
Suara tamparan keras bergema di sana. Pelaku penamparan itu pun menahan emosi yang kian memuncak setelah mendapatkan kabar sangat mengejutkan.
Mega, wanita berbadan dua itu langsung bertandang ke rumah sakit menemui sang keponakan.
Setibanya di sana ia langsung menampar kuat wajah tampan sang pianis tidak peduli di mana dirinya berada.
Kepala bersurai hitam tersebut menoleh ke samping dengan pipi merah padam. Zidan menangkup menggunakan sebelah tangan merasakan panas merambat hingga ke daun telinga.
"Bisa-bisanya kamu-" Mega berusaha tenang demi sang jabang bayi. "Bisa-bisanya kamu membiarkan Ayana memenjarakan nenekmu sendiri? Di mana akal sehatmu itu Zidan? Di mana hati nurani mu?" Mega mencak-mencak melampiaskan kekesalan.
Di lorong lantai enam rumah sakit, tidak hanya ada Mega saja melainkan hampir semua anggota keluarga datang.
Zidan, Gibran, Bening, dan juga kedua orang tua angkat Ayana memandangi mereka satu persatu.
"Kamu sudah keterlaluan membiarkan wanita tua dibawa polisi, dia nenekmu Zidan. DIA NENEKMU!" teriak Daniyah, napasnya memburu teringat saat tadi menyaksikan lewat layar televisi sang ibu diseret oleh pihak kepolisian.
Satu persatu dari mereka memberikan kata-kata yang membuat Zidan naik pitam. Ia memukul tembok sebagai pelampiasan.
"Sudah kalian bicaranya? Silakan sekarang kalian pergi! Karena tidak ada alasan bagiku untuk menarik kembali apa yang seharusnya dipertanggungjawabkan oleh tetua Ashraf. Pergi jika kalian hanya ingin mengganggu ketenangan istriku saja," tegasnya lalu duduk di kursi tunggu lagi.
Mendapatkan respon Zidan seperti itu membuat keluarganya pun emosi. Mereka terus mengata-ngatai sang pianis anak tidak tahu diuntung, tidak tahu diri, dan lain sebagainya.
Zidan tidak merespon, membiarkan mereka melakukan apa pun yang diinginkannya.
"Lebih baik kalian pergi dari sini, banyak pasien yang membutuhkan istirahat jangan sampai mengganggunya," lanjut Gibran membuat mereka beralih padanya dan memberikan kata-kata yang sama.
Setelah itu anggota keluarga Ashraf membubarkan diri dan tinggallah sang ibu dan ayah yang memandangi kedua buah hatinya bergantian.
Lina pun bergegas mendekati Zidan lalu duduk di sebelahnya dan menggenggam tangan sang buah hati erat.
Ia berusaha menyalurkan kekuatan agar Zidan bisa melewati itu semua dengan sabar dan ikhlas.
"Mamah yakin, Ayana pasti akan baik-baik saja. Dia wanita yang kuat tidak mudah hancur begitu saja. Mamah dan Ayah akan mendukung apa pun keputusanmu," kata Lina mengusap punggung putra pertamanya berkali-kali.
Zidan menoleh singkat lalu mengangguk pelan. Ia melihat ruas-ruas tangannya merah keunguan habis memukul tembok tidak berdosa itu.
"Terima kasih," jawab Zidan singkat
Kedua mertuanya pun ikut mendukung dan memberikan semangat pada Zidan untuk tetap tegar menghadapi permasalahan yang ada.
__ADS_1
Mendapatkan hal tersebut dari orang-orang terdekatnya membuat Zidan semakin kuat. Mereka terus berdoa meminta pada Sang Khalik untuk menyelamatkan Ayana.
Bening sedari tadi menyaksikan perseteruan keluarga wanita yang sudah dianggapnya keluarga sendiri itu pun mengembangkan senyum.
Ia juga sangat terkejut pada tindakan yang dilakukan Ayana.
Sepanjang kakinya melangkah ke toilet, sang pelukis mengatakan padanya dan Ratu untuk memberikan pertunjukan terakhir.
Mereka sengaja memasang kamera perekam berukuran kecil di toilet guna mencari tahu apa yang dilakukan Basima.
Namun, mereka tidak menyangka jika hal itu dilakukan oleh Ayana untuk memberikan tontonan yang tidak pernah ada dalam rencana.
Sontak hal tersebut membuat Basima, Ratu, Gibran, Haikal, maupun Zidan yang terlibat sangat terkejut kala mendapati Ayana mengorbankan diri sendiri guna mendapatkan pengakuan dari Basima.
