Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 2 CHAPTER 52


__ADS_3

Musim semi di tahun ini pun tiba, aroma bunga sakura merebak mengalirkan semangat baru bagi setiap insan.


Hari-hari mendebarkan telah terlewati, luka, air mata, duka nestapa, kian melebur bersama angin musim semi.


Harapan baru kian melambung tinggi mencapai mimpi yang kian menepi. Jarak antara kebahagiaan dan kesedihan hanya ada dua, yaitu sabar serta sholat.


"Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar. Surah Al-Baqarah ayat seratus lima puluh tiga."


"Em, masyaAllah, ya Rabb, pertolongan-Mu begitu dekat. Engkau Maha Adl, Maha Adil, hakim seadil-adilnya, hamba percaya apa pun yang terjadi itu pasti yang terbaik."


"Terima kasih banyak ya Allah, atas pertolongan serta kelancaran yang Kau berikan pada kami, sampai pada akhirnya... kami bisa berada di titik ini," racau Ayana memandang ke langit pagi ini.


Cakrawala begitu indah dengan membentangkan awan putih berarak mengikuti hembusan angin.


Mantel yang tersampir di bahunya menari-nari ikut terbawa sejuknya udara.


Saat ini Ayana tengah berada di pekarangan gedung pengadilan. Ia memandang ke sekitar menyaksikan orang-orang maupun kendaraan berlalu lalang yang sedikit tinggi dari jalanan.


Sudah banyak kisah yang terlewati, selama itu pula kejadian demi kejadian tak terduga berdatangan dan berkeliaran.


Satu persatu fakta terungkap bagaimana masa lalu mencengangkan mencuat ke permukaan. Jika sudah masanya tiba serapat apa pun menyimpan sebuah rahasia pasti terbongkar juga.


Allah pemilik skenario kehidupan terbaik dan perencana kisah terindah bagi setiap hamba.


Maka tidak akan ada selamanya dalam hal apa pun itu.


"Kami sudah menerima laporan dari suamimu. Satu jam lagi sidang akan segera dimulai."


Suara seorang pria tertangkap indera pendengaran. Ayana berbalik, tersenyum penuh makna pada sosok berpakaian formal tersebut.


"Terima kasih banyak atas bantuan Anda, Mas Hanan," balas Ayana ramah.


"Kasus tentang kejahatan tetua Ashraf masih mempunyai dua bulan pencarian. Beruntung, sebelum masanya berakhir kita bisa mendapatkan bukti-bukti apa saja kejahatan yang sudah dilakukannya."


"Bertahun-tahun pihak jaksa maupun kepolisian bekerja sama untuk mengungkap siapa dalang di balik kebakaran perusahaan Nakazima yang menewaskan sepuluh orang. Namun, baik pelaku yang sudah kami tangkap, rekaman CCTV, dan lain sebagainya tidak menunjukan siapa dalang di balik semua itu. Karena setelah ditelusuri, tetua Ashraf mempunyai koneksi baik dikejaksaan maupun kepolisian."


"Itu sebabnya dia berhasil lolos berkali-kali dari pantauan kami."

__ADS_1


"Berkat keberanian serta tekad yang kamu miliki, Nona Ayana... kejahatan tetua Ashraf bisa terungkap. Terima kasih atas kerja samanya," ungkap Haidan kakak kembar Haikal yang dulu pernah membantunya dalam kasus penangkapan Presdir Han.


Ayana kembali mengulas senyum manis bertolak belakang dengan keadaan wajahnya yang masih bengkak.


Tulang hidungnya sedikit retak akibat pukulan yang dilayangkan oleh Basima, kini menyisakan kasa putih di sana.


Sudut bibirnya masih terlihat merah dan juga bekas jahitan yang tertutup kasa pun mencuat di balik hijab.


Keadaan Ayana masih dibilang cukup mengkhawatirkan. Namun, ia memaksa untuk keluar dari rumah sakit guna menjadi saksi dan korban dari kebakaran dua puluh tahun lalu serta kejadian tempo hari.


"Kenapa kamu melakukan semua ini, Ayana? Kenapa kamu tidak melawan pada saat pemukulan itu terjadi?" tanya jaksa Haidan, penasaran.


Ayana menarik diri dan kembali memandang ke depan.


"Aku sengaja tidak melawan... karena... aku ingin membuktikan seperti apa bengisnya tetua Ashraf. Jadi-" Ia menoleh pada Haidan lagi, "jadi, kita bisa mempunyai bukti kuat untuk mengungkapkan semuanya, kan," lanjutnya.


