Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 21


__ADS_3

Satu setengah tahun berlalu begitu cepat, hari-hari yang telah lalu memberikan kenangan baru. Gelenyar asha yang sempat menghilang kini meniti lagi dan lagi.


Harapan yang semula redup perlahan memberikan warna baru mengalirkan mimpi untuk digapai. Tahun telah berganti, banyak kejadian memberikan pembelajaran.


Salah satunya masa lalu, di balik peristiwa itu terdapat hikmah luar biasa. Pahit yang sempat diterima berganti rasa manis layaknya madu.


Ayana Ghazella korban dari keegoisan serta pengkhianatan oleh orang yang paling dicintainya kini telah bangkit dari rasa sakit.


Satu bulan lalu ia bertandang ke ibu kota menemui para penikmat karyanya. Ia senang semua orang menyambutnya hangat. Dalam satu tahun ia sudah banyak meraih penghargaan, mulai dari pelukis pendatang baru sampai karyanya yang begitu fantastis.


Malam ini ia mendapatkan undangan lagi untuk kesekian kali. Jika tahun lalu ia tidak berminat untuk memenuhi panggilan orang-orang tersebut, tetapi pada tahun ini ia akan mendatanginya.


Sekarang ia sudah berubah, rasa sakit yang dirasakan pada saat itu telah menguap berganti kenangan kebahagiaan. Ia juga melupakan masalah percintaan dan lebih fokus kepada karier.


Jam sudah menunjukan pukul setengah delapan malam, dalam balutan gaun panjang berwarna hitam dengan kilauan manik-manik serta hijabnya yang senada, ia datang ke hotel megah di ibu kota.


Acara tersebut merupakan ajang penghargaan untuk kesekian kalinya ia datangi. Program itu mendatangkan berbagai artis terkenal, pengusaha ternama, musisi, sampai orang-orang yang memiliki bakat luar biasa.


Dari sekian banyak orang yang datang, salah satunya Ayana mendapatkan undangan tersebut. Ia sudah diberitahu akan mendapatkan lagi penghargaan mengenai lukisannya yang baru.


Tidak lama berselang ia turun dari mobil mewah dan seketika cahaya kamera langsung menyorotinya. Ayana begitu berkilau memberikan senyum lebar pada setiap wartawan yang menyapa.


Di belakangnya Danieal bergegas menyusul untuk menjadi pengawal Ayana malam ini. Di berbagai kesempatan dokter tampan tersebut akan menyempatkan hadir untuk menemani wanita itu yang sudah dianggapnya sebagai adik sendiri.


Keberadaan Ayana seperti Eliza yang memberikan harapan baru kepada Danieal beserta kedua orang tuanya. Mereka sudah banyak membantu Ayana untuk bangkit kembali, membuatnya bersyukur sudah dipertemukan dengan orang-orang baik.


Beberapa saat berlalu, Ayana sudah duduk di bangku yang telah disiapkan. Wajah putihnya begitu mencolok dengan hijab hitam yang membingkai.

__ADS_1


Kecantikan serta auranya begitu mengundang perhatian. Banyak orang-orang dari kalangan artis maupun pengusaha meminta foto dengannya. Dengan sopan Ayana menolak, sebab baginya ia tidak mencari ketenaran melainkan pengakuan.


"Selamat malam semuanya, kembali lagi di acara penghargaan yang luar biasa ini. Saya Adnan bersama rekan saya Arumi, akan memandu acara sampai selesai. Sebelum memulai kita akan mendengarkan lagu klasik terlebih dahulu dari pianis ternama," ucap Adnan memulai.


"Pianis ini sudah lama berkelana di industry musik dan telah mendapatkan banyak penghargaan di usia muda. Tanpa berlama-lama lagi kita langsung menikmati pertunjukannya," lanjut Arumi kemudian.


Kedua MC itu pun hengkang memberikan kesempatan pada pianis untuk unjuk gigi. Tidak lama berselang lampu redup dan menyisakan satu cahaya di atas panggung yang memperlihatkan seorang pria duduk menghadap piano.


Jari jemari sudah berada di atas tuts-tuts piano siap memberikan pertunjukan. Sedetik kemudian nada-nada indah mengalun membentuk simfoni sempurna.


Harmoni yang terajut mengalirkan suara sampai kepada telinga pendengar. Musik lembut penuh penghayatan itu pun membuat sang pianis menutup mata menikmati permainannya sendiri.