Rekaman yang mereka dapatkan dari toilet pun menjadi bukti konkret jika Basima adalah pelaku atau otak di balik kejadian kebakaran perusahaan Nakazima dua puluh tahun lalu.
"Kamu benar-benar wanita luar biasa, Ayana," benak Bening mengagumi sosoknya.
...***...
Pengaruh anestesi membuat alam bawah sadar Ayana tidak karuan. Di sana, di balik gelapnya ia melihat dua cahaya mendekat.
Aroma yang menenangkan membuat Ayana mengulas senyum lembut dan tanpa sadar ekor matanya menangkap dua siluet tengah berdiri di depannya.
Ayana mendongak mendapati ayah dan ibu tengah tersenyum manis.
Seketika itu juga Ayana berlari sekencang-kencangnya melemparkan diri memeluk mereka.
Air mata mengalir tak tertahankan menyalurkan rindu lewat tangis haru.
"Ayah, Mamah, aku sangat merindukan kalian," ungkapnya dengan suara bergetar.
"Jangan menangis, Sayang. Kamu adalah anak Mamah dan Ayah yang paling kuat," balas sang ibu mengusap kepalanya sayang.
Aliyah dan Anwar balas memeluk buah hatinya tak kalah erat. Mereka menghabiskan banyak waktu hanya untuk saling berpelukan mengikis kerinduan yang kian menggelora.
"Aku ingin bersama Ayah dan Mamah," ucap Ayana lagi.
"Tidak, Sayang. Waktumu belum tiba, kembalilah, masih ada kehidupan yang harus kamu jalani," kata Anwar.
__ADS_1
Ayana melepaskan pelukan memandang ayah dan ibu seraya menautkan alis.
"Apa yang Ayah katakan? Aku bisa ada di sini itu artinya... aku bisa bersama kalian kembali," katanya yakin.
Aliyah menggelengkan kepala beberapa kali. "Tidak Sayang, waktumu hanya sebentar di sini. Kamu harus kembali, jika waktumu yang sebenarnya sudah tiba, insyaAllah, kita bisa bersama selamanya."
"Ayah dan Mamah sangat menyayangimu, Sayang. Hiduplah dengan baik," lanjut Anwar lagi.
"Mamah dan Ayah senang atas apa yang kamu lakukan," kata ibunya.
"Berbahagialah bersama orang-orang yang menyayangimu dan kamu sayangi," ujar keduanya lagi seolah menghilang terbawa angin.
"Jangan menyimpan dendam dan maafkanlah kesalahan orang lain. Itulah yang bisa membuat hidup kita berharga. Karena semuanya sudah ada ketentuannya masing-masing," lanjut mereka kemudian.
Ayana yang tidak mengerti pun hanya mengangguk saja dan setelah itu sosok keduanya perlahan-lahan menguap.
Ayana yang menyadari hal itu menggeleng-gelengkan kepala dan berlari sekuat tenaga berusaha menggapai keduanya.
"Jangan pergi... aku mohon jangan pergi Ayah... Mamah. Aku ingin bersama kalian... Ayana ingin bersama kalian!" teriaknya melihat ayah dan ibu semakin terbang ke atas.
Ayana tersandung dan jatuh dengan menangis haru. Ia meremas rumput hijau di bawahnya kuat melepaskan kepergian mereka.
Tidak lama berselang ia mendengar suara mesin pendeteksi jantung semakin kuat. Ayana bangkit dan memandang ke sekitar mencari sumbernya.
Sampai beberapa saat berlalu manik yang terus menutup itu terbuka. Pandangannya langsung tertuju ke langit-langit ruangan yang sudah tidak asing lagi.
Untuk kesekian kali, Ayana harus berakhir di sana. Bau disinfektan, ruangan serba putih, nyeri di kepalanya, serta denyutan di pergelangan tangan sudah menjelaskan apa yang terjadi.
Ayana pun sadar dan berusaha menguasai diri dengan memandang satu titik ke depan.
Selang beberapa saat bola matanya bergulir ke samping menangkap siluet seseorang.
Merasakan tatapan Ayana, sosok itu pun berbalik dan mengulas senyum manis.
"Kamu sudah sadar?"
Pertanyaan itu sontak membuat Ayana melebarkan pandangan. Ia tidak percaya melihat kembali wajah tersebut yang tiba-tiba saja ada di sana.
Degup jantung Ayana bertalu kencang membuat alat pendeteksi memperlihatkan grafiknya begitu jelas.
__ADS_1
Sosok tadi menoleh pada layar sekilas dan kembali pada Ayana masih dengan tersenyum lebar. Ia berjalan mendekat yang semakin membuat sang pelukis tidak karuan.