Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 44


__ADS_3

Hal pertama yang dipikirkan saat membuka mata adalah rasa syukur kepada Allah. Karena Dia masih memberikan kesempatan hidup untuk terus berubah menjadi lebih baik.


Hidayah yang datang selepas permasalahan pergi merupakan sebuah anugerah tak ternilai.


Hadirnya mampu mengalirkan air mata serta menguatkan dari berbagai macam masalah lagi.


Meskipun istiqamah itu tidak mudah, kadang iman sering naik turun, tetapi jangan pernah meninggalkan salat. Karena salat adalah tiang agama, serta penghubung antara seorang hamba dan juga penciptanya.


Hijaunya sawah ditumbuhi padi, serta birunya langit, menjadi salah satu bukti ciptaan Allah yang luar biasa.


Makna dalam hidup yang masih diberikan agar senantiasa menikmati kekayaan Allah tersebar di alam semesta ini. Namun, jangan pernah lupa dan gelap mata jika kenikmatan yang didapatkan itu berasal dari Allah. Syukuri dengan mengikuti semua yang diperintahkan-Nya dan juga jauhi segala larangan-Nya.


Pemikiran itulah yang saat ini tengah Jasmine Magnolia Mahesa rasakan.


Selepas menyelesaikan salat subuh, ia berdiri tepat di depan jendela memandangi pemandangan yang ada di sana.


Ia terus memikirkan berapa kali nikmat yang Allah berikan atas perginya permasalahan menghadang.


Meskipun berat, meskipun terkadang diri ingin menyerah, tidak sanggup menghadapi semua ujian yang ia pikir tanpa ujung, kini mendapatkan titik akhir.


Allah memberikan hidayah serta orang-orang yang sangat peduli terhadapnya.


Berkali-kali helaan napas terdengar berat. Semua perasaan sesak dalam dada kian datang menerjang.


Bayangan saat jawaban diberikan kepada Danieal kemarin sore kembali singgah.


"Aku... tidak bisa menerimanya. Karena bagiku sekarang ingin fokus menata hidup dan hatiku. Aku terlalu rapuh untuk menerima ungkap cinta tulus darimu." Itulah yang dikatakan Jasmine kemarin.


"Kenapa tiba-tiba saja perasaanku tidak enak? Apa aku salah sudah menolak lamaran mas Danieal kemarin sore? Tetapi, aku tidak tahu... apa keputusan ini benar atau salah."


"Tapi... kenapa aku gelisah?" gumam Jasmine mengusap dada sebelah kiri.


"Ya Allah jika memang itu yang terbaik untuk hamba, maka berikanlah kemudahan." Sebait doa pun tercetus jua dari bibir ranumnya.


Di tempat berbeda, tepatnya di mansion keluarga Zidan, pasangan suami istri itu tengah menikmati asam, manis, sebagai orang tua.


Sedari tadi Ayana terus muntah-muntah tak karuan. Hanya ada cairan yang keluar dari mulut pucatnya. Ditambah kepalanya terus berdenyut semakin membuat keadaan fisik sang pelukis tidak karuan.


"Kamu tidak apa-apa, Sayang?" tanya Zidan siaga berada di samping sang istri.


Ia turut mendampingi setiap kesusahan yang tengah dilalui Ayana.


"Kepalaku pusing sekali, Mas. Mualnya juga semakin membuatku tidak nyaman," kata Ayana memelas.


Zidan langsung membopong sang istri dan membawanya keluar dari kamar mandi.


Ia meletakkan Ayana di atas tempat tidur dan menyelimutinya sebatas dada.

__ADS_1


"Aku buatkan dulu bubur yah," kata Zidan lalu memberikan kecupan hangat di dahi lebarnya.


Ayana mengangguk singkat dan tersenyum lemah.


Selepas kepergian Zidan, pandangannya tertuju ke langit-langit kamar. Kedua mata berkedip-kedip pelan dan tidak lama berselang terdengar helaan napas kasar keluar.


Sebelah tangan mengusap perut ratanya berkali-kali.


"Ya Allah terima kasih atas segala rahmat yang telah Engkau berikan. Semoga kehamilan hamba kali ini bisa lancar sampai buah hati kami lahir dengan selamat ke dunia," gumamnya.


Ia pun beranjak dari berbaring lalu bersandar di kepala ranjang memandang ke perutnya sendiri.


"Sayang, terima kasih sudah hadir di kehidupan Mamah. Semoga kita bisa bertemu yah, Nak. Maafkan Mamah jika nanti ada hal-hal tidak menyenangkan terjadi pada kita. Mamah... masih trauma atas kejadian menimpa kakakmu," racaunya lagi.


"Ya Allah lindungilah kehamilan hamba," lanjut Ayana kembali.


Beberapa saat kemudian Zidan datang membawa se-nampan bubur dan segelas air ke dalam kamar.


