
Bau disinfektan begitu menyengat, udara dingin menyambut kesadaran yang kian kembali.
Perlahan kedua mata besarnya terbuka menyambut pemandangan asing.
Ruangan berbentuk kotak dengan nuansa putih tertangkap pandangan mengejutkan diri.
Sengatan dari pergelangan tangan kiri mengalihkan atensi semakin menyadarkan jika kini sedang berada di sebuah tempat asing.
Jasmine perlahan menarik tubuhnya dari berbaring memandangi sekitar yang hanya di dominasi warna putih.
Di sebelah kirinya terdapat jendela berukuran sedang tanpa gorden memperlihatkan pemandangan luar.
Cahaya senja yang menyilaukan bak kristal rose quartz begitu memanjakan mata. Jasmine terpaku pada siluet indah di atas cakrawala membentang menyuguhkan panorama alam ciptaan Allah.
Ia terpaku, terpesona, bak tersedot ke dalamnya tanpa melakukan pergerakan berarti.
Sampai di tengah keheningan, suara pintu digeser seseorang. Jasmine terkesiap menoleh cepat ke samping kanan.
Di sana ia mendapati sepasang iris cokelat tengah menatapnya lekat dengan bulan sabit terpendar di wajah cantik itu.
Jasmine masih diam membisu sampai sang lawan bicara duduk tepat di ranjang.
"Senja kali ini sangat cantik, seperti batu kristal love quartz yang berkaitan dengan cinta."
"Sama seperti apa yang aku pikirkan," benak Jasmine diam-diam.
"Aku pernah membaca dalam sebuah artikel, batu kristal love quartz juga dapat membantu memulihkan kepercayaan diri dan harmoni dalam semua jenis hubungan, sambil meningkatkan boanding (ikatan emosional yang terjalin dengan baik.)
"Jenis batu kristal ini juga dapat membantu memberikan kenyamanan dan ketenangan pada saat seseorang mengalami kesedihan."
"Maka dari itu, Jasmine... aku minta maaf sudah membuatmu berakhir di sini. Karena aku ingin membentuk boanding denganmu. Antara teman, sahabat, ataupun keluarga."
"Apa kamu mau bangkit bersamaku?" tanya Ayana selepas berbicara panjang lebar.
Jasmine terdiam, bibirnya mengunci rapat, lidahnya kaku, dan semua kata-kata tercekat di tenggorokan.
Kesedihan yang kerap kali datang membentuk kenangan tidak menyenangkan pun hadir lagi.
Sepi, hening, dan hanya ditemani peralatan memahat menjadi keseharian Jasmine. Semua orang yang mengatakan jika hidupnya enak, serba terjamin pun, tidak pernah mengetahui bagaimana ada luka menganga di relung hati.
__ADS_1
Keindahan hanya sebatas semu, warna-warni kehidupan hanya ia dapatkan dari batu-batu kristal yang kerap kali didatangkan oleh sang paman.
Tanpa tahu seperti apa rupanya warna hidup sesungguhnya. Ia hanya dikurung dalam sebuah ruangan bernuansa kelam tanpa adanya jendela yang memperlihatkan dunia luar.
Hanya bisa mendengar, tanpa bisa melihat pesona yang Allah suguhkan. Ia dirantai bak binatang buas tidak diperbolehkan pergi ke manapun.
Diamnya Jasmine membuat pikiran Ayana melalang buana ke beberapa jam lalu.
Setelah Jasmine jatuh pingsan, ia dan Danieal segera membawanya ke rumah sakit keluarga. Di sana sang dokter meminta ruangan khusus untuk mengobati wanita itu.
Jasmine lalu di baringkan di ruangan tersebut serta mendapatkan pemeriksaan berkala oleh Danieal.
"A-apa ini? Bekas luka apa ini?" tanya Danieal terkejut kala menyingkap gaun panjang Jasmine menangkap kedua pergelangannya yang tak biasa.
Di sana terdapat jejak keunguan yang terlihat seperti bekas sesuatu menempel.
Mendengar hal itu Ayana pun berjalan mendekat dan melihat dengan mata telanjangnya.
"Bu-bukankah itu seperti bekas ikatan rantai? A-apa selama ini Jasmine di rantai?" ungkapnya mengejutkan diri sendiri.
Danieal yang tengah memeriksanya pun terkejut dan kembali menoleh pada sang adik.
"Beruntung rantai yang digunakan bukan rantai usang, kemungkinan besar juga rantai itu diganti terus menerus, sebab tidak ditemukan luka dalam yang cukup parah," jelas Danieal menjabarkan.
Ayana tidak sanggup menahan diri dan menutup mulut menganga menggunakan dua tangan.
