Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 100


__ADS_3

Lantunan azan bergema di ruang bayi di lantai enam rumah sakit. Semua pasang mata yang menyaksikan itu tidak kuasa menahan air mata.


Kesyahduan serta khusyuknya seorang ayah baru yang tengah mengazani buah hatinya memberikan pemandangan penuh makna.


Kristal bening mereka keluar satu persatu tidak sanggup melihat adegan mengharukan tepat di depan mata kepalanya.


Pada akhirnya Zidan setuju dan melantunkan adzan untuk sang buah hati. Sesekali suaranya parau dan bergetar menahan tangis yang kian merunduk dalam dada.


Ia tidak membayangkan berada dalam kondisi seperti itu, tetapi tidak ada siapa pun tahu apa yang akan terjadi besok.


Suasana haru nan tegang tersebut di saksikan oleh kedua orang tua, mertua, ipar, dan juga kerabat terdekat.


Celia, Adnan, Arshan, Lina, Gibran, Bening, Daniel, Jasmine, bahkan Hana pun ikut hadir menyaksikan Zidan mengadzani anak kembarnya.


Kurang lebih sepuluh menit berselang, Zidan selesai dan memberikan kecupan mendalam di kedua dahi mereka.


Bayi-bayi itu menggeliat merasakan sentuhan sang ayah. Setelahnya pianis tampan tersebut menoleh ke belakang mendapati keluarga serta kerabat dekat tengah memandanginya lekat.


Ia tidak kuasa menahan air mata, seketika tumpah ruah kala beradu pandang dengan wanita yang telah melahirkannya ke dunia.


Ia langsung berjalan mendekati sang ibu dan memeluknya erat.


Lina pun membalasnya tak kalah kuat dan memberikan tepukan ringan di punggung kekar sang putra.


"Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja. Ayana pasti akan sadar dan berkumpul lagi bersama kalian, kamu harus sabar, sebab itulah yang istrimu butuhkan. Jangan menyerah dengan keadaan, kamu harus tetap kuat," ucap Lina menenangkan sekaligus memberikan semangat.


Zidan hanya mengangguk pelan di balik punggung ibunya.


Orang-orang sekitar pun memberikan dukungan moril agar Zidan bisa kuat menghadapi kondisi Ayana. Meskipun mereka juga merasakan hal yang sama, tetapi tidak boleh mengungkapkan kesedihan.


Mereka harus menguatkan satu sama lain untuk melewati semuanya.


...***...


Keadaan Ayana pun sampai ke telinga orang-orang yang pernah berhubungan dengannya.


Siang ini di ruangan sang pelukis hadir wanita yang sudah lama hilang dalam pandangan. Seorang madu yang tidak pernah Ayana harapkan kehadirannya kini ada di sana lagi.


Bella Ellena menampakan batang hidungnya lagi setelah sekian tahun berlalu. Ia duduk di sana menghadap Ayana yang masih menutup mata.


Ia terkejut bukan main saat mendapatkan kabar jika mantan madunya itu mengalami koma.


"Assalamu'alaikum, Ayana. Apa kabar? Apa kamu masih mengingatku? Iya ini aku... wanita yang pernah menjadi madu dan juga menyakitimu, Bella."


"Semalam aku mendengar kabar jika pelukis berbakat Ghazella Arsyad Arshan masuk rumah sakit dan mengalami koma pasca melahirkan. Tahukah kamu apa yang sedang aku lakukan di luar negeri?"

__ADS_1


"Aku berusaha memperbaiki diri dan buru-buru pulang ke sini untuk menemui mu. Aku sangat khawatir dan ketakutan."


"Ayana... terima kasih sudah memaafkan ku. Jika bukan karena kesungguhan mu, aku... tidak akan seperti ini. Aku benar-benar ingin mengucapkan terima kasih."


"Untuk itu Ayana bangunlah dan lihat aku," tutur Bella hangat.


"Setelah tahun berganti, aku bertafakur atas kesalahan yang pernah diperbuat. Berkat kesungguhan mu, aku bisa menjemput hidayah."


"Ayana-"


"Siapa kamu?"


Suara baritone dari belakang mengejutkan. Bella mematung di tempat tidak bisa berbuat apa-apa.


Suara itu sudah tidak asing lagi di pendengarannya, ia tidak menyangka bisa secepat ini bisa kembali bertemu dengan mantan suami.


Namun, Bella tidak kuasa untuk berbalik dan memperlihatkan dirinya ada di sana. Sebelum datang ke sana ia sudah mempersiapkan diri jika kemungkinan besar mereka bisa bertemu, tetapi tidak secepat ini, pikirnya.


Sampai suara langkah kaki mendekat secara perlahan, Bella kelimpungan, tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya duduk.


Sampai tidak lama berselang pandangan mereka saling bertubrukan. Sang pianis melebarkan sepasang iris nya sempurna, tidak menyangka melihat wanita itu lagi.