Tanpa terasa air mata menetes membuat para penonton terkejut. Musik yang begitu lembut syarat akan kerinduan memperlihatkan perasaan sang pianis.


Di tengah alunan yang terus mengalir itu pun, Ayana mengangkat sebelah sudut bibirnya. Ia tahu siapa yang sedang bermain di atas sana.


Tidak lama berselang permainan piano pun berakhir. Pria bertuxedo hitam itu bangkit dari duduk lalu berjalan ke tengah-tengah panggung.


Dengan menggenggam mic di tangan kirinya, ia menyapu para penonton yang hadir. Wajah sendu sarat akan kerinduan masih tercetak jelas di sana.


Semua yang melihat dan mendengar mengerti akan perasaan kehilangan sang pianis. Ia dengan sangat jelas memperlihatkannya.


"Sudah satu setengah tahun berlalu, saya kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidup. Dia merupakan seorang wanita luar biasa dengan kebaikannya yang melimpah. Lagu tadi saya persembahkan untuk dia yang sudah lama menghilang dalam pandangan."


"Sayang ... jika kamu melihatku di atas sana-" Ia mendongak seolah-olah menyaksikan sosok yang sangat dirindukannya. "Aku ingin mengatakan jika ... aku sangat merindukanmu. Aku minta maaf atas semua yang terjadi."


Setelah itu ia menundukan kepala singkat mengakhiri pertunjukan. Seketika suara tepuk tangan bergema, para penonton terhanyut serta terbawa perasaan.

__ADS_1


Di tengah-tengah kemerihan tersebut Ayana menyaksikan pria di atas panggung dalam. "Kata maaf tidak bisa mengembalikan apa yang sudah hilang dalam hidup. Mungkin, bisa saja aku memaafkanmu, tapi kejadian itu tidak akan pernah bisa aku lupakan. Kenangannya, perlakuanmu, rasa sakit itu, saat ini masih membekas dalam ingatan," monolognya dalam diam.


...***...


Satu persatu acara pun berlangsung lancar, hingga tiba saatnya untuk membacakan penghargaan demi penghargaan.


Kategori demi kategori terus disebutkan, sampai pada gilirannya disebut. Ia mendapatkan penghargaan untuk lukisan kenangan yang berhasil meraih suara paling banyak.


"Kita sambut pemenang penghargaan kategori seni yang mendapatkan begitu banyak perhatian."


"Benar sekali Adnan, beliau merupakan seorang pendatang baru yang karyanya sudah berada di mana-mana. Baiklah tanpa menunda-nuda waktu lagi kita sambut ini dia-" Arumi melirik Adnan, lalu mereka mengangguk bersama-sama.


"GHAZELLA." Teriak keduanya bersamaan.


Tidak lama setelah itu di layar besar menampilkan lukisan demi lukisan karya Ghazella. Semua penikmat seni terkagum-kagum dengan bakat yang dimilikinya.


Tepuk tangan penonton menemani setiap langkah yang diambil wanita bergaun hitam tersebut. Suara high heels menyentak membuat suasana menjadi hening.


Langkah demi langkah membawa sosok itu menunjukan jati dirinya. Tidak banyak yang tahu mengenai seorang Ghazella. Ia hanya akan datang jika ada undangan ataupun bertemu dengan beberapa kolega.


Pada kesempatan besar ini semua orang bisa menatap dan melihat siapa sosok di belakang nama Ghazella. Nama itu selalu ada di ujung lukisan yang dibuatnya lengkap dengan tanda tangan sang pelukis.


Satu persatu tangga yang menghubungkan dirinya dengan panggung ditapaki perlahan. Wanita berhijab pashmina dengan panjang ke belakang itu pun menjadi pusat perhatian. Lensa kamera tidak henti-hentinya membidik sosok itu terus menerus.


Sampai tiba saatnya ia pun hadir di tengah-tengah banyaknya pasang mata. Ia tersenyum lebar kala berada di atas panggung dengan menggenggam trofi berkilau.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat malam semuanya. Saya Ghazella seorang pelukis pendatang baru-" Ayana terus memberikan sambutan mengucapkan rasa syukur atas apa yang sudah diterima.

__ADS_1


Namun, di tengah kemeriahan tersebut satu sosok menegang di tempat. Seolah nyawa hilang dalam raga, ia pucat menyaksikan wanita itu mengulas senyum bahagia di atas sana.


__ADS_2