Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 4 CHAPTER 1


__ADS_3

"Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu." (Q.S. Al-Hadid: 22-23)


Takdir setiap manusia di muka bumi ini sudah dituliskan sebelum lahir ke dunia. Apa pun yang terjadi, apa pun yang datang, dan apa pun yang pergi memang telah dituliskan semuanya.


Bahkan daun yang berguguran ke atas tanah, sampai ranting pohon yang rapuh pun tidak terlepas dari takdir Allah. Semua mempunyai kendalinya masing-masing, tetapi yang merencanakan itu hanyalah Allah.


Seperti itulah jika skenario Allah bekerja, yang tidak mungkin menjadi mungkin, dan yang tidak nyata menjadi fakta.


Setelah menghabiskan waktu beberapa menit menangis bersama, pasangan pianis dan pelukis itu kembali menikmati kesendirian.


Mereka lega bisa melihat satu sama lain lagi dengan perasaan campur aduk, tak karuan.


Zidan mengecup lembut dahi lebar Ayana membuat sang empunya menutup mata. Sentuhan hangat itu membangkitkan ketenangan kian mendera.


Kenangan-kenangan membahagiakan pun datang membangkitkan memori berharga kembali terulang.


Perlahan Zidan menjauhkan wajah tampannya beberapa detik dan menyatukan kening mereka. Dengan jarak sedekat itu mereka bisa merasakan napas satu sama lain.


Kelopak mata sang pianis tertutup, merasakan napas yang berhembus menyapu wajahnya.


"Aku bersyukur bisa merasakan napas mu lagi, Sayang. Terima kasih sudah kembali, kami sangat merindukanmu," ungkapnya lirih.


Ayana melakukan hal sama dan bergumam "em" sebagai jawaban. Tangannya terulur menangkup pipi hangat sang pasangan hidup. Ia sangat bersyukur bisa diberikan kesempatan untuk hidup lagi.


"Terima kasih untuk tidak menyerah dalam menungguku. Terima kasih, karena sudah memanggilku kembali," kata Ayana sedikit menjauhkan kepala suaminya.


Zidan mengembangkan senyum hangat dan kemudian menjawab perkataan sang pujaan. "Karena aku tidak ingin kehilanganmu lagi, Sayang. Aku merasa tidak akan bisa bertahan hidup jika harus kehilanganmu kedua kalinya."


Ayana mendengus pelan dan melengkungkan bulan sabit, tanpa mengatakan apa pun lagi. Senang, bisa mendengar kata-kata itu tercetus dari pria tercinta.


"Aku mengerti," kata Zidan kemudian.


"Hah?" Ayana heran, sekaligus bingung.


"Aku mengerti bagaimana perasaanmu waktu itu... hari di mana kita kehilangan buah hati pertama dan aku meninggalkanmu sendirian."


"Pasti sangat-" Zidan menjeda kalimatnya merasakan rasa sakit menguap dalam dada.


"Pasti sangat berat bukan? Dan aku meninggalkan mu sendirian begitu saja, bahkan... menyalahkan mu atas kepergiannya," lanjut pianis itu lagi.


"Aku benar-benar minta maaf, Sayang. Aku terlalu bodoh dan menyakitimu terlalu dalam," ungkapnya mengingat masa lalu.


"Em, tidak apa-apa. Semua sudah berlalu, kita tidak usah mengingatnya lagi, sekarang... aku sudah kembali," balas Ayana kemudian.


Zidan manggut-manggut mengerti dan menarik napas panjang seraya menutup mata kuat untuk menahan kesedihan.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian manik keduanya saling pandang lagi menyelami keindahan bola mata masing-masing.


Pelan, tapi pasti kepala bersurai hitam lembut itu semakin mendekat dan memiringkan nya perlahan untuk mencapai benda kenyal tepat di depannya.


Sedetik kemudian penyatuan terjadi, Ayana memperhatikan wajah tampan nan rupawan itu dari jarak sangat dekat.


Manik karamel yang kembali bersembunyi di balik kelopaknya begitu mendamaikan, dengan bulu mata lebat dan sedikit lentik menunjang penampilan sang suami.


Alis terukir rapih sangat menawan, bagaikan seorang pangeran di dunia dongeng. Dari dulu sampai sekarang perasaan Ayana tidak pernah berubah.


Ia sangat mencintai suaminya, tetapi harus terhambat oleh satu kejadian. Namun, semua itu sudah berlalu dan sekarang masa depan tengah mereka jalani.


Ayana tidak akan menyianyiakan kesempatan yang telah Allah berikan padanya lagi.


Ia pun menutup mata dan menyambut permainan sang suami. Ia memeluk punggung tegap itu kuat dan semakin mendekatkan kekasih hatinya.


Mereka sama-sama menyalurkan kerinduan lewat sentuhan impulsif yang kian datang menerjang.


