
Peristiwa tidak diharapkan harus terjadi sebagaimana benang merah telah mengikatnya. Kejadian demi kejadian terus berdatangan membentuk sebuah kesedihan.
Tidak ada yang bisa luput dari suatu musibah jika takdir sudah berkata demikian. Sabar dan yakin jika hal itu adalah bentuk dari kepedulian Allah.
Dia ingin siapa pun di antara hamba-Nya senantiasa bersabar dan hanya bergantung pada-Nya saja. Tidak ada yang lain selain Dia. Allah, Maha Pengatur Kehidupan dengan sempurna, memberikan kebaikan berupa kebahagiaan selepas perginya kengerian.
Di istana putih, Bening masih berhadapan dengan Bagus. Mereka saling pandang memberikan sorot mata nyalang, penuh kekesalan.
Darah yang menggenang di lantai kayu perlahan mengering menyisakan bau anyir kian menyengat. Bening menutup mata kuat menenangkan diri sendiri setelah apa yang terjadi pada Ayana.
Ia terus berpikir positif jika sang adik akan baik-baik saja.
"Siapa kamu? Apa yang kamu inginkan di sini?"
Suara serak pria tua berdengung dalam pendengaran, Bening membuka kembali kelopaknya memandang Bagus dengan penampilan acak-acakan.
Wajahnya babak belur akibat pukulan-pukulan dilayangkan Zidan beberapa saat lalu. Bening menyeringai, bangga atas karya dari sang pianis.
"Boleh juga, aku tidak tahu Zidan bisa bertarung seperti ini. Bahkan, dia juga menyelamatkanku," benaknya memindai lawan bicara.
Pandangannya pun jatuh ke bawah melihat dua pistol tergeletak di sana. Ia merunduk dan membawa salah satu dari mereka yang ditinggalkan Ayana serta Jasmine.
"Apa Anda tahu? Anda... sudah membuat hidup seseorang- tidak, tiga orang menderita?" ujar Bening seraya memainkan senjata api di tangannya.
Sedetik kemudian kembali beradu pandang dengan orang nomor satu di negaranya. Bagus menautkan kedua alis, sama sekali tidak mengerti apa yang tengah dibicarakan Bening.
"Apa maksudmu? Apa yang sedang kamu oceh kan?" tanyanya langsung.
Wanita berhijab hitam itu tertawa kencang, suaranya bergema di ruangan seraya kepalanya menengadah ke atas.
Bola mata cokelat Bening bergulir menyaksikan beberapa lukisan terpasang di sana. Kedua kaki terbalut sepatu boots pun melangkah perlahan mendekat, memperhatikan salah satu dari gambar terpajang di sana.
"Sungguh... sangat disayangkan, bakat luar biasa putri kesayangan Anda harus berakhir begitu saja. Apa Anda-" Bening berbalik memberikan sorot mata nyalang dan tegas.
Seringaian kembali hadir membuat Bagus mengepalkan tangan kuat, waspada dengan wanita muda di hadapannya ini.
"Apa Anda lupa tiga tahun lalu di Desa X, ada peristiwa mencengangkan terjadi? Putri Anda... Hana Tsubasa dipaksa dibawa pulang, sebab... Anda tidak ingin keberadaannya diketahui siapa pun."
__ADS_1
"Anda seorang ayah predator yang memburu putri kandungnya sendiri. Anda tidak ingin orang lain tahu mengenai Hana Tsubasa. Karena-"
"APA YANG KAMU KATAKAN? APA KAMU MAU MEMBUAT HUBUNGANKU DAN PUTRIKU BURUK, HAH?" Bagus naik pitam dan berteriak kencang, sekencang-kencangnya memotong perkataan Bening.
Lagi dan lagi sebelah sudut bibir sang informan terangkat. Ia melirik ke arah Hana yang tengah menatap sang ayah dengan kedua mata bergetar.
Begitu pula dengan Bagus kembali pada sang putri yang mulai terpengaruh pada perkataan Bening barusan. Kepala bersurai hitam legamnya menggeleng beberapa kali mencoba meyakinkan jika apa yang diucapkan wanita asing itu tidaklah benar.
"Tidak, Sayang. Wanita ini pasti sudah gila. Dia... dia wanita gila yang asal bicara saja. Ayah... Ayah tidak tahu siapa wanita ini. Dia ingin membuat keluarga kita hancur, Sayang!" cerocos nya berusaha meyakinkan.
Mendengar itu Bening tidak kuasa menahan tawa. Suaranya kembali bergema untuk kedua kali seraya memasukan tangan ke dalam saku blazer.
Kedua kaki rampingnya melangkah lagi ke arah Hana. Bagus yang melihatnya pun merasa ketakutan, air muka tegas tanpa keraguan itu membuatnya cemas seketika.
