
Jika semesta sudah menakdirkan apa pun bisa saja terjadi. Hal yang tidak mungkin menjadi mungkin, dan peristiwa tidak ada menjadi nyata.
Zidan kembali disibukan sebagai pemimpin perusahaan parfum terkenal di negaranya.
Floella perfume, kembali meluncurkan produk baru yaitu wewangian untuk pasangan. Merek milik keluarga tersebut sudah melalang buana ke segala penjuru negeri.
Tidak hanya di dalam, tetapi sudah ke mancanegara. Wanginya yang tahan lama menjadi daya tarik semua kalangan untuk membelinya.
Hari ini perusahaan mengadakan rapat untuk menyambut kedatangan model yang hendak menjadi brand ambassador produk baru tersebut.
Zidan sudah menggenggam dua foto di dalam tangannya yang beberapa hari lalu dikirim oleh Haikal.
"Apa mereka sudah tiba?" tanya Zidan selepas mengadakan rapat.
"Staf yang bertanggungjawab sudah memberitahu jika kedua model sudah tiba," balas Haikal menjelaskan.
Saat ini keduanya dan juga beberapa karyawan berjalan di lorong menuju lantai tiga berada. ZIdan mengangguk menimpali perkataan Haikal lalu bergegas menaiki lift.
Tidak lama kemudian, mereka sampai di lantai yang dimaksudkan. Kaki jenjang sang pemilik perusahaan pun berjalan tegas ke sebuah ruangan tempat pertemuan dengan orang-orang penting.
Pintu kayu jati dibuka oleh kedua karyawannya setelah melihat kedatangan sang bos. Mereka mempersilakan Zidan beserta rombongan masuk ke dalam.
Aroma harum pun seketika merebak menyambut kehadirannya. Aura kharismatik menonjolkan diri seorang Zidan Ashraf yang kini sudah berada di ruangan.
Dua orang model beserta staf-stafnya yang sudah menunggunya di sana pun beranjak dari duduk. Mereka saling memandang satu sama lain dan bersikap ramah.
"Senang bisa bertemu dengan kalian berdua, perkenalkan saya Zidan Ashraf," kata Zidan memperkenalkan diri.
"Ah, senang bertemu dengan Anda Tuan Zidan. Saya Faisal Mahendra," balas pria berjas formal tersebut menyalami tangan Zidan.
"Wah, saya tidak menyangka bisa bertemu dengan Anda. Faisal Mahendra bintang iklan yang sudah ada di mana-mana," pujinya yang membuat Faisal tersenyum lebar.
Ia lalu beralih pada wanita yang berdiri di samping Faisal. Sedari tadi ia terus memperhatikan keduanya dalam diam.
"Saya Kirana Maisa, senang bisa bekerjasama dengan Anda. Saya model baru di bidang ini," ungkap wanita berambut panjang tersebut.
Bola mata Zidan pun bergulir memandangi Kirana yang tengah mengembangkan senyum. Di bawah bibirnya terdapat lekukan kecil yang menjadi daya tarik.
Kesan manis tersemat pada wanita berusia dua puluh sembilan tahun tersebut. Ia mengulurkan tangan ke hadapan Zidan, dan dengan sopan sang pemimpin itu menangkupkannya di depan dada.
__ADS_1
Dengan kikuk Kirana menarik tangannya lagi.
Setelah itu mereka pun duduk berhadap-hadapan membahas pekerjaan.
"Baiklah, mulai hari ini kita akan membicarakan kerjasama. Kalian akan dikontrak sebagai model sekaligus brand ambassador produk parfum baru kami, semoga kita bisa bekerjasama dengan baik," kata Zidan, Kirana dan Faisal saling pandang mengembangkan senyum lebar.
Zidan pun menengadahkan tangan ke asistennya meminta kontrak kerja yang sudah dibuat. Pria itu bergegas memberikannya lalu sang pemilik menyodorkannya ke meja tengah-tengah mereka.
"Kalian bisa membacanya terlebih dahulu," kata Zidan lagi.
Kedua model itu pun membawa kontrak masing-masing kemudian membacanya dengan seksama.
Setelah mendapatkan kesepakatan kedua belah pihak, Kirana maupun Faisal membubuhkan tandatangan di sana.
"Sekarang kalian sudah resmi bergabung di Floella perfume." Zidan kembali menyalami tangan Faisal dan melakukan hal yang sama seperti sebelumnya pada Kirana.
...***...
Gambar demi gambar tengah diambil di studio perusahaan. Semua orang bekerjasama dengan baik dalam pemotretan model terbaru mereka.
Zidan yang sedari tadi mengawasi keduanya pun mengangguk-angguk senang. Kedua celah bibirnya melengkung sempurna sembari melipat tangan.
"Tuan sepertinya sangat senang." Haikal datang membawa dua cup kopi dan menyodorkan salah satunya kepada sang atasan.
