Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 2 CHAPTER 48


__ADS_3

Kejayaan hampir didapatkan, semua kebusukan mulai terungkap satu persatu.


Negara K tengah dihebohkan dengan melejitnya pemberitaan mengenai sang pengusaha ternama. Banyak sekali artikel memuat pemberitaan tersebut yang kian menyebar luas.


Ayana dan Ratu masih bersinggungan memberikan tatapan kemenangan berhasil menjebak si pelaku.


Alhasil para tamu berbicara satu sama lain tidak menyangka mendapati rekan sejawat mereka berlaku tidak pantas guna mendapatkan kesuksesan.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Zidan merangkul bahu istrinya hangat.


Ayana menoleh sekilas lalu mengangguk singkat.


"Aku baik-baik saja... aku mau ke toilet dulu," jawabnya bergegas melangkah dari sana.


Sepanjang kakinya berjalan ia mendengar begitu jelas orang-orang membicarakan wanita tua itu satu nama. Ia tersenyum lebar mendapatkan keinginannya kian berhasil.


Selesai dengan urusan pribadinya, Ayana membasuh kedua tangan di wastafel. Satu demi satu wanita pun keluar dari toilet hingga menyisakan seseorang di sana.


Ayana yang sedari tadi menunduk pun mendongak mendengar suara pintu di kunci. Ia melihat wanita baya di belakangnya lewat cermin tengah mengembangkan senyum.


"Sungguh pertunjukan yang luar biasa, cucuku." Basima melipat tangan di depan dada membalas tatapan Ayana dalam cermin juga.


Sang pelukis berbalik dan kembali memandangi sorot mata nyalang memindai dirinya. Ia memberikan seringaian tajam, tidak gentar sedikitpun.


"Apa Anda menikmatinya, Nyonya?" tanya balik Ayana.


Basima mengepal kedua tangan kuat, menahan amarah yang kian memuncak.


"Apa kamu sedang bermain-main denganku?"


Basima naik pitam melihat sikap nyeleneh Ayana terus menerus tidak ada ketakutan sedikitpun.


"Tentu saja, saya sedang bermain-main dengan Anda, Nyonya. Apa Anda tahu-" Ayana melangkah perlahan ke depan masih beradu tatap dengan wanita baya di hadapannya.


"Saya sengaja mengundang teman-teman grup sosialita Anda ke sini untuk menyaksikan pertunjukan tadi. Tidakkah seharusnya Nyonya berterima kasih pada saya?" Ayana melipat tangan di depan dada memberikan seringaian lagi.


"Saat ini banyak sekali berita mengenai Nyonya di mana-mana. Seharusnya Nyonya berterima kasih pada saya... karena sudah membantu Nyonya semakin terkenal. Bukankah popularitas itu yang Nyonya inginkan? Saya-"


Sebelum Ayana menyelesaikan ucapannya, Basima lebih dulu memberikan pukulan telak di rahang tegas sang pelukis.

__ADS_1


Ayana tersungkur ke sisi dengan ruam merah di wajah cantiknya.


Tidak hanya sampai di sana saja, Basima semakin tidak terkendali langsung mengambil alat pemadam kebakaran berukuran sedang berwarna merah.


Ia lalu memukulkannya ke kepala Ayana yang seketika membuat pelukis itu kembali tersungkur. Darah bercucuran dari atas pelipisnya mengubah warna lantai marmer toilet.


Ayana berusaha menahan pening luar biasa, kemudian menoleh menatap sudut bibir wanita baya itu menyeringai lebar.


"Kamu pikir aku tidak bisa melakukan ini? Seharusnya aku membunuhmu juga dua puluh tahun lalu, bersama abu orang tuamu," Basima mengakui kesalahannya sendiri.


Mendengar pengakuan tersebut memberikan lengkungan bulan sabit di wajah cantik penuh darah Ayana.


"Seharusnya dari awal Anda meminta pengampunan agar semua ini tidak terjadi," ucapnya susah payah.


"Saya tidak akan pernah meminta pengampunan apa pun padamu." Basima kembali memukul wajah Ayana yang seketika darah mengalir di hidung bangirnya.


Sang pelukis terkekeh dengan penampilan acak-acakan. Ia meremas pergelangan kakinya kuat seraya mendongak pada wanita tua itu.


"Terima kasih... terima kasih atas pengakuannya," kata Ayana lirih, Basima menautkan alis tidak mengerti.


Sampai ia pun menyadari jika di atas toilet, tepatnya di ujung langit-langit terdapat kamera pengawas yang sedari tadi merekam perbuatannya.


