
Kehampaan kian membayang, kisah kelam yang sudah terjadi kini hanya sebatas cerita semata.
Memang tidak baik terus menerus mengingat kejadian yang tidak bisa terulang kembali. Memang salah menyimpan sebuah dendam pada seseorang.
Kini ia hanya memasrahkan semuanya pada takdir semata. Al-Ald, Allah Maha Adil, hakim sebaik-baiknya yang bisa memberikan balasan kepada siapa pun.
Ayana menyadari jika roda kehidupan terus berputar, baik dan buruk, senang maupun susah mempunyai waktunya tersendiri.
Namun, ia tidak menyangka jika masa akan mengembalikannya lagi pada seseorang yang sama.
Di tempat itu, di kediaman itu, dan di bangunan itulah ia sudah menghabiskan enam tahun kehidupannya.
Pasang surut menjalankan rumah tangga telah ditempuh sampai ia pun harus kehilangan sang jabang bayi.
Luka itu akan selalu ada dan senantiasa kembali hadir mengundang air mata lagi dan lagi.
Langkah demi langkah ia tapaki menyaksikan ruangan yang tertangkap pandangan. Di sanalah ia hidup waktu itu bersama pria yang sangat dicintainya.
Di sana pula lah ia menerima kenyataan pahit jika sang suami tidak benar-benar tulus mencintainya.
"Ruangan ini menjadi saksi di mana hari itu aku melihat kebenaran. Dalam tayangan televisi aku menyaksikan suami dan wanita simpanannya mengumumkan kebahagiaan," benak Ayana berdiri di ruang keluarga sembari menatap lurus pada benda pipih lebar nan besar di hadapannya.
Ia kembali berjalan menuju dapur, "tempat makan ini menjadi saksi lain seperti bagaimana aku mengalami morning sicknees, waktu itu mereka tidak peduli."
Setelah dari sana Ayana melangkah ke lantai dua. Ia pun mencapai sebuah ruangan yang pernah menjadi saksi pada pernyataan suami beserta madunya.
"Di ruangan rahasia ini kalian merencanakan untuk membunuh anakku. Cih, kalian berdua sungguh luar biasa, permainan yang sangat sempurna sampai-sampai aku tidak tahu apa pun," benaknya lagi.
Tidak lama kemudian Ayana keluar dari sana dan menatap kamar yang selama enam tahun dirinya tidur di sana.
"Kamar ini, banyak sekali kenangan yang bisa aku ingat. Bagaimana mas Zidan memperlakukan ku dengan lembut dan berakhir darah mengalir tanpa henti. Di sini juga awal mula anakku pergi," batinnya menahan kepedihan.
Selang beberapa saat, Ayana melangkahkan kaki lagi menuju studio lukis berada.
__ADS_1
Pintu bercat putih itu masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah. Ia membukanya perlahan, seketika bayangan saat dirinya mengamuk pun kembali lagi.
"Aku mengamuk seperti orang gila di sini. Malam itu hanya ada aku yang meraung kesakitan selepas bayi tak berdosa berpulang ke pangkuan Illahi lagi, sedangkan mereka sedang sibuk menikmati kebahagiaan di atas lukaku," monolog dalam benaknya pun berhenti di sana.
Ayana terus berjalan menelusuri ruangan demi ruangan tersisa di sana. Ia mengingat bagaimana kehidupan polosnya terjadi begitu saja.
Ia terlalu lugu dan tidak bisa berbuat apa-apa pada saat menerima kenyataan pahit menghampiri rumah tangganya.
Sampai ia pun tiba di tepi kolam renang dan berdiam diri di sana menyaksikan indahnya langit sore.
...***...
Zidan baru saja tiba dari rumah sakit diantar oleh Haikal. Ia buru-buru pulang setelah mendapatkan kabar Ayana akan pindah hari ini.
Seraya mendorong kursi rodanya, ia terus menelusuri ruangan di mana sang istri berada. Sampai pandangannya pun tidak sengaja melihat seseorang di luar belakang rumah.
Ia menuju ke sana dan seketika itu juga mendapati Ayana tengah menutup kedua mata sembari mendongak ke atas.
Zidan menghentikan laju kursi roda, bangkit perlahan dan berjalan pelan mendekati sang pujaan.
