Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 23


__ADS_3

Seperti menuang air panas ke dasar hati paling dalam. Luka itu mencuat mengalirkan nanah sebagai tanda pedihnya rasa sakit.


Satu minggu berlalu, Ayana yang sudah kembali ke ibu kota mendapatkan toko lukisannya sendiri di sana. Dengan uang yang selama ini didapatkan, akhirnya ia bisa membeli bangunan berlantai satu untuk memamerkan karya-karyanya.


Pencapaian itu tidak terlepas dari perjuangan panjang serta air mata berderai. Ia berpikir tidak bisa bangkit kembali dan terus terpuruk pada rasa sakit.


Namun, Allah menguatkannya dengan perantara seseorang. Ia mendatangkan Danieal beserta kedua orang tuanya yang tulus membantunya.


Selama satu tahun ia berada dalam pengawasan mereka. Orang tua Danieal pun sudah menganggap Ayana layaknya anak sendiri.


Mereka bersyukur bisa bertemu dengan Ayana, di mana wanita itu sangat mirip dengan Eliza yang gemar melukis.


Kehadiran Ayana bagaikan menggantikan sosok Eliza di keluarga mereka. Bersama ketiga orang itu, ia merasakan apa itu sebuah kehangatan tulus.


Dukungan moril serta materil diberikan mereka hingga membuat Ayana benar-benar bisa bangkit lagi. Ia tidak percaya diberikan tiga orang yang tulus dalam menyayanginya.


Untuk itu, demi mereka Ayana bangkit guna membalas jasa-jasa yang sudah keluarga Danieal berikan. Ia pun mengubah namanya menjadi Ghazella Arsyad, yaitu nama belakang keluarga mereka.


Aidan Arsyad, Celina Arsyad, dan Danieal Arsyad adalah tiga orang yang paling berharga baginya saat ini. Ayana tidak bisa menyianyiakan kebaikan mereka yang sudah menumpahkan kasih sayang serta perhatian padanya.


Aidan Arsyad adalah pemilik rumah sakit terbesar di ibu kota. Keluarga itu merupakan keluarga dokter di mana semua anggotanya mayoritas memiliki pekerjaan yang sama.


"Ayana, ada-"


Ayana yang tengah menata lukisannya pun menatap nyalang Danieal. Pria yang berprofesi sebagai dokter itu pun terkejut.


"Ah, maaf aku tidak sengaja menyebut nama itu. Baiklah, Ghazella aku mendapatkan permintaan dari klien baru," tuturnya sembari menenteng tablet.


Ayana mendekat dan menatap sang lawan bicara. "Permintaan apa?"


"Kamu diminta untuk melukis seseorang. Nama kliennya dari Carnation, em ... namanya seperti bunga," jelas Danieal semakin pelan.


Ayana melipat tangan di depan dada dengan bola mata memandang ke atas. "Iya nama yang aneh. Kenapa harus menggunakan nama samaran? Apa dia orang yang tertutup?"


"Entahlah, banyak orang-orang penuh kejutan di dunia ini. Bukankah kamu salah satunya?" ujar Danieal lalu duduk di meja belakang mereka dan menikmati teh hijau.

__ADS_1


"Em, pahit ... tidak berubah sama sekali," lanjutnya mendongak menatap Ayana yang masih diam.


"Hidup itu pahit, Mas. Baiklah, kapan dan di mana aku harus bertemu dengan orang aneh ini?" tanya Ayana yang juga duduk di hadapannya.


Danieal mengalihkan pandangan ke tablet yang tergeletak di atas meja. Ia melihat email tadi dan membaca dengan seksama.


"Besok kamu di minta datang ke alamat Saloka no.80 gedung putih, katanya ... kamu nanti tinggal bilang pada security di sana untuk bertemu Carnation dan mereka akan memandumu," jelasnya kemudian.


Ayana mengangguk mengerti dan menikmati green tea dengan manisan. "Baiklah, aku akan datang besok. Kalau begitu aku mau menyelesaikan lukisan dulu."


Ayana pun beranjak dari sana tanpa mendengarkan jawaban pria yang sudah dianggapnya kakak tersebut.


"Dia benar-benar sudah gila kerja," gumam Danieal memandanginya lalu meminum kembali tehnya.


"Uh, pahit sekali," keluhnya lagi.


...***...


Seperti yang sudah dijadwalkan kemarin, hari ini Ayana datang ke tempat pertemuan. Ia membawa mobil sendiri, sebab Danieal sibuk di rumah sakit.


Selesai memarkirkan kendaraannya ia bergegas masuk dan disambut security di sana. Ia menunjukan email dalam ponsel dan mengatakan akan bertemu dengan Carnation.


