
"Sialan! Aku tidak mungkin membuat adikku menangis, yang benar saja." Danieal terus meracau seraya melipat tangan di depan dada setelah perseteruan sengit tadi berlangsung.
"Kamu juga sih, Sayang kenapa tidak menjelaskannya lebih awal?" kata Zidan menoleh ke samping.
Ayana terkekeh pelan dan sudah menghentikan tangis. Ia pun menjelaskan jika sang suami hanya salah paham dan kakaknya tidak mungkin membuat ia menangis.
"Maaf-maaf, habisnya senang melihat kalian bertengkar seperti anak kecil."
"AYANA!" tegas keduanya seraya memandang sang pelukis nyalang, tetapi wanita itu malah semakin tertawa senang.
Ayana terpingkal-pingkal sambil memegang perutnya masih membayangkan ekspresi yang dibuat kakak dan juga suaminya tadi.
Zidan dan Danieal berkacak pinggang seraya mendengus kasar. Keduanya terus memandangi Ayana yang sibuk dengan acara tawanya sendiri.
Kurang lebih lima menit kemudian, akhirnya sang pelukis bisa menguasai diri sendiri dan menghentikan gelak tawanya.
Ia menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Manik karamel itu memandangi kakak serta suaminya bergantian.
"Aku mita maaf," sesalnya.
"Em, tidak masalah," balas keduanya bersamaan.
"Ah~ aku sangat menyayangi kalian." Ayana merentangkan tangan lebar dan memeluk suaminya erat.
Kepala berhijabnya bersandar nyaman di bahu kiri Zidan. Para pria itu kembali saling pandang dan melempar senyum manis.
Beberapa saat kemudian atmosfer di sekitar mereka pun berubah serius. Ayana kembali menatap lekat pada sang kakak seolah menuntut sebuah kejelasan.
"Jadi, langkah apa yang akan Mas ambil selanjutnya?" tanya Ayana kemudian, tangannya melipat di depan dada seolah tengah mengintrogasi sang pelaku.
"Aku... mungkin aku akan mengaku padanya," jelas Danieal tersenyum tulus.
"Apa? Mengaku apa? Apa yang sedang kalian bahas?" tanya Zidan beruntun, sekaligus penasaran mengenai pembicaraan kakak beradik tersebut.
Ayana menoleh, kedua sudut bibir keritingnya melengkung sempurna.
"Apa Mas ingin tahu?" Zidan mengangguk patuh. "Mas Danieal-"
Ia pun menjelaskan semua pengakuan Danieal padanya tadi. Dokter tampan itu pun hanya tersenyum malu mendengar rangkaian cerita yang adiknya sampaikan.
Di ruangan itu hanya ada suara Ayana yang mengalun. Zidan menjadi pendengar setia dan Danieal, sang pelaku hanya mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
Di tempat berbeda, Jasmine yang masih tinggal di kediaman keluarga Zidan pun tengah berada di studio lukis milik Ayana.
Ia melihat sebuah lukisan besar yang terpajang tepat di hadapannya. Bibir ranum itu melengkung sempurna memandang penuh minat pada karya sang pelukis.
Sedari tadi ia terus berdiri di sana seraya memindai gambar alam yang dibuat oleh Ayana. Bola mata keabuan nya pun bergulir ke ujung kanvas.
Di sana ia melihat ada inisal G yang terpajang apik. Tangan kanan Jasmine terulur, mengelus pelan satu huruf tersebut dengan lembut.
"Wanita ini... bagaimana aku bisa menjabarkannya? Ayana itu, wanita yang sangat baik, peduli, dan penuh perhatian."
"Dia... hangat sebagai seorang sahabat dan keluarga. Kepeduliannya terhadap sesama patut diacungi jempol, MasyaAllah, Alhamdulillah, terima kasih ya Allah sudah mempertemukan hamba dengan wanita seperti Ayana."
"Meskipun dia mempunyai lukanya sendiri, tetapi tidak acuh terhadap luka orang lain. Dia mampu menarik seseorang yang terjebak di lubang kegelapan menuju cahaya, meskipun ia juga pernah berada di lubang hitam."
Jasmine menghela napas pelan lalu mendongak melihat gambar senja di dalam kanvas.
"Dia sangat indah," lanjutnya terus mengagumi sosok Ayana.
"Apa... aku bisa seperti dia? Tidak... semua wanita istimewa dengan caranya sendiri." Ia tersenyum manis menambah kecantikan di wajahnya.
"Ah, benar aku harus memberikan Ayana hadiah." Buru-buru Jasmine pergi dari sana menuju kamarnya berada dan setelah itu pergi ke suatu tempat.
...***...
"Kenapa? Apa aku tidak boleh jatuh cinta? Apa aku tidak boleh mencintai seseorang?" timpal Danieal meraung.