"Alhamdulillah, MasyaAllah, terima kasih, Sayang. Kamu mau pulang lagi ke rumah kita. Allah benar-benar luar biasa dalam memberikan kebaikannya. Kasih sayang-Nya membuatku sadar dari kesalahan, aku janji ... aku tidak akan pernah melakukan kesalahan yang sama lagi."
Kata-kata itu melukiskan perasaan terdalam seorang Zidan. Lembut nan syahdu, mengalir ke relung hati terdalam.
Ayana terdiam memandang lengan kekar berotot itu melingkar di perut ratanya. Pemilik tangan itu yang dulu pernah menorehkan luka menganga.
Ayana melepaskan pagutannya dan berbalik menghadapi sang suami.
Ia mendongak melihat sepasang onyx tengah menampilkan kehangatan. Tidak pernah Ayana melihat tatapan seperti itu beberapa tahun ke belakang.
Kedua mata tersebut biasanya menampilkan kebencian dan juga emosi mendalam.
"Apa yang membuat Mas Zidan melakukan semua ini untukku? Bukankah dulu Mas sangat membenciku?" tanya Ayana membuka suara.
__ADS_1
"Shut, aku mohon jangan pernah mengungkitnya lagi. Karena aku juga benci diriku di pada masa itu. Hal yang membuatku berubah adalah Allah menyadarkan ku, jika keberadaan seseorang yang benar-benar mencintaiku dengan tulus lebih baik ... daripada seseorang yang selama ini aku perjuangkan ... dan berakhir pengkhianatan."
"Iya, itulah yang aku rasakan. Aku sangat terluka oleh pria yang sangat kucintai, tetapi ... aku tidak menyesal pernah jatuh cinta padanya. Karena aku yang memilih untuk bersamanya. Bahkan sejak perasaan itu hadir menyadarkan ku akan arti kesabaran."
Zidan tidak bisa berkata-kata, wanita yang dulu disia-siakan adalah sosok luar biasa. Pasangan yang selama ini ia butuhkan kini telah kembali.
Cinta semu kala itu membuat ia buta dan mengabaikan kebenaran.
"Aku benar-benar minta maaf pernah sangat menyakitimu. Sekarang-"
"Shut, apa yang tadi Mas bilang kita tidak usah membahas masa lalu lagi," ucap Ayana memotong perkataannya.
"Em, terima kasih." Ia kembali merengkuh tubuh kecil sang istri seraya mengusap punggungnya pelan.
"Dulu, aku pernah merasakan jatuh cinta seorang diri, hati ini tidak bertuan dan hanya menjalankan rumah tangga dengan kekosongan. Meskipun aku memiliki suami, tetapi kesepian itu tetap saja terasa. Aku memang memiliki raganya, tetapi hatinya ada pada orang lain. Ya Allah, apakah kami masih bisa menjalankan pernikahan ini?" benaknya gamang.
Sentuhan demi sentuhan lembut yang sang suami berikan pada masa itu mengandung duri. Di baliknya terdapat makna berbeda untuk menyungkurkan Ayana.
Kedua sosok penyebab luka menganga menginginkan ia pergi dari sana agar mereka bisa hidup bahagia selamanya.
Namun, rencana hanyalah tinggal rencana. Allah menakdirkan semuanya berbeda, Zidan sadar dari sebuah kesalahan dan kebusukan Bella pun terbongkar.
Kini hanya ada penyesalan yang juga mengantarkan pada kebahagiaan.
"Aku sangat mencintaimu. Aku mencintaimu, Ayana."
Ungkapan cinta kembali tercetus jua, Ayana diam tidak membalas sepatah kata merasakan perasaannya campur aduk.
"Jika waktu itu aku mendengarnya ... aku pasti sangat bahagia dan, aku tidak akan ragu untuk membalas kalau ... aku juga sangat mencintaimu. Namun, sekarang? Apa yang aku rasakan di sini? Aku tidak tahu," benaknya lagi.
Ia bisa merasakan degup jantung sang suami berdetak kencang. Suatu hal mustahil yang terjadi di masa lalu, Ayana terperangah dan terus diam mendengarkan lantunannya.
Tanpa sadar ia menutup kedua mata sembari membalas pelukan itu. Zidan mengembangkan senyum kala sang istri mau menerimanya kembali.
__ADS_1
"Aku tidak akan pernah menyianyiakan kepercayaanmu lagi, Ayana," ucapnya membatin penuh yakin.