...***...


Berita sadarnya Ayana membuat keluarga besar pun senang. Mereka berbondong-bondong datang ke rumah sakit untuk menjenguknya.


Sudah dua hari berlalu sejak Ayana membuka mata dan saat ini ia bisa duduk di ranjangnya. Ia menyambut kedatangan keluarga serta kerabat dekat yang terharu menyaksikan dirinya bisa berkumpul bersama lain.


Keberadaan mereka membuat Ayana terpaku dan membeku. Sang suami bergegas mendekat dan duduk di tepi ranjang, memperlihatkan putra dalam gendongannya.


"I-ini anak kita, Mas?" tanya Ayana senang bukan main menyaksikan sang buah hati.


"Tentu Sayang, dan bayi yang digendong Jasmine juga masih bayi kita," ungkapnya.


Ayana melirik pada kakak iparnya yang tengah berdiri di samping.


"Bolehkah aku menggendong mereka?" pinta Ayana, sangat.


"Tentu," balas Zidan dan Jasmine bersamaan.


Keduanya pun memberikan bayi kembar itu pada ibunya.


Seketika tangis ketiganya pecah, ibu dengan dua bayinya menitikkan air mata bersamaan. Mereka senang pada akhirnya bisa merasakan pelukan satu sama lain.


Sudah dua belas hari berlalu dan baru kali ini Ayana bisa memeluk dan menyentuh bayi kembarnya.


"Kalian mendapatkan bayi kembar laki-laki dan perempuan," jelas ibunya, Celia.


"Be-benarkah? Maa sya Allah." Ayana terharu, benar-benar bersyukur Allah menganugerahkan dua malaikat sekaligus padanya.

__ADS_1


Ia mengecup bayinya satu persatu dan terus mengucap rasa syukur atas karunia yang Allah berikan.


"Apa dia sudah di azani?" tanyanya kemudian.


Zidan mengangguk, dan ada raut kesedihan di sana.


"Sudah, saat kamu masih tidak sadarkan diri. Maaf, seharusnya aku menunggumu sadar," balasnya.


Ayana menggelengkan kepala singkat dan memandang suaminya lagi, lekat.


"Tidak, Mas sudah melakukannya dengan baik. Meskipun aku tidak menyaksikannya, tetapi aku yakin itu adalah momen yang paling mendebarkan, bukan begitu?"


Sorot mata hangat nan tulus menyapanya kuat, Zidan mengangguk, hanyut dalam pandangan istrinya sendiri.


"I love you."


Entah sadar atau tidak, Ayana mengungkapkan perasaan di depan keluarganya dengan lengkungan bulan sabit terpendar di wajah cantiknya.


Zidan terkesiap, melebarkan pandangan tidak menduga mendapatkan kejutan membahagiakan seperti itu. Ia tidak kuasa menahan diri untuk memberikan kecupan mendalam di dahi pendamping hidupnya.


Adegan tersebut disaksikan langsung oleh orang tua, adik, ipar, dan kerabat dekat keduanya.


Mereka ikut senang melihat keharmonisan pasangan pianis serta pelukis ini.


"Semoga kalian bisa menjadi orang tua terbaik untuk si kembar," kata Bening mengejutkan.


Pasangan itu menjauhkan diri masing-masing, sadar jika ada orang lain di sana.


"Kenapa wajah kalian merah? Apa kalian malu?" Gibran tertawa kencang menyaksikan semburat merah di pipi kakak dan kakak iparnya.


"Bukankah sudah terlambat untuk malu?" tanya Danieal ikut menggoda mereka.


Semua orang pun tertawa senang, membuat Ayana dan Zidan pun tersenyum bahagia.


Di dalam pandangannya, Ayana menyaksikan begitu banyak kebahagiaan yang bisa didapatkan. Ada orang tua, mertua, keluarga, serta kerabat dekat di sisinya adalah hal yang sudah ia idam-idamkan sejak dulu.


Terutama, suami yang bisa mencintai dan menyayanginya dengan tulus.


Semua orang yang tertangkap retina tengah tertawa bersama menghidupkan suasana di ruang inap VIP tersebut.


Sembari menggendong buah hatinya, Ayana melebarkan senyum yang menambah kecantikan. Ia benar-benar lega dan bahagia mendapatkan hari di mana dirinya bisa berkumpul bersama keluarga.


"Mah, Yah... apa kalian melihatku saat ini? Sekarang aku mempunyai keluarga yang menyayangiku... terima kasih sudah hadir di mimpiku, meskipun hanya sebentar aku sangat bahagia. Sekarang, kalian bisa tenang di sana. Karena di sini aku sudah mempunyai keluarga yang menjagaku," benaknya dalam diam.


Zidan pun merangkulnya hangat, Ayana meliriknya singkat dan memberikan senyum manis.

__ADS_1


__ADS_2