
Pertanyaan yang menyinggung ke ranah pribadi memang tidak mudah diterima. Terlebih jika menimpa kepada seseorang dengan kondisi yang telah melewati fase menyakitkan.
Dituntut untuk menjadi sempurna, tidak ada yang bisa melakukannya. Karena semua yang terjadi di dunia adalah rencana Allah, termasuk seorang anak.
"Milik Allah-lah seluruh kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan menjadikan mandul kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa." (QS. asy-Syûrâ: 49-50)
Itulah takdir yang telah ditetapkan, siapa pun tidak bisa menjudge orang lain untuk masalah tersebut.
Anak adalah sebuah anugerah yang kehadirannya tidak bisa diprediksi. Kedatangannya memberikan kebahagiaan tiada tara khususnya bagi pasangan telah menikah yang menginginkan anak.
"Kenapa Ayana? Kenapa kamu meminum obat itu lagi dan sekarang? Ya Allah kamu ingin disuntik cairan penenang? Apa yang kamu pikirkan?" tanya Danieal menggebu-gebu.
Ayana yang sedari tadi sudah menahan diri pun, kini menangis sejadi-jadinya. Ia memunggungi sang kakak dengan isak tangis bergema di ruang inap.
Danieal lagi dan lagi menghela napas menyaksikan adiknya terpuruk. Ia hendak mengulurkan tangan, tapi kembali diurungkan. Ia merasa Ayana layaknya bunga layu yang bisa rapuh kapan saja hanya dengan sentuhan.
Dadanya ikut terluka menyaksikan sang adik kembali mendapatkan kepedihan.
Kali ini apa lagi? Pikirnya berkecamuk.
"Mas akan menghubungi Zidan," lanjutnya beranjak dari duduk.
Sebelum melangkahkan kaki, jas dokternya ditarik kuat oleh Ayana. Danieal menoleh ke belakang mendapati adiknya menunduk dalam.
"Jangan beritahu apa pun pada mas Zidan, biarkan ... biarkan aku berpikir terlebih dahulu. Aku mohon pengertiannya, Mas," kata Ayana lirih.
Mau tidak mau Danieal pun hanya mengangguk pasrah dan kembali duduk. Ayana kembali memohon untuk memberinya suntikan penenang, dan sang dokter dengan terpaksa mengikuti keinginannya tersebut.
Ayana menitikkan liquid bening membuat kakak sambungnya itu pun terperangah. Danieal menutup mata erat menghindari kepedihan tepat di depannya.
Ia tidak bisa jika harus menyaksikan saudarinya kembali menyimpan beban berat.
"Aku harus pulang sekarang," kata Ayana menyibakkan selimut kasar lalu beranjak dari berbaring.
"Tapi cairan infusnya masih ada, setidaknya habiskan dulu," timpal Danieal menolak dan membaringkan tubuh mungilnya lagi.
Ayana hanya menurut pasrah kala badannya pun masih terasa lemas.
...***...
__ADS_1
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, kala itu Ayana baru menyelesaikan infusannya.
Danieal sedari tadi terus menemani adiknya kini membuka jarum yang menancap di pergelangan tangan.
Tanpa rasa sakit, Ayana hanya diam datar memandang lurus ke depan. Saat ini perasaannya benar-benar kalang kabut.
Danieal menghela napas berkali-kali mendapati sang adik seperti ini lagi. Ia benar-benar khawatir sekaligus takut sesuatu yang besar telah terjadi.
Ia pun tidak bisa memaksanya untuk berterus terang dan membebani hatinya lebih dalam lagi.
"Mas tidak mau tahu pokoknya malam ini juga kita pulang bersama. Untuk yang satu ini Mas tidak ingin kamu menolaknya," kata Danieal selepas melepaskan infusan dari tangan Ayana lalu membereskan barang-barang medis.
"Mas akan mengembalikan ini dulu dan setelah itu kita pulang." Danieal melenggang pergi meninggalkan ruangan.
Ayana mengangguk singkat dan menatap kepergian sang kakak dalam diam. Sampai pintu tertutup bibirnya masih terkunci rapat.
Selang beberapa detik kemudian, ponsel yang sedari tadi berada di meja nakas kembali bergetar.
Ayana menoleh sekilas ke arahnya dan mendapati nomor yang sama berulang kali memberikan pesan singkat.
Isi chat tersebut masih sama seperti hari-hari kemarin, di mana ia dituntut untuk mendapatkan momongan yang sudah jelas hak prerogatif Allah.
