
Dentingan alat musik klasik memenuhi ruangan. Malam yang semakin larut menggantikan suasana menjadi lebih mencekam.
Di tengah kesyahduan yang mendera, suara lembut piano mengalun. Lagu penuh penghayatan itu pun menggambarkan perasaan sang pianis sesungguhnya.
Permainan tersebut seketika menyadarkan Ayana. Setelah menghentikan tangisan, ia beranjak dari sofa dan berjalan perlahan menuju ruang utama.
Cahaya remang membuat fokusnya hanya pada satu titik. Orang-orang yang berkerumun tepat di depannya pun seketika berhamburan.
Hal tersebut memberikan akses pada Ayana untuk melihat apa yang terjadi di sana. Ia terkejut kala mendapati sang mantan suami tengah duduk di depan piano.
Kepala bersurai hitamnya mendongak ke atas seolah tengah mendambakan seseorang. Kelopak mata menutup menyembunyikan iris legamnya semakin menambah penghayatan. Perlahan, tapi pasti air mata mengalir membuat semua orang terpesona.
"Dia benar-benar menghayati permainannya."
"Sungguh pianis berbakat. Dia layak mendapatkan banyak penghargaan."
"Dia memang pianis luar biasa. Setiap performancenya menyuguhkan pertunjukan yang bisa menarik perhatian penonton."
"Aku beruntung bisa melihatnya langsung di sini."
"Bukankah lagu ini melambangkan cinta dan kerinduan?"
"Ah siapa yah kira-kira wanita beruntung itu?"
Percakapan orang-orang di sekitarnya benar-benar mengganggu. Ayana menyapukan pandangan pada setiap mata memuja menyaksikan Zidan di sana.
Kebanyakan dari wanita seumurannya, putri dari beberapa kolega orang tua angkat. Ayana mengangkat sebelah sudut bibir tajam mendengar perkataan mereka.
"Benar-benar pria yang suka tebar pesona," benak Ayana mengamati pria di hadapannya.
Zidan terus melepaskan emosional dalam diri dengan menampilkan sebuah pertunjukan piano. Ia sudah meminta izin kepada tuan rumah untuk mempersembahkan lagu bagi mereka.
Celia dan Aidan pun mengizinkannya dan begitulah bagaimana Zidan bisa bermain piano sekarang. Di akhir pesta ia benar-benar menunjukkan bakatnya yang luar biasa.
"Dia sangat terpukul atas kepergian istrinya. Dia menyesal dan berharap dengan lagu yang dibawakannya sekarang wanita itu bisa mendengar serta memahami ... betapa ia sangat menyesal." Suara lembut sang ibu mengejutkan.
Ayana menoleh ke samping kanan mendapati Celia tengah memandang lurus ke depan. Wajah datar itu kembali pada posisi semula tanpa ada niatan untuk menjawab perkataan tadi.
"Ayana ... ah Ghazella ... apa kamu-"
__ADS_1
"Ma, bisakah kita tidak membicarakannya? Aku tidak ingin mendengar apa pun tentangnya," potong Ayana.
Celia mengembangkan kedua sudut bibir lalu mengusap punggung sang putri pelan. "Baiklah Mamah mengerti. Mamah minta maaf sudah mengatakan yang tidak-tidak."
Ayana menggeleng cepat. "Tidak, hanya saja..."
"Iya Mamah benar-benar mengerti, nikmatilah pestanya jika sudah selesai cepat tidur. Besok masih banyak hal yang harus kamu lakukan, benar?"
Ayana kembali mengangguk tanpa mengucapkan satu kata pun. Setelah itu Celia pergi membiarkan putri sambungnya menyaksikan pertunjukan terakhir.
Zidan benar-benar menghipnotis banyak pasang mata. Wajahnya yang basah oleh air mata dan keringat berkilau di bawah cahaya lampu.
Ketampanan serta aura penuh daya tarik sudah membuat wanita muda di sana jatuh hati. Namun, ia tidak mempedulikan hal tersebut. Satu-satunya nama yang ada di hati dan pikirannya saat ini hanyalah Ayana.
Gerakan bibir itu membuat sang empunya nama berbalik. Ia tidak sanggup jika harus terjebak dalam sebuah permainan kejam seorang Zidan.
"Aku benar-benar muak," benaknya.
...***...
Hari yang cerah menyambut jiwa-jiwa yang lemah. Di tengah keramaian ibu kota, Ayana kembali disibukan dengan pekerjaan.
