
Zidan baru saja menyelesaikan pertunjukan. Ia lalu berjalan turun ke bawah panggung, kepala bulatnya menoleh ke sekitaran mencari keberadaan Ayana.
Entah kenapa ia ingin sekali bertemu, meskipun hanya melihatnya dari kejauhan, itu sudah cukup baginya.
Kedua kaki jenjangnya terus berjalan dan berjalan mencari sosok sang istri. Namun, ia tidak mendapati Ayana di manapun.
Hingga langkahnya harus dihentikan oleh beberapa wanita paruh baya dari kalangan sosialita. Mereka meminta foto bersama membuat Zidan pun melayaninya dengan baik.
Di tengah sesi foto, ia menangkap sosok Danieal yang nampak kelimpungan. Pria ber toxedo silver itu mengusap wajah gusar seperti menghawatirkan sesuatu.
Dengan sopan Zidan undur diri dari wanita-wanita baya itu membuat mereka senang. Selain wajahnya yang rupawan sang pianis mempunyai sopan santun sangat baik, pikirnya.
Ia berlari kecil mendekati Danieal yang berada di samping jendela besar.
"Danieal," panggilnya.
Sang empunya nama menoleh mendapati suami dari adik sambungnya itu mendekat.
"Zidan?" panggilnya balik.
"Di mana Ayana? Di mana dia berada? Izinkan aku melihatnya meskipun harus di-"
"Aku juga tidak tahu dia berada di mana. Apa mungkin kamu tadi melihatnya?" potong Danieal cepat.
Kedua alis Zidan saling bertautan erat, "apa? Ka-kamu tidak tahu di mana Ayana berada? Bukannya tadi kamu menyusul Ayana pergi?"
"Iya tadi memang seperti itu, tapi aku kehilangan jejaknya dan sekarang ... sekarang aku benar-benar kehilangan dia," jelas Danieal cemas.
"Astaghfirullah. Ini sudah lebih dua puluh menit, apa yang sebenarnya terjadi? Ke mana Ayana pergi?" Zidan pun ikut khawatir.
"Aku punya firasat tidak enak saat datang ke sini. Kamu tahu ... banyak sekali lukisan Ayana di sini."
"Aku dengar Presdir Han memang senang sekali mengoleksi lukisan-lukisan mahal. Bahkan dia berani merogoh kocek sangat besar untuk satu lukisan," jelas Zidan kemudian.
"Tapi kenapa hanya lukisan Ayana yang banyak dipajang?" tanya Danieal bingung.
"Apa maksudmu?"
"Tadi, aku tidak sengaja melewati satu ruangan yang di dalamnya banyak sekali lukisan Ayana. Aku tahu, sebab di ujung gambarnya, Ayana selalu membubuhkan insial G. itu, Ghazella," tutur Danieal lagi.
__ADS_1
Bola mata cokelat bening Zidan bergulir ke bawah, menatap marmer sebagai objek pengalihan. Pikirannya melalang buana menyambungkan tali apa yang sebenarnya terjadi.
"Apa jangan-jangan? Kita harus mencari Ayana secepat mungkin. Kita berpencar dan mencarinya di seluruh bangunan ini," usul Zidan yang diangguki oleh Danieal.
...***...
Zidan terus menelusuri bangunan megah itu ke setiap penjuru ruangan. Pintu demi pintu yang tidak habisnya terus dibuka mencari keberadaan Ayana.
Setiap kamar yang dikunjunginya, ia mendapati lukisan sang istri di sana. Ia menyadari karya Ayana kala menangkap insial G di ujung gambar.
Perkataan Daneal tadi semakin membuat ia tidak karuan. Firasatnya mengatakan jika sang pemilik mansion tergila-gila kepada istrinya.
"Sial, apa yang sebenarnya pria tua itu inginkan?" umpat Zidan tanpa sadar, setelahnya ia pun langsung beristighfar dan terus terulang.
Di salah satu ruangan rahasia, sebuah kamar berbentuk segiempat dengan ukuran luas itu pun diisi seorang wanita berhijab tengah terbaring di tempat tidur.
Kelopak mata yang semula tertutup kini terbuka perlahan memperlihatkan netra beningnya lagi. ayana terbelalak mendapati kedua tangan dan kakinya terikat pada ranjang serta mulut di plester.
Ia pun berusaha melepaskan ikatan itu, tetapi usahanya sia-sia belaka. Seketika ia ketakutan sungguh dirinya tidak menyangka akan berada di situasi menegangkan seperti ini.
Ayana tidak tahu di mana dirinya berada sekarang, firasatnya mengatakan jika di sana bukan hanya ia seorang.
