Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 4 CHAPTER 11


__ADS_3

"Apa ini berhubungan dengan anak?"


Pertanyaan sang adik mengejutkannya. Danieal yang sedari tadi menjatuhkan pandangan ke atas meja pun mengangkat kepalanya lagi.


Masalah tengah menghadang dirinya dan Jasmine saat ini. Ujian mengenai anak memang tidak mudah untuk dihadapi.


Pertanyaan tersebut begitu sensitif juga memberikan pukulan telak tiada akhir. Semuanya tercipta bagaikan menelan kepedihan kian merundung.


Keseriusan serta ketegasan di wajah wanita di hadapannya membuat dokter tampan itu bungkam. Sedetik kemudian kepala bulatnya mengangguk singkat.


Ayana menghela napas pelan dan memberikan tatapan serius.


Ia lalu menyandarkan punggung ke kursi sembari mengetuk-ngetukkan jari telunjuk di atas meja. Manik karamelnya memperhatikan bungkusan makanan yang telah kosong tergeletak di hadapannya.


Semua makanan itu sudah habis dilahap oleh ibu yang tengah menyusui tersebut.


Ingatannya berputar pada saat ia berbicara dengan Jasmine. Ia sadar dan menduga jika ada sesuatu yang kakak iparnya sembunyikan.


Karena selama ini Jasmine tidak pernah memperlihatkan raut kecewa. Saat pertama kali ia menemukannya di galeri pun, sang pemahat terlihat begitu terluka, tetapi kali ini sangat berbeda dan amat tak berdaya.


Seolah ada hal yang tidak bisa Jasmine bagikan pada siapa pun, air mukanya berbicara demikian. Namun, Ayana tidak tahu apa yang terjadi padanya dan hanya bisa menduga-duga.


"Apa Mas menyalahkan Jas-"


"Dia mengatakan belum siap punya anak. Jasmine-"


"APA? Be-benarkah Jasmine berkata seperti itu?"


Ayana menyerobot kata-kata sang kakak, Danieal kembali mengiyakan tanpa mengatakan apa pun.


"Bagaimana bisa? Bagaimana bisa Jasmine belum siap punya anak? Bukankah dia sangat senang saat bermain dengan Ghazali dan Ghaitsa?" racau Ayana, menyapukan pandangan ke bawah dengan suara pelan.


Kata-kata adik sambungnya ini masih bisa tertangkap pendengaran, Danieal memperhatikannya dalam diam.


"Itulah yang dia katakan. Aku juga sempat mengatakan jika dia mungkin tidak ingin anak dariku, mengingat usia kami tidak lagi muda. Apalagi coba kalau tidak ingin anak dariku?" cerocos Danieal lagi berusaha membela diri dan menahan kepedihan.


Untuk kedua kali, Ayana dibuat terkejut dengan ungkapan kakaknya. Kepala berhijab itu kembali terangkat dan beradu pandang dengan lawan bicaranya.


"Ma-Mas mengatakan itu?" tanya Ayana gugup.


"Itu yang aku katakan, apa ada yang salah?" tanya balik Danieal.


Ayana menghela napas kasar dan memijit-mijit pelan pelipisnya. Kelopak mata besar itu pun menutup beberapa saat dan kembali terbuka, memandang lagi pria di hadapannya.


"Jasmine, pasti benar-benar terluka. Mas tahu?"


Pertanyaan Ayana kali ini membuat bola mata Danieal melebar. Jantungnya berdebar kencang dengan darah berdesir hebat, ia benar-benar terkejut saat mendengar sang istri bisa saja terluka akibat kata-kata yang diberikannya.

__ADS_1


Terlebih ia tahu jika Jasmine pernah mengalami masa lalu teramat sulit. Trauma yang tengah dirasakan kekasih hatinya, pasti belum juga sembuh.


"Ke-kenapa kamu berkata seperti itu?" tanya Danieal lagi, takut-takut.


"Karena aku sempat berbicara juga dengan Jasmine dan... kakak ipar ku seperti menyembunyikan sesuatu," jelas Ayana.


Kembali manik cokelat terang sang dokter terbelalak. Air mukanya berubah serius dengan dahi lebar mengerut dalam.


"Apa maksudmu?" Untuk kesekian kali Danieal memberikan pertanyaan.


"Seperti... sesuatu yang tidak boleh diketahui siapa pun, dan... ini menyangkut anak. Apa yang Mas pikirkan? Bukankah Mas seorang dokter? Belum pernah kah bertemu dengan wanita yang mengalami permasalahan kewanitaan?" Ayana memberondongnya dengan pertanyaan.


Danieal diam, mengunci bibir kemerahannya rapat mengingat pekerjaan sebagai dokter selama ini. Sedetik kemudian ia menggeleng, pertanda belum pernah bertemu dengan wanita yang Ayana sebutkan tadi.


"Aku belum pernah menemui salah satu dari mereka. Karena aku bukan dokter kandungan, kamu tahu sendiri," katanya lagi.


Ayana menghela napas pelan dan menatap kakaknya lekat. Mendapati adiknya seperti itu, Danieal pun menggerakkan kepala ke depan sekilas.


