
Malam telah menjemput indahnya senja. Kegelapan menguasai mengungkung langit dengan kelamnya.
Tidak ada satu pun bintang maupun bulan bermunculan. Keheningan kian menyapa membuat beberapa hewan liar melolong kan suaranya
Di tengah gemerlap kehidupan ibu kota, di sebelah timur di dalam sebuah bangunan megah Ayana kembali menikmati makan bersama sang suami.
Di meja berbentuk persegi panjang tersebut tersaji berbagai hidangan kesukaannya. Mulai dari ayam goreng hingga sup hangat, semua ada dan tersedia di sana.
Bola mata cokelat bening itu menyapu makanan penggugah selera tersebut tanpa menyentuhnya.
Zidan yang duduk di sebelah pun menatap heran. Ia lalu meletakan tangan di jari-jemari Ayana, sang empunya pun tersentak dan seketika menoleh pada suaminya.
"Ada apa? Apa kamu tidak suka dengan makanannya? Apa makanan ini sudah bukan kesukaanmu lagi?" tanya Zidan beruntun.
Kepala berhijab itu pun menggeleng pelan. "Tidak," jawabnya singkat.
"Lalu, kenapa?" tanya sang suami lagi.
Ayana diam beberapa detik, pandangannya kembali jatuh kepada makanan di depan. Zidan dengan sabar menunggu dan terus memperhatikan bungkamnya sang istri.
"Dari mana Mas tahu jika makanan ini adalah kesukaanku?" Ayana menolehkan lagi kepalanya.
Bibir menawan sang pianis mengembang sempurna. Ia mengeratkan pegangan di tangan sang istri serta memberikan sorot mata mendamba.
"Tentu aku tahu, bukankah kita sudah hidup selama enam tahun?" tanyanya senang.
Ayana mendengus lalu menunduk sekilas. "Iya, enam tahun yang penuh dengan air mata," bisiknya berusaha sepelan mungkin.
Zaidan terkesiap dan terus menggenggamnya hangat. Ia tidak akan membiarkan Ayana mengingat kejadian yang telah lalu.
"Ah, kalau begitu ayo kita makan nanti keburu dingin," ajaknya memberikan alas pada sang istri.
Di tengah kebersamaan tuan dan nyonya di meja makan, para pelayan memandangi keduanya. Mereka saling tatap dengan pandangan penuh makna.
...***...
Selesai makan malam, Ayana bermaksud kembali melanjutkan hobinya melukis karya baru. Di saat kedua kakinya hendak melangkah menuju dapur untuk mengambil segelas air putih terlebih dahulu, samar-samar ia mendengar beberapa orang tengah berbicara.
__ADS_1
Ayana menghentikan langkah dan bersembunyi di balik tembok. Rasa penasaran kian merambat kala tidak sengaja mendengar namanya disebut.
"Bukankah tadi itu nona Ayana? Kenapa? Bukankah beliau sudah meninggal hampir dua tahun lalu?" tanya salah satu pelayan di sana.
"Aku dengar nona Ayana memalsukan kematiannya, bukankah sudah banyak berita tersebar mengenai itu di mana-mana?" ucap salah satunya lagi.
"Benarkah? Jadi, selama ini nona Ayana menipu tuan muda dan membuat nona Bella pergi?"
"Apa ini alasan kenapa tuan muda Zidan dan nona Bella bercerai? Karena nona Ayana kembali lagi?"
"Sangat disayangkan, padahal mereka pasangan yang cocok satu sama lain. Pasangan pianis ... bukankah itu luar biasa?" ucap pelayan wanita berlandang di dagu tersebut menatap teman-temannya satu persatu.
"Ternyata nona Ayana itu penuh dengan tipu muslihat, aku pikir beliau wanita yang baik, ramah, dan sopan, tapi nyatanya?"
"Kita tidak bisa menilai seseorang hanya dari cover nya saja."
"Itu benar, kita tidak bisa menganggap seseorang itu baik atau buruk sebelum mengenalnya lebih jauh."
Tanpa sadar kelima pelayan wanita yang tengah bergosip ria di depan kompor itu mengangguk mengiyakan.
Tanpa mereka ketahui jika orang berbicara terakhir kali adalah seseorang yang sedari tadi mereka bicarakan.
Seketika itu juga para pelayan tadi terbelalak lebar. Tepat di depan mata kepalanya, mereka menyaksikan Ayana tengah menampilkan senyum lebar.
