Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 2 CHAPTER 27


__ADS_3

Setelah mengudara berjam-jam, akhirnya pasangan suami istri itu pun tiba di negara tujuan. Udara yang cukup hangat menyambut kedatangan Ayana dan Zidan.


Tidak lama kemudian, selepas mendapatkan barang bawaan, mereka melihat seorang pria berpakaian formal mengacungkan selembar kertas bertujuan untuk menjemput keduanya.


Dia adalah dari pihak travel yang sudah disiapkan sang ibu. Ayana dan Zidan terharu menerima kejutan demi kejutan tersusun begitu rapih dari Celia.


Kurang lebih menempuh perjalanan tiga puluh menit, keduanya tiba di sebuah hotel megah dengan pemandangan memanjakan mata.


Selesai melakukan check in mereka bergegas menuju lantai enam tempat kamar sewaannya berada. Ayana maupun Zidan kembali terkesima akan kemewahan ruangan bernuansa hangat tersebut.


Pria yang membantu membawa barang-barang mereka pun mengulas senyum melihat kebahagiaan tamunya. Hanya sekilas ia tahu jika keduanya adalah pasangan.


Dengan bahasa di negaranya ia mengatakan, "selamat menikmati bulan madu kalian." Lalu pergi meninggalkan berjuta kebimbangan pada dua insan tersebut.


Ayana dan Zidan saling pandang mengerti apa yang baru saja diucapkan pria itu. Mereka tertawa ringan lalu membawa koper masuk.


Kamar itu dihiasi dengan wallpaper gold terang, juga terdapat kingsize yang di atasnya ditaburi kelopak bunga mawar merah, serta tidak jauh dari tempat tidur ada kamar mandi lengkap dengan bathtub cukup luas yang bisa diisi dua orang.


Di samping kiri ranjang, terdapat jendela besar yang menghubungkan kamar utama dan balkon memperlihatkan keindahan.


Ayana bergegas membukanya dan seketika angin sejuk menyapa kehadirannya. Bibir ranum itu melengkung sempurna bersamaan dengan kelopak mata mengatup rapat.


Ia meremas besi pembatas seraya menjinjitkan kaki merasakan aroma yang begitu menyejukkan jiwa.


Tidak lama berselang, sepasang lengan kekar memeluknya dari belakang. Tubuh mereka saling menempel hingga Ayana bisa merasakan degup jantung sang suami bertalu kencang di punggungnya.


Sedetik kemudian napas panas pasangan hidupnya mengenai pangkal leher. Ayana seketika merinding, bulu kuduknya meremang kala Zidan menjamah tengkuknya.


Tidak kuasa menahan gejolak dalam diri, Zidan membalikan sang terkasih. Pandangan mereka bertubrukan dengan sorot mata penuh damba.


Tanpa mengatakan sepatah kata, penyatuan pun langsung terjadi. Permainan demi permainan dilayangkan membuat pasangan menikah itu semakin bergairah.


Beberapa saat kemudian penyatuan itu terhenti. Kedua dahi mereka saling menyentuh dengan napas memburu hebat.


"Apa ... aku bisa melakukannya?" tanya Zidan serak.


Ayana melebarkan pandangan, hampir dua minggu mereka tidak bersama dan sekarang ibu sambung memberinya liburan bersama sang suami.


Layaknya pasangan baru menikah, kamar yang sudah disiapkan Celia mengusung tema romantis begitu kental.


Entah apa yang dipikirkan ibunya pada saat memilih kamar tersebut, tetapi Ayana senang begitu besar perhatian wanita itu untuknya. Meskipun mereka tidak ada ikatan darah, tapi batin keduanya saling berhubungan.

__ADS_1


Napas mint seketika menyapu permukaan wajah, Ayana mengangkat pandangan menyaksikan keinginan menggebu-gebu sang suami.


Ia mengulas senyum lembut dan mengangkat kedua tangan mengalungkannya di leher jenjang Zidan.


"Apa kali ini akan berbeda? Aku tidak ingin berhenti di tengah-tengah," bisik Ayana mengundang sang pemburu untuk memangsanya.


Zidan yang mendapatkan lampu hijau pun melingkarkan lengan berototnya di pinggang ramping pujaan hati.


Bibir kemerahannya mengecup pelan benda kenyal di hadapannya.


"Jika kamu tidak menghentikan ku ... aku tidak akan berhenti." Zidan menjilat permukaan mulutnya sensual.


Menyaksikan hal itu Ayana tidak kuasa menahan tawa. Ia tergelak beberapa saat dan kembali memandangi suaminya tegas.


Hanya sorot mata mereka saja yang berbicara, keduanya sama-sama tengah dilanda keinginan begitu kuat.


Zidan sangat terkejut saat Ayana menyerangnya dengan ganas. Penyatuan itu semakin menjadi membuat sang pianis mengembangkan senyum dalam diam.


Ia pun memangku sang istri cepat dan membawanya masuk ke kamar. Tidak lama berselang Zidan melemparkan kekasih hatinya ke ranjang empuk di sana.


