
Melakoni tugas sebagi seorang ibu dan istri memang tidak mudah dilakukan. Terlebih bagi calon ibu baru seperti Jasmine Magnolia Arsyad.
Di kehamilan yang sudah memasuki ke tujuh bulan, ia dituntut untuk lebih sabar dalam menjalaninya. Mengingat ia yang mengidap penyakit PCOS, merasa ketakutan sendiri, tetapi di balik itu juga ia sangat bahagia.
Tetap saja pikiran selalu dipenuhi dengan berbagai praduga jika bisa saja ia melahirkan secara prematur dan juga bobot bayinya sangat besar. Namun, suami serta kedua mertuanya yang mengerti akan medis berusaha menenangkan.
Maka dari itu Jasmine terus berusaha bertahan untuk keluarga, terutama sang buah hati. Ia ingin melahirkan jabang bayinya dengan selamat ke dunia tanpa halangan serta kendala apa pun.
Dukungan pun terus berdatangan, mulai dari mertua, suami, sampai saudari iparnya. Ayana setiap saat, setiap waktu, memberikan semangat agar Jasmine tidak menyerah pada keadaan.
Seperti yang telah dipilihnya sendiri, selama kurang lebih tujuh tahun ini ia berjuang keras demi malaikat kecilnya. Ia melakukan berbagai rangkaian pengobatan guna menjaga kandungannya untuk tetap terjaga dengan baik.
Ketakutan lain pun sempat membuat Jasmine cemas, ia terus dihantui dengan pikiran bagaimana jika dirinya keguguran? Dan membuat Mas Danieal lebih kecewa?
Hari-hari terus dipenuhi dengan ketakutan yang bisa saja datang dan tidak. Beruntung sang suami dengan setia selalu berada di sisinya dan memberikan kekuatan.
“Mas merasakannya juga? Kali ini anak kita menendangnya keras sekali,” ungkap Jasmine, senang.
Pasangan suami istri itu tengah menikmati waktu sendiri di kamar pribadi. Keduanya duduk di atas tempat tidur seraya menghayati sebagai calon orang tua baru.
Di sampingnya, Danieal mencondongkan tubuh ke perut membuncit sang istri. Ia mendekatkan daun telinga ke permukaannya untuk merasakan serta mendengarkan apa yang sedang buah hatinya lakukan.
“Em, aku merasakannya juga. Anak kita kuat sekali.”
Kepala bersurai hitam legamnya pun mendongak memandangi iris indah sang pujaan.
“Sayang, apa tidak sakit? Anak kita bergerak aktif sekali di dalam,” tanyanya penasaran masih dengan mengelus perut sang kekasih hati.
Jasmine lalu mengusap lembut rahang kekasih hatinya. Bibir ranum itu mengembang sempurna semakin menambah kecantikan ibu hamil satu ini.
“Memang sedikit ngilu, tetapi tidak apa-apa. Aku senang merasakan pergerakan anak kita,” ungkapnya haru.
Mendapati pasangan hidupnya berkaca-kaca, Danieal pun ikut tersenyum lebar. Ia sangat senang, sekaligus bangga terhadap Jasmine.
Meskipun di tengah penyakit yang tengah melanda, tetapi ia mampu kuat serta bersabar akan kehamilannya.
Ia beruntung bisa dipertemukan dengan wanita luar biasa seperti Jasmine. Ia juga sangat bersyukur mereka bisa dipersatukan oleh ikatan suci pernikahan.
Meskipun pada awalnya mereka tidak tahu keberadaan satu sama lain, tetapi benang merah mempertemukan. Jika takdir Allah sudah berbicara maka tidak akan ada yang bisa menolaknya sekeras apa pun berusaha.
Karena Allah tahu kapan seseorang itu hadir, untuk kebaikan hamba-Nya dan takdir pernikahan seseorang tidak bisa ditentukan oleh diri sendiri. Semua sudah ada yang mengatur dan Allah sebaik-baik pemberi rencana terindah.
