
Hari demi hari berlalu, selama itu pula Jasmine terus tinggal di galeri Ayana. Ia menolak pada saat sang pelukis menawarkannya untuk menyewakan tempat tinggal.
Ia mengatakan agar Ayana tidak usah repot-repot membantunya sampai sejauh itu.
Ia senang hanya mendapatkan tempat untuk melepas penat, terlebih Ayana pun mengizinkannya bekerja di galeri.
Ayana juga membelikan banyak sekali pakaian. Jasmine yang diperlakukan sebegitu baiknya, merasa tidak enak terus menerus mendapatkan ketulusan darinya.
Karena itulah ia bersikeras bekerja di galeri guna membalas jasa-jasa Ayana, meskipun sang pelukis tidak mengharapkan apa pun.
Dua minggu berlalu, Jasmine sangat gesit membantu Ayana dalam menuntaskan lukisannya. Dasar-dasar yang tidak pernah sang pelukis dapatkan dari belajar otodidak pun didapatkan dari Jasmine.
"Dulu, aku pernah belajar jurusan seni, jadi cukup akrab dengan dunia ini," jelasnya saat menuangkan berbagai macam warna pada tempatnya.
Ayana yang masih disibukkan dengan pesanan pun menoleh singkat dan menghadap kanvas lagi.
"Begitukah? Wah, pasti kamu seorang mahasiswi seni yang digilai banyak orang. Kamu cantik, baik, ramah, pasti banyak yang menjadi temanmu," celoteh Ayana.
Mendengar itu Jasmine hanya menelan ludah, kehidupannya tidak seindah sang pelukis bayangkan. Ia hanya tersenyum masam tanpa ada niatan membalas ucapan Ayana.
Mendapati diamnya sang lawan bicara, pelukis itu pun menghentikan kegiatannya. Ia lalu menoleh ke samping kiri menyadari sesuatu tidak biasa.
"Jasmine?" Panggilnya pelan.
"Ah, bisakah aku mendapatkan kanvas juga? Aku ingin melukis sepertimu," ujarnya semangat mengalihkan pembicaraan.
Seketika Ayana sadar jika masih ada rahasia yang disembunyikan Jasmine. Namun, sebelum wanita itu mau menjelaskannya sendiri, ia tidak bisa memaksa nya begitu saja.
"Baiklah, aku akan menyiapkannya untukmu."
Ayana pun membawa dudukan kanvas lalu meletakan objeknya di sana. Ia juga memberikan kursi kayu berbentuk bulat, agar Jasmine nyaman melakukan kegiatannya.
"Sebelum itu kamu gunakan ini dulu." Ayana memperlihatkan apron berwarna putih dengan inisial G di ujungnya.
Jasmine memandangi inisial itu lekat mengundang perhatian sang pemilik.
"Ah, aku memang suka dengan inisial itu. Jadi, selalu menempatkannya di mana-mana," jelas Ayana membuatnya sadar.
"Begitukah? Terus kenapa setiap kamu melukis selalu menggunakan gaun putih, bahkan sampai apron ini juga. Bukankah membersihkannya sangat susah?" tanya Jasmine seraya mengencangkan tali apron di belakang punggungnya.
__ADS_1
Ayana yang duduk di kursi miliknya lagi pun mengembangkan senyum lalu melihat abaya putihnya sudah penuh dengan cipratan cat minyak.
"Karena aku suka melihat jejak cat minyak warna-warni ini di pakaianku. Entah kenapa memberikan kepuasan tersendiri, seolah... aku bisa merasakan keberadaan ku. Mungkin terdengar aneh, tetapi... setelah kejadian mengerikan itu terjadi aku mencoba menyibukkan diri dengan melukis."
"Seperti aku mempunyai kehidupan sendiri yang penuh dengan harapan. Aku bisa menciptakan dunia sendiri, yang penuh dengan kesenangan di dalamnya."
"Ah, maaf... aku jadi banyak bicara lagi," oceh Ayana tanpa sadar.
Jasmine menggeleng singkat dan kembali mengembangkan kedua sudut bibir ranumnya.
"Eung~ tidak Ayana. Aku senang melihat betapa antusiasnya dirimu, yang mana hal itu... tidak pernah bisa aku rasakan." Jasmine menghela napas kasar dan mendongak ke atas.
"Seandainya aku bisa terbang bebas sepertimu, pasti menyenangkan. Bukan?" Ia menoleh kembali membuat Ayana terkejut.
"Ah, iya... tentu saja kamu juga bisa terbang bebas. Yakin dan percaya diri serta gantungkan semuanya pada yang Di Atas," kata Ayana lagi yang hanya dijawab anggukan saja oleh Jasmine.
