
Ayana dan Kirana masih bersitegang, pelukis cantik itu masih tetap dengan senyum manisnya, sedangkan sang model menahan amarah memandang penuh emosi.
Semua orang yang melihat itu, terutama Basima geram seketika. Ia menggebrak meja menarik atensi untuk memudarkan peperangan dalam diam kedua wanita tersebut.
Mereka langsung menatapnya, Ayana mengembangkan senyum manis membuat Basima juga ikut geram.
"Apa yang kalian lakukan? Ayana, apa kamu tidak punya sopan santun? Di sini banyak orang tua, dan sikap seperti itu yang kamu berikan? Memalukan!" sarkasnya.
Ayana menarik tubuhnya lagi dan memudarkan senyum di wajah cantiknya.
"Saya mohon maaf tetua Ashraf yang terhormat. Saya memang bukan lahir dari keluarga penuh aturan seperti kalian, tetapi-" Ayana sengaja menjeda kalimatnya kembali memandangi anggota keluarga lain dan beralih pada Basima lagi.
"Saya tidak pernah bersikap kurang ajar," lanjutnya membuat wanita tua itu melebarkan pandangan.
"Apa maksudmu?"
"Ah, sepertinya penafsiran Anda salah. Maksud saya, seharusnya istri sah yang duduk di sini bukan. Nona Kirana, bisakah Anda berdiri dari sini?" tanya Ayana begitu saja.
Namun, bukan Kirana yang beranjak dari duduk melainkan sang suami, Zidan. Ia menggenggam lengan istrinya kuat seraya memberikan tatapan khawatir.
"Kamu dari mana saja, Sayang? Aku sangat khawatir kamu kenapa-napa," ucap Zidan mengelus pelipis istrinya sayang.
Hal itu pun menjadi pemandangan mengejutkan bagi keluarga lain, termasuk Basima dan Kirana, sedangkan orang tuanya hanya tersenyum senang.
Kirana yang melihat adegan tersebut pun mendengus kasar. Ayana semakin sengaja memperlihatkan kemesraan di sana.
Tidak lama kemudian, Basima pun bangkit menggeser kursinya kuat menimbulkan suara tajam.
Ayana dan Zidan terkejut lalu menoleh ke arahnya yang memperlihatkan ketegasan.
"Ayana, ikut aku!" ajaknya kemudian yang menimbulkan rasa penasaran anggota keluarga lain.
Zidan langsung kembali pada sang istri memperlihatkan lagi tatapan cemas.
"Tidak usah khawatir, aku bisa mengatasinya," balas Ayana mengusap sebelah bahu sang suami pelan dan setelah itu mengikuti ke mana tetua Ashraf pergi.
Dalam diam Zidan terus memperhatikan kepergian pujaan hatinya yang nampak percaya diri di setiap langkahnya.
Bibir menawan itu tersenyum manis dan mendoakan yang terbaik.
__ADS_1
...***...
Sepanjang jalan menuju ruang bawah tanah, Ayana melewati lorong demi lorong bernuansa biru tua. Hawa dingin menyambut kedatangannya menghadirkan bulan sabit muncul di wajah cantik itu.
Sepasang jelaga beningnya terus memandang ke arah sosok di depan di mana kini kelemahannya sudah didapatkan.
Ayana tidak pernah gentar untuk menegakan keadilan bagi orang tuanya. Ia tidak pernah menduga jika wanita tua yang menjadi nenek mertuanya pun melakukan tindakan tak terpuji.
Tidak lama berselang mereka tiba di tempat tujuan. Seraya menuruni beberapa anak tangga Ayana kembali berdiri tepat di depan meja kerja tetua Ashraf.
Sang empunya pun berbalik sedikit mendudukkan diri di atas meja seraya melipat tangan di depan dada menghadap Ayana.
"Apa lagi kali ini?" tanyanya begitu saja.
Ayana menyeringai puas, cahaya yang masuk melalui celah jendela di atas semakin memperjelas.
Keyakinan dalam diri terus merangkak masuk memberikan kekuatan lebih.
"Sepertinya Anda cukup peka terhadap nasib yang hendak datang," kata Ayana membuat Basima menautkan alis.
"Apa lagi kali ini?" tanyanya sekali lagi.
Ayana terkekeh pelan, melepaskan pandangan ke arah lain. Ia cukup puas melihat reaksinya saat ini.
Raut wajah Ayana berubah dingin, kedua kakinya melangkah ke depan seraya memberikan sorot mata tajam.
Sebelah sudut bibir ranumnya menyeringai, Basima yakin jika wanita muda di hadapannya ini memiliki hal lain lagi.
