Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 91


__ADS_3

Deru napas sering beradu, emosi serta kemarahan menjadi satu menguasai diri.


Ayana terus berusaha menangkis, memukul, menendang, memberikan perlawanan pada beberapa orang pria suruhan Bella maupun Presdir Han.


Beberapa dari mereka berhasil ditumbangkan, Ayana menatap enam pria lagi dengan napas tersengal-sengal.


Keringat bercucuran di pelipisnya, wajah manis itu berubah menjadi ungu kebiruan, darah pun mulai mengering bekas tamparan serta pukulan.


Ayana diam mengatur napas yang memburu membuat dadanya naik turun. Ia berusaha tegar, meskipun tubuhnya sudah tidak biasa diajak kompromi.


Di saat mendapatkan celah untuk kabar, Ayana bergegas berlari dari terjangan orang-orang itu. Presdir Han yang kecolongan pun terbelalak.


Ia langsung menyambar pistol yang sedari tadi tersimpan di pahanya dan mengarahkan pada Ayana.


"Jika saya tidak bisa mendapatkan mu maka lebih baik kamu mati!" geramnya.


Di tengah aksi melarikan diri Ayana menoleh ke samping, menyaksikan pistol itu mengarah padanya. Hingga tidak lama berselang suara tembakan terdengar bergema di sana.


"TIDAK!" teriakan Bella pun terdengar nyaring.


Ayana menutup mata erat dan terkejut kala seseorang memeluknya kuat. Ia tidak merasakan sakit ataupun perih di tubuhnya.


Perlahan ia membuka kelopak matanya lagi lalu mendongak menyaksikan orang tepat di depannya.


"Nakal! Seharusnya kamu menceritakan semuanya padaku."


Sentilan pelan mendarat di dahi lebar itu, Ayana terbelalak melihat pria itu sudah menyelamatkan hidupnya.


"Ke-kenapa? Kenapa Mas Zidan ada di sini?" tanyanya gugup sekaligus takut.


"Karena aku ingin menyelamatkan istriku," balas Zidan hangat.


Ayana semakin tidak karuan. Degup jantung bertalu kencang melihat bibir menawan itu melengkung sempurna.


"Brengsek, apa yang kamu lakukan di sini?" Presdir Han berteriak garang.


Zidan yang menyadari jika anak buahnya mendekat pun seketika menarik pergelangan tangan Ayana.


Mereka berlari sekuat tenaga dan keluar dari bangunan tersebut. Ayana semakin terkejut kala menyaksikan tembakan tadi mengenai dada sebelah kiri sang suami.


"Ka-kamu berdarah, Mas? Kamu berdarah," ujarnya panik di tengah pelarian.

__ADS_1


Zidan menoleh ke belakang masih dengan menampilkan senyum menawan. Ayana menggelengkan kepala perlahan dengan perasaan campur aduk.


"Berhenti kalian!"


Dari arah belakang Presdir Han beserta anak buahnya dan Bella mengejar. Zidan menghentikan langkah lalu memandang pada Ayana.


"Kamu bisa berenang, kan? kita tidak punya pilihan lain."


Setelah mengatakan itu Zidan memeluk Ayana erat lalu melemparkan tubuh keduanya ke laut.


Menyaksikan hal tersebut baik Presdir Han dan Bella terkejut. Mereka berhenti di ujung dermaga melihat dua sosok tadi menghilang di telan air.


"Bodoh, mereka benar-benar tidak takut mati," ucap Presdir Han murka, "kita mundur," lanjutnya menyuruh anak buah untuk pergi dari sana.


Bella masih berdiri mematung seraya pandangan lurus ke bawah. "Kenapa? Kenapa?" Satu kata itu terus tercetus. Salah satu bodyguardnya pun membawa tubuh sang tuan untuk menjauh dari sana.


Arena gedung tempat penyekapan Ayana terjadi berada di tengah-tengah dermaga. Kedua sisinya langsung mengarah ke laut dan untuk melarikan diri membutuhkan kapal sebagai transportasi penyebrangan.


...***...


Suara gelombang laut menyadarkan, Ayana membuka mata melihat sang suami masih memeluknya erat. Ia menahan napas kala di sekelilingnya hanya ada air semata.


Ia ingin menangis sekencang-kencangnya kala mendapati darah terus mengalir dari luka tembakan di tubuh Zidan.


Beberapa saat kemudian tim penyelamat pun datang. Ayana dan Zidan diangkut ke kapal lalu diberi pengobatan pertama.


Ayana tidak mengindahkan diri sendiri dan langsung bergegas mendekati Zidan.


