
Ketegangan kian melingkupi dua sepupu di taman belakang mansion Mahesa. Sorot mata serius nan dalam menemani kebersamaan mereka.
Angin berhembus cukup kencang memberikan rasa dingin menusuk kulit. Satu persatu daun berguguran menjadi background perseteruan Jasmine dan Darius.
Keduanya tidak ada yang ingin saling mengalah dan lebih mementingkan ego sendiri. Jasmine yang ingin menyadarkan sepupunya, sedangkan Darius ingin membalas segala perbuatan yang telah dilakukan wanita ini.
Setelah mengetahui kabar mengenai sang ayah, Darius langsung pulang ke tanah air dan mencari keberadaan Jasmine.
Kurang lebih satu bulan ia mengawasi sang sepupu dan geram menyaksikan kehidupannya yang baik-baik saja. Emosinya itu kian tak terbendung dan melakukan aksinya tepat di kediaman Zidan dan Ayana.
Namun, busur yang ia layangkan mengenai orang lain dan hal itu membuat Darius semakin meradang.
Keduanya pun lalu terlibat konflik batin hingga saling melakukan gencatan senjata.
"Kenapa? Apa kamu penasaran apa yang terjadi padaku sampai-sampai tidak takut mati?" tanya Jasmine kemudian mendapati air muka berantakan di atasnya.
Mendapatkan pertanyaan itu sontak membuat Darius sadar. Di saat ia hendak menarik belati di leher sang sepupu, Jasmine langsung mencengkram kuat pergelangan tangannya.
"Kenapa? Apa kamu iba padaku? Lakukan saja-"
"Lepaskan! Apa kamu gila, Jasmine?"
"Iya, aku sudah gila. Aku benar-benar sudah gila. Semua itu... karena ayahmu yang sudah merubahku seperti ini."
Ia mengembangkan senyum penuh luka yang kembali mencengangkan Darius. Ia berusaha menarik pergelangan tangannya, tetapi cengkraman Jasmine begitu kuat.
Darius kembali sadar jika terlalu banyak rasa sakit yang Jasmine tanggung hingga mengeluarkan kekuatan begitu signifikan.
"Aku dikurung Darius. Aku dikurung seperti binatang buas oleh ayahmu. Dia memperlakukanku layaknya robot pekerja."
"Setiap hari, aku dituntut untuk membuat patung pesanan dengan jumlah yang sangat gila. Dia bahkan tidak memberikan akses kebebasan padaku barang sedetik saja. Aku tidak berbeda jauh dari pekerja rodi, Darius."
"AKU SAMPAH! AKU ANAK YANG TIDAK TAHU DIRI DAN MUNAFIK... SEPERTI YANG KAMU KATAKAN. AKU BINATANG DARIUS... AKU BINATANG BUAS YANG TIDAK BISA MELIHAT APA ITU WARNA DUNIA." Jasmine berteriak kencang mengenyahkan keheningan malam.
Bersamaan dengan itu anjing liar melolong menambah ketegangan. Dada Jasmine kembali naik turun menahan pengap yang kembali melanda.
"Orang tuaku... dibantai tepat di depan mata kepalaku sendiri. Setelah itu... aku menjadi pekerja rodi yang dia manfaatkan untuk mendapatkan kekayaan."
"Kamu pikir... darimana uang yang selama ini kamu hambur-hamburkan, HAH? Uang itu dari jerih payahku selama bertahun-tahun."
"Kamu tidak pernah tahu bagaimana sakitnya hidup berdampingan dengan mayat orang tua dan juga keluarga mu sendiri."
__ADS_1
"Kebenaran itu terungkap saat aku berhasil kabur dari mansion. Kamu tahu bagaimana rasanya? SAKIT DARIUS. SANGAT SAKIT, SAMPAI-SAMPAI AKU MEMILIH LEBIH BAIK MATI DARIPADA HARUS HIDUP DI NERAKA SEPERTI INI!" gertak Jasmine lagi mengungkapkan rasa sakit yang selama ini ditanggungnya.
Di tengah seringaian itu air mata mengalir dari kedua sudut mata. Darius terkesiap dengan membulatkan maniknya singkat.
Ia bisa melihat bagaimana terlukanya sang sepupu akibat kekejaman sang ayah kandung. Selama ini ia hidup di luar negeri bebas melakukan apa pun.
Ia menikmati uang yang setiap bulannya diberikan Alexa. Dengan jumlah yang sangat besar ia menghambur-hamburkannya, entah itu melakukan pesta bersama teman-teman, ataupun sekedar jalan-jalan dan membeli barang-barang branded.
Tanpa tahu jika uang itu dihasilkan dari luka tersayat sepupu terdekatnya. Selama belasan tahun ia tidak tahu bagaimana kehidupan Jasmine.
Ia berpikir sang sepupu mendapatkan kekayaan dari harta yang ditinggalkan mendiang orang tuanya.
Pembantaian yang terjadi pada orang tua Jasmine, tidak diketahui oleh Darius. Ia sengaja diungsikan lebih dulu sebelum kejadian mengerikan itu dieksekusi oleh sang ayah.