"Di sini ruangan beliau berada. Beliau sudah menunggu Anda sedari tadi," jelasnya, setibanya mereka di depan salah satu pintu jadi paling besar.


"Tuan, tamu Anda sudah tiba," ungkap sang pria.


Terdengar suara baritone dari dalam menyuruh Ayana masuk. Setelah dipersilakan ia berjalan menunjukan diri pada seseorang tangah memunggunginya.


"Assalamu'alaikum, Tuan. Saya Ghazella Arsyad, pelukis yang diminta datang ke sini," ucap Ayana memperkenalkan diri.


"Ah ... Ghazella Arsyad yah? Dia juga mengendarai mobilnya sendiri ... Ayana tidak bisa membawa mobil, kan?" benaknya dalam diam.


"Tuan?" Panggil Ayana lagi saat tidak mendapatkan respon apa pun.


"Saya minta maaf."

__ADS_1


Tidak lama berselang kursi kebesaran itu berputar, seketika pandangan mereka saling bertemu. Ayana tidak bisa menahan rasa terkejut kala mendapati pria tersebut di sana.


Ia berusaha menenangkan diri dengan mencengkram peralatan kerjanya, kuat. Ia yakin jika semua ini memang sudah direncanakan.


"Oh, jadi dia mau memastikan ku sekarang? Tenang saja aku bukanlah Ayana yang kamu kenal," benak Ayana dalam diam.


"Tuan Zidan? Saya tidak menyangka jadi, ternyata Tuan?" ujarnya percaya diri bak orang asing.


Zidan mengembangkan senyum menetralisir kala tidak percaya wanita di hadapannya ini seperti orang lain. "Itu benar."


"Tapi kenapa harus menggunakan nama Carnation?" tanya Ayana penasaran.


Zidan pun bangkit dari duduk dan berjalan beberapa langkah ke depan. "Bisa kamu ikut aku?" pintanya tanpa menjawab pertanyaan Ayana


Tanpa menunggu jawabannya, Zidan melangkahkan kaki ke sebelah ruangan di mana di sana terdapat pintu kayu menghubungkan ke ruangan lain.


Ayana menautkan kedua alis tidak mengerti. Untuk menghilangkan kecurigaan ia mengikuti ke mana pria itu pergi.


Keheranan semakin menyapanya kuat. Di sepanjang lorong ia menyaksikan bunga anyelir merah muda berjejer rapih dengan pot kecil tertata rapih sepanjang jalan. Ia lalu berhenti saat Zidan menoleh ke belakang bersama senyum menghiasi wajah tampannya.


"Silakan masuk, aku ingin kamu melukisku di sini," ungkapnya.


Ayana semakin melangkahkan kaki ke dalam dan seketika maniknya membulat lebar. Kelopak bunga anyelir merah muda pun tersebar di lantai.


Ke mana matanya mengarah di sana pasti terdapat bunga tersebut. Di tengah-tengah ruangan piano klasik berdiri dengan gagah. Cat tembok berwarna putih begitu kontras dengan jendela besar di samping alat musik.


Cahaya dari sang raja siang masuk semakin menyilaukan tempat itu. Ayana terdiam menghirup aroma bunga yang entah kenapa mengingatkannya pada masa lalu.


Ia menoleh pada Zidan yang berdiri tidak jauh darinya. Sang pianis itu pun lagi-lagi melengkungkan bulan sabit sempurna.


Zidan merunduk membawa setangkai bunga anyelir lalu dipandanginya lekat. "Kamu tahu apa arti bunga anyelir berwarna merah muda ini?" Ayana menggeleng meskipun Zidan tidak memperhatikannya.


"Bunga anyelir merah muda mengandung arti rasa syukur dan tidak ingin melupakan seseorang. Kamu tahu apa artinya bunga ini bagiku?" Sejenak Zidan menjeda ucapannya seraya masih menunduk melihat setangkai bunga dalam genggaman.


Alina pun masih mengatupkan mulutnya terus menunggu apa yang hendak di sampaikannya lagi. sampai sedetik kemudian, pianis itu pun kembali berujar, "Aku tidak bisa melupakan seseorang yang selama ini ... sudah aku sia-siakan. Bunga ini juga melambangkan cinta dan kerinduan, untuk itu-" Zidan mengangkat kepala lalu menoleh ke samping.

__ADS_1


Ayana yang melihat ekspresi itu pun terpaku dan hampir melepaskan barang bawaannya. Namun, ia mendapatkan kembali kesadaran serta menampilkan senyum singkat.


"Aku minta maaf, Ayana." Suara lirih nan tulus menyambut membuat denyut jantung Ayana bertalu kencang. Ia semakin mencengkram pegangannya seraya menatap datar Zidan yang masih memberikan sorot mata sayu.


__ADS_2