"Apa yang ingin kamu lakukan? Jangan lakukan apa pun pada-"
Ucapan Bagus terhenti saat Bening mengacungkan benda pintar miliknya tepat di depan wajah Hana. Wanita itu mematung dengan kedua mata melebar sempurna.
Perlahan, bibir kemerahannya terbuka dan berusaha mengucapkan kata-kata yang sudah berada di kerongkongan.
"Foto ini diambil dari rekaman CCTV. Jangan terkejut bagaimana aku mendapatkannya... karena inilah hasilnya. Aku bisa mendapatkan kebersamaan kalian hari itu. Jejak digital tidak akan pernah bisa dihapuskan begitu saja," celoteh Bening melirik Bagus yang ikut melebarkan manik keruhnya.
"Foto ini... foto saat aku bersama Ayana di Desa X. Hari itu kami berjanji melukis bersama untuk dipamerkan ketika ulang tahun rumah sakit tiba."
"Namun, belum sempat kami menjalankan janji itu aku... aku-"
"Kamu dipaksa untuk meninggalkan rumah sakit, kan?" sambar Bening membuat Hana mengangguk.
"Hari itu kamu dibawa oleh beberapa anak buah ayahmu. Mereka mengatakan jika kamu akan dipindahkan ke rumah sakit yang lebih bagus, tetapi nyatanya semua itu hanya bohong belaka," lanjut Bening.
Sedari tadi manik cokelat jernih Hana terus menatap pada Bening, seolah berbicara "tolong aku" dan mengiyakan perkataan barusan.
Bening yang menyadari ada sesuatu terjadi mengangguk singkat berusaha tidak diketahui oleh Bagus. Mendengar semua penuturan Hana, informan wanita cantik itu menyadari satu hal jika semua yang terjadi memang telah direncanakan Bagus jauh sebelum tragedi ini terjadi.
"Apa yang kalian berdua bicarakan? Sayang... jauhi wanita itu, dia bisa memberikan pengaruh tidak baik untukmu. Dia-"
"Saya memberikan pengaruh buruk untuk Hana? Lalu, bagaimana dengan Anda? Apa Anda bisa mengelak setelah melihat ini?"
__ADS_1
Bening memperlihatkan satu rekaman dalam ponsel miliknya yang menayangkan Bagus dan beberapa orang di sana.
Rekaman itu diambil tiga tahun lalu tepat sehari setelah Hana dibawa paksa dari rumah sakit. Bagus dan lima orang pria dewasa berada dalam satu ruangan.
Di sana kedap suara dengan penerangan seadanya.
"Apa Anda yakin akan mengurung putri Hana di istana putih?"
"Tentu saja, bagaimanapun keberadaan Hana bisa membuatku kacau."
"Kenapa begitu?"
Suara gebrakan meja terdengar kuat, Bagus menatap nyalang pada orang di hadapannya.
"Karena jika sampai Hana muncul ke permukaan bisa-bisa rahasiaku selama ini terbongkar. Karena kembaran ku Bagas tidak mempunyai seorang anak. Sampai ajalnya tiba dia belum dikaruniai seorang putri pun."
"Tapi Tuan, bukankah putri Anda ingin menjadi seorang pelukis? Apa kita akan-"
"Tentu saja, kita tidak akan memberikan akses apa pun padanya."
"Apa yang-"
"Biarkanlah dia hidup dalam mimpinya saja. Ada seseorang yang begitu ia sukai, kita bisa memanfaatkan wanita ini untuk membuat Hana bertahan."
Celotehan demi celotehan dari rekaman video tersebut membuat Hana tidak percaya. Ia menangis, berlinang air mata, merasakan penuh sesak dalam dada.
Kedua kakinya melemah tidak sanggup menopang berat badannya sendiri. Ia jatuh terduduk dengan liquid bening terus berjatuhan ke lantai.
Mendengar suara berdentum di belakang, Bening menoleh dan mendapati Hana tidak berdaya. Buru-buru ia menghampirinya, memberikan kata-kata semangat.
Bagus pun diam bak patung dengan napas memburu. Bola matanya bergulir ke sana kemari mencari sesuatu agar wanita itu bisa tutup mulut.
Satu pistol yang masih tergeletak tidak jauh dari keberadaannya membuat Bagus berang. Ia langsung menyambarnya dan menodongkan langsung pada Bening.
Suara tembakan pun terdengar, para tamu undangan yang berada di taman bunga berteriak ketakutan. Mereka berkali-kali mendengar suara tembakan yang membuat keadaan semakin mencekam.
Hana terbelalak melihat kejadian terus berdatangan tepat di depan mata kepalanya sendiri.
__ADS_1