Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 114


__ADS_3

Hujan datang tanpa bisa dicegah, air turun dari langit begitu deras menghantam mobil yang tengah menepi di sisi jalan.


Angin berhembus turut mendampingi kelamnya malam itu. Udara dingin pun menyapa memberikan kenangan klasik yang turut hadir.


Perlahan kelopak mata Ayana menutup menyembunyikan iris jelaganya. Zidan kembali mendongak melihat wajah damai sang istri.


"Mungkin dengan Bella mengugurkan kandungan ... itu sebagai karma untukku. Karena ... aku sudah membunuh anak kita," ucap Zidan dengan suara yang semakin lirih.


Mendengar perkataan tersebut Ayana membuka mata secepat yang dirinya bisa. Ia menengok pada sang suami lagi yang tengah menatapnya dengan sorot mata penuh penyesalan.


Sebelah sudut bibir ranum sang pelukis itu pun terangkat pelan. Tatapan matanya tajam seolah kejadian yang hampir dua tahun ke belakang terjadi kemarin.


"Kenapa Mas berkata seperti itu? Apa saat ini Mas benar-benar menyesal?" tanya Ayana langsung.


Tanpa mengelak Zidan menganggukkan kepala. "Sangat ... aku sangat menyesal. Aku menyesali perbuatanku yang sudah membunuh anak kita."


Seketika Ayana terperangah melihat air mata berjatuhan di kedua manik kelam itu. Ini pertama kali ia melihat Zidan menangis hanya untuknya.


"Memang sangat sakit mengetahui darah daging kita pergi begitu saja sebelum bisa lahir ke dunia. Terkadang-"


Perkataan Ayana seketika terhenti kala sang suami memeluknya erat. Ia merasakan tubuh Zidan bergetar hebat dengan isak tangis mengalun perlahan.


"Aku minta maaf ... aku benar-benar minta maaf Ayana, sudah membuat anak kita meninggal. Aku-"


"Shut, tidak usah dibahas lagi semua sudah terjadi," kata Ayana kemudian.


"Aku benar-benar seorang suami dan ayah yang sangat buruk. Aku terlalu termakan omongan Bella yang-"


"Jangan menyalahkan orang lain, semua yang terjadi mungkin ... memang sudah takdirnya, dan lagi ... kata maaf tidak bisa merubah keadaan ataupun ... mengembalikan anak kita yang sudah tiada," balas Ayana yang lagi-lagi memotong ucapan sang suami.


Perlahan kedua tangan rampingnya terulur membalas pelukan pasangan hidupnya.


Jari jemari itu mengelus lembut punggung kekar suaminya. Zidan tersentak dan semakin menangis dalam.


"Aku minta maaf, Sayang. Waktu itu tidak ada bersamamu di saat ... kamu benar-benar membutuhkan kehadiranku," ucap Zidan lagi lirih. "Bahkan aku menyalahkan mu atas kejadian menimpa anak kita yang jelas-jelas pelakunya ... aku sendiri."

__ADS_1


"Sudahlah Mas yang lalu tidak usah dibahas lagi. Maaf pun tidak bisa mengembalikan anak kita," balas Ayana mengucapkan hal sama kedua kali.


Zidan melepaskan pelukan sambil menangkup kedua bahu sang istri lembut. Pandangan mereka bertemu satu sama lain lagi menebarkan keharuan.


Sang pianis menganggukkan kepala berkali-kali menahan sesak bercampur bahagia.


"Aku janji mulai saat ini akan membahagiakanmu. Aku ingin kita menjadi suami istri yang sesungguhnya dan juga membangun keluarga bersamamu serta anak-anak kita kelak."


Kata-kata hangat nan lembut menyapu pendengaran yang seketika menentramkan jiwa.


Ayana hanya mengangguk tanpa mengatakan sepatah kata lagi. Mereka kembali saling merengkuh hangat menyalurkan perasaan terdalam.


...***...


Beberapa hari kemudian paska kecelakaan Bella terjadi, Ayana selalu rutin menjenguk serta mendoakan kebaikan wanita itu.


Tidak ada sedikitpun raut kekesalan atau kebencian dalam sorot matanya. Semua orang, terutama sang suami dibuat bingung dengan kelakuannya tersebut.


"Hari ini kamu mau ke rumah sakit lagi?" tanya Zidan disela-sela sarapan.


Ayana yang tengah memasukan sesendok nasi ke dalam mulut pun menoleh seketika.


"Mau sampai kapan? Bella jelas-jelas sudah menyakitimu berkali-kali. Kenapa kamu masih mau menemuinya?" tanya Zidan kembali, heran.


Ayana meletakkan sendok di atas piring menatap lekat sang suami.


