan. Bibir merah itu mengembang sempurna menyaksikan wanita yang dulu pernah disia-siakan kembali ke dalam dekapan.


Ia pun membelai lembut anak rambut yang menghalangi dahi lebar sang istri.


"Aku minta maaf ... atas semua kesalahan yang sudah aku perbuat di masa lalu. Aku benar-benar menyesal dan ... terima kasih sudah mau kembali padaku, Ayana," ucap Zidan lirih lalu membubuhkan kecupan mendalam di dahi pasangan halalnya.

__ADS_1


Dalam keheningan ia terus memperhatikan Ayana, hingga tidak lama kemudian kelopak manik itu terbuka membuat pandangan mereka saling bertubrukan.


"Mas tidak tidur?" tanya Ayana serak.


"Aku terbangun," balas Zidan singkat.


Ayana sedikit beranjak dari berbaring lalu meringis pelan kala tubuhnya terasa ngilu setelah aktivitas malam yang tidak terbiasa lagi.


Dengan cekatan Zidan memijit pelan pinggang Ayana. Sang empunya menoleh singkat dan melihat jam masih menunjukkan pukul tiga kurang.


"Mas, apa kamu mau salat tahajud bersamaku?" tawarnya kemudian.


Seketika Zidan bangkit dan memandang lekat pada Ayana.


"Tentu, itu yang ingin aku lakukan bersamamu. Ayo." Zidan langsung membopong tubuh sang istri untuk membersihkan diri masing-masing.


Beberapa menit berlalu, selesai mandi pasangan suami istri itu pun menggelar sajadah bersama. Mereka melaksanakan salat sunnah tahajud bersama-sama.


Ini pertama kalinya Ayana bisa menjadi makmum dari suaminya. Zidan bertugas sebagai imam yang baik membimbing sang istri beribadah kepada Allah.


Meskipun mereka sudah kembali bersama dan Zidan sering mengingatkan Ayana untuk tidak melupakan kewajiban, tetapi dikarenakan kesibukan masing-masing, keduanya tidak sempat salat berjamaah.


Selesai salat mereka duduk di atas sajadah masing-masing. Tangan keduanya menengadah bermunajat kepada Allah.


"Ya Allah, ya Rabb, terima kasih atas segala nikmat yang sudah Kau berikan pada kami. Ya Allah terima kasih sudah menyadarkan hamba dari kesalahan. Terima kasih sudah mengembalikan istri hamba ke dalam dekapan."


"Ya Allah, jadikanlah ruman tangga kami sakinah, mawadah, warrahmah."


"Hamba sangat mencintai istri hamba, jadikanlah pernikahan kami berkah dan menjadi keluarga yang selalu berlandaskan iman kepada-Mu."


"Robbanaa hab lanaa min azwaajinaa wa zurriyyaatinaa qurrota a'yun. Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami). Berikanlah kami keturunan soleh sholehah, ya Allah, aamiin," ucap Zidan.


Seiring doa yang dilontarkan sang suami, air mata Ayana mengalir tak tertahankan. Ia menangis dan menangis mendengar dengan jelas harapan serta keinginan pasangan hidupnya.


Dalam diam ia pun mengaamiinkan doa tersebut. Ia juga menginginkan hal yang sama, meskipun tidak menutup kemungkinan trauma dan ketakutan itu masih melekat dalam jiwa.


Tidak mudah bagi seseorang untuk melupakan masa lalu begitu saja.

__ADS_1


"Ya Allah, sembuhkanlah ketakutan dalam diri hamba. Hamba ingin menjadi istri dan ibu yang terbaik untuk Mas Zidan serta anak-anak kami kelak, hanya kepada-Mu lah hamba berharap ya Rabb," benaknya kemudian.


__ADS_2