Gradasi warna yang dipadu padankan begitu cocok memperlihatkan lukisan alam. Bibir ranumnya melengkung sempurna saat melihat hasil karya sendiri.
"MasyaAllah," gumamnya hangat.
Tidak lama berselang suara pintu berdecit menandakan seseorang datang. Ayana mendongakkan kepala menyaksikan seorang pria berjas abu tengah melihat-lihat karyanya.
"Selamat datang, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Ayana mengejutkan.
Pria itu pun menoleh lalu menampilkan senyum manis memperlihatkan deretan gigi-gigi putihnya. Ia kemudian berjalan mendekat dan berhadapan langsung dengan sang pemilik.
"Ah, saya sedang melihat-lihat lukisan. Apa itu semua karya Anda?" tanyanya sembari mengacungkan jempol ke belakang.
Ayana mengangguk pelan dan tersenyum simpul. "Itu benar."
"Begitukah? Kenalkan saya Arfan Syah." Pria bernama Arfan Syah itu pun menjulurkan tangan ke hadapan Ayana.
Ia pun langsung menangkup kedua tangan di depan dada sembari mengangguk mengerti. "Senang bertemu dengan Anda. Saya, Ghazella Arsyad."
__ADS_1
Arfan terperangah dan terkejut tangannya tidak disambut balik. Ia pun menariknya kembali dengan canggung.
"Baru kali ini ada seseorang yang tidak mau bersalaman dengan saya," ungkapnya heran.
"Ah, saya minta maaf, tetapi ... dalam agama saya yang bukan mahram tidak bisa bersentuhan," balas Ayana menundukkan pandangan.
"MasyaAllah, saya juga memiliki kepercayaan yang sama denganmu. Namun, yah begitulah ... saya tidak mengenalnya dengan baik," ungkapnya begitu saja.
Ayana mendongak menatap ke dalam manik cokelat susu pria di hadapannya. "Masih ada kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik."
Kata-kata itu bagaikan magic yang seketika menyihirnya. Arfan bungkam menyelami iris kelam sang lawan bicara.
Tanpa sadar denyut jantung meningkat tajam. Ia lalu menundukkan pandangan saat merasakan sesuatu yang tidak benar.
Ayana mengerti dan hanya mengangkat sebelah sudut bibir pelan. "Syah? Apa Anda keturunan keluarga Syah?" tanyanya mengalihkan topik pembicaraan.
Arfan menarik diri lagi dan mengangguk singkat. "MasyaAllah, bukankah keluarga Anda mengelola bisnis lukisan? Bahkan banyak pelukis terkenal lahir di sana. Syah entertainment ... itu benar-benar perusahaan besar."
Arfan hanya tersenyum canggung tidak bisa membanggakan kekayaan keluarganya. Meskipun sekarang ia menjadi pemimpin perusahaan, tetapi dirinya tidak pernah berbangga diri.
"Itu terlalu berlebihan," balasnya.
"Tidak-tidak-tidak, itu sungguh luar biasa. Suatu kehormatan orang penting seperti Anda datang ke toko sederhana ini," ungkap Ayana kembali menangkupkan kedua tangannya.
Arfan terkekeh melihat betapa semangat serta antusiasnya wanita di hadapannya. "Kamu benar-benar menarik."
"Eh?" Ayana sadar membuat Arfan pun merutuki ucapannya sendiri.
"A-ah, saya minta maaf. Saya tidak bermaksud berbicara informal ... hanya saja saya merasa-" Arfan berdecak sekilas dan melanjutkan ucapannya. "Lupakan, saya hanya asal bicara saja."
"Anda benar-benar pria yang sangat baik," kata Ayana membekukan. "Em, saya tidak bermaksud apa-apa hanya saja ... saya hanya berbicara dari kacamata orang awam mengenai diri Anda."
Arfan mengulas senyum manis, Ayana pun membalasnya hingga mereka terus berbicara panjang lebar. Tanpa keduanya sadari dari arah luar seorang pria tengah mengawasi.
Ia duduk di kendaraannya menyaksikan interaksi mereka. Jendela besar yang berada di depan toko Ayana pun memperlihatkan keadaan di dalam.
Ia mencengkram stir mobil kuat dengan napas naik turun. "Siapa pria itu? Kenapa Ayana terlihat akrab sekali dengannya?"
Zidan hanya menyaksikan punggung kekar sang pria tanpa tahu siapa sosok itu yang sebenarnya. Rasa penasaran semakin kuat membuat dadanya bergemuruh hebat.
__ADS_1