"Karena aku hanya sedang ingin mengampuni diri sendiri untuk tidak terlalu dendam pada Bella. Meskipun dia sudah menyakitiku berkali-kali, tetapi jika aku melakukan hal sama ... bukankah aku tidak ada bedanya dengan dia?"


"Aku hanya seorang pendosa yang tidak luput dari kesalahan untuk itu ... aku juga sedang mencoba memperbaiki kehidupan yang sedang kujalani. Mudah-mudahan dengan aku memaafkan kesalahan mereka ... Allah mengampuni dosa-dosaku," tutur Ayana panjang.


Mendengar semua perkataannya membuat Zidan tercengang. Ia pun ikut menyelesaikan sarapan dan sepenuhnya memandang sang istri.


"Aku benar-benar beruntung bisa mendapatkan mu lagi. Terima kasih untuk kesempatan yang kamu berikan. Aku minta ma-"


Ayana langsung meletakkan jari telunjuk di depan bibir suaminya. Seketika itu juga ucapan Zidan terhenti.

__ADS_1


"Sudah aku katakan jangan katakan maaf lagi. Mendengar itu seperti peristiwa yang sudah kalian lakukan terjadi kemarin. Aku mencoba untuk melupakan dan jangan mengingatkannya lagi, jadi berhentilah meminta maaf," ucap Ayana memberikan tatapan serius.


Zidan menganggukkan kepala cepat, "Em, terima kasih," jawabnya singkat.


Siang menjelang, Ayana pun kembali ke rumah sakit didampingi Zidan. Pasangan suami istri itu berkunjung ke ruang rawat inap Bella.


Lantai lima menjadi tujuannya, mereka berjalan beriringan mencapai tempatnya berada.


Tidak lama kemudian suara teriakan dari arah ruang inap Bella terdengar nyaring, buru-buru Ayana dan Zidan berlari mendekat.


Seketika keduanya terkejut mendapati sang pianis sudah sadarkan diri. Mereka melihat Bella tengah mencengkram kuat kemeja Dokter Danieal hingga membuat sang empunya terlihat sesak.


"Apa yang barusan kamu bilang, HAH? Aku tidak mungkin mengalami semua ini. KAMU PASTI BERCANDA, KAN?" teriaknya tersulut emosi seraya mendorong dan menarik berkali-kali pakaian yang tengah dikenakan Danieal.


"Tenang Nona Bella, semua ini di luar kendali kita. Kecelakaan yang sudah menimpa Anda beberapa hari lalu ... mengakibatkan semua jari jemari Anda tidak bisa digunakan untuk bermain piano lagi. Meskipun bisa disembuhkan, tetapi tidak sepenuhnya kembali seperti semula dan... jari jemari itu tidak bisa digunakan berlebihan atau kalau tidak-" Danieal sengaja memutuskan ucapannya sebentar.


Ia melihat sorot mata marah nan kecewa di manik sang pasien.


"Tangan Anda tidak bisa digunakan selamanya, atau yang lebih parah ... bisa diamputasi. Kedua kaki Anda juga mengalami patah tulang dan remuk. Untuk itu saya sarankan Anda mengikuti pengobatan secara berkala," jelas sang dokter yang seketika membuat Bella bungkam.


Bak petir menyambar di siang bolong penjelasan yang dilayangkan Danieal membuatnya membeku.


Air mata mengalir tak tertahankan di kedua pipi, Bella diam bak bongkahan es. Hidupnya hancur berkeping-keping mendapatkan kondisinya saat ini.


Tidak lama berselang, Ayana dan Zidan menampakan diri. Seketika hal tersebut membuat kedua orang yang ada di ruangan itu menoleh ke arah yang sama.


Manik basah Bella melebar sempurna. Ia bertambah emosi mendapati wanita berhijab itu di sana.


"PERGI! AKU TIDAK MAU MELIHAT MUKAMU LAGI! PERGI KAMU! AKU MUAK, AKU BENCI!" Bella berteriak, berontak, sekuat tenaga mencoba mengusir sosok Ayana.


Sang pelukis hanya terdiam memandangi Bella yang tengah mengamuk. Sekuat tenaga Danieal menahan dirinya untuk tidak menyerang Ayana.


Terlebih keadaan Bella yang masih belum stabil membuat sang dokter khawatir. Berkali-kali Danieal memberikan kata-kata tenang agar pasiennya tidak memberontak terlalu berlebihan yang membahayakan diri sendiri.


Namun, Bella tidak mengindahkan pernyataan tersebut dan terus mencoba untuk pergi dari ranjang untuk mengusir keberadaan teman sekelasnya.

__ADS_1


"Seperti inilah aku waktu itu," benak Ayana seraya terus memandangi Bella lekat dengan ingatan masa lalu kembali terkenang.


Zidan yang berada di sampingnya pun memandangi kedua wanita itu bergantian, sedangkan Danieal masih terus mencoba menenangkannya.


__ADS_2