Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 2 CHAPTER 25


__ADS_3

Ayana kembali menginap di rumah orang tua sambungnya dan tidak bisa menempati janji sang suami. Setelah pertemuannya dengan ibu serta nenek mertua kegelisahan semakin mengintai.


Kata-kata tetua Ashraf terus terngiang menjadikan diri terjebak di antara bertahan atau melepaskan.


Semuanya bagaikan berada dalam lingkaran penuh kepalsuan, tetapi bagaimanapun juga saat ini Ayana berusaha untuk berdiri di posisinya.


"Mas." Panggil Ayana pada Danieal yang tengah mengganti perban di telapak tangannya.


"Hm?" jawab dokter tampan itu singkat.


"Bukankah belum terlambat jika aku-"


"Apa? Apa yang kamu pikirkan?" Danieal memotong ucapan Ayana cepat seraya mendongak melihat ke dalam iris sang adik.


Ayana terkejut, merenggut ke belakang pelan menangkap wajah terkejut kakaknya. Ia menarik tangannya lagi dan mengucapkan terima kasih singkat.


Danieal yang tengah duduk di seberangnya pun membereskan peralatan medis ke kotak P3K di meja persegi panjang tersebut.


"Apa kamu berpikir untuk berpisah dengan Zidan? Hei Ayana, apa kamu pikir bercerai itu perbuatan baik? Meskipun diperbolehkan, tetapi Allah tidak menyukainya. Kamu-"


"Iya aku tahu, sangat mengetahuinya. Lalu, apa yang harus aku lakukan? Keluarganya benar-benar memojokkan ku untuk mendapatkan anak. Apa yang harus aku lakukan?" Ayana terus meracau.


Sesak dalam dada semakin naik ke permukaan membuat air mata merembes di balik kelopaknya. Ayana menangkupkan wajah di telapak tangan menyembunyikan kesedihan.


Melihat itu Danieal terpaku, keadaan seperti ini mengingatkannya pada masa lalu.


Baru saja ia beranjak dari kursi, suara melengking sang ibu mengejutkan.


"Astaghfirullah, apa yang terjadi? Kenapa putri Mamah menangis?" Celia buru-buru mendekati Ayana lalu duduk di sebelahnya dan langsung menarik tubuh gemetar itu ke dalam pelukan.


"Apa yang kamu lakukan pada Ayana?" tanyanya nyalang pada putra pertama.


"Apa? Aku tidak melakukan apa-apa," bela Danieal. "Putri Mamah hanya sedang sedih. Keluarga besar Zidan memojokkannya dengan pertanyaan kapan dia bisa punya anak lagi," jelasnya kemudian.


"Apa? Me-mereka, apa?" tanya Celia terkejut.


"Mereka meneror Ayana kapan dia punya anak lagi," ungkap Danieal kedua kali.

__ADS_1


"APA? BISA-BISANYA! APA MEREKA TIDAK TAHU APA YANG SUDAH AYANA LEWATI UNTUK SEMBUH DARI TRAUMANYA?" Suara nyonya dokter itu pun menggelegar ke segala penjuru ruangan.


Celia melupakan tatakrama, serta keanggunan dalam dirinya. Ia melepaskan diri dari segala aturan yang sedari kecil sudah melekat padanya jika sudah berhubungan dengan anak-anaknya.


Kepala berhijab simple itu menunduk ke bawah menyaksikan putri sambungnya tengah terisak.


Ia mengelus punggung Ayana pelan menyalurkan kekuatan.


"Sudah Sayang, jangan menangis lagi. Mamah tahu apa yang kamu rasakan. Waktu itu, setelah Eliza meninggal, seluruh keluarga besar ayahmu menyalahkan Mamah. Katanya Mamah tidak becus jadi seorang ibu dan gagal melindungi putrinya."


"Kata-kata menyakitkan itu terus berlangsung selama beberapa bulan. Mamah terluka, benar-benar terluka. Kehilangan anak ditambah disalahkan, menjadi pukulan telak. Sampai Danieal yang tidak kuat melihat Mamah diperlakukan seperti itu pun memutuskan untuk pergi."


"Kamu tahu ke mana dia pergi? Danieal mendatangi sebuah desa yang mengantarkannya bertemu denganmu."


"Saat pertama kali mendengar ceritamu, Mamah sangat bersimpati. Danieal pun memperlihatkan fotomu dan betapa terkejutnya Mamah, jika kamu sangat mirip dengan Eliza. Hanya saja putri kecil Mamah itu terlalu kurus dan tidak berhijab."


"Hanya melihatmu dari foto Mamah sudah menyayangimu, Nak. Kami pun berdiskusi dengan keluarga besar yang pada akhirnya menerimamu untuk menjadi bagian keluarga ini."


