
Hari-hari telah berlalu begitu cepat, banyak hal-hal terjadi selama satu bulan belakangan ini. Semua yang terjadi bagaikan mimpi tidak bisa diulang kembali.
Setelah memutuskan untuk vakum lebih dulu dari dunia melukis, Ayana fokus kepada program hamil bersama sang suami.
Banyak yang harus mereka jalani berdua membuat hubungan suami istri itu semakin terjalin erat. Keharmonisan sebagai sepasang pengantin terus mencuat mengikis kenangan pahit dari masa lalu.
Waktu yang mereka lewati memiliki kisah tersendiri bagaimana perjuangan orang tua untuk bisa mendapatkan sang buah hati terasa begitu berat.
Namun, berkat keberadaan Raima kesepian yang dirasakan oleh Ayana maupun Zidan tidak begitu terasa.
Mereka menikmati peran sebagai ayah dan ibu sambil menunggu keputusan. Keduanya juga saling bekerja sama untuk mendapatkan anak kandung sendiri.
Mulai dari berkonsultasi dengan dokter, sampai menjadwalkan hubungan demi hubungan yang semakin menambah keintiman mereka.
Keduanya sudah melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan hal yang diinginkan bersama-sama.
Tepat saat jam menunjukkan pukul satu siang, bel rumah ditekan seseorang. Buru-buru Helena membuka pintu dan mendapati sepasang suami istri yang sangat menawan tersenyum padanya.
"Apa Ayana ada?" tanya salah satu dari mereka.
"Ah, Nyonya-"
"Siapa dia Hele-" Perkataan Ayana terputus saat tamu yang datang menunjukkan batang hidungnya.
Sekejap mata Ayana terbelalak tidak percaya melihat dua orang berada tepat di depan pintu masuk.
"Ya Allah, Mas Ihsan, Moana? Kalian sudah datang? Bukankah rencananya besok, ah kalau begitu silakan masuk." Ayana sibuk meracau dan mempersilakan kedua tamunya ke dalam.
"Helena, bisa kamu siapkan minum dan makanan ringan untuk tamu kita?" pintanya pada sang sahabat dalam diam.
Helena mengangguk dan bergegas pergi ke belakang.
Di ruang tamu itu Ihsan, Moana, dan Ayana duduk saling berhadapan. Mereka berbincang-bincang ringan seputar keseharian yang telah dilewati.
Tidak lama setelah itu Zidan datang sembari menuntun putri kecilnya mendekat. Melihat anak manis dengan balutan hijab membingkai wajah bulatnya membuat perasaan seorang ayah menghangat.
Ihsan bangkit dari duduk lalu berjalan mendekati Raima. Ia sangat ingin memeluk dan memberikan kecupan demi kecupan di wajah cantiknya.
Perpaduan antara ia dan Kirana memberikan pesona luar biasa. Ia tidak menyadari banyak sekali potongan wajah sang mantan berada di malaikat kecilnya.
"Assalamu'alaikum, Sayang," sapanya hangat.
Raima mengerutkan dahi dalam kembali melihat orang asing itu.
__ADS_1
"Siapa?" tanyanya masih kurang jelas.
"Ini Ayah, Sayang. Ayah Ihsan, kamu mau digendong sama Ayah?" tanya Ayana ikut ke dalam pembicaraan.
Namun, bukannya menjawab Raima malah mengulurkan kedua tangan pada sang ibu sambung minta digendong.
"Gendong... pengen gendong," celotehnya cadel.
Ayana tersenyum kaku dan langsung menggendong putri sambungnya lalu kembali duduk di tempat semula.
Ihsan yang sedari tadi jongkok pun beranjak dan juga kembali ke posisi awal. Zidan yang melihat itu menyusul sang istri dan memandangi pasangan di hadapannya.
Ia tahu seperti apa perasaan seorang ayah kala ditolak kedua kali oleh buah hatinya.
"Maafkan, Raima. Mungkin dia masih belum bisa akrab denganmu. Di masih takut dengan orang lain," jelas Zidan kemudian.
"Tidak masalah, kami mengerti. Hari ini rencananya aku dan istri mau membawa Raima menginap di rumah kami."
"Aku dan Moana juga sudah berbicara kepada keluarga besar ingin mengadakan pesta kecil untuk merayakan ulang tahunya, meskipun terlambat... aku ingin memberikan yang terbaik. Kami sepakat untuk membawa Raima hari ini... karena lebih cepat lebih baik agar kami juga bisa akrab dengannya," ungkap Ihsan membuat Ayana dan Zidan saling pandang.
"Aku juga ingin mengenal anak sambung ku lebih baik," lanjut Moana, "meskipun memang tidak mudah harus menerima anak dari wanita lain, tetapi... nasi sudah menjadi bubur, tidak ada yang harus disesali. Aku juga sadar jika seorang anak tidak salah apa-apa," katanya lagi.
Ayana tersenyum senang mendengar ungkapan perasaan seorang istri.
