Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 2 CHAPTER 44


__ADS_3

"Aku bawa mobil dulu, kamu tunggu di sini," kata Zidan setibanya mereka di pekarangan.


Ayana mengangguk patuh dan mengulas senyum mempersilakan suaminya pergi, sambil menggendong Raima yang tengah terlelap ia diam di sana memandang langit malam.


Di tengah kesendirian, ia dikejutkan dengan kedatangan sang model. Kirana muncul dari belakang membuat Ayana mengulas senyum lembut tanpa menolehkan pandangannya.


"Aku tahu kamu pasti akan menungguku, dan... aku tahu apa yang akan kamu katakan... jadi, cepat katakan sebelum mas Zidan datang," ucapnya membuat Kirana terkesiap.


"Bagaimana kamu tahu nama Ra-" Kirana berdehem kuat, menetralkan suaranya, berusaha tidak tegang. "Nama Rauf," lanjutnya bersikap tenang tanpa mencurigakan.


Ayana lagi-lagi menyeringai kembali dan membetulkan gendongannya berusaha tidak mengganggu sang putri.


"Bukankah dia adalah ayah dari anak ini?" tanya Ayana menoleh pada Raima dan Kirana bergantian.


Sontak hal itu membuat manik berlensa bening sang model melebar sempurna. Ia memandang Ayana tidak percaya dan diam beberapa saat.


Ia lalu tertawa gugup dan mencoba menenangkan diri sendiri.


"Apa yang kamu katakan?" tanya Kirana berpura-pura tidak mengerti.


"Aku mengatakan yang sebenarnya. Aku mengangkat Raima sebagai anak, tentu saja harus mencari tahu asal usulnya dulu bukan? Dan yah... wali kota, Kota V adalah ayah kandung anak ini. Putri kecil kita, benarkan Kirana?"


Ayana mengulas senyum penuh makna memudarkan bulan sabit di wajah cantik sang model.


Kirana kembali diam dengan wajah masam, lalu beberapa saat kemudian ia melipat tangan di depan dada.


"Wah, aku benar-benar terkesan pada tindakanmu. Aku salah menafsirkan mu sebagai wanita lemah, tidak tahu apa-apa," balas Kirana masih menyembunyikan keterkejutannya.


"Benar, kamu tidak bisa menilai seseorang atau sesuatu dari covernya saja. Sama halnya dengan... jangan mudah percaya pada seseorang, kan?" ungkap Ayana.


"Tentu benar, jangan pernah mudah percaya pada seseorang," balas Kirana setuju.


"Karena siapa pun bisa berkhianat, termasuk pada sahabatnya sendiri. Pengkhianatan tidak bisa dimaafkan begitu mudah, bukan? Terutama jika si pengkhianat sudah mengambil tunangan sahabatnya sendiri yang bahkan sudah memperlakukannya dengan sangat baik, dan yang lebih parah si pengkhianat sampai mempunyai anak, owh sungguh menakutkan," cerocos Ayana sengaja menyindir seseorang di sebelahnya dan bergidik ngeri seolah-olah kejadian itu terjadi padanya.


"Kita jangan sampai bertemu orang seperti itu, kamu setuju, kan Kirana?"


Sang pelukis itu kembali menoleh padanya membuat wajah model menawan di sampingnya semakin berubah merah padam.

__ADS_1


"Apa yang sudah kamu lakukan, Ayana?" Suaranya menjadi berat nan dalam.


"Apa? Apa yang sudah aku lakukan?" tanya Ayana mengembalikan pertanyaan.


"Aku tahu kamu sudah mencari kebenaran tentangku, kan? Apa yang kamu inginkan? Kamu tahu aku ibu kandung Raima!" ucap Kirana seraya mencengkram kuat lengan Ayana.


Sang empunya memberikan seringaian tajam tanpa gentar sedikitpun. "Kamu mengakuinya sendiri jika Raima putrimu? Aku tidak pernah mengatakan apa pun, Kirana. Kamu sendiri yang mengakuinya." Ayana terkekeh pelan, puas dengan penemuannya kali ini.


"Kamu-" Kirana semakin mencengkramnya erat dengan mata terbelalak lebar. "Aku peringatkan yah, Ayana. Jangan main-main denganku," lanjutnya.


"Apa yang akan kamu lakukan jika aku main-main denganmu? Aku peringatkan lagi yah, Kirana... jangan pernah main-main dengan suami orang. Aku sudah pernah berurusan dengan wanita sepertimu, bahkan dia temanku sendiri. Jadi, aku tahu bagaimana perasaan Eliza saat mengetahui pengkhianatan kalian. Kamu pikir aku tidak tahu rencana mu dan tetua Ashraf?" Ayana menarik lengannya kuat seraya menghempaskan tangan wanita itu kasar.