Haidan terkesiap menyaksikan sorot mata tegas nan dalam dari wanita di sebelahnya. Ini pertama kali ia bertemu dengan seseorang yang rela melakukan apa pun guna menegakan keadilan.


Serta ini kedua kalinya Haidan bisa menyaksikan aksi Ayana yang bisa dibilang nekad untuk mengungkapkan kebenaran.


Berkali-kali ia kagum pada istri tuan mudanya ini.


Ayana terkekeh pelan dan menggeleng singkat.


"Sudah aku katakan waktu itu, aku bisa mengambil alih semua pekerjaanmu, Mas. Namun, sayang... aku tidak tertarik. Aku... hanya ingin keadilan bagi ayah dan ibuku saja," ungkapnya.


Haidan tersenyum takjub pada setiap rencana dan tekad yang dimiliki seorang Ayana.


Mereka pun berbincang-bincang beberapa saat sebelum sidang dimulai.


...***...


Seperti yang sudah ditentukan, siang ini sidang pertama tetua Ashraf digelar.


Di ruangan itu banyak anggota keluarga yang datang. Ayana, Zidan, Gibran, dan beberapa orang yang membantu pun turut hadir.


Sedari tadi Ayana terus memandang ke arah si pelaku yang tengah duduk berhadapan dengan hakim.

__ADS_1


Satu persatu kejahatan yang telah dilakukannya pun dibacakan. Hal tersebut semakin memberatkan Basima guna menjalani hukuman.


Di tengah persidangan atmosfer pun semakin menegang dan memanas. Para anggota keluarga yang pro kepada Basima pun terus mengajukan banding.


Mereka tidak rela jika anggota tertuanya harus mendekam di balik jeruji besi. Perkataan demi perkataan yang kurang mengenakan pun mengarah pada Ayana.


"Heh, dasar cucu menantu tidak tahu diuntung... bagaimana bisa kamu memenjarakan nenek mertuamu sendiri, hah? Kamu lihat, beliau sudah sangat tua," teriak Daniyah tidak terima jika ibunya harus menerima hukuman berat.


"Zidan, kamu dan istrimu sama saja, anak kurang ajar tidak tahu berterima kasih. Kalian semua sudah merencanakan ini, kan?"


"Dasar munafik, tidak tahu diri."


Kata-kata menyakitkan lainnya terus menghujani diri Ayana maupun Zidan. Namun, wanita itu tetap tenang duduk nyaman, sembari melipat kaki anggun dan meletakan tangan di atas pangkuan.


Pandangannya masih tertuju pada si pelaku yang kini tengah berlinang air mata mengisyaratkan sebuah pengampunan.


Di tengah kehebohan masih berlangsung, Kirana yang juga turut hadir pun menyeringai pelan. Sedari tadi manik berlensa abunya memindai Ayana yang tanpa gentar sedikit pun.


"Ternyata wanita ini... benar-benar menarik. Dia... sama sekali tidak menggubris apa yang mereka lontarkan. Ayana, sungguh lawan yang tangguh," gumamnya sambil melipat tangan di depan dada.


Ia melihat Zidan, Gibran, dan orang disekeliling Ayana yang berusaha menimpalinya. Namun, objek yang tengah menjadi sasaran masih berada dalam ketenangan.


Tanpa terusik, Ayana tetap santai mengikuti persidangan yang semakin memanas. Hakim pun mengetuk palu beberapa kali guna menenangkan situasi.


"Mohon kondusif semuanya, jika seperti ini jalannya persidangan akan alot. Mohon pengertiannya," ucap hakim pria itu lantang.


"Saudari Ayana, apakah Anda mempunyai saksi bagaimana bengisnya pelaku sebagai dalang pada pembakaran dua puluh tahun silam?" tanya hakim menoleh pada Ayana.


Sang pelukis pun mengangguk, mengiyakan tanpa suara dan sedetik kemudian pintu ruang sidang pun dibuka.


Suara sepatu pantofel bergema menarik perhatian semua orang di sana. Mereka menuatkan alis, heran menyaksikan kedatangannya, sedangkan Ayana hanya memberikan senyum penuh makna.


Satu wanita di sana pun melebarkan pandangan tidak percaya dengan degup jantung bertalu kencang.


Kirana sangat terkejut mendapati pria itu ada di sana. Ia kembali dibuat tidak percaya atas apa yang dilakukan Ayana.


"Pantas saja waktu itu dia memanggilku nona Rauf, ternyata-" racau Kirana tidak melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Saya Ihsan Rauf, saksi di balik kejadian dua puluh tahun lalu," jelas pria tampan tersebut.


__ADS_2