
Kesedihan tersimpan apik dalam bayang-bayang sendu. Kisah akan selalu ada pada setiap perjalanan hidup yang masih berjalan.
Allah akan selalu memberikan kebaikan kepada setiap hamba-Nya yang percaya. Hitam, putih, senang, menangis, baik maupun buruk akan terus hadir sampai waktu yang sudah ditentukan.
Tidak ada yang abadi di dunia ini, semuanya mempunyai masa untuk datang dan pergi. Maka lepaskanlah jika hal tersebut hanya memberikan luka.
Tidak baik jika terus menahan kepedihan yang mana nanti akan meninggalkan kesengsaraan. Biarkan waktu bergulir memberikan kebaikan dengan sendirinya.
Itulah yang tengah Ayana alami saat ini. Ia sudah memutuskan untuk pergi dan tidak kembali kepada masa lalu. Meskipun, masih tetap saja orang-orang pada saat itu terus mendatanginya.
Mulai dari suami, madu, sampai mertuanya, terus hadir silih berganti. Seperti hari ini, Lina dan Arshan mendatanginya. Ia tahu apa yang diinginkan mereka.
"Ayana, tidak bisakah kamu jujur kepada Mamah dan Ayah?"
"Mamah tahu, kamu sudah banyak melewati luka selama ini. Karena Zidan tidak pernah mencintaimu. Bahkan ... bahkan kalian sudah kehilangan jabang bayi, yang ... sengaja dibunuh oleh ayahnya sendiri."
"Mamah ikut berduka ... Mamah dan Ayah sudah tahu kebenarannya. Untuk itu ... Mamah mewakili semua keluarga meminta maaf padamu, Ayana," tutur Lina panjang lebar.
Di bawah meja, Ayana mengepalkan kedua tangan erat. Rasa sesak tiba-tiba saja datang menghampiri secepat cahaya menyambar.
Guntur saling bersahutan mengantarkan kilat menyambar pada relung hati terdalam. Awan kelabu berkumpul memberikan embun mengendap di sepasang manik jelaganya.
Ayana mengulas senyum penuh makna yang kembali memandangi dua orang di hadapannya.
Lina dan Arshan masih memperlihatkan air muka sendu. Mereka bisa membayangkan bagaimana rasa sakit yang pernah Ayana alami dulu.
Berkat keegoisan serta kekejaman sang buah hati, wanita sebaik Ayana bisa mendapatkan luka menganga.
"Mamah tahu sekarang kamu sedang berpura-pura menjadi orang lain untuk melupakan masa lalu. Tidak apa kami mengerti, Mamah dan Ayah hanya-"
"Maaf yah, Tuan dan Nyonya ... saya tidak mengerti apa yang Nyonya katakan barusan. Untuk kesekian kali, saya mendengar orang-orang berkata seperti itu, tetapi ... saya tekankan kepada kalian jika ... saya bukan wanita yang kalian kenal."
"Saya turut prihatin atas apa yang sudah menimpa keluarga kalian. Saya Ghazella Arsyad, bukan Ayana. Saya mohon pengertian Tuan dan Nyonya untuk tidak memojokkan saya sebagai orang yang Anda kenal."
Tegas nan jelas, Ayana menatap mereka dengan penuh keyakinan jika dirinya hanyalah orang asing.
__ADS_1
Ia tidak ada sangkut-pautnya dengan kehidupan pribadi keluarga Arfan. Bagi Ayana semua itu sudah hilang sejak ia pergi malam itu.
"Ayana, tidakkah kamu pikir Ayah dan Mamah akan percaya? Kita sudah hidup bersama enam tahun dan ... kita juga sudah saling mengenal satu sama lain. Ayah harap kamu bersikap jujur pada kami."
"Ayah dan Mamah hanya ingin mengatakan ... kami sangat merindukanmu, Ayana," kata Arshan lugas.
Pria baruh baya itu mengembangkan senyum yang sangat mirip dengan Zidan.
Ayana memudarkan lengkungan bulan sabitnya, kala semua kata-kata mereka memunculkan lagi luka yang mati-matian ia lupakan.
Bagaikan sekejap mata, kejadian kemarin merundungnya cepat.
Ayana menekan kuku ibu jari ke jari telunjuknya kuat sampai merah dan mengeluarkan darah.
Luka itu tidak sebanding dengan rasa sakit yang ia terima enam tahun lamanya.
