
Di ruang inap tinggallah Ayana dan Ratu berdua saja. Wanita sosialita itu sengaja meminta pada mereka untuk meninggalkannya sendiri saja bersama sang pelukis.
Ada hal yang harus dua wanita itu bicarakan tanpa kehadiran orang lain. Mereka pun mengerti dan memberikan kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama.
"Saya sangat kagum atas keberanian yang kamu miliki, Ayana. Kamu mampu menghadapi pelaku pembunuhan orang tuamu dengan tenang. Jika saya jadi kamu... mungkin sudah mengamuk," kata Ratu.
Ayana mengulas senyum manis dan meremas kedua tangan.
"Memang sangat berat, Nyonya. Semua itu juga berkat bantuan Anda. Saya mengamuk juga tidak bisa mengembalikan mereka. Saya... hanya ingin keadilan saja," balasnya tulus.
Ratu senang mendengar jawaban wanita di hadapannya ini.
"Terima kasih sudah meminta saya untuk bekerja sama. Mungkin jika tidak ada keberanian darimu, saya bisa selamanya menyimpan rasa sakit ini. Namun, sekarang luka itu sedikit terobati."
"Saat pertama kali bertemu denganmu, saya sadar kamu bukan wanita polos seperti kelihatannya. Kamu-"
"Saya bukan wanita yang baik," serobot Ayana tidak ingin mendengar pujian apa pun dari orang lain.
Ratu mengangguk paham, keduanya kembali teringat pada saat pertemuan pertama mereka.
Hari itu Ayana sudah mengantongi pemilik gedung seni pusat kota yang telah bekerja sama dengannya dan juga Arfan.
Sebelum pameran di gelar dua minggu lagi, Ayana datang ke sana sendirian tanpa didampingi sang pengusaha.
Ia sengaja melakukan itu untuk meminta bantuan dari sang pemilik gedung.
Setelah janji temu dibuat, Ayana bergegas menuju lantai paling atas, kantor pemiliknya berada.
Pintu kayu jati yang menghubungkan luar dan dalam pun dibuka sang sekertaris. Aroma bunga magnolia seketika menyambut membuat Ayana terpaku.
Raksi yang menyebar menyadarkan jika mereka memiliki kesamaan. Entah itu luka maupun bunga kesukaan.
Wanita bersanggul rapih yang tengah duduk tepat di hadapannya mendongak melengkungkan bulan sabit sempurna.
Ayana melebarkan pandangan saat mendapati senyum lembut diberikan padanya.
"Anda sudah datang?" sapa wanita itu.
Ayana mengangguk pelan lalu masuk ke dalam dan seketika pintu tertutup rapat.
Sang pelukis duduk berhadapan di sofa tunggal di ruangan tersebut seraya terus memandangi Ratu penuh makna.
__ADS_1
Wanita berusia empat puluh delapan itu pun membalas tatapannya tahu apa yang hendak disampaikan Ayana.
"Jadi, apa yang bisa saya bantu?" tanyanya to the point.
Ayana kembali terkesiap mendapati pertanyaan langsung seperti itu.
"Ah, sepertinya Nyonya sudah tahu kedatangan saya ke sini," balasnya tegas.
Ratu mengangguk, melipat kaki anggun, seraya menautkan jari jemari di atas pangkuan. Bibir semerah cherry itu kembali melengkung sempurna.
"Saya ingin meminta bantuan Anda, Nyonya. Bisakah Anda menyewakan tempat ini untuk membongkar kejahatan seseorang? Saya-"
"Saya akan membantumu sepenuhnya, jangankan untuk disewa diberikan pun saya bisa melakukannya," potong Ratu cepat.
Lagi dan lagi Ayana terpaku, terkejut bukan main mendapatkan jawaban yang di luar perkiraan.
Ratu merupakan seorang wanita pekerja keras, pemilik gedung seni sekaligus penikmat lukisan yang sering mengadakan lelang.
Wanita itu pun bahkan sering diundang diberbagai acara besar di negaranya. Ayana tidak menyangka bisa berurusan dengan seseorang yang berpengaruh dan sekarang sosok itu akan membantunya.
"Tujuan kita sama, Ayana. Saya ingin kebenaran itu juga terungkap, pelaku tidak boleh terus menerus bebas seperti sekarang."
Ratu menyodorkan beberapa dokumen penting yang sedari tadi sudah tergeletak di sofa sebelahnya.
"Mungkin kejahatannya pada saya tidak seberapa jika dibandingkan denganmu, tetapi ini bisa menjadi bukti lain atas apa yang sudah dilakukannya," jelas Ratu.