"Nanti aku minum sambil duduk," katanya, Haikal hanya mengangguk mengerti. "Aku memang sangat senang. Karena hari ini kita bisa melaunching kan produk baru. Ayah dan mamah pasti terkejut aku memberikan hadiah ini," lanjutnya berbinar-binar, Haikal hanya mengiyakan tanpa bersuara.
"Ngomong-ngomong, dari mana kamu mendapatkan dua model itu? Lihat chemistry mereka bagus sekali, benar wanita itu adalah model baru? Aku rasa tidak." Zidan terus berceloteh masih fokus ke depan memperhatikan kedua model barunya.
"Saya mendapatkannya ... sebab mereka berdua pernah bekerjasama sebelumnya dan ... benar-benar bagus. Terbukti, mereka sangat luar biasa," balas Haikal begitu saja.
Kini giliran Zidan mengangguk mengerti dan keduanya pun mengawasi pemotretan tersebut senang. Di mana produk baru perusahaan Ashraf tengah dikenalkan oleh kedua model di sana.
Jam sudah menunjukkan waktu makan siang, selepas melaksanakan kewajibannya, Zidan kembali ke studio.
Di sana ia melihat Kirana dan Faisal tengah membereskan barang-barang pribadinya. Ia pun berjalan mendekat memberikan ucapan atas kerja keras keduanya tadi.
"Terima kasih kerja kerasnya, spesial hari ini, karena kalian berdua baru bergabung bersama kami ... izinkan saya untuk mengajak kalian makan siang bersama, bagaimana?" tawar Zidan ramah.
Kirana dan Faisal saling pandang, terkejut. Ini pertama kalinya mereka mendapatkan seorang pemimpin perusahaan yang humble, riang, serta humoris.
__ADS_1
Mereka ragu untuk mengiyakan membuat Zidan menautkan kedua alis.
"Tidak usah sungkan, saya memang sering makan bersama para karyawan dan juga rekan kerja," ajaknya lagi.
"Kalau tidak merepotkan Anda, Tuan," balas Kirana mengangguk singkat.
"Baiklah, sekarang kita berangkat. Ada tempat makan enak di dekat sini." Zidan terus berceloteh membangun kedekatan bersama kedua rekan kerja barunya.
Di sepanjang jalan, Zidan terus mengobrol bersama Kirana. Sayang seribu sayang, setelah ketiganya sampai di parkiran bawah tanah, Faisal berpisah dengan mereka. Karena ia mendapatkan panggilan mendadak dari agensinya yang tidak bisa diabaikan.
Mau tidak mau hanya mereka berdua yang makan bersama. Zidan yang awalnya tidak enak hati sebab sudah mengajak Kirana pun melanjutkan tujuan.
"Apa Tuan sudah menikah?" tanya Kirana di tengah jalan.
"Em, aku menikahi seorang pelukis," balasnya bangga.
"Wah, istri Tuan pasti wanita beruntung mendapatkan pria sebaik Tuan," pujinya membuat Zidan hanya mengulas senyum.
Beberapa saat kemudian mereka pun tiba di tujuan. Setelah memarkirkan mobil Zidan membawa Kirana masuk ke dalam tempat makan tersebut.
"Ah, saya minta maaf sebelumnya. Karena untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan, saya mengundang istri saya untuk makan bersama. Apa Anda tidak apa-apa?" tanya Zidan diambang pintu.
Mendengar itu Kirana bernapas lega dan mengangguk semangat. Sedari tadi ia sudah berusaha agar Zidan membatalkan makan siang bersama.
Karena bagaimanapun juga mereka baru saja bertemu dan masih banyak kecanggungan di sekitarnya. Mengetahui jika Zidan mengundang sang istri Kirana mengucap syukur.
...***...
"Apa katamu? Ki-Kirana menjadi model di perusahaan parfum milik Zidan? Apa yang terjadi di sini?" Danieal melepaskan jas dokternya lalu pergi dari ruangan begitu saja selepas mendapatkan informasi dari orang kepercayaannya lewat panggilan telepon.
"Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi. Bagaimana jika sampai Ayana tahu?" gumamnya menjalankan mobil meninggalkan rumah sakit.
Namun, kekhawatirannya harus terwujud, tepat setelah Zidan mengatakan mengundang sang istri dan membawa Kirana masuk mereka bertemu satu sama lain.
Ayana yang sedari tadi sudah menunggu kedatangan suaminya pun terkejut melihat seorang wanita berdiri di belakangnya.
"Sayang, perkenalkan dia model baru perusahaan kami ... Kirana Mahesa." Zidan menoleh ke belakang, "Kirana kenalkan ini istri saya, Ayana Ghazella em ... sebenarnya Ghazella Arsyad," lanjutnya memperkenalkan mereka satu sama lain.
Sampai tidak lama berselang pintu kafe kembali dibuka. Suara lonceng tersebut menarik atensi ketiganya yang memandang ke arah yang sama.
__ADS_1
"Danieal?" Panggil Zidan melihat sang kakak ipar di sana.
Bagaikan benang kusut, Ayana tidak mengerti apa yang dilihatnya saat ini.