
Keheningan menjadi teman setia atas pernyataan seorang Jasmine terungkap.
Perasaan sesungguhnya wanita yang terbelit sangkar emas tercetus, meskipun masih dalam bentuk kata-kata berbelit.
Siluet kepedihan terus menerpa menjadikan diri luluh pada rasa sakit semata.
Tidak adanya pengalaman serta tidak ada bimbingan yang diberikan, membingungkan diri Jasmine. Ia tidak tahu harus bagaimana dalam mengekspresikan perasaannya sendiri.
Ia hanya tidak ingin melihat siapa pun terluka olehnya.
Dusta nestapa terus terjadi, melingkar kuat dalam sanubari. Guntur saling bersahutan dalam diam mengalirkan hujan air mata kian deras.
Setiap langkah yang diambil untuk keluar dari ruang inap memberikan pikiran pengap tiada akhir.
Ia merasa bersalah atas kejadian menimpa Ayana dan juga Danieal. Ia benar-benar ingin membalaskan semuanya kepada sang sepupu atas perbuatannya yang telah mencelakai pria itu.
Tidak lama berselang, ia mencapai pintu keluar dan bergegas meninggalkan ruangan.
Tanpa diduga seorang wanita berambut panjang memakai pakaian kasual tengah berdiri di belakang tembok seraya melipat tangan di depan dada.
"Jasmine?"
Panggilan itu pun seketika membuat sang empunya nama tersentak. Ia menoleh ke samping kanan bertatapan langsung dengan wanita itu.
"Apa... Anda memanggil saya?" tanya balik Jasmine dingin.
"Iya, tentu kamu, Jasmine. Bisakah aku berbicara denganmu?" pintanya kemudian.
Jasmine hanya mengangguk dan setelah itu mengikuti ke mana wanita tadi pergi.
Hawa dingin seketika langsung menusuk kulit. Angin berhembus menerbangkan hijab serta surai panjang kedua wanita yang berada di atap rumah sakit.
Wanita tadi sengaja membawa Jasmine ke sana agar bisa berbicara lebih leluasa.
Langit masih memperlihatkan awan gelap. Tidak ada satupun bintang maupun bulan sebagai penghias.
Keadaan alam sekitar semakin mendukung bagaimana pertemuan dua wanita itu berlangsung.
"Apa yang ingin kamu katakan denganku? Kirana?" Panggil Jasmine tanpa menoleh pada wanita di sebelahnya.
Bibir semerah cherry Kirana melengkung sempurna seraya mengangguk beberapa kali.
"Sebenarnya aku ini... mantan tunangan mas Danieal."
Mendengar penjelasan Kirana barusan seketika mengejutkan Jasmine. Ia belum pernah mendengar jika dokter menawan itu menjalin sebuah hubungan dengan seseorang.
Baik Ayana maupun Danieal, keduanya tidak ada yang membahas mengenai wanita bernama Kirana ini.
Namun, Jasmine hanya maklum jika setiap orang mempunyai hal yang tidak perlu diceritakan pada semua orang.
"Pria yang saat ini sedang berbaring di ruang inap tadi adalah sosok baik hati."
"Dia layak disandingkan sebagai calon imam terbaik. Ketika kami menjalin hubungan, mas Danieal selalu mengingatkan pada hal-hal baik."
__ADS_1
"Namun, kebaikannya dinodai olehku. Sekarang, aku bisa melihat ketulusannya diberikan pada wanita lain dan itu... kamu Jasmine."
Untuk kedua kalinya, Jasmine terkesiap dan berusaha untuk tidak terkejut sama sekali.
Ia kembali menunggu apa yang hendak disampaikan Kirana lagi. Ia yakin wanita ini masih mempunyai hal untuk dikatakan.
"Saat aku melihat keberadaan mu di rumah Ayana dan Zidan... kamu tahu? Perhatian Danieal tidak terlepas darimu. Jadi... dia sangat mencintaimu," lanjut Kirana menjelaskan.
Jasmine diam beberapa saat sebelum menghela napas pelan. Ia melirik Kirana singkat dan kembali ke posisi awal.
"Maksud kamu mengatakan semua ini padaku apa?" tanya balik Jasmine.
"Akhirnya kamu buka suara juga. Alasan aku mengatakan semuanya padamu.... karena aku ingin melihat mas Danieal bahagia."
"Akhirnya mas Danieal menemukan cinta sejatinya. Buktinya... dia rela kehilangan nyawa untuk melindungi mu. Karena dia tahu jika anak panah itu ditargetkan padamu. Danieal yang sedang berada tidak jauh dari keberadaan mu langsung berlari menjadi tameng," jelas Kirana lagi.
Kembali, Jasmine bungkam mendengar semua penuturan Kirana. Ia bisa membayangkan bagaimana Danieal melancarkan aksinya.
Seketika bayangan Danieal saat menatapnya sambil tersenyum sebelum hilang kesadaran teringat.
