
Zidan mengedip-ngedipkan mata, heran. Ayana seperti orang lain lagi, pikirnya.
Namun, satu hal yang pasti kata-kata tadi bukanlah sebuah candaan. Ada kebenaran yang tidak Zidan ketahui, tetapi sangat menyakitkan bagi Ayana.
Sebagai seorang suami yang penuh penyesalan terhadap masa lalu, Zidan mengartikan ucapan Ayana tadi layaknya permintaan tolong.
Kedua tangan kekar itu mengepal kuat seraya memandang sang istri sayu. Tanpa mengucapkan sepatah kata, Zidan langsung menerjang tubuh Ayana, memeluknya erat.
Wanita itu pun terkejut bukan main, manik jelaganya melebar merasakan degup jantung pasangan hidupnya bertalu kencang.
"Aku tidak tahu apa yang sudah kamu rencanakan, tetapi... aku akan tetap berada di sampingmu, Ayana. Aku sangat mencintaimu dan... aku tidak pernah menarik kata-kata ini. Apa pun yang akan kamu lakukan, aku pasti mendukungmu," jelas nan tegas.
Ucapan Zidan mengalun, menelisik hingga relung hati terdalam. Ayana terpaku, memandang lurus ke atas menyaksikan langit-langit ruangan.
Kuas yang berada dalam genggaman pun terlepas menghasilkan bunyi nyaring. Zidan yang juga mendengarnya terpaku, ia tahu sang istri tengah terkejut.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi. Aku janji, kamu bisa membuktikannya. Apa pun yang kamu lakukan, aku... pasti mendukungmu, Sayang."
"Aku sudah belajar dari kesalahan, jika kehilanganmu adalah suatu kejadian mengerikan yang pernah aku alami, dan... aku tidak ingin mengulanginya lagi."
"Aku sangat mencintaimu, Sayang," tutur Zidan dari hati terdalam.
Ayana masih diam mendengar setiap untaian kata keluar dari bibir menawan sang suami.
"Izinkan aku menjadi ksatria mu, Ayana," lanjutnya lagi.
Ayana kembali tercengang, pernyataan Zidan menyentuh perasaan.
Kedua tangan rampingnya terangkat membalas pelukan sang suami. Ia meremas jas belakang Zidan erat seraya menangis histeris sekencang-kencangnya berusaha mengenyahkan fakta menyakitkan yang ada.
...***...
Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Hujan mengguyur ibu kota sedari tadi, udara dingin pun memeluk erat menusuk kulit.
Cat minyak berwarna merah pekat mengalir layaknya darah dari korban bekas kekerasan. Namun, nyatanya di studio itu tersisa lukisan kelam yang belum selesai dibuat sang pelukis.
Di salah satu kamar, Zidan tengah memandikan Ayana dengan telaten. Wanita itu duduk di bathtub bermandikan air hangat.
Dengan bulan sabit melengkung sempurna di wajah tampannya, Zidan begitu cekatan membersihkan sang istri.
Ayana diam membiarkan suaminya mengambil alih. Sedari tadi hanya manik cokelat beningnya memindai apa yang dilakukan Zidan.
Uap hangat pun menyebur di kamar mandi menemani kebersamaan. Suara hujan menjadi musik simfoni menemani keduanya.
__ADS_1
Guntur saling bersahutan dengan kilat menyambar berkali-kali.
Beberapa saat kemudian Zidan selesai memandikan Ayana. Ia menggendong istrinya ke kamar utama dan mendudukkannya di tempat tidur.
"Sebentar yah aku ambilkan baju tidur dulu," ucap Zidan lalu bangkit dari bersimpuh di hadapan Ayana.
Namun, sebelum kakinya melangkah Ayana lebih dulu mencengkram pergelangan tangannya kuat.
Zidan berbalik mengulas senyum manis dan kembali berjongkok di depannya.
"Ada apa hm? Apa ada sesuatu yang salah?" tanya Zidan lembut sembari mengembangkan senyum manis.
Ayana menggelengkan kepala dan menerjang tubuh suaminya erat. Zidan terkejut merasakan tubuh istrinya kembali gemetar hebat.
"Aku akan kembali bertarung, apa Mas mau mendukungku?" tanya Ayana kemudian.
Zidan pun melepaskan pelukan seraya menangkup kedua bahu sang istri kuat.
Bibir menawannya melengkung dengan sorot mata hangat penuh keyakinan.
"Jangankan mendukungmu, aku akan menjadi perisai pelindung sebagai tameng yang berdiri paling depan," ungkap Zidan tegas.