Ayana yang masih membuka lembar demi lembar kertas itu mengangguk beberapa kali. Manik bulannya melebar tidak menyangka jika nenek mertuanya pandai memanipulatif yang alhasil membuat bisnis Ratu gulung tikar.
"Saya sudah tahu jika beliau membuat perusahaan Anda bangkrut, tetapi ternyata tindakannya sejauh ini?" ungkap Ayana melihat bukti-bukti yang sudah dilakukan Basima belasan tahun ke belakang.
Pada saat itu melalui beberapa koneksinya, Basima mengatakan hal tidak menyenangkan mengenai parfum buatan Ratu.
Ia mengatakan jika parfum tersebut dibuat dari bahan-bahan berbahaya dan kadar alkohol yang sangat tinggi.
Mulai dari sana pembeli yang semula memuncak pun kembali menurun. Ratu mendapatkan kabar jika sudah ada seseorang yang memanipulatif semuanya.
Namun, siapa sangka hal itu datang dari orang yang telah bekerjasama dengannya. Bukti-bukti pun berdatangan saat Ratu menyuruh seseorang ahli di bidangnya mencari kebenaran.
Dokumen-dokumen itu ia dapatkan di meja kerja Basima yang sudah mengganti bahan-bahan parfum milik Ratu menjadi zat-zat berbahaya.
Alhasil Ratu mendapatkan sanksi berupa pemblokiran akses dagang. Perusahaannya hari ke hari semakin menurun dan pada akhirnya ia pun bangkrut.
__ADS_1
Pada saat itu ia tidak bisa melaporkan Basima, sebab koneksi wanita tersebut bisa dibilang ada di mana-mana.
Layaknya terikat tali, Ratu tidak bisa bergerak bebas dan hanya bisa menyimpan rasa sakit menyaksikan kejayaan tetua Ashraf yang semakin melambung tinggi.
Dengan uang tabungan yang masih tersisa, Ratu memulai bisnis baru yaitu menampung karya seni dan bekerja sama dengan beberapa pelukis.
Sampai pada akhirnya ia bisa mempunyai gedung seni terbesar di tanah air dan sudah mengadakan berbagai macam acara di sana.
"Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuka kejahatannya."
Setelah kesepakatan terjalin, Ayana dan Ratu mulai menjalankan rencana.
...***...
Pada saat itu dua wanita yang terhubung akibat kejahatan Basima menjadi akrab satu sama lain.
Ratu dan Ayana saling membutuhkan guna membongkar kebusukan Basima yang sudah bertahun-tahun lamanya terkubur.
"Sekali lagi terima kasih banyak, Ayana. Sekarang saya bisa bernapas lega dan hanya tinggal menunggu keputusan akhir," kata Ratu selepas mengingat pertemuan pertamanya.
"Sama-sama, Nyonya. Saya juga berterima kasih sudah membantu, terutama dalam memperbolehkan melakukan itu di gedung Anda," balas Ayana kemudian.
Ratu menggeleng singkat membuat sang pelukis menautkan alis. "Tidak usah berterima kasih, Ayana. Karena dari awal gedung itu dialokasikan untuk melakukan ini."
Ayana terkejut, irisnya melebar sempurna tidak percaya.
"Ja-jadi Anda sengaja membangun gedung seni itu untuk menjebaknya di sana?"
Ratu mengiyakan tanpa gentar sedikit pun.
"Itu tujuan saya. Karena saya tidak tahu harus memulainya dari mana, gedung itu dijadikan sebagai tempat pagelaran seni. Namun, seiring berjalannya waktu rencana saya berhasil dan gedung itu bisa digunakan sebagaimana mestinya."
"MasyaAllah, saya tidak menduga sama sekali. Anda sangat luar biasa, Nyonya." Ayana kagum atas persiapan yang dilakukan Ratu.
"Tidak Ayana, semuanya berkat bantuan mu."
Ayana hanya mengangguk haru seraya menutup mulut menganganya, masih tidak menduga tujuan Ratu sebenarnya dalam membangun gedung tersebut.
Ternyata rasa sakit hati bisa membuat seseorang melakukan apa pun. Tidak peduli apa yang akan terjadi, selagi tujuannya dapat terpenuhi maka apa pun di jalani.
Ayana dan Ratu, sama-sama menginginkan tujuannya tercapai guna mendapatkan keadilan.
__ADS_1
Bertahun-tahun mereka terluka atas kejahatan yang dilakukan Basima. Selama itu pula keduanya harus memendam luka di atas suka sang tetua Ashraf.