Di usia kepala tiga, Jasmine maupun Danieal bisa bersanding di pelaminan. Butuh perjuangan, serta jalan tidak mudah yang harus keduanya tempuh.
Di balik kehilangan yang hampir merenggut separuh nyawa, Allah menghadirkan seseorang sebagai pembalut luka, walaupun masa lalu tidak bisa dihapuskan begitu saja, tetapi setidaknya masih ada masa depan.
__ADS_1
Waktu tidak pernah salah memberikan kebahagiaan dan kesenangan bagi pemilik jalan ceritanya masing-masing.
Begitulah yang dirasakan oleh Jasmine maupun Danieal. Mereka yang sama-sama kehilangan orang-orang berharga dipersatukan untuk saling menguatkan.
Jasmine serta Danieal juga beruntung dipertemukan dengan Ayana. Wanita yang hampir merenggut nyawanya sendiri itu pun memberikan pelajaran bagi mereka.
Jika hargailah waktu selagi masih ada, dan manfaatkanlah sebaik-baiknya untuk menggapai ridho sang pemilik kehidupan semata.
“Sayang… jangan terlalu keras yah menendangnya, kasihan Mamah, nak.” Danieal berusaha berkomunikasi dengan sang jabang bayi.
Ia pun memberikan elusan demi elusan pelan di permukaan perut Jasmine. Wanita itu tidak kuasa menahan senyum melihat kelakuan manis pendamping hidupnya.
Ia yang tidak pernah membayangkan akan mendapatkan kehidupan seperti sekarang, sangat bersyukur dan terharu. Ia pikir akan selamanya terkurung dalam sangkar emas menyakitkan.
Tidak lama setelah itu, Danieal memberikan kecupan hangat di sana dan seketika membuat bayinya tenang.
“Anak kita sudah tenang, sepertinya dia mendengar apa yang dikatakan ayahnya,” jelas Jasmine kemudian.
“Benarkah?”
Danieal kembali menegakkan tubuh dan memandangi sepasang jelaga keabuan milik separuh napasnya. Jasmine mengangguk singkat sebagai jawaban.
Dokter tampan itu pun memeluknya hangat sembari memberikan kecupan mendalam di puncak kepala Jasmine.
“Terima kasih, Sayang… terima kasih sudah mau berjuang untuk kita. Aku sangat mencintaimu… kamu wanita hebat, istri luar biasa, dan calon ibu istimewa. Terima kasih,” tutur Danieal, hanyut akan perasaan hangat.
“Terima kasih juga untuk terus bertahan mendampingiku. Aku juga sangat mencintaimu, Mas,” balasnya.
Mereka pun saling berpelukan menikmati momen kebersamaan kian mendebarkan. Jasmine maupun Danieal tidak ada yang tahu di mana takdir mereka berada.
Namun, setelah Allah memberikan masanya maka akan saling bertemu satu sama lain.
Keduanya jadi teringat saat pertama kali bertemu. Pada kala itu Danieal terkejut sang adik membiarkan orang asing berada di galeri.
Ia sangat tidak percaya melihat penampilan Jasmine yang berantakan. Seiring berjalannya waktu ia menjadi dokter pribadi wanita itu untuk menyembuhkan luka fisik maupun batin.
Banyak waktu yang dihabiskan bersama Jasmine menimbulkan benih-benih cinta di hati Danieal. Sampai ia pun memberanikan diri untuk mengungkapkannya dan mendapatkan penolakan.
Ia tidak menyerah begitu saja, dan terus memperjuangkan Jasmine. Siapa sangka jika perjuangannya membuahkan hasil sangat manis.
Jasmine menerima lamaran Danieal dan pada akhirnya mereka bisa bersama. Perjalanan untuk sampai ke titik sekarang tidaklah mudah, dan butuh waktu tidak sebentar.