"Apa?" tanyanya langsung.


"Setidaknya Mas harus lebih peka terhadap Jasmine. Wanita yang sudah menikah cenderung lebih sensitif dengan pertanyaan kapan punya anak? Aku harap Mas lebih memperhatikan Jasmine."


Danieal termenung, dan kembali mengangguk sekilas.


Setelah berbicara dengan Ayana, Danieal kembali ke kamar. Ia melihat Jasmine sudah terlelap dengan memunggunginya.


Kedua tangan mengepal perlahan, helaan napas pun terdengar berat dan mengalihkan pandangan ke samping sekilas.


Setelah itu Danieal naik ke tempat tidur dan mencondongkan tubuh ke samping sang istri. Ia berbisik tepat di daun telinga Jasmine.


"Maaf."


Satu kata berdengung dalam pendengaran, Danieal pun memberikan kecupan pelan di pipi kemerahan pendamping hidupnya lalu berbaring dan membelakangi Jasmine.


Merasa tidak ada pergerakan lain lagi, Jasmine membuka mata, sedetik kemudian setetes kristal bening meluncur begitu saja.


Hatinya kian bergemuruh pada kenyataan mendera. Jasmine hanya terus berharap akan ada keajaiban mendatangi mereka.


...***...


Fajar menyingsing, sang raja siang mulai menampakkan diri di balik awan.


Sama seperti hari-hari telah lalu, Jasmine melanjutkan aktivitas membantu para pelayan di mansion menyiapkan sarapan.


Sebagai seorang istri ia harus berguna dalam melayani suaminya. Meskipun kemungkinan dirinya tidak bisa memberikan keturunan, tetapi Jasmine berharap keberadaannya di sana masih dibutuhkan.


Kurang lebih satu setengah jam kemudian para anggota keluarga berdatangan, termasuk suaminya.

__ADS_1


Jasmine mengulas senyum hangat menyambut mereka dan bergegas mendekati Danieal. Ia membawakan tas kerjanya dan meletakkan di kursi makan.


Ia begitu lihai melayani sang suami membuat Ayana yang ada di sana pun ikut mengembangkan senyum. Ia pikir jika hubungan sang kakak serta kakak iparnya sudah baik-baik saja dari semalam.


"Baiklah sebelum sarapan, seperti biasa kita berdoa dulu," kata Adnan memimpin doa makan setiap pagi.


Tidak lama setelah itu, mereka menikmati makanannya. Di temani dengan obrolan-obrolan ringan atmosfer di meja makan begitu hangat dan akrab.


Sesekali tawa renyah berdengung di sana membuat para pelayan yang hilir mudik ikut mengulas senyum.


Di tengah suasana menyenangkan tersebut, tiba-tiba saja Jasmine merasakan mual teramat kuat. Buru-buru ia membekap mulutnya dan berlari menuju kamar mandi yang terletak di dapur.


Ia memuntahkan semua makanannya tadi dan terus merasa takut. Ia tidak menyangka jika mual yang sering dirinya rasakan datang pada saat keluarganya sedang berkumpul bersama.


Takut, sedih, datang secara bersamaan, merundung sembilu kian sesak.


"Sayang? Kamu tidak apa-apa?"


Jantungnya berdebar tak karuan kala mendengar suara hangat yang sudah akrab datang mendekat. Ia merasakan tangan kekar sang suami mencengkram kedua bahunya sedikit kuat.


"Aku... tidak apa-apa," balas Jasmine lalu membasuh sekitar mulutnya.


Danieal sedari tadi terus memperhatikannya dalam diam. Hal tersebut membuat Jasmine was-was dan bola mata berkeliaran ke sekitaran.


Beberapa saat kemudian ia kembali menegakkan tubuh dan menghadap sang suami.


"Kalau begitu kita lanjutan sarapannya?"


Jasmine mengulas senyum simpul lalu berjalan melewatinya begitu saja. Danieal mematung, melihat ke arah punggung sang istri yang terus menjauh dan tidak lama, ia pun menyusulnya.


Suasana di meja makan terasa begitu berbeda Jasmine rasakan. Ia baru saja tiba dan melihat satu persatu anggota keluarga yang ada di sana.


Semua orang nampak ceria memperlihatkan raut muka senang.


"A-ada apa?" tanyanya gugup.


"Sayang... kamu mual-mual?" tanya ayah mertuanya langsung.


Jasmine pun menoleh pada Adnan lalu mengangguk singkat.


"Apa kamu merasa pusing dan tidak enak badan?" lanjut ibu mertuanya.


Jasmine melirik kan kedua mata pada Celia dan mengangguk skeptis. "Iya, sepertinya."


"Ah, jadi sudah jelas... kalau kamu hamil Jasmine!" seru Ayana semangat.


Jasmine terbelalak lebar, dan perkataan adik iparnya tadi bersamaan dengan Danieal yang datang mendekat.

__ADS_1


Ia berpaling pada suaminya membuat mereka saling beradu pandang.


__ADS_2