
Asap mengepul dari senjata api yang pelatuknya berhasil ditarik. Keadaan di sana semakin kacau tak terkendali.
Deru napas seseorang terdengar kuat, mereka sama-sama terdiam tidak melakukan apa pun lagi. Situasi sudah kacau balau tidak ada yang perlu dilakukan lagi.
Di tengah kebimbangan melingkupi, pintu rahasia ruangan terbuka dan beberapa pria bersenjata api serta berseragam lengkap berdatangan.
Suara sepatu mereka bergema memberikan kengerian pada pendengaran Bagus. Ia terkejut melihat keberadaan pria-pria itu yang seketika menghampirinya.
Tidak lama berselang, sang pemimpin muncul melihat keempat orang di kamar itu secara bergantian. Perhatiannya pun jatuh pada wanita berhijab di sana lalu senyum di wajah tuanya mengembang. Ia bangga sekaligus takjub pada Bening yang berhasil memberikan bukti.
Bening pun berdiri dan menyambut keberadaan sang pemimpin.
"Kerja bagus, Bening. Kamu berhasil membuka topeng siapa Bagus Prakasa sebenarnya. Mulai saat ini dia akan kami tahan dan diintrogasi atas kejahatan-kejahatan yang telah dilakukannya," ucap pria berusia enam puluhan tersebut.
Bening mengangguk dan melihat Bagus dicengkeram kuat oleh dua pria kekar di sisi kanan kirinya.
Tembakan tadi dilayangkan oleh Bening mengenai tembok, tepat di belakang pria tua itu untuk memprovokasi agar Bagus berhenti berbicara. Pria tua itu pun sontak langsung gemetar ketakutan dan tidak berdaya.
Ia juga pasrah saat melihat petugas kepolisian datang dan meringkusnya sekejap mata. Pandangannya lalu beradu dengan Bening, wanita itu mengulas senyum dan menganggukkan kepala singkat.
Wanita itu pun kembali pada pria berwibawa di hadapannya.
"Tidak, Tuan. Semua ini tidak lepas dari campur tangan Ayana dan Jasmine. Kedua keluarga saya itu wanita-wanita hebat yang berhasil mengungkapkan siapa Bagus Prakasa sebenarnya," jelas Bening kemudian.
Sang jendral mengangguk singkat, paham apa yang tengah dibicarakannya. Dari rekaman yang tersambung tadi, ia melihat semua adegan di sana.
"Baiklah, saya senang kamu berhasil meyakinkan kami menerima laporan ini. Rekaman yang kamu dapatkan hari ini menjadi bukti kuat, jika Bagus Prakasa adalah seorang pria jahat."
"Untuk itu terima kasih atas kerja kerasnya. Kami tidak akan pernah melupakan jasa-jasa kalian."
Pemimpin itu pun memberi hormat pada Bening yang langsung dibalas olehnya.
Setelah perbincangan singkat terjadi, sang jenderal menyuruh anak buahnya untuk membawa Bagus keluar.
Hana yang menyaksikan ayahnya digiring oleh polisi pun diam tanpa mengatakan sepatah kata. Ia membiarkan mereka membawa Bagus tanpa adanya pembelaan.
Berita mengenai siapa Bagus Prakasa itu sebenarnya tersebar luas. Beberapa wartawan yang sedang meliput seperti apa meriahnya pesta di istana putih pun langsung merekam sang tuan rumah digiring menuju mobil polisi.
Sontak suasana yang awalnya hangat berubah menjadi riuh. Semua orang bertanya-tanya apa yang terjadi pada orang nomor satu di negaranya.
__ADS_1
Mereka langsung membuka berita dan mendapatkan informasi akurat. Jika selama ini orang yang telah memimpin negara adalah pria jahat.
Dia adalah kaki tangan Alexa Mahesa yang pernah membantai seluruh anggota keluarga untuk mendapatkan kekayaan.
Begitu pula dengan Bagus yang dengan tega menghabisi kembarannya sendiri, yaitu Bagas Prakasa.
Berbagai kecaman pun diberikan, semua orang murka atas apa yang diperbuat oleh Bagus selama ini. Mereka tidak menyangka bertahun-tahun sudah percaya pada orang yang mengkhianati keluarganya sendiri.
Kehidupan pribadinya pun tidak luput dari tangan para netizen. Mereka mengumpas tuntas siapa sebenarnya Bagus Prakasa.
Bening yang sudah memberikan bukti-buktinya kepada pihak kepolisian pun merasa lega. Ia mendapatkan hal itu dari rekaman-rekaman, perkataan Ayana, dan juga Jasmine.
Ia menceritakan semuanya sebelum pesta teh terjadi. Ia bekerja sama dengan kepolisian untuk mengungkap kebenaran Bagus Prakasa.