Zidan mendengus pelan seraya membalas tatapannya. "Eyy, bukan seperti itu, hanya saja... bagaimana menjelaskannya yah, wah... kamu memang luar biasa, Danieal." Pianis tampan itu memberikan dua jempol padanya, tidak tahu harus beraksi seperti apa lagi.
Danieal berdecih kasar sembari melepaskan kontak mata dengan adik iparnya pelan. Ia lalu melipat tangan di depan dada dan mengulas senyum hangat.
"Tidak ada yang salah dengan jatuh cinta. Kita bisa mencintai siapa saja atas kehendak Allah, mungkin ini takdir bagi kalian? Kita tidak ada yang tahu ke depannya seperti apa," kata Ayana dijawab anggukan oleh suaminya.
"Lalu, kamu akan langsung melamarnya?" tanya Zidan kembali.
"Aku tidak tahu bagaimana perasaannya. Aku... takut menyakitinya," balas Danieal lesu mengingat masa lalu yang menimpa Jasmine dari keluarganya.
"Bagaimana bisa seperti itu? Tentu saja tidak mungkin, jika kamu serius mencintai Jasmine, buktikan. Jangan hanya memendamnya sendiri dan berakhir terluka. Katakan saja, kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya, sama seperti yang istriku katakan tadi," sambar Zidan membuat istri dan kakak iparnya terpaku.
Melihat rekasi mereka Zidan pun langsung tersadar. "Kenapa? Kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanyanya sambil memandangi keduanya bergantian.
"Tidak, hanya saja aku terharu mendengar Mas berkata seperti tadi," kata Ayana membuatnya berdehem kasar.
__ADS_1
"Wah, aku tidak mengira pria sepertimu bisa berkata bijak. Aku pikir, kamu hanya bisa menyakiti para wanita saja," timpal Danieal, sedikit menyindir.
Seketika itu juga Zidan naik pitam, dan beranjak dari duduk. Ia hendak melayangkan pukulan kepada dokter menawan itu, tetapi ditahan sang istri.
"Sudahlah, Mas Danieal hanya bercanda," ucap Ayana lagi.
"Itu benar, kenapa kamu tersinggung? Seperti anak kecil saja." Kembali Danieal menggodanya, senang.
"Cih, yang benar saja." Zidan duduk menyamping menghindari kakak iparnya. "Aku sudah bertaubat," lanjutnya lirih.
Danieal tertawa melihat sang pianis merajuk seperti itu dan Ayana hanya bisa menahan kelucuan suaminya.
"Baiklah-baiklah aku minta maaf," katanya kemudian.
Zidan hanya mengangguk singkat dan setelah itu mereka tertawa bersama. Hubungan ketiganya pun semakin akrab dan hangat.
Sebagai keluarga mereka membentuk keharmonisan yang membuat siapa saja ingin berada di sana. Kehangatan yang memancar pun semakin menambah tali kebersamaan.
Danieal senang pada akhirnya sang adik bisa mendapatkan pernikahan sesungguhnya. Zidan sebagai suami menjadi pasangan yang sangat mencintai dan menyayanginya sepenuh hati.
Ayana pun bersyukur sang suami sudah jauh lebih baik.
Di tengah kebersamaan mereka, tiba-tiba saja pintu dibuka seseorang. Ketiganya menoleh ke arah yang sama dan seketika terkejut mendapati wanita menjadi topik utama datang.
"Jasmine? Kamu datang?" tanya Ayana berdiri dari duduk.
Danieal terbelalak, tidak percaya melihat wanita yang dicintainya ada di sana.
Jasmine pun lalu mengangguk singkat dan menatap mereka bergantian. Sampai perhatiannya pun jatuh pada sang dokter.
Mendapatkan hal tersebut membuat Danieal tercengang, terlebih lagi ia menyadari jika penampilannya jauh dari kesan rapih.
Secepat kilat ia juga bangkit dari kursi dan berjalan pergi dari sana. Ayana, Zidan, serta Jasmine yang melihat kepergiannya pun mengerutkan dahi.
Sampai Danieal melewati Jasmine tanpa mengatakan sepatah katapun memberikan tanda tanya besar bagi sang pasien. Menyaksikan hal tersebut Ayana dan Zidan saling pandang seraya memperhatikan wanita yang masih berada diambang pintu.
Jasmine terus menatap langkah sang dokter yang perlahan semakin menjauh.
Setelah kepergian Danieal, keadaan di sana menjadi sangat canggung. Ayana tahu mungkin saat ini sang kakak sedang malu mendapati wanita terkasihnya tiba-tiba saja datang tanpa pemberitahuan.
"Mu-mungkin mas Danieal ada keperluan," kata Ayana gugup mencoba mencairkan suasana.
__ADS_1
Jasmine pun kembali menoleh ke dalam dan tersenyum lebar. Ia lalu masuk dan mendekati mereka dengan sorot mata sendu.