Tidak lama berselang pintu toilet didobrak kasar yang menampilkan sang cucu bersama beberapa pria berseragam.


"Ayana!" teriak Zidan masuk ke dalam dan langsung memangku kepala istrinya.


"Apa yang sudah Nenek lakukan pada istriku? Mulai saat ini Nenek harus mempertanggungjawabkan perbuatan Nenek, cepat bawa dia," kata Zidan pada pihak berwajib yang sedari awal berlangsungnya acara sudah berjaga-jaga di sana.


Basima pun dicengkeram oleh kedua polisi bersenjata hendak membawanya pergi.


"Tidak Zidan, kamu tidak bisa memperlakukan Nenek seperti ini. Kamu sudah termakan omongan istrimu, Nenek tidak bersalah... Nenek sama sekali tidak bersalah!" ucapnya histeris menolak pria kekar itu membawanya.


Mau tidak mau polisi pun menarik paksa Basima keluar toilet bersama alat pemadam kebakaran tadi sebagai bukti.


Ayana yang masih berada diambang batas kesadarannya pun menyaksikan hal tersebut. Bibir pucatnya tersenyum sempurna atas keberhasilan yang dilakukan.


"Kenapa kamu harus melakukannya sampai sejauh ini?" tanya Zidan tidak kuasa membendung air mata.


Ayana menoleh padanya dan dengan tangan gemetar ia menangkup sebelah pipi sang suami.

__ADS_1


"Jangan... mena-ngis. A-ku baik-baik sa-ja, ja-ngan khawatir."


Setelah mengatakan itu Ayana jatuh pingsan, Zidan menggendongnya keluar dan bergegas membawanya ke rumah sakit.


...***...


Sepanjang jalan ambulans membawa Ayana, selama itu pula berita mengenai Basima terus berdatangan. Fakta demi fakta baru terungkap siapa istri tetua Ashraf ketiga itu sebenarnya.


Basima Ashraf yang awalnya memiliki nama Basima Jabar adalah seorang anak lahir dari keluarga keturunan mafia dari negara metrafolitan.


Ayahnya yang menjabat sebagai kaki tangan mafia pun memiliki kekayaan luar biasa, sedangkan sang ibu hanya wanita biasa dari keluarga terpandang juga.


Basima dan kedua adik laki-lakinya pun dibesarkan dengan cara keras. Mereka dididik untuk menjadi sosok yang disegani dan tidak mudah ditindas.


Sebagaimana lingkungan yang diberikan, Basima tumbuh menjadi seorang wanita dengan tempramen buruk. Ia kerap kali merundung teman sekelasnya hanya ingin memuaskan hasrat sesaat saja.


Sejak masih remaja ia sering terlibat permasalahan demi permasalahan yang mengganggu. Namun, berkat kekuasaan sang ayah dan ibu, Basima bisa lolos begitu saja.


Sampai pada masanya, Basima bertemu dengan keturunan Ashraf ketiga dan langsung jatuh cinta padanya.


Ia melakukan berbagai cara agar pria incarannya bisa luluh terhadapnya, meskipun pada masa itu Ashraf ketiga sudah mempunyai tunangan.


Namun, bukan Basima namanya jika tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkan. Sampai pada akhirnya ia bisa melepaskan wanita itu dan membuat Ashraf jatuh ke tangannya.


Seiring berjalannya waktu mereka membangun keluarga harmonis dan Basima melupakan jati dirinya, tetapi tabiat seseorang tidak bisa dilepaskan begitu saja.


Tahun demi tahun yang terlewati membangkitkan kembali sosok Basima sebenarnya. Ia gelap mata dan melakukan apa pun agar bisa mencapai keinginannya kembali.


Setelah sekian tahun terlewat, Basima pada akhirnya dibekuk pihak keamanan oleh cucu menantunya sendiri.


Sekarang ia tidak bisa berbuat apa-apa, sebab kekuasaan sang ayah sudah tidak berlaku.


Bersamaan dengan penangkapan Basima, Ayana tengah berada di meja operasi guna memulihkan kepalanya yang robek akibat hantaman benda keras tadi.


Ayana adalah korban dari keegoisan Basima yang sudah membuat kedua orang tuanya meninggal seketika.


Ayana akan melakukan apa pun guna menegakan keadilan bagi mereka, meskipun harus mengorbankan diri sendiri.


Namun, hasilnya sebanding dengan apa yang sudah ia korbankan. Ayana yang masih berada di alam bawah sadarnya pun bisa bernapas lega.

__ADS_1


__ADS_2