Manik jelaganya menyipit memandangi kelima pelayan wanita itu satu persatu. Sedetik kemudian ia melangkahkan kaki mengelilingi mereka.
Para pelayan tersebut menunduk ketahuan sudah lancang membicarakan nona mudanya.
Ayana menuangkan segelas air dan duduk di meja makan. Ia mengacungkan gelas berkaki panjang di hadapannya dan memutarnya secara perlahan.
"Seseorang bisa saja berubah akibat perlakuan orang lain. Kita memang tidak bisa melihat perilaku orang itu baik atau tidak hanya dari cover nya saja, bukan? Begitu pula wanita yang kalian sanjung-sanjung tadi, apa kalian benar-benar mengetahui siapa ia sebenarnya?"
"Ah, aku lupa. Bukankah kalian bisa bekerja di sini itu bantuan dari dia? Uh, sungguh luar biasa. Anak buah yang menyanjung majikannya itu patut diapresiasi. Apa kalian di sini untuk memata-matai ku?"
"Okay, baiklah ... silakan kalian sepuasnya memantau ku dan laporkan pada sang tuan. Kalau begitu aku aku kembali ke atas dulu."
Setelah me-racau yang membuat kelimanya diam tidak berkutik, Ayana menampilkan seringaian lebar kemudian berlalu dari sana.
__ADS_1
Sepeninggalan Ayana, Dara, Clarisa, Helena, Luna, dan Meisya pun saling pandang lagi. Mereka kembali berbisik-bisik menyalahkan satu sama lain atas tingkahnya tadi.
Namun, di tengah kebisingan itu, hanya Helena yang terdiam. Kedua tangannya mengepal memandangi sosok Ayana terus menjauh.
...***...
Benci menjadi kata kunci yang tidak usah disebutkan. Ayana berdiam diri di studio lukis miliknya di mansion tersebut tanpa melakukan apa pun.
Ia hanya duduk di kursi kayu yang selama enam tahun berada di sana menemani kesendirian.
Ruangan itu masih kacau balau belum sempat dibereskan, baik Ayana maupun Zidan mereka sama-sama membiarkannya saja.
Dalam keheningan Ayana kembali mengingat peristiwa memilukan dada. Ia tersenyum masam kala bayangan saat dirinya mengamuk terus menyapa.
Ia menarik napas panjang dan menghembuskan nya perlahan. Ia menengadah menyaksikan cat minyak tersebar di sana.
"Apa yang sudah aku lakukan? Apa keputusan ini benar? Ya Allah, apa hamba sanggup mengemban tugas sebagai seorang istri lagi? Apa kali ini hubungan kita akan baik-baik saja? Apa mas Zidan benar-benar sudah berubah dan mencintaiku?" gumamnya mengutarakan pertanyaan yang tidak ada jawaban.
Semua itu mengambang hanya memberikan sebuah tanda tanya besar. Ia masih belum bisa percaya jika Zidan mencintainya.
"Apa dalam kurun waktu hampir dua tahun orang bisa langsung berubah drastis seperti itu? Tunggu, apa aku juga sama?" racau Ayana lagi.
"Aku tidak tahu," finalnya.
Pikirannya masih berkecamuk antara kenyataan dan mimpi. Kedua hal tersebut saling bertubrukan membuat ilusi tak bertepi.
Dulu Ayana berharap sang suami bisa kembali mencintainya. Ia tidak akan ragu memberikan sepenuh jiwa dan raga untuk bersama Zidan seorang.
Namun, setelah tahun-tahun menyakitkan itu berlalu, semuanya berganti kepercayaan.
Tidak mudah mengembalikan semuanya seperti semula, Ayana berharap akan ada jawaban di balik keraguan.
"Astaghfirullahaladzim." Ia terus beristighfar mengenyahkan kepelikkan dalam dada. "Lebih baik bereskan kekacauan ini dulu."
Setelah itu ia pun beranjak dari duduk dan mulai membereskan studio miliknya. Ia berharap dengan kesibukan yang dilakukan bisa sedikit membantu melupakan kerumitan dalam hidup.
Dari arah luar, sedari tadi Zidan terus memperhatikan. Ia yang masih duduk di kursi roda hanya bisa terdiam kaku.
__ADS_1
"Apa karena kamu ingin balas budi jadi menerima ajakanku untuk kembali bersama? Ah, tidak-tidak Ayana tidak mungkin seperti itu, tapi ... pertanyaannya tadi?" benaknya seraya terus memperhatikan Ayana dari celah pintu yang sedikit terbuka.