Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 19


__ADS_3

Ngeri dan miris, dua kata yang bisa Ayana simpulkan setelah mendengar semua masa lalu Jasmine.


Alexa Mahesa, sang paman begitu kejam memberikan kisah kelam pada seorang anak yang tidak bersalah.


Ia memberikan dendam pada anak yang tidak tahu apa-apa mengenai kejadian di masa lalu. Keberadaan Jasmine bukan untuk dijadikan sasaran pelampiasan rasa sakit, melainkan sebagai pelengkap.


Dendam yang kerap kali menguasai membutakan mata hati dan menggelapkan hati nurani. Keinginan untuk membalas semua perbuatan sang kakak ditumpahkan pada Jasmine.


Air mata yang sekuat tenaga ditahan, meluncur dengan cepat. Ayana bisa merasakan bagaimana hancurnya perasaan Jasmine.


Seorang anak berusia lima tahun harus menelan pil pahit kehidupan. Jasmine dituntut harus menanggung semua kesalahan sang ayah seorang diri.


"Ya Allah, astaghfirullahaladzim, Jasmine," gumam Ayana sibuk menghapus jejak air mata.


Mendengar isakan pelan dilayangkan sang istri, membuat Zidan pun bangun dan bergegas mendekat.


"Sayang, ada apa? Kenapa kamu menangis?" tanyanya merangkul hangat bahu Ayana.


Pujaan hatinya hanya menggeleng sebagai jawaban. Sedetik kemudian ia melemparkan diri memeluk tubuh kekar sang suami.


Di sana Ayana menangis sejadi-jadinya selepas mengetahui kehidupan yang dijalani Jasmine.


Begitu berat, begitu pilu, dan begitu kelam kisah yang harus ditanggungnya. Pundak ringkih itu menyimpan beban teramat besar yang bisa saja menjatuhkan.


"Aku harus bertemu Jasmine," lirih Ayana.


Zaidan melirik Bening membuat wanita itu mengangguk singkat. Ia juga menceritakan semua penemuannya pada sang pianis.


Zidan berkali-kali melebarkan pandangan, tidak percaya. Wanita yang baru datang ke kehidupan mereka memiliki jalan hidup sangat pelik.


Ia tidak menduga di balik kecantikannya ada borok yang teramat parah.


Di sisi lain, Jasmine yang masih berada ruang rawat memandang jauh keluar. Ini hari ke empat puluh lima ia mendekam di sana.


Selama itu pula, Danieal terus memberikan terapi guna mengembalikan kesehatan mentalnya.


Sang dokter menyadari jika terlalu banyak luka serta kekecewaan dalam diri Jasmine. Namun, ia tidak pantang arah untuk mengembalikan keceriaan wanita itu.


Saat pertama kali melihat sosoknya di galeri sang adik, Danieal menyadari satu hal, Jasmine sangat terpuruk.


Ia membutuhkan seseorang berada di sampingnya dan memberikan semangat sepenuh hati.


Tidak lama berselang pintu ruangan dibuka, Jasmine menggulirkan kepala ke samping kanan mendapati sang dokter bersama ketiga orang lain masuk ke dalam.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, selamat pagi, Jasmine. Bagaimana keadaanmu hari ini? Maaf baru bisa mengunjungi mu lagi," kata Ayana berjalan mendekat.


Melihat orang yang memotivasinya datang, Jasmine melebarkan senyum. Hal tersebut membuat Ayana maupun yang lain terkejut.


Terutama, Danieal. Ini pertama kali ia melihat sang pasien bisa memperlihatkan senyum tulus. Ia meyakini jika keberadaan Ayana bisa memberikan aura positif.


"Wa'alaikumsalam, Ayana? Em, tidak masalah," balas Jasmine gembira.


"Wah-wah-wah, lihat siapa orang yang bisa mengubah mu menjadi lebih cantik seperti ini?" Ayana menangkup wajah mungilnya hangat.


Jasmine terkekeh pelan seraya menoleh pada Danieal singkat.


"Kakakmu," jawabnya.


Ayana mengangguk pelan dan duduk di sofa samping ranjang. Ia pun memperkenalkan Bening yang datang bersamanya pada Jasmine.


"Aku datang ke sini bersama Mbak Bening, beliau adalah kakak pertamaku setelah Mas Danieal," jelasnya.


"Seperti yang kamu ketahui aku memang anak tunggal, tetapi kedua orang itu sudah aku anggap seperti keluarga sendiri. Itu sebabnya aku memperkenalkan mereka sebagai kakak," lanjut Ayana lagi menjelaskan.