"Siapa dia Zidan? Kenapa kamu terlihat terkejut seperti itu?"


Satu suara yang tidak Bella kenal masuk ke indera pendengaran. Sampai beberapa langkah kaki pun menyusul membuat keberadaannya semakin ketahuan.


Lina dan Gibran menutup mulut menganga, tidak percaya dengan penglihatannya sendiri.


"Be-Bella?" Panggil Lina kemudian.


"Assalamu'alaikum Mah, iya ini aku Bella. Sudah lama kita tidak bertemu, bagaimana kabar kalian?" tanyanya ramah.


"Wa'alaikumsalam," balas yang lain, sedangkan Lina, Gibran, dan Zidan terdiam membisu.


"Lebih baik kita keluar dulu dari sini," ajak Danieal mengingatkan.


Mereka pun setuju dan keluar dari ruangan Ayana membiarkan sang pasien dalam penyembuhan.


Di salah satu ruang inap yang kosong tidak jauh dari kamar sang pelukis, mereka berkumpul bersama di sana.


Danieal melipat tangan di depan dada menghadap sang adik ipar, menuntut sebuah penjelasan.


"Siapa dia sebenarnya? Apa yang dia lakukan di kamar inap Ayana?" tanyanya langsung, penuh curiga.


Melihat kecurigaan di wajah sang dokter, buru-buru Bella mencela dan berjalan mendekatinya.

__ADS_1


"Saya Bella... saya mantan istri kedua Mas Zidan. Mohon maaf, jika keberadaan saya membuat kalian tidak nyaman."


Sontak penjelasannya tersebut mengejutkan mereka yang tidak tahu masa lalu Ayana maupun Zidan sebenarnya.


"Saya hanya ingin menjenguk Ayana saja tanpa bermaksud apa pun, sekaligus... ingin berterima kasih padanya sebab... sudah merubah saya seperti ini," jelas Bella langsung.


Pernyataannya pun membuat Danieal luluh. Kedua tangan yang sedari tadi melipat di depan dada memudar seraya memandangi senyum tulus wanita berhijab di sampingnya.


Gibran dan Lina yang tahu siapa Bella sebelumnya pun terkejut serta tidak menduga akan ada perubahan besar padanya.


"Kamu... sudah berubah?" tanya Lina berjalan mendekat.


Bella menghadap mantan ibu mertuanya lalu tersenyum hangat dan menganggukkan kepala.


"Ini berkat Ayana, Mah," balasnya kemudian.


"Syukurlah, aku senang mendengar dan melihat perubahan Mbak Bella sekarang," timpal Gibran.


Wanita itu berpaling padanya dan memberikan senyum singkat.


Jasmine, Danieal, Bening, serta Hana tidak banyak bicara dan terus menatap pada Bella. Mereka tidak menyangka jika mantan madu Ayana hadir kembali.


Beberapa saat kemudian, Bella pun pamit pulang. Setelah mengatakan alasan kedatangannya ia pun berharap Ayana cepat pulih kembali.


Saat ini ia sedang berada di parkiran rumah sakit dan diantar oleh Zidan. Hubungan keduanya pun memang tidak berakhir dengan baik.


Hal tersebut membuat sang pianis merasa bersalah, terlebih saat mengetahui Bella mengalami kecelakaan hingga membuat kaki dan tangannya patah, bahkan wanita itu tidak bisa bermain piano lagi.


"Terima kasih sudah datang," kata Zidan sesaat Bella hendak membuka pintu mobil.


Wanita itu menoleh kembali ke samping melihat mantan suaminya menunduk ke bawah.


"Tidak usah berterima kasih, aku senang kalian bisa bersama lagi. Aku harap Ayana segara sadar dan bisa berkumpul bersamamu dan buah hati kalian. Kalau begitu aku pergi dulu," kata Bella.


Baru saja ia membuka pintu kendaraannya, Zidan kembali mencela.


"Selama ini... apa yang kamu lakukan?" tanyanya kemudian.


"Aku berada di negara I dan belajar banyak hal di sana. Saat ini aku hanya menjadi pengajar relawan untuk menebus kesalahanku. Karena kamu tahu sendiri terlalu banyak kesalahan yang sudah aku perbuat, padamu dan juga... Ayana."


"Sampaikan rasa terima kasihku padanya. Juga... selamat karena kalian sudah menjadi orang tua sekarang. Aku benar-benar minta maaf atas bayi pertama kalian yang meninggal."


"Semua itu karena kesalahan ku... aku minta maaf," jelas Bella lagi, sangat menyesal.


"Em, tidak usah dipikirkan. Lebih baik kita songsong masa depan dengan menebus kesalahan. Aku harap di manapun kamu berada... bisa mendapatkan kebahagiaan," balas Zidan kembali.

__ADS_1


Bella menganggukkan kepala seraya mengulas senyum singkat dan setelah itu masuk ke mobil. Ia pergi dari sana memberikan kelegaan begitu kuat di dalam hati Zidan.


__ADS_2