"Aku mengerti apa yang kamu rasakan. Memang benar, seorang anak tidak salah apa-apa, ia hadir ke dunia bukan keinginannya, jika bisa memilih mungkin Raima tidak ingin dilahirkan. Namun, ia memiliki kekuatan yang besar pada akhirnya hadir di tengah-tengah kita," jelas Ayana, membuat Moana maupun Ihsan mengangguk setuju.
"Aku juga mengerti bagaimana rasanya kesepian tanpa kehadiran seorang anak." Ayana dan Moana saling pandang seraya tersenyum, memahami satu sama lain.
"Bisakah aku menggendongnya?" pinta Moana kemudian.
"Sayang, orang di depan kita ini adalah ayah dan ibumu juga. Apa kamu mau digendong oleh Ibu Moana?" tanya Ayana memandang lekat sepasang manik bulan dalam gendongannya.
Raima tidak merespon hanya terus melihat ke arah sang ibu sambung. Menyaksikan hal itu Moana beranjak dari duduk dan berjalan mendekati Ayana.
Melihat kedatangannya, Zidan langsung mengerti dan mempersilakan istri dari wali kota itu menempati tempatnya.
Moana mengangguk singkat dan mengatakan terima kasih.
"Sayang, ini Mamah mu juga, Nak. Mau Mamah gendong?" tanya Moana merentangkan tangan ke hadapan Raima.
Balita itu memandanginya lekat lalu beralih ke manik berlensa karamelnya. Senyum manis yang mengembang di wajah cantik Moana membuat Raima ragu.
Namun, setelah beberapa saat putri kecil itu mau digendong oleh Moana. Menyaksikan hal tadi membuat ketiga orang dewasa di sana tersenyum haru.
__ADS_1
Mereka senang pada akhirnya Raima mau bersama orang tuanya yang lain.
Dirasa sang putri sudah menerima keberadaan ibu tirinya, Ihsan pun berjalan mendekat. Kini giliran Ayana yang beranjak dari duduk membiarkan sang wali kota di sana.
Beberapa saat kemudian, pemandangan menyejukkan jiwa tertangkap pandangan. Ayana dan Zidan berdiri berdampingan menyaksikan drama keluarga tepat di depan mata kepalanya sendiri.
Mereka saling pandang dan tersenyum lebar melihat Raima bisa tertawa bersama ayah kandungnya.
Zidan merangkul hangat bahu sempit Ayana dan terus menonton keluarga kecil itu dalam diam.
...***...
Malam menjelang, setelah mendapatkan hubungan yang mulai terjalin akrab, Ihsan dan Moana benar-benar membawa Raima pulang.
Acara drama kecil-kecilan pun terjadi saat Ayana melepas kepergian putri kecilnya. Sebenarnya ia tidak rela jika harus membiarkan Raima pergi, tetapi ia juga tidak bisa egois begitu saja.
Karena bagaimanapun Ihsan membutuhkan waktu untuk bisa akrab bersama buah hatinya. Meskipun di mata hukum Raima sudah menjadi anaknya dan Zidan, tetapi tetap saja sebagai orang tua kandung, Ihsan mempunyai hak yang sama.
"Lebih baik kamu fokus dulu pada program hamil kalian. Jika sudah ada hasilnya, nanti kita bisa bicarakan lagi masalah Raima," kata Ihsan sebelum meninggalkan pekarangan keluarga Zidan.
Ayana hanya mengangguk paham.
"Baiklah, jaga putriku baik-baik. Kalau dia rewel kalian bisa langsung menghubungiku, dan jika-"
"Tenang saja Ayana, dia berada di rumah ayahnya. Kamu tidak usah khawatir," potong Ihsan membuatnya tersadar.
"Ah, iya kamu benar juga. Kalau begitu sampai jumpa lagi, Sayang." Ayana mengusap puncak kepala putri tercintanya yang tengah terlelap dalam buaian Moana.
"Kamu jangan khawatir, kami akan menjaganya," kata wanita anggun tersebut.
Lagi dan lagi Ayana hanya mengangguk sembari memberikan kecupan selamat tinggal di dahi lebarnya.
Setelah perpisahan singkat itu terjadi, Moana dan Ihsan mulai memasuki mobil dan bergegas pergi dari sana.
Lambaian tangan mengiringi kepergian mereka, Ayana tidak kuasa membendung air mata harus merelakan Raima menginap di rumah ayahnya.
"Tenang saja, putri kita akan baik-baik saja. Jika ada sesuatu Ihsan dan Moana pasti menghubungi kita," kata Zidan menenangkan seraya membawa istrinya ke dalam pelukan.
Ayana mengangguk singkat, entah kenapa perasaannya tidak karuan. Ia merasa ada seseorang yang membawa anaknya pergi begitu saja.
Namun, ia tidak boleh terus terpuruk dan membiarkan orang-orang sekitar khawatir. Ia harus fokus kepada tujuannya dan mendapatkan hasil maksimal.
Agar suatu saat nanti ia bisa bersama Raima lagi dan juga buah hatinya sendiri. Keinginan itu membentuk sebuah harapan dan melambung tinggi dalam sebait doa.
__ADS_1