"Misteri apa yang ada di balik nama Jasmine ini? Sudah dua minggu dia berada di galeri, dan selama itu pula aku tidak menemukan apa pun tentangnya. Maaf Jasmine, aku perlu mencari tahu tentangmu supaya bisa membantumu," benak Ayana melanjutkan pekerjaannya.
...***...
Kurang lebih satu bulan berlalu, pagi ini Ayana mengunjungi kediaman orang tuanya bersama Raima.
Baru saja ia melangkahkan kaki masuk kedatangannya telah disambut oleh ayah, ibu, dan juga kakak angkatnya.
Celia langsung menggendong Raima yang terus memanggilnya nenek. Dengan senang wanita baya itu pun memberikan kecupan di wajah cantiknya.
Ayana mengikuti keempatnya sampai di meja makan. Di sana mereka makan bersama seraya menikmati obrolan ringan.
"Di mana suamimu? Dia tidak ikut?" tanya sang ayah.
"Tidak Ayah, mas Zidan sedang sibuk melakukan latihan. Kata dokter Haikal, ada konser besar di kota sebelah bulan depan, dan mas Zidan diundang," jelas Ayana memasukan sesendok nasi ke dalam mulut.
"Syukurlah, pasti tidak mudah menstabilkan pekerjaan di samping harus menjadi musisi. Dia harus fokus ke salah satu," timpal Celia kemudian.
"Mamah benar, sekarang perusahaan sudah diambil alih oleh Gibran. Mas Zidan hanya ingin fokus menjadi pianis saja," balas putrinya lagi.
"Syukurlah aku senang mendengarnya, tapi Haikal... berapa banyak pekerjaannya itu? Dia benar-benar multitalenta," kata Danieal dijawab anggukan oleh Ayana.
Mereka pun melanjutkan sarapan sambil menanggapi Raima yang sudah mulai berbicara. Meskipun belum bisa dipahami, tetapi hal itu menjadi kegemasan sendiri untuk keluarganya.
__ADS_1
Selesai makan bersama, Ayana sedang mengganti baju Raima di ruang keluarga habis ketumpahan sup sayur.
Di tengah kesibukannya, tiba-tiba saja Danieal datang mengganti channel televisi yang kini tengah menayangkan berita mencengangkan.
"Wah, orang-orang kaya itu pasti kebingungan. Ahli warisnya menghilang selama hampir satu tahun," oceh sang dokter seraya menikmati keripik kentang.
"Pasti sangat sulit, masalah orang kaya memang banyak sekali," balas Ayana yang hampir selesai memasangkan pakaian baru pada sang putri tercinta.
"Itu benar, lihat saja orang-orang itu sampai menangis. Entah itu tangisan asli atau palsu," kata Danieal lagi terus memasukan makanan ringan memiliki citra rasa asin itu.
"Iya mereka-" Ayana menghentikan ucapannya saat melihat potret wanita yang terpampang nyata dalam layar.
Manik jelaganya melebar sempurna dengan kata-kata tercekat di tenggorokan.
"Kami mohon kepada orang yang menemukan ahli waris kami, segera hubungi kami. Kami sangat kehilangan dia," ucap salah satu wanita baya di dalam televisi seraya memperlihatkan selembar foto sang ahli waris yang dimaksudkan.
Wajahnya penuh dengan mata bak seseorang yang benar-benar kehilangan.
Merasakan diamnya sang adik, Danieal menoleh ke samping dan terkejut melihat ekspresi yang tengah dibuatnya.
"A-Ayana? Oyy Ayana." Panggilnya seraya menunjuk-nunjuk lengan kanan Ayana sedikit kuat.
"Ah." Ia terpekik dan menoleh pada kakaknya masih dengan melebarkan pandangan.
"Apa? Ada apa?" tanya Danieal penasaran.
"A-ahli waris itu... sekarang ada di galeriku, Mas," jelasnya gugup.
"APA?" Danieal berteriak sekencang-kencangnya membuat Raima terkejut dan menangis begitu saja.
Buru-buru Ayana menggendong dan menimang-nimang Raima, menenangkannya. Ia masih tidak percaya melihat berita yang mengarah pada Jasmine.
Ia benar-benar terkejut dan tidak percaya.
"Jadi, apa maksud perkataannya waktu itu. Jika dia... ingin terbang bebas, apa selama ini dia di kurung?" racau benak Ayana.
Di tempat berbeda, Jasmine tengah sibuk membuat sesuatu sedari tadi. Ia tidak tahu jika di luar sana semua orang sedang mencarinya.
Asal usul Jasmine Magnolia Mahesa pun sedikit terungkap. Siapa, dari mana, dan seperti apa kehidupannya di mulai sekarang.
__ADS_1