"Pengampunan. Saya ingin Anda meminta maaf kepada keluarga korban atas kejadian dua puluh tahun lalu. Apa Anda akan melakukannya? Ini kesempatan bagi Anda untuk mengajukan banding," kata Ayana, suaranya teredam kuat dan bergema di ruangan.
Mendengar kata-kata yang sama lagi membuat Basima tertawa keras. Wanita berusia hampir tujuh puluhan itu menegakkan tubuh dan melangkah mendekat pada Ayana.
Hingga pada akhirnya kedua wanita berbeda usia itu pun saling berhadap-hadapan dengan jarak sangat dekat.
Mereka saling pandang tidak ingin saling mengalah. Ayana dengan kebenarannya, sedangkan Basima dengan egonya yang begitu tinggi.
Wanita arogan itu mementingkan harga diri untuk tidak merendah serta meminta maaf atas kelakuan yang pernah diperbuatnya.
"Siapa kamu, HAH? Menyuruhku untuk meminta pengampunan? Kamu Tuhan? KAMU UTUSAN TUHAN, HAH?" Basima berteriak sekencang-kencangnya, kedua mata itu memerah seraya melotot pada Ayana.
__ADS_1
Sang pelukis kembali menyeringai menerima respon darinya.
Adegan itu pun didengarkan langsung oleh sang cucu. Zidan yang sangat khawatir mengenai keadaan istrinya, diam-diam mengikuti mereka.
Ia tidak menyangka jika Ayana bisa melakukan hal itu. Di satu sisi ia juga kecewa terhadap neneknya yang tidak mau mengakui kesalahan.
"Apa yang sudah Ayana dapatkan?" gumamnya seraya terus mendekatkan ke ruangan.
Kembali pada Ayana, wanita itu masih memandang lekat sosok Basima yang tengah mengatur napas. Dadanya naik turun berusaha menenangkan diri.
"Anda yakin tidak mau melakukannya?" tanya Ayana kembali. "Saya tanya sekali lagi, Nyonya benar tidak mau melakukannya?" lanjutnya lagi.
"KAU! SAYA TIDAK SUDI MEMINTA MAAF PADA SIAPA PUN. SAYA TIDAK BERSALAH APA PUN. PUAS KAMU, AYANA?" teriaknya menggebu-gebu.
Ayana mendengus kasar seraya mengembangkan senyum. Kepala berhijabnya mengangguk beberapa kali seraya memasukan tangan ke dalam saku denim.
"Baiklah, itu keputusan Anda Nyonya. Jangan pernah menarik kata-kata Anda lagi setelah melihat ini." Ayana pun mengacungkan alat perekam yang sedari tadi merekam pembicaraan mereka.
Di perjalanan ke ruangan itu Ayana sudah memasang alat perekam agar sebagai bukti apa yang hendak disampaikan Basima.
Ayana tersenyum puas mendapatkan hasil yang didapatkannya.
"Saya sudah merekam pembicaraan kita kali ini, jangan sampai Anda menyesalinya lagi. Saya sudah memberikan kesempatan, tetapi Nyonya sendiri yang tidak mau mengambilnya."
"Perlu Anda tahu-" Ayana menjeda kalimatnya lalu mencondongkan tubuh ke depan tepat di samping telinga sang tetua.
"Ihsan Rauf, Anda tahu siapa dia, bukan?"
Setelah mengatakan itu ia kembali menarik diri lagi untuk melihat reaksinya, dan sesuai dengan prediksi, Basima menegang di tempat.
"Ah, benar saya juga ingin memberikan ini pada Anda." Ayana lalu menjulurkan sebuah undangan pada Basima.
"Anda harus datang ke galeri yang akan digelar di gedung seni pusat kota. Kedatangan Anda sangat dibutuhkan di sana, saya mempersiapkan pertunjukan menarik untuk Nyonya. Kalau begitu sampai jumpa lagi, Assalamu'alaikum." Ayana pamit melangkahkan kaki dari hadapan Basima.
Sepeninggalannya, wanita tua itu pun melemparkan undangan tadi ke lantai keras. Seraya berteriak kencang ia berkacak pinggang melihat pintu yang baru saja ditutup.
Basima semakin ketar-ketir setelah mendengar nama Ihsan disebut. Ia menggigit-gigit ibu jarinya kuat memikirkan rencana apa yang harus dilakukan.
Ia pun langsung menyambar ponsel di atas meja menghubungi seseorang.
__ADS_1
"Cari tahu dengan siapa saja Ayana bekerja sama. Jangan sampai terlewat, ini penting. Segera laksanakan!" titahnya pada orang di seberang.
"Wanita itu... sejauh mana dia tahu?" gumamnya ketakutan.