Ayana mengulas senyum simpul lalu menyeringai pelan. Ia membawa kedua tangan kekar sang suami dan menggenggamnya kuat.
"Siapa?" tanya balik Zidan penasaran.
Bibir kemerahan Ayana melengkung perlahan membentuk kurva menyiratkan makna.
"Tetua Ashraf, Basima Ashraf." Tegas Ayana tanpa gentar.
Suaranya bergema dalam ruangan mengalun, menelisik indera pendengaran. Zidan terpaku, terdiam mendengar nama sang nenek tercetus dari mulut ranum sang istri.
Ayana yang melihat diamnya sang suami kembali menyeringai. Ia pun merapikan bathrobe lalu beranjak dari duduk dan berjalan beberapa langkah ke depan.
"Dua puluh tahun lalu, orang tuaku meninggal. Alasan kepergian mereka adalah kecelakaan pesawat. Namun, setelah ditelusuri lebih jauh ternyata ayah dan ibu meninggal disebabkan oleh seseorang."
Ayana menjeda kalimatnya, menoleh ke belakang memandang lurus ke arah sang suami.
"Apa Mas tahu siapa dalang di balik peristiwa dua puluh tahun lalu?" Ayana kembali memberikan pertanyaan lain lagi.
Ia berbalik melipat tangan di depan dada seraya mencondongkan tubuh ke depan.
"Basima Ashraf."
__ADS_1
Dua kata melebarkan pandangan Zidan dengan sempurna. Degup jantung bertalu kencang, keringat dingin bermunculan di pelipis, dan tubuh kekar itu bergetar tak karuan.
Zidan beranjak, beradu pandang dengan sang istri tercinta.
"A-apa? Nenek?" tanyanya tidak percaya.
"Apa Mas tidak percaya? Apa Mas berpikir aku memanipulasi cerita?" Geram Ayana melihat suaminya seolah tidak percaya.
"Bukan seperti itu, Sayang. Hanya saja-"
Ayana memotong ucapannya dengan mengangkat sebuah alat perekam yang ia dapatkan dari Bening.
Wanita itu berhasil mendapatkan bukti tersebut dari rekan kerja yang ahli di bidangnya. Meskipun sudah bertahun-tahun berlalu, tetapi jejak digital akan tetap ada sampai kapanpun.
Sedetik kemudian Ayana memutar rekaman yang sama diperdengarkan pada Basima tadi pagi. Ia pun menceritakan semua hal yang dirinya ketahui pada Zidan.
Pria berprofesi sebagai pianis dan pengusaha itu terpaku bak patung selesai dipahat. Manik kelamnya memerah menahan tangis yang tidak bisa ditahan.
Cairan bening itu meluncur cepat di pipi mulus sang pianis.
Zidan menghapusnya kasar lalu mengusap wajah gusar.
"Astaghfirullahaladzim, apa yang sudah nenek lakukan di masa lalu? Jadi, kekayaan ini berkat adanya campur tangan kedua mertuaku? Ya Allah, aku tidak menyangka jika nenek melakukan hal kejam seperti itu." Zidan terus meracau, beristighfar mengetahui fakta mencengangkan mengenai sosok sang nenek.
Ia tidak pernah tahu jika selama ini Basima Ashraf merupakan dalang penghilangan nyawa kedua mertuanya.
Ia terus menangis, meratapi kesalahan sang nenek pada istrinya.
Kedua kakinya melemah, tidak sanggup menopang berat badannya sendiri yang seketika limbung bersimpuh tepat di depan mata Ayana.
Sang pelukis menyaksikan hal itu pun terdiam. Zidan nampak kacau tak karuan, hatinya terasa sakit bagaikan dihunus pedang tak kasat mata berulang kali.
"Jangan menangisi hal yang tidak kamu lakukan."
"Sekarang Mas tahu siapa orang yang akan aku hadapi, bagaimana? Apa masih mau melanjutkan?" tanya Ayana penasaran.
Zidan yang tengah menundukkan kepala seraya terus menangis tak karuan terkesiap. Ia diam beberapa saat tidak langsung membalas pertanyaan Ayana.
Tidak lama kemudian, ia mendongak sembari menghapus jejak air mata di kedua pipi.
Pandangan mereka saling bertubrukan satu sama lain mengalirkan sorot mata berbeda. Atmosfer di sekitar semakin dingin mengalirkan gelenyar tak beraturan.
Guntur yang masih bersahutan memberikan kilat menyambar membuat cahayanya masuk ke dalam kamar membuat suasana semakin mencekam.
__ADS_1
Ditambah seringaian di wajah cantik Ayana memberikan ketegangan pada sekitar.