Jasmine mengangguk mengerti dan langsung beralih pada Bening. Wanita berhijab abu itu pun berjalan mendekat lalu duduk di ujung ranjang.


"Salam kenal, Jasmine. Saya Bening, panggil apa pun yang kamu suka," kata Bening menjulurkan tangan ke hadapannya.


"Jasmine," balasnya singkat.


Mereka pun membicarakan banyak hal. Ayana yang lebih aktif bertanya tentang keseharian Jasmine di rumah sakit.


Diiringi dengan sedikit candaan, atmosfer di ruangan tersebut berubah hangat. Jasmine bisa tertawa lepas membiarkan masalah di belakang.


Seolah kehidupan kelam itu tidak pernah ada. Ia senang bisa bertemu dengan Ayana yang memberikan sebuah harapan.


Ia bertemu orang-orang baru dan menjalin silaturahmi yang hangat seperti keluarga.


Sudah lama Jasmine ingin merasakan seperti apa rasanya berinteraksi dengan orang lain, dan sekarang ia pun mendapatkannya.


"Rasanya... benar-benar menyenangkan," benak Jasmine memandangi keempat orang itu.


Sampai tidak lama berselang, Ayana kembali menggenggam kedua tangannya hangat. Seolah menyadari sesuatu, sang empunya memberikan sorot mata dalam.


Matanya seperti mengatakan ada apa?


"Jasmine, apa kamu percaya dengan keajaiban?" tanya Ayana yang sekejap menarik atensi untuk fokus padanya saja.

__ADS_1


Jasmine hanya diam seraya terus memandangi sepasang jelaga di sampingnya.


Lengkungan bulan sabit terpendar di wajah cantik Ayana. Aura kharismatik serta pejuang pun terpancar jelas.


Jasmine tahu ada hal yang ingin Ayana sampaikan.


"Apa... kamu tahu sesuatu, Ayana?" tanyanya kemudian.


Mendapati pertanyaan tersebut baik Ayana maupun ketiga orang lainnya tercengang. Mereka tidak tahu jika Jasmine memiliki intuisi peka terhadap apa yang hendak menimpanya.


"Iya, aku tahu semuanya," balas Ayana tanpa dusta.


Kini giliran Jasmine terbelalak lebar, bibir kemerahannya terbuka perlahan dengan degup jantung bertalu kencang.


Ia pun menarik kembali kedua tangan dalam genggaman Ayana. Namun, hal itu sama sekali tidak diizinkan oleh sang pelukis.


Ayana menariknya pelan seraya mendongak menatap ke dalam manik keabuan sang lawan bicara.


"Maukah kamu berjuang bersamaku mendapatkan keajaiban itu? Kamu tahu Jasmine? Tidak ada kata selamanya di dunia ini. Semua memiliki waktu dan masa kapan dua sisi itu bergantian."


"Karena hidup layaknya roda berputar... ada kalanya kita di bawah dan ada saatnya pula kita di atas."


"Pernah mendengar waktu adalah uang? Maka bagiku waktu adalah pedang yang bisa digunakan untuk mengungkapkan kebenaran," tutur Ayana membuat Jasmine terpaku.


Lidahnya kelu untuk mengatakan sepatah kata. Keyakinan yang terpancar dari kedua mata Ayana menjelaskan semuanya, jika ia tidak ragu dengan ucapannya sendiri.


Jasmine pun merasakan pegangan di tangannya semakin mengerat. Ia tahu Ayana tidak mungkin berkata demikian tanpa persiapan matang.


Diam-diam selama dirinya di kurung, Jasmine mencari tahu siapa Ghazella Arsyad sebenarnya. Wanita itu adalah sosok panutan yang berhasil memberikan setitik mimpi pada dirinya.


Setelah mendengarkan semua kisah kehidupannya selama ini, Jasmine pun menyadari jika butuh waktu untuk sembuh.


Tidak ada yang instan, semua butuh proses yang tidak mudah.


Kata-kata yang Ayana sebutkan tadi memberikan keyakinan dalam diri jika dua sudut mata uang memiliki perannya masing-masing.


Masa akan menyuguhkan kebenaran tanpa tahu seperti apa rencana Allah. Namun, semua itu pasti memberikan titik akhir.


"Bagaimana Jasmine? Apa kamu mengerti maksudku?" tanya Ayana lagi menyadarkan.


Jasmine masih diam mengunci mulut rapat. Perlahan kepalanya mendongak menatap ketiga orang lainnya di sana yang tengah mengembangkan senyum.


"Perasaan apa ini? Kenapa mereka memberikan keyakinan begitu kuat? Ayana-" Ia kembali menatap Ayana lekat. "Apa yang ingin dia lakukan?" lanjutnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2