Setelahnya ia kembali datang ke mansion Mahesa dan sudah mendapati orang tua Jasmine beserta orang-orang terdekatnya meninggal dunia akibat kecelakaan.
Tidak lama mereka pun tumbuh bersama dalam pengawasan Rusli sampai usia remaja dan setelahnya dipisahkan begitu saja.
"Kamu tidak tahukan, bagaimana ayahmu membantai habis orang tuaku dan orang-orang kami?" Jasmine kembali menyeringai lebar. "Asal kamu tahu, itulah kenyataan yang sebenarnya."
"Dia juga bahkan mengasingkan ibumu ke sebuah desa terpencil. Itulah kenapa kamu tidak bisa menghubungi tante Rusli, bukan?"
Jasmine tertawa gamang penuh luka. Darius tercengang tidak percaya mendapati sepupunya yang biasa ceria dan gembira bisa dilingkupi kesedihan.
Darius seketika lemas mendengar ungkapan Jasmine mengenai sang ayah. Jasmine puas melihat ekspresi di wajah tampannya saat ini.
Ia bisa melihat air muka terpukul dan tidak percaya hinggap membuat Darius tidak bisa berkata apa-apa.
"Tetapi, aku harap dia segera dieksekusi MATI!"
Bersamaan dengan itu manik keabuan Jasmine melebar seolah benar-benar menginginkan Alexa menghilang di dunia ini.
Sontak pernyataannya tadi mengembalikan kesadaran Darius. Kekuatannya kembali pulih dan membuat emosi memuncak lagi.
Melihat Jasmine lengah, Darius kembali menodongkan belati hingga menyayat leher jenjangnya. Hijab yang tengah dikenakannya robek membuat luka dalam di sana.
Darah segar mengucur, mengalir, membuat napas Jasmine tersengal-sengal.
"Darius, apa yang kamu lakukan?"
Bersamaan dengan kejadian itu suara nyaring seseorang mengejutkan. Jasmine dan Darius menoleh ke sumber suara yang langsung berlarian mendekat.
__ADS_1
"Ma-Mamah?" Panggil Darius terkejut.
"Ta-Tante Ru-sli." Panggil Jasmine tercekat.
Rusli bersimpuh di samping Jasmine seraya mendorong putra semata wayangnya untuk pergi dari hadapan sang keponakan.
"Kenapa Jasmine? Kenapa kamu harus melakukan ini? Sudah cukup penderitaan yang selama ini kamu rasakan. Apa-"
"Tante Rusli, aku-" Jasmine mengulurkan tangan dan menangkup sebelah pipinya hangat.
"TIdak apa-apa, aku melakukan ini... karena ingin menjelaskan semuanya pada Darius. Aku juga harap dia tidak salah paham dan mengganggu ketenanganku dan... orang-orang terdekatku," kata Jasmine dengan napas terputus-putus.
Kepala berhijab Rusli menggeleng beberapa kali dengan tangan gemetar mengusap peluh di wajah cantiknya.
"Kamu sudah menjelaskan semuanya, Tante harap... kamu jangan mengorbankan diri lebih jauh lagi," kata Rusli lagi.
Jasmine tersenyum pelan dan menutup mata singkat.
Darius yang sedari tadi menyaksikan hal itu terpaku, lidahnya kelu, tidak bisa mengatakan sepatah kata lagi.
Ia sangat terkejut dan terpukul atas apa yang baru saja dirinya lakukan. Sayatan di leher Jasmine terbuka membuat darah semakin merembes keluar.
Hingga tidak lama kemudian, kesadaran berangsur-angsur menghilang membuat kegelapan langsung menyambut.
...***...
Itulah peristiwa mengerikan lainnya yang Ayana alami. Ia tidak menduga jika sahabat sekaligus saudarinya bisa mendapatkan kecelakaan begitu pelik.
Jasmine sudah berjanji padanya untuk tidak terluka, tetapi nyatanya, janji hanyalah tinggal janji.
Tepat di pagi hari selepas malam kejadian, ia mendapatkan kabar jika Jasmine masuk rumah sakit. Ia langsung bertandang ke sana dan mendapatinya tengah terbaring lemas di atas berankar.
Selang infus pun menghiasi lengan kanannya dengan kedua mata menutup rapat. Dokter mengatakan ada sayatan dalam di leher Jasmine dan sedikit lagi mengenai urat nadi.
Ia kehilangan banyak darah dan hampir tidak bisa diselamatkan. Mendapatkan kabar mengerikan tersebut membuat Ayana hampir limbung.
Dengan cekatan Zidan merangkul pinggangnya membawa sang istri duduk. Ayana menangis sejadi-jadinya mendapati Jasmine terluka parah.
Melihat diamnya sang adik membuat Danieal mengerutkan kening. Ia tahu banyak hal yang dipikirkan Ayana saat ini.
Bola matanya lalu bergulir pada Zidan yang langsung menyunggingkan senyum. Gesture pasangan suami istri itu pun seketika membuat Danieal bertanya-tanya.
__ADS_1