Perasaannya semakin gelisah, dalam diam kedua tangan saling mengepal erat menahan segala hal.
"Terima kasih sudah mengatakannya padaku," jelas Jasmine kemudian.
...***...
Asha melambung ke angkasa lepas. Setiap insan pasti mempunyai mimpi dan cita-cita setinggi langit.
Harapan kian melingkupi sanubari ingin dicapai guna menggenggam suatu keinginan.
Beberapa hari berlalu, waktu yang habis di ranjang rumah sakit hanya ada bekasnya tanpa kenangan.
Hari berganti, masa berputar sebagaimana takdir yang telah dituliskan.
Danieal Arsyad menatap sendu langit-langit ruangan. Tanpa pergerakan berarti, ia diam dengan suara detak jantungnya sendiri.
Selang sepuluh menit kemudian pintu ruangan di geser seseorang.
Raksi yang menyeruak membuatnya sadar jika orang tersebut adalah adik tersayangnya.
"Jasmine... di mana dia sekarang?"
Itulah pertanyaan yang terus berputar dalam pikiran kini tercetus.
Dari semalam Danieal sudah sadar dan terus terpaku pada apa yang ada di hadapannya.
"Hal pertama yang Mas tanyakan setelah sadar adalah keberadaan Jasmine?"
"Aku adikmu loh Mas. Kalau Mas tidak lupa." Ayana melipat tangan di depan dada seraya mendengus pelan.
Bola mata Danieal seketika bergulir ke samping kanan berusaha melebarkan kedua sudut bibir.
"Kamu... adik Mas yang paling berharga. Bagaimana Mas bisa lupa? Tentu tidak, adik Mas yang manis." Tangan berhias selang infus itu mencubit pelan pipi yang mulai berisi sang adik
__ADS_1
Perhatiannya langsung tertuju pada perut sedikit membuncit Ayana.
"Bagaimana keadaan keponakan Mas? Apa dia-"
"Semua baik-baik saja, Mas. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sekarang Mas hanya fokus pada kesembuhan mu saja," jelas Ayana mengusap perutnya pelan.
Danieal mengangguk singkat dan kembali menatap ke depan lagi.
Hening beberapa saat, keduanya bungkam tidak ada yang mengatakan apa pun lagi.
Baik Ayana maupun Danieal, kakak beradik tidak sedarah itu fokus kepada pikirannya masing-masing.
Sampai perkataan dokter menawan itu kembali memecah keheningan.
"Jasmine-"
Mendengar nama itu lagi membuat Ayana terbelalak. Merasakan kegelisahan sang adik, Danieal kembali beralih padanya.
"Apa yang terjadi? Apa sesuatu tengah-"
"Tidak ada, semua baik-baik saja, Mas. Bukankah tadi sudah aku katakan? Untuk saat ini Mas fokus saja pada penyembuhan. Masalah Jasmien-"
"Tidak Ayana, sebelum aku sadarkan diri... aku sempat mendengar perkataannya. Aku tahu dan sadar jika pada saat itu Jasmine duduk di sini," tegas Danieal.
"Apa yang Jasmine katakan waktu itu?" Ayana pun jadi penasaran.
"Dia mengatakan... dia juga punya perasaan yang sama denganku. Juga-"
"Juga apa?" tanya Ayana cepat melihat air muka sang kakak berubah serius.
"Dia bilang... tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti kita. Entah kenapa sejak Mas sadarkan diri... hal pertama yang teringat adalah perkataan itu."
"Firasat Mas mengatakan jika akan terjadi sesuatu yang membahayakan Jasmine. Karena itulah tadi Mas menanyakan keberadaan Jasmine."
"Ayana-" Sekali lagi Danieal menatap pada adik sambungnya.
"Katakan yang sebenarnya ada apa? Mas tahu... saat ini kamu sedang menyembunyikan sesuatu kan?" Danieal terus mendesak Ayana untuk berterus terang.
Baru saja Ayana membuka mulut, pintu ruang inap Danieal terbuka lagi. Atensi keduanya seketika beralih pada seseorang yang berjalan masuk.
Senyum yang mengembang di wajah tampannya seolah memiliki arti lain.
"Mas Zidan."
"Zidan."
Panggil keduanya bersamaan. Sang pianis berjalan cepat menghampiri istri tercinta.
Ia merangkul Ayana sayang dan terus menatap pada kakak iparnya.
"Jasmine, dia baik-baik saja. Kamu tidak usah khawatir berlebihan. Kami juga tidak akan membiarkannya begitu saja. Calon istri mu aman terkendali," jelas Zidan membentuk huruf O menggunakan ibu jari serta jari telunjuknya.
Danieal menghela napas lega dan memalingkan wajah ke posisi awal.
__ADS_1
Dalam diam ia masih memikirkan keberadaan Jasmine. Ia belum tenang sepenuhnya sebelum tahu kebenaran di mana wanita itu berada.