"Jangan kamu pikir menjadikan pernikahan seseorang sebagai tempat wisata mu saja. Jika kamu kesal, sebab posisi Eliza digantikan olehku... itu karena salahmu sendiri, sudah berkhianat!" ungkap Ayana membekukan sang model.


"Untuk masalah anak ini, aku akan berusaha mengurusnya sebisaku. Sampai waktunya tiba, jangan harap kamu bisa mengambil Raima."


Bersamaan selesainya perbincangan mereka, klakson mobil Zidan pun mengejutkan.


Ayana dan Kirana menoleh ke arah yang sama melihat sang pianis membuka jendela mengajak istrinya untuk pulang.


"Kalau begitu kami duluan, suamiku sudah mengajak pulang." Ayana melebarkan senyum untuk terakhir kali sembari melambaikan tangan meninggalkan Kirana begitu saja.


"Awas kamu, AYANA!" geramnya.


...***...


"Apa yang kalian bicarakan tadi?" tanya Zidan penasaran.


Ayana yang tengah duduk di jok sebelah pun menoleh singkat.


"Tidak ada, hanya saling menyapa saja," jawabnya.


Zidan mengangguk, mengerti dan fokus menyetir.


Hening pun menyambut, jalanan beranjak sepi seiring berjalannya waktu. Malam semakin larut, udara bertambah dingin mengantarkan pada kehampaan mengambil alih.


Ayana terus memandangi Raima yang terlelap nyaman dalam gendongannya. Tangan kanan itu pun terulur mengelus pelan puncak kepalanya.

__ADS_1


Ia terkejut saat Raima mengulas senyum seolah menyadari sentuhan sang ibu sambung. Bulan sabit di wajah pelukis pun mengembang sempurna.


Perasaan sebagai calon seorang ibu menguat menyaksikan wajah polos bayi berusia lima bulan tersebut.


Ayana sudah sangat menyayangi Raima, sebelum tahu jika anak itu adalah putri kandung Kirana. Hasil hubungan gelapnya bersama mantan tunangan mendiang Eliza.


Mengingat kelakuan kedua orang tuanya, hati Ayana mencelos tidak bisa membayangkan bagaimana nasib ke depannya anak ini.


"Sayang, apa kita bisa membesarkan Raima seperti anak sendiri?" tanya Ayana tanpa mengalihkan tatapannya dari Raima.


Mendengar pertanyaan itu Zidan menoleh pada sang istri. Ia mengerti pasti ada sesuatu yang tengah dipikirkannya.


"Kamu jangan khawatir, Sayang. Kita bisa membesarkannya seperti anak sendiri," jawab Zidan meyakinkan.


"Meskipun Raima adalah anak hasil hubungan gelap?" tanya Ayana lagi.


Sontak hal itu membuat Zidan langsung membanting stir ke samping jalan dan menginjak gas, terkejut.


Ayana pun tidak berbeda jauh kala mendapatkan serangan mendadak yang hampir membuat mereka terluka.


"Astaghfirullah, apa yang Mas lakukan?" tanyanya sembari mengatur napas.


Raima pun sampai terbangun dan menangis kencang. Buru-buru Ayana menimang-nimangnya membuat ia kembali terlelap.


"A-ku minta maaf, Sayang. Ha-hanya saja... hanya saja aku terkejut mendengar pertanyaanmu tadi," bela Zidan menghadap istrinya.


Ayana menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia lalu membalas tatapan sang suami dan mengulas senyum manis.


"Seandainya, Mas. Seandainya," kata Ayana lagi.


"Itu tidak masalah, Sayang. Karena anak tidak salah apa pun, yang salah adalah orang tuanya. Kenapa tidak bisa bertanggungjawab pada kelakuannya sendiri? Anak ini-" Zidan mengelus puncak kepala Raima penuh kasih sayang. "Anak ini tidak salah apa-apa, dia lahir ke dunia bukanlah sebuah kesalahan, melainkan anugerah yang harus dijaga."


"Tenang saja, kita akan merawatnya seperti anak sendiri. Jika pun nanti orang tua kandungnya mau mengambil Raima, aku tidak akan menyerahkannya," kata Zidan tegas.


"Em, aku setuju. Karena bagaimanapun anak adalah titipan yang harus dirawat sepenuh hati. Aku juga tidak akan membiarkan orang tuanya membawa anak ini lagi. Sampai dia benar-benar menyesali perbuatannya!" tegas Ayana meremas gamis di atas pangkuan.


Ia benar-benar sakit hati saat mengetahui asal usul Raima. Ia tidak menduga Kirana, ibu kandungnya bisa setega itu menitipkan sang anak ke panti asuhan guna menjalankan rencana egoisnya.

__ADS_1


Ia sudah tahu apa yang hendak wanita itu lakukan, berkat bantuan Bening. Sekuat apa pun mereka bermain, ia tidak akan menyerah begitu saja.


"Aku akan mengikuti permainan mereka sampai selesai," benaknya dalam diam.


__ADS_2