Bagaikan ombak menerjang batu karang, berkali-kali diterjang pasti akan berubah juga. Sama halnya dengan hati, sekeras apa pun ia menolak, jika melihat perjuangan seseorang maka akan luluh juga.
...***...
__ADS_1
Ayana dan Zidan tengah kelimpungan oleh bayi kembar mereka. Ghazali serta Ghaitsa yang mulai aktif bergerak, merangkak ke sana kemari seraya mengacak-ngacak mainan.
Sebagai orang tua baru, mereka pun bekerja sama dalam memberikan terbaik bagi kedua buah hatinya. Ayana serta Zidan juga tidak menyangka jika Allah memberikan dua bayi sekaligus.
Ayana hanya berharap diberikan kembali keturunan dan anak kembar jauh dari bayangan mereka. Namun, nyatanya Allah mempunyai rencana sendiri.
Maka nikmat mana lagi yang kau dusta kan?
Ayana dan Zidan sama-sama bersyukur atas kelimpahan rahmat yang telah Allah beri pada mereka.
“Sayang, aku sangat senang kita akhirnya bisa mempunyai anak… terlebih Allah memberikan dua sekaligus.”
Zidan memeluk istrinya dari belakang sambil memandangi Ghazali dan Ghaitsa tengah bermain tidak jauh dari keberadaannya.
Ayana melirik sekilas dan mengusap pipinya singkat.
“Iya Alhamdulillah, Mas. Allah sangat baik… teramat baik. Ketika kita mampu bersyukur pada apa yang diberikan maka Allah akan melipat gandakannya, dan ketika kita ditimpa suatu ujian dan bersabar di dalamnya, maka Allah akan memberikan kebaikannya.”
“Kamu benar, Sayang. Seperti dalam surah Al-Insyirah ayat lima dan enam yang artinya… Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudian, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Allah menegaskan di dua ayat tersebut jika ketika kita mampu bersabar maka akan didatangkan keberkahan.”
“Bukankah hal itu sudah sangat jelas?” tutur Zidan panjang lebar.
Ayana terperangah, terharu bukan main mendengar setiap untaian kata dari imam dalam hidupnya.
Ia lalu berbalik dan menggenggam kedua tangan sang pasangan hidup kuat.
“Maa syaa Allah, aku sangat senang mendengarnya. Terima kasih untuk tidak menyerah dalam memperjuangkan ku. Aku benar-benar-“ Ayana menjeda kalimat saat dadanya terasa sesak, kala keharuan kian meluap.
“Aku benar-benar, bersyukur dan sangat bahagia. Terima kasih sudah berubah dan kembali lagi… serta menjadi imam terbaik untuk kami,” ungkap Ayana begitu hanyut dalam perasaan hangat.
Ia sungguh bahagia, sang suami yang dulu menjadi sumber rasa sakit terhebat kini menjadi satu-satunya tempat kebahagiaan berasal.
Zidan menarik tangan Ayana pelan lalu menjatuhkan ciuman mendalam di punggung tangannya. Sang pelukis kembali terperangah dan tanpa sadar air mata jatuh tak tertahankan.
Zidan mengangkat pandangan lagi serta mengembangkan senyum lembut.
“Jangan menangis, aku tidak bisa melihatmu meneteskan air mata,” ucap Zidan lirih.
Ayana menggeleng singkat. “Ini air mata kebahagiaan,” jelasnya.
Zidan begitu terharu dan memberikan ciuman mendalam kedua kalinya di dahi sang pujaan.
Di saat wajah mereka semakin mendekat tiba-tiba saja kedua bayi kembarnya berceloteh.
Mereka lalu menoleh mendapati Ghazali dan Ghaitsa memandangi orang tuanya lekat.
__ADS_1
Ayana serta Zidan pun masing-masing menggendong mereka dan memberikan ciuman bertubi-tubi di wajah lucunya.