Semua berita baik di televisi maupun media masa penuh, membicarakan pemimpin negara mereka.
...***...
Sepeninggalan ayahnya, Hana duduk di tepi tempat tidur dengan jendela terbuka. Angin sore datang menyapu kegetiran dalam dada.
Kejadian yang tidak pernah ia harapkan datang menerjang tanpa jeda. Bagaikan angin topan, memporak-porandakan kapal yang tengah mengapung tenang di lautan.
Semuanya hancur berantakan tanpa tersisa apa pun. Pengkhianatan yang dilakukan sang ayah benar-benar memberikan luka teramat parah.
Tidak lama berselang Bening datang membawakan segelas air hangat. Kekacauan yang terjadi di ruangan itu sudah dibersihkan oleh beberapa pelayan.
Kini hanya menyisakan keheningan dan kenangan yang begitu kuat.
"Minum ini, kamu perlu menenangkan diri," kata Bening menjulurkan segelas air hangat tadi.
Hana menerima dan meneguknya singkat. Tatapannya tidak lepas dari senja yang muncul di cakrawala memberikan keindahan.
"Senja... Ayana sangat suka sekali dengan senja. Setiap sore datang ia akan berada di taman itu dan melukisnya."
"Gambar yang dibuatnya benar-benar nyata, seolah pemandangan ini berpindah ke atas kanvas. Aku... sangat senang bertemu Ayana lagi," racau Hana lirih.
Bening melirik sekilas dan ikut memandangi pemandangan di hadapannya.
"Kamu benar... Ayana memang suka sekali senja. Dia... tidak pernah melewatkan satu hari pun untuk melihatnya," balas Bening.
__ADS_1
Kedua alis melengkung Hana saling bertautan. Kepalanya mendongak menyaksikan berjuta perasaan tercetus di wajah cantiknya.
"Apa maksudmu? Kenapa kamu tahu semua itu?" tanyanya heran.
"Kamu tidak tahu? Aku Bening, ibu dari Erina, wanita yang pernah kamu beri senyuman hangat," jelasnya.
Hana terbelalak tidak menyangka jika wanita yang telah membuka topeng ayahnya adalah ibu dari teman masa lalu.
"A-apa? I-ibu Erina?" Hana bangkit masih dengan memandang Bening tidak percaya.
"Itu benar, kenapa? Apa kamu tidak percaya? Memang benar aku sudah menjadi seorang ibu, dan... aku masih muda bukan?" tanyanya percaya diri.
Hana cengo, masih berusaha merespon kebenaran yang terjadi. Erina dan Ayana adalah temannya di rumah sakit saat itu.
Mereka pernah menghabiskan satu hari bersama dengan bertukar cerita. Ketiganya sama-sama menyukai dunia lukis yang begitu menakjubkan.
Kita bisa menuangkan apa pun di dalam kanvas dan menciptakan dunia sendiri tanpa takut mengganggu orang lain. Itulah kata-kata Ayana yang selalu terngiang bagi Hana.
Mereka bercanda dan tertawa bersama layaknya keluarga. Kenangan hari itu kembali ke dalam ingatan membuat perasaan Hana hangat.
Namun, sebelum Hana pergi dirinya sempat mendengar jika Erina meninggal dunia. Ia benar-benar terpukul tidak bisa melihat saat-saat terakhir sahabat terbaiknya.
Setelah sekian tahun, ia pun bertemu dengan ibu mendiang sang sahabat.
Bening tersenyum lebar melihat Hana menjatuhkan pandangan ke bawah. Air mata kembali mengalir tak tertahankan menangisi kenangan mereka dan juga kenyataan yang ada.
Tanpa diduga Bening memeluknya erat dan memberikan tepukan beberapa kali di punggung ramping Hana.
"Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja. Kamu wanita kuat... anak yang hebat, seorang anak yang berhasil bertahan dari setiap permasalahan.. yang dilakukan ayahmu."
"Menangis lah jika itu membuatmu bisa tenang," katanya hangat.
Hana semakin terisak dan membalas pelukan Bening.
Di bawah senja kali ini kebenaran terungkap, ibu kota dibanjiri dengan pemberitaan mengenai pemimpin mereka.
Semua penduduk murka dan menginginkan Bagus Prakasa dihukum seberat-beratnya. Meskipun kinerjanya selama ini bagus, tetapi masa lalu yang ada di belakangnya memberikan citra teramat buruk.
Mereka tidak percaya lagi dan jabatannya pun dicabut paksa tanpa hormat. Bagus Prakasa mulai mempertanggungjawabkan atas perbuatan kejamnya.
__ADS_1
Berita itu terus menyebar ke segala penjuru negeri. Tidak hanya di dalam, tetapi juga sampai keluar negeri.
Bagus Prakasa menjadi tranding topik terpanas di mana semua orang membicarakannya tanpa henti.