Air mata merembes keluar tak tertahankan menetes di kedua pipi.
Sepanjang jalan hanya ada deru mesin mobil menemani kakak beradik tersebut.
Sejak meninggalkan rumah sakit sepuluh menit lalu, Danieal dan Ayana saling bungkam.
Dalam diam Danieal terus melirik ke samping memperhatikan Ayana yang memandang ke arah luar jendela.
"Apa-"
"Aku harap Mas tidak usah membicarakan apa pun dengan mas Zidan mengenai masalah yang menimpaku ... aku tidak ingin membuatnya khawatir dan membuat masalah ini menjadi lebih besar. Aku-"
"Sampai kapan Ayana? Sampai kapan kamu mau bersikap seperti ini? Kamu tidak bisa terus menerus menyembunyikan segalanya dari suamimu. Zidan berhak mengetahui apa pun yang terjadi padamu. Dia-"
Danieal terus berceloteh tanpa henti, tanpa jeda, membuat Ayana teringat pada kejadian beberapa hari lalu di mana ia menyembunyikan keberadaan Kirana.
Dadanya naik turun mendengar kata demi kata keluar dari mulut sang kakak. Jari jemarinya mengepal kuat seiring ucapan Danieal tercetus.
__ADS_1
"APA MAS MENGERTI BAGAIMANA SAKITNYA DITUNTUT HARUS PUNYA ANAK?" teriakan Ayana mengejutkan Danieal.
Ia langsung menginjak rem mobil cepat membuat keduanya terantuk ke depan. Mereka mengatur napas yang saling memburu hebat mencoba menenangkan diri.
Dari belakang, suara klakson mobil pun menyadarkan mereka. Danieal pun bergegas menepikan kendaraan ke pinggir jalan.
Di sana kakak beradik itu masih berusaha menenangkan diri. Kendaraan demi kendaraan lain terus berseliweran tanpa henti.
"Eh! Ja-jadi maksudmu? ... Keadaanmu sekarang karena dituntut untuk mempunyai seorang anak? A-apa itu oleh Zidan?" Dengan gerakan perlahan Danieal memutar kepalanya menghadap sang adik.
Ayana menggeleng pelan sembari menunduk dalam.
"Katakan! Siapa orang yang sudah membuatmu seperti ini, KATAKAN AYANA! AYO CEPAT KATAKAN!" Danieal terus memaksa sang adik untuk mengungkapkan siapa pelaku yang telah membuatnya terpuruk.
"Tidak Mas, aku tidak bisa-"
"AYANA!" Danieal kembali berteriak membuat adiknya terlonjak kaget.
Melihat hal itu ia berusaha mengatur dirinya lagi untuk tidak terbawa emosi.
Darahnya mendidih kala mendengar ucapan Ayana penuh sirat kesakitan.
Sebagai seorang kakak yang pernah gagal dalam melindungi adiknya, Danieal tidak ingin melihat Ayana terus menerus terpuruk.
Ia menarik napas panjang dan menghembuskan perlahan.
"Mas minta maaf ... Mas tidak bermaksud untuk berteriak tadi. Astaghfirullah, Mas terbawa suasana dan ikut terbawa emosi. Mas hanya tidak ingin melihatmu terus menerus terpuruk. Kamu baru saja sembuh Ayana," tuturnya menyesal.
Ayana menghapus air mata yang sedari tadi mengalir tanpa jeda.
Kepala berhijabnya kembali terangkat memandang ke depan.
"Aku ... tahu. Hanya saja dituntut terus menerus seperti itu membuatku sangat sakit. Anak ... Mas tahu sendiri jika itu adalah kelemahan terbesarku. Masalah anak seperti menghunuskan pedang tepat ke dalam hati, aku-" Ayana tidak bisa melanjutkan ucapannya dan kembali menangis lagi.
"Mas mengerti, sudah jangan terus dipikirkan nanti kamu sakit. Mas tidak ingin melihatmu terpuruk lagi. Tenang saja kamu tidak usah khawatir, di sini ada Mas, mamah, dan ayah yang akan selalu melindungi mu, tetapi ... Zidan juga berhak tahu."
"Karena masalah ini bukan hanya tentang kami, tetapi ... tentang kalian," ucap Danieal mencoba menenangkan.
Ayana hanya mengangguk mengerti dan mengatur strategi untuk menghadapi masalahnya kali ini.
__ADS_1