"Sekali lagi saya mohon pengertian Tuan dan Nyonya untuk tidak mencampuri urusan pribadi. Saya putri kedua keluarga Arsyad, bukan Ayana atau siapa pun. Jika kalian masih bersikeras menganggap saya wanita itu ... dengan segala hormat, tanpa merendahkan Tuan dan Nyonya silakan Anda berdua pergi dari toko saya."
Wajah Ayana semakin berubah masam. Ia tidak sanggup lagi jika harus terus-menerus diingatkan akan masa lalu.
Baginya masa itu sudah mati dan tidak untuk dikenang lagi.
Baru saja ia hendak melangkah perkataan Lina menghentikan cepat.
"Pintu rumah kami akan selalu terbuka untukmu, Ayana. Kapan pun kamu mau, kami akan selalu menunggumu. Karena kamu adalah keluarga kami, Sayang."
Ayana mengepalkan kedua tangan kuat menahan segala gejolak emosi dalam dada.
Ia hendak melangkahkan kaki lagi, tetapi kedatangan sang kakak membuat matanya semakin berembun.
Ia menggelengkan kepala berhijabnya beberapa kali, Danieal yang menyadari jika keadaan sang adik sambung tidak baik-baik saja pun menoleh ke belakang Ayana.
Ia menyimpulkan jika kedua sosok itulah alasan suasana hati Ayana berubah seketika.
Danieal berjalan melewati sang adik lalu menganggukkan kepala singkat kepada Tuan dan Nyonya Arsyad.
__ADS_1
"Terima kasih sebelumnya sudah datang ke toko adik saya. Saya mohon Tuan dan Nyonya tidak menyatakan hal apa pun kepada adik saya. Karena beliau sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja."
"Seperti yang sudah kalian ketahui jika dia-" Danieal menunjuk Ayana yang berada di belakang punggungnya menggunakan ibu jari.
"Dia adalah adik saya Ghazella Arsyad. Kami tidak tahu siapa dan bagaimana wanita yang mirip dengan seseorang yang Anda kenal di masa lalu, tetapi dia-" Danieal merogoh saku denim mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan sebuah pemberitahuan di dalamnya.
"Ini hasil tes DNA antara Ghazella dan orang tua kami. Mereka sama-sama cocok tanpa ada keraguan apa pun. Ini dilakukan umtuk menekankan kalian mengenai keberadaan Ghazella." Lengkap dan lugas, Danieal menjelaskan mengenai Ayana sesungguhnya.
Lina dan Arshan pun menganga tidak percaya. Keduanya menoleh pada Ayana yang tengah menatap nanar mereka.
Tidak kuat terus berhadapan dengan sosok dari masa lalu, Ayana bergegas pergi meninggalkan mereka begitu saja.
Danieal mengulas senyum simpul menyaksikan keduanya dirundung sembilu.
"Saya harap Anda bisa mengerti." Sekali lagi Danieal memberikan senyum ramah dan ikut menyusul Ayana ke sebuah ruangan.
Lina dan Arshan saling pandang kemudian pergi dari sana.
Baru saja menginjakkan kaki keluar toko, langkah mereka terhenti seketika saat menyaksikan sang putra pertama datang.
Mereka saling pandang menyaksikan tanda tanya di dalam mata masing-masing.
"Mamah? Ayah? Sedang apa kalian di sini?" tanya Zidan menatap mereka bergantian.
Sejak mengalami depresi dan halusinasi, hubungan antara Zidan dan kedua orang tuanya berangsur-angsur membaik.
Lina dan Arshan tidak tega menyaksikan anaknya terus-menerus terpuruk atas peninggalan Ayana.
Mereka juga ikut terpukul dan tidak menyangka menantu sebaik itu bisa meninggal dengan cepat.
Namun, seiring berjalan waktu sosok yang mirip dengan mendiang Ayana tiba-tiba saja datang. Mereka meyakini jika Ghazella Arsyad adalah orang dari masa lalunya.
"Bisa kita bicara?" Pinta sang ibu.
Zidan hanya mengangguk patuh dan mengikuti ke mana orang tuanya pergi.
__ADS_1
Mereka pun duduk bersama di dalam mobil dengan keheningan melanda. Hanya kehampaan yang menemani kebersamaan ketiganya.
Zidan tahu apa yang hendak dikatakan ayah dan ibunya, sudah pasti mengenai keberadaan Ghazella Arsyad.