"Mereka senang ada seseorang yang bisa mengisi kekosongan kami. Ayana dan Eliza, kalian anak yang luar biasa. Jangan menyerah pada keadaan Ayana, kamu tidak boleh terpuruk pada situasi ini, seperti Eliza," tutur Celia panjang lebar mengungkapkan kisah yang sudah dirinya lalui.


Sembari mengusap tubuh ringkih sang putri sambung, Celia mengingat kejadian demi kejadian tahun-tahun kemarin.


"Tidak Mah, Eliza tidak terpuruk. Justru dia wanita yang luar biasa, masih sanggup bertahan pada kondisi mematahkan perasaan. Eliza, wanita yang sangat hebat," kata Ayana membuat Celia tidak kuasa membendung air mata.


Cairan bening meluncur begitu cepat membuat keduanya terkesiap. Ayana menangkup wajah cantik sang ibu dan menghapus air matanya pelan.


"Terima kasih, berkat Mamah aku bisa bertahan sampai sekarang. Aku ... sangat menyayangi Mamah, ayah, Mas Danieal, dan keluarga besar kalian yang sudah menerimaku. Terima kasih," lanjut Ayana, dengan nada bergetar menahan tangis.


Celia mengangguk-angguk tanpa mengatakan apa-apa. Semua kata-kata yang ingin dilontarkan seketika tercekat di tenggorokan.


Ibu dan anak itu pun kembali saling berpelukan mengabaikan Danieal yang sedari tadi menyaksikan adegan mereka bak drama televisi.


"Syukurlah, Mamah dan Ayana memang saling membutuhkan kehadiran satu sama lain. Ya Allah, jagalah keluarga kami," benaknya dalam diam.


...***...


Pagi menjelang, Ayana yang baru saja turun dari lantai dua terkejut mendapati suaminya sudah duduk di meja makan bersama sang ayah.

__ADS_1


Ia berjalan mendekat membuat kedua pria berbeda usia tersebut menoleh ke arah yang sama dan menghentikan obrolan.


"Oh Sayang, kamu sudah turun?" sapa Adnan dengan senyum merekah.


"Iya Ayah," balas Ayana singkat lalu menatap pada Zidan, "kapan Mas datang?" tanyanya kemudian.


"Dua puluh menit lalu, aku datang ingin sarapan bersamamu," katanya menjelaskan.


Ayana hanya mengangguk lalu duduk di seberangnya. Atmosfer di sekitar mereka terasa begitu aneh, ia belum bertemu dengan suaminya lagi sejak kejadian kemarin siang.


Setelah pertemuannya dengan tetua Ashraf, ia memutuskan untuk kembali ke kediaman keluarga Arsyad. Di sana Ayana berbicara banyak bersama ibu dan juga kakaknya.


Tidak lama berselang Danieal pun datang lengkap dengan kemeja hitam yang melekat sempurna di tubuh atletisnya.


Ia pun terkejut melihat Zidan ada di sana lalu duduk di samping Ayana.


"Oh kamu datang?" sapanya sembari mengambil sepotong roti.


"Iya aku datang ingin sarapan bersama istriku," ungkapnya lagi.


Danieal mengangguk pelan, kedua tangannya tidak berhenti bekerja mengoleskan selai di permukaan roti tawar.


"Apa lukamu sudah sembuh? Aku lihat wajahmu masih sedikit membengkak," kata dokter itu lagi mulai menikmati makanannya.


"Oh ini." Zidan menyentuh pipi sebelah kanan yang terkena pukulan kakak iparnya tempo hari. "Sudah lebih membaik," lanjutnya.


"Baguslah, aku minta maaf sudah memukulmu," ujar Danieal begitu saja.


"Apa? Kenapa kamu memukul adik iparmu, hah?" sambar Adnan menatap lekat putra pertamanya.


"Hanya kesalahpahaman saja. Ayah tidak usah khawatir," jawab Ayana mencoba memutuskan pembicaraan tersebut.


"Oh kalian sudah berkumpul rupanya, ayo sarapan!" ajak Celia sembari membawa sepiring lauk pauk yang dibuatnya bersama para asisten rumah tangga.


Ayana langsung beranjak dan membatu mereka membawakannya.


Beberapa saat kemudian mereka berlima mulai menikmati sarapan. Di temani celotehan demi celotehan lembut semakin membangun keintiman keluarga di sana.

__ADS_1


Para maid berlalu lalang melayani tuan-tuannya, mereka ikut senang menyaksikan keakraban di meja makan setiap hari begitu mendamaikan.


Baik Ayana maupun Zidan, mereka sama-sama tidak membahas kejadian kemarin. Keduanya terlena pada situasi hangat terjadi di sana.


__ADS_2