Sebelum melaksanakan apa yang harus dilakukan, baik Ayana maupun Zidan memanjatkan doa agar semuanya berjalan lancar tanpa hambatan.


Setelah itu, Ayana terkesiap melihat dengan jelas sang suami membuka satu persatu kancing kemeja hitamnya. Sedetik kemudian tubuh atletis itu terpampang nyata tepat di depan mata kepalanya sendiri.


Detik demi detik berlalu, Ayana membalikan sang suami hingga ia yang berada di atas. Dengan tatapan tajam ia melepaskan segala atribut yang melekat pada dirinya.


Zidan terbelalak, baru pertama kali mendapati Ayana yang begitu dominan. Ia meremas pinggang rampingnya sedikit kuat dan tidak lama kemudian penyatuan pun kembali terulang.


Tidak lama setelah itu Zidan kembali mengambil alih dengan membalikan Ayana berada di bawahnya lagi.


Tidak ada kata terucap dari keduanya, hanya sorot mata saja yang saling bicara. Dengan gerakan-gerakan impulsif mereka saling menginginkan satu sama lain.


Di tengah puncak permainan, kedua tangan sang pelukis meremas kuat seprai di masing-masing sisi.


Bayangan demi bayangan masa lalu hinggap, bagaimana Zidan memperlakukannya sangat kasar hingga membuat mereka harus kehilangan buah hati.


Ayana berusaha menahan sesak dalam dada dengan air mata mengalir deras. Entah apa yang dirasakannya sekarang, ia tidak ingin membuat suaminya kecewa dengan menghentikan permainan itu di tengah-tengah.


...***...


Kelopak mata bulan Ayana perlahan terbuka, cahaya lampu seketika menyorot tepat ke dalam retina membuatnya kembali menyipit cepat.

__ADS_1


Ayana merasakan seluruh tubuhnya ngilu, manik jelaganya pun memandang ke sebelah di mana sang suami tengah duduk di sofa tunggal mengenakan bathrobe.


Merasakan ada sepasang jelaga mengawasinya, Zidan menolehkan pandangan ke depan seraya melebarkan senyum.


"Sayang, kamu sudah bangun?" tanyanya berjalan mendekat.


Ayana mengangguk dalam berbaring lalu mendapati dirinya mengenakan pakaian yang sama.


"Aku-"


"Tadi Mas sudah membersihkan mu, Sayang. Kamu tiba-tiba tidak sadarkan diri, maaf Mas-"


"A-apa? Tidak sadarkan diri? Bagaimana bisa?" cicitnya pelan.


Zidan mengulas senyum lembut, tangan kanannya mengelus pelan pelipis Ayana penuh kasih sayang.


"Tidak apa-apa, kamu hanya kecapean. Maaf ... maaf melakukannya tanpa memikirkan kondisimu. Mas-"


"Tidak!" Ayana kembali memotong ucapan suaminya. "Mas tidak usah minta maaf. Karena aku ... a-aku juga menikmatinya." Suaranya semakin pelan dan pelan seraya melepaskan pandangan dari pria di hadapannya.


Zidan bahagia mendengar kata-kata istrinya barusan. Ia merunduk mengecup hangat nan dalam dahi lebarnya.


"Aku sangat mencintaimu, Ayana," ungkapnya saat pandangan mereka kembali bertemu.


Bibir ranum pelukis itu pun melengkung sempurna. Tangannya kembali ia kalungkan di bahu Zidan membuat sang empunya terus menunduk.


"Terima kasih sudah menungguku," kata Ayana singkat dan mencium suaminya lagi.


Penyatuan itu pun kembali terulang beberapa saat.


Tidak lama setelahnya, pasangan suami istri tersebut melaksanakan kewajiban. Mereka terlalu terlena akan surga dunia dan bergegas memenuhi perintah Tuhan.


Sujud demi sujud terjadi begitu khitmad. Ayana maupun Zidan merasa lega pilihan untuk meninggalkan sumber rasa sakit memang yang terbaik.


Selepas salat, keduanya duduk di sajadah masing-masing. Doa-doa pun dipanjatkan sang kepala keluarga, mulai dari rasa syukur sampai keinginan terdalam.


Air mata menetes membersamai sebuah harapan yang keduanya inginkan. Anak, Ayana maupun Zidan pun berharap Allah segera mengkaruniainya lagi seorang anak.


Namun, apa pun yang terjadi baik Ayana maupun Zidan sudah siap untuk itu. Pernikahan mereka saat ini sudah baik-baik saja dan terlepas dari orang ketiga.


Zidan dan Ayana menyadari jika masalah demi masalah akan datang untuk memperkuat ikatan rumah tangganya.

__ADS_1


Selepas memanjatkan doa, Zidan berbalik membuat Ayana menyalami tangannya cepat. Ia pun memberikan kecupan hangat di dahinya lagi.


Di bawah cahaya sinar bulan yang masuk melalui jendela besar kamar, ikatan janji suci keduanya pun kembali dibina dengan sangat kuat.


__ADS_2