Sampai keempatnya berjalan ke depan memperlihatkan diri, lalu membuka formasi mempersilakan seseorang yang berada di belakangnya untuk unjuk gigi. Tidak lama setelah itu, Ayana melihat pria paruh baya tengah tersenyum lebar.
"Selamat malam, cantik. Akhirnya kita bisa bertemu juga." Suara serak nan asing tertangkap pendengaran.
Ayana tidak tahu siapa orang itu dan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala kala pria asing tersebut berjalan mendekat.
Ia lalu duduk di tepi tempat tidur dengan tangan ringkihnya terulur membelai pipi kanan Ayana.
"Jangan menangis, Sayang. Saya tidak akan menyakitimu," katanya lagi.
"Apa kamu tidak tahu siapa saya?" tanyanya kembali.
Ayana menatap lurus padanya dengan manik memerah. Pria paruh baya itu pun kembali tersenyum melihat keringat membanjiri wajah cantiknya.
"Kamu benar-benar sangat cantik. Saya Presdir Han, pemilik mansion ini dan tuan rumah. Terima kasih sudah datang ke pesta kepulangan saya."
"Saya benar-benar bahagia bisa bertemu denganmu langsung, Ayana," ungkapnya kemudian.
__ADS_1
Wajah tua itu mendekat membuat Ayana kembali menggelengkan kepala. Ia yakin seratus persen jika sosok di sampingnya ini adalah orang berbahaya.
"Ya Allah, selamatkan lah hamba. Hamba tidak ingin dilecehkan olehnya, ya Allah lindungilah hamba," racau Ayana dalam benak.
Melihat ketakutan serta kebencian di manik jelaganya, Presdir Han tertawa kencang dan menarik diri lagi. Ia pun kembali membelai pipi mulus Ayana dengan tatapan penuh keinginan.
"Kamu tahu ... selama ini saya sudah mengagumimu. Setahun yang lalu, saya mendapati lukisan bambu yang sangat menarik perhatian. Dari sana saya mulai mencari tahu siapa sosok pelukis di belakang karya menakjubkan tersebut."
"Tidak butuh waktu lama bagi saya untuk mengetahuinya. Saya-" Presdir Han kembali menatap lekat pada Ayana. "Saya tahu jika kamulah si pelukis bambu kehidupan itu."
"Wajahmu yang rupawan, serta tanganmu yang menggerakkan kuas di atas kanvas begitu cantik. Saya jatuh hati padamu, Sayang," katanya lagi.
"Astaghfirullahaladzim, aku tidak pernah tahu jika ada pria seperti ini. Ya Allah lindungilah hamba, ampunilah hamba," benaknya terus berdoa.
Di tengah kelimpungannya, tiba-tiba saja Ayana kembali merasakan sesuatu dalam tubuh terus merengsek. Kejadian beberapa saat lalu datang lagi membuat dirinya bereaksi.
Melihat keadaan Ayana yang seperti itu, Presdir Han menyeringai lebar.
"Kenapa? Apa kamu tidak merasa enak?" tuturnya. "Apa kamu mau saya membantumu untuk melegakannya?"
Ayana semakin menggeleng-gelengkan kepala. Situasinya pun mengundang gelak sang presdir, ia menoleh ke samping meminta barang dari bawahannya.
Pria yang Ayana temui di balkon membuatnya terkejut bukan main. Ia ingat jika pria itu memberinya minuman.
"Apa yang sudah ia masukan ke teh tadi? Ternyata ... ternyata dia kaki tangan Presdir Han?" benaknya lagi.
"Saya akan mempersiapkannya dulu."
Ayana menoleh pada Presdir Han lagi yang tengah menggoyang-goyangkan pelumas di tangannya. Ia semakin berteriak dengan suara teredam.
"Tenang, Sayang. Saya akan membuatmu meraskan kenikmatan malam ini dan ... saya akan menjadikanmu sebagai milik saya seutuhnya," kata Presdir Han sembari menuangkan cairan tadi ke telapak tangan.
Ayana semakin tidak karuan saat pria baya itu naik ke atas kasur dan mendekati dirinya. Air mata tidak bisa dibendung lagi meluncur dengan bebas begitu saja.
Ayana berusaha melepaskan tali yang melilit tangan dan kakinya hingga menimbulkan ruam merah keunguan.
Ia tidak mempedulikan rasa sakitnya dan terus berusaha menarik-narik nya agar bisa terhindari dari keadaan yang tidak diinginkan.
"Ya Allah lindungilah hamba," benaknya membatin.
__ADS_1