Kepala berhijabnya menggeleng beberapa kali membayangkan kehidupan kelam yang telah dijalani oleh Jasmine.
"Orang keji seperti apa yang sudah memperlakukan Jasmine begitu kejam?" geram Ayana, tanpa terasa air mata menitik begitu saja, membayangkan apa yang sudah Jasmine alami.
"Bahkan tangannya saja terdapat kapalan di sana sini serta lecet membuat sebagian kulitnya terkelupas, wanita cantik seperti ini... harus mengemban tugas sangat berat," oceh Danieal lagi seraya mengobati luka di kedua tangan dan kakinya.
Ayana memperhatikannya dalam diam, tidak menyangka bertemu dengan seorang wanita yang perjalanan hidupnya lebih berat.
Bagaikan melihat ke atas langit ada lapisan lagi di atasnya, begitulah Ayana meratapi kisah hidup Jasmine yang masih belum sepuhnya bisa ia pahami.
Di luar sana banyak sekali orang-orang yang menggilai pahatan patung dari keluarga Mahesa. Mereka rela merogoh kocek yang tidak sedikit untuk mendapatkannya.
Mulai dari kalangan pejabat sampai bangsawan, dari dalam maupun luar negeri, mereka berbondong-bondong memesan patung, baik itu mengabadikan diri sendiri maupun sebagai furniture, semua dibeli dari keluarga tersebut.
__ADS_1
Alhasil setiap hari, Jasmine harus memahat berbagai bentuk patung dari yang kecil sampai besar, serta dari berbagai macam bahan, harus dilakoninya.
Jika sampai ia tidak memenuhi pesanan, maka hukuman akan menanti, yaitu tidak diberi makan seharian.
Mau tidak mau Jasmine harus melakukannya, meskipun fisiknya sudah tidak memungkinan. Ia bekerja rodi tanpa belas kasihan.
Hasilnya dinikmati oleh sang paman, ia berkata Jasmine melakukan itu sebagai bentuk balas budi. Karena selama ini ia yang telah membesarkannya dari umur lima tahun.
Cerita itu hanya menjadi kisah yang dipendam sendiri oleh Jasmine. Ia tidak berani membicarakannya pada orang lain, takut mendengar ancaman yang kerap kali dilayangkan sang paman.
Melihat dari luka-luka fisiknya, Ayana dapat menyimpulkan jika selama ini Jasmine dipaksa melakukan hal tidak disukainya.
"Lalu, kenapa kamu menyuntikan obat bius padanya? Apa kamu tahu sesuatu?" tanya Danieal selepas mengobati Jasmine.
"Aku ingin... Jasmine sembuh dari luka batinnya juga." Ayana menatap lurus pada Jasmine yang masih terbaring tidak sadarkan diri.
Bak boneka barbie, sosoknya seperti bukan manusia hidup. Kulit putihnya yang begitu pucat, bagaikan tidak nyata, ditambah dengan gaun putih membungkus tubuhnya, benar-benar definisi boneka hidup.
Ayana sampai mengira jika tadi Jasmine adalah seorang manekin, sangking putih, dan pucatnya wanita itu.
"Anxiety disorder, bukankah aku benar?" tanya Ayana berpaling kembali pada sang kakak.
Mendengar dua kata pertamanya membuat Danieal terbelalak. Sebelum Ayana memberikan obat bius ia sudah memahami kondisi yang dialami oleh Jasmine.
Danieal menarik napas panjang dan menghembuskan nya perlahan. Ia sepenuhnya menghadap sang adik memandang penuh makna padanya.
"Iya itu benar, kemungkinan besar Jasmine mengidapnya. Terakhir kali aku melihat kondisinya memang memberikan tanda-tanda itu."
"Di samping hal tersebut, lingkungan hidupnya yang sangat berat... kemungkinan besar kondisi mentalnya sangat parah. Dia-"
"Aku harap Mas bisa menyembuhkannya. Meskipun kita tahu harus berharap sepenuhnya pada Allah, tetapi aku yakin dengan adanya jalan ini Allah memberikan perantara pada Mas untuk bisa menyembuhkan Jasmine."
"Tidak ada yang salah dengan takdir, setiap jalannya, setiap alurnya, telah Allah berikan begitu sempurna."
"Allah mempertemukan kita dengan Jasmine, mungkin ini saatnya kebenaran terungkap. Aku... hanya ingin melihat sosok wanita ini sebenarnya," ujar Ayana dengan keinginan kuatnya.
Danieal terpaku memperhatikan sang adik dengan keyakinannya.
"Kamu... benar-benar anak baik Ayana,"
__ADS_1
"Tidak... Allah yang Maha Baik," balasnya membuat mereka mengulas senyum lembut.