Di tengah-tengah kesadarannya sang pianis menatap sayu pada Ayana. Wanita itu pun tidak kuasa menahan air mata seraya menggenggam tangannya kuat.


"Kenapa? Kenapa Mas melakukan ini untukku? Kenapa?" tanyanya menggebu.


Bibir pucat itu melengkung sempurna. Sebelah tangannya terulur menangkup pipi Ayana hangat.


"Jangan menangis! Aku tidak bisa melihatmu menangis lagi. Ah~ wajah cantikmu penuh luka seperti ini, dasar nakal," kata Zidan lagi.


"Jangan bercanda, Mas. Kenapa kamu terus menerus mengorbankan diri sendiri untuk melindungi ku?" Ayana semakin terisak.


"Karena ... aku sangat mencintaimu."


Setelah mengatakan itu tangan yang bertengger di pipinya terjatuh. Ayana terkesiap memindai wajah Zidan yang semakin pucat.

__ADS_1


"Mas! Mas bangun, Mas! MAS ZIDAN BANGUN!" Ayana berteriak histeris sembari menggoyangkan tubuh kekar sang suami.


"Mbak, sudah Mbak tenang." Ayana menoleh mendapati Gibran, Danieal, Haikal serta Bening di belakangnya.


"Ka-kalian? Kenapa?" cicitnya terkejut.


"Kami datang untuk menyelamatkanmu, Ayana ... tapi, Zidan-" Danieal menghentikan ucapan.


"Mas Zidan, bersikukuh untuk datang paling cepat, seperti yang Mbak ketahui ... Mas Zidan berjalan menggunakan kedua kakinya dan itu sebuah keajaiban," jelas Gibran melanjutkan.


Ayana menyadari sesuatu, jika tadi Zidan datang berlari menerjangnya untuk melindungi dari tembakan. Lalu, sang suami menggenggam tangannya hangat serta menjauh dari kungkungan Presdir Han.


"Be-benar Mas Zidan menggunakan kedua kakinya," balas Ayana lirih.


Mereka mengangguk dan teringat beberapa saat lalu sebelum kejadian ini menghampiri.


Setelah mendapatkan posisi sang istri berada, Zidan langsung mengajak Haikal untuk ke lokasi tersebut.


Baru saja ia keluar dari rumah, Gibran datang mendengar jika keselamatan Ayana tengah berada di ujung tanduk.


Mereka pun bergegas pergi ke tempat yang sudah Danieal kirimkan. Sepanjang jalan Zidan terus meracau agar Haikal melajukan kendaraannya secepat mungkin.


Sadar akan kekesalan sang kakak, Gibran menyuruh sang dokter untuk menepikan mobil. Sedetik kemudian ia menggantikannya dan melajukan kembali dengan kecepatan di atas rata-rata.


Zidan bernapas lega melihat kemampuan sang adik yang menguasai jalanan. Gibran terus menyusul kendaraan demi kendaraan di depan.


Selang satu setengah jam kemudian mereka tiba di tempat tujuan. Zidan dibantu keluar dari mobil dan kembali menduduki kursi roda.


Pemandangan tersebut seketika membuat firasatnya berkeliaran ke mana-mana. Ia bisa mendengar dari arah bangunan yang terletak di tengah-tengah dermaga seperti ada perkelahian.


Entah keberanian dari mana ia bangkit dari kursi roda dan berlari mendekat ke bangunan lantai satu itu.


Danieal yang baru saja tiba bersama Bening terkejut melihat usaha Zidan. Ia mendekati Gibran serta Haikal yang terdiam, shock menyaksikan keajaiban tepat di depan matanya.


"Apa yang kalian lakukan? Ayo cepat susul dia," titah Danieal mengejutkan.


Keduanya lalu tersadar dan bergegas menyusul Zidan. Namun, mereka kecolongan saat ini Zidan sudah berhasil menarik Ayana keluar dan menghilang di lautan.


Seketika itu juga Danieal memerintahkan mereka lagi untuk naik ke kapal yang tersedia di sana. Keempat insan tersebut bergegas mencari keberadaan Ayana dan Zidan untuk segera diselamatkan.


Alhasil beberapa menit kemudian, mereka bisa menemukan pasangan suami istri tersebut. Keduanya diangkut ke kapal dan terkejut melihat keadaan Zidan yang sudah bersimbah darah.

__ADS_1


Mereka bergegas membawa kapal ke daratan. Sepanjang jalan Danieal, Gibran, Haikal, dan Bening melihat Ayana tidak henti-hentinya menangis.


Wanita itu terus memeluk sang suami sembari mengatakan bangun dan maaf bersamaan.


__ADS_2