Bibirnya menyunggingkan senyum lebar saat pandangan mereka saling bertemu.


Kepulan asap dari atas mangkuk mengepul perlahan. Zidan meletakkan nampan di nakas dan membawa bubur ke dalam genggaman.


"Bubur spesial dari Zidan Ashraf. Semoga kamu suka yah Sayang." Zidan menyendok bubur tadi dan mengarahkannya pada Ayana.


"Bismillahirrahmanirrahim, Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannaar. Aaa~ Sayang," kata Zidan seperti menyuapi anak kecil.


"Aku bukan anak kecil, Mas," kata sang pelukis seraya menerima suapan bubur dari suaminya.


"Em, enak sekali. Sejak kapan Mas pintar memasak?" tanyanya lagi.


Zidan terus menyuapkan bubur buatannya tadi pada sang istri sambil menjawab pertanyaan Ayana.


"Sejak... ditinggalkan olehmu?" Ia terkekeh pelan dan kembali melanjutkan. "Hari-hari yang pernah aku lewati dengan penuh penyesalan padamu, sangatlah berat. Banyak para pelayan yang mengundurkan diri... karena kondisiku tidak stabil. Setelah itu-" Ditengah ceritanya Zidan kembali menyuapi Ayana.


"Aku belajar mandiri sampai memasak juga," jelasnya kemudian.


Lengkungan bulan sabit di wajah cantik pelukis semakin memesona. Zidan gemas dan mencubit pipi kemerahan kekasih hatinya.


Ia memandangi wajah tampan pasangan hidupnya lekat. Ayana tidak pernah menyangka waktu mendebarkan seperti ini terjadi.


Tubuh ramping itu sedikit condong ke depan menangkup kedua rahang sang suami.


"Terima kasih sudah bertahan sampai sejauh ini. Terima kasih... karena mau menemui ku kembali dan tidak menyerah untuk menebus semua kesalahan yang pernah Mas perbuat," ucap Ayana lembut.


Zidan pun tidak kuasa membendung senyum haru mendengar semua perkataan kekasih hatinya.


Ia menggenggam lembut lengan Ayana dan menjauhkan tangannya lalu diberikan kecupan di sana.

__ADS_1


Manik karamel itu terus menatap pada kepala bersurai lembut yang masih bertengger di punggung tangannya.


"Mas." Panggil Ayana kemudian.


Zidan mendongak bertatapan kembali dengan pujaan.


"Aku sangat mencintaimu, Ayana. Aku mencintaimu... Aku sangat mencintaimu." Zidan terus meracau mengucapkan kata-kata cinta.


Ayana mengembangkan senyum manis dan menarik kedua tangan sang suami pelan lalu memeluknya erat.


Wajah tampan Zidan bersandar nyaman di bahu sempit Ayana. Ia pun membalas pelukan itu tak kalah erat mengutarakan perasaan dengan gerakan-gerakan impulsif.


Beberapa hari kemudian, Jasmine meninggalkan apartemen menuju galeri Ayana.


Semalam ia sudah meminta izin untuk memulai bisnis barunya di sana dengan membuat rancangan perhiasan.


Ia juga hendak membuat beberapa karya baru menggunakan batu kristal.


Menerima permintaan tersebut Ayana pun sangat mengizinkan Jasmine untuk menggunakan ruangan galerinya.


Jasmine yang mendapatkan persetujuan itu pun sangat bahagia dan berterima kasih.


Tidak lama berselang taksi yang ditumpanginya sampai di depan toko lukisan Ayana.


Selepas membayar ongkos, Jasmine berjalan mencapai pintu depan.


Suara pintu yang berderit mengejutkan penghuni di dalamnya. Seruni yang tengah membereskan barang-barang di etalase menoleh mendapati Jasmine di sana.


"Apa Ayana sudah memberitahumu? Mulai hari ini aku meminjam ruangan di sebelah mu," jelas Jasmine.


Seruni mengangguk sekilas dan menghadap lawan bicara sepenuhnya.


"Mbak Ayana sudah mengatakannya barusan, Mbak Jasmine langsung ke ruangan saja," balas Seruni ramah.


"Baiklah, terima kasih." Jasmine pun melangkah menuju ruangan samping kasir tempat Seruni melayani pembeli .


Dalam pikirannya Jasmine terus memikirkan kata baru saja yang disebutkan Seruni tadi.


Ia pun segera menepis semua kebingungan itu tidak ingin ambil pusing.


"Mungkin Ayana baru saja memberinya pesan," benak Jasmine sembari melangkah.


Tidak lama setelah itu Jasmine membuka pintu ruangan tersebut dan seketika mematung menyaksikan satu sosok di sana. Ia berbalik seraya menyapanya hangat.


"Kamu sudah datang?" tanyanya.


Jasmine melebarkan pandangan lalu mendekat seraya menutup pintu.

__ADS_1


__ADS_2