Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 2 CHAPTER 4


__ADS_3

"Apa Om dan Tante yakin wanita itu diangkat menjadi anak kalian? Kenapa bisa? Bagaimana bisa? Apa kalian sudah melupakan Eliza?"


Pertanyaan demi pertanyaan terus berdengung ke indera pendengaran Celia dan Andan.


Saat ini mereka bertiga tengah berada di sebuah ruangan dekat kolam renang. Semilir angin siang menyapu wajah mereka yang duduk saling berseberangan.


Kirana memandangi kedua orang tua sang sahabat bergantian. Manik berlensa abunya terus bergulir mencari kebenaran.


"Sudah hampir dua tahun kami mengangkat Ayana sebagai anak, selama itu pula tidak ada yang salah. Kami masih mengingat Eliza sebagai anak kandung, tidak ada yang bisa menggantikan posisinya," kata Celia membalas tatapan wanita muda itu.


Kirana menggenggam tangannya erat seraya memberikan sorot mata serius. "Apa Tante yakin? Dia wanita yang baik-baik? Bagaimana jika selama ini dia memanfaatkan kalian?"


"Ayana memang sudah memanfaatkan kami dan ... kami tidak masalah. Karena baik Om, Tante, dan Danieal menginginkan Ayana sembuh," lanjut Adnan seketika mengalihkan atensi Kirana yang langsung memandangnya.


"Sembuh? Apa dia sedang sakit?" tanyanya penasaran, alis rapihnya saling bertautan.


"Iya, dia sedang sakit dan ... sakitnya sama seperti Eliza," sambar Celia cepat.


Kedua iris Kirana melebar sempurna. Ia melepaskan genggamannya dari tangan Celia lalu bersandar di kursi kayu tersebut.


"Sakit yang sama seperti Eliza? Apa dia mengalami trauma dan depresi? Kenapa? Aku melihatnya baik-baik saja," cicitnya seraya beralih ke bawah menjadikan lantai marmer sebagai objek perhatian.


"Itu ... kami tidak bisa menjelaskannya," ujar Celia lagi.


Sedetik kemudian Kirana mendongak memandang pelan pada sang lawan bicara.


"Apa ini alasan kalian mengangkatnya sebagai anak?" Celia dan Adnan pun mengangguk mengiyakan.


"Lantas bagaimana dengan janji Eliza dulu? Apa Om dan Tante sudah lupa? Selama delapan tahun ini aku pergi untuk melupakan rasa sakit setelah Eliza meninggal dan sekarang ... aku datang untuk memenuhi janji itu."


"Dan tiba-tiba saja ada orang asing di rumah ini. Apa kalian mengerti seperti apa rasa sakit yang aku tanggung?"


"Aku harus berpisah bersama pria yang aku cintai. Karena tidak ingin membebani hatinya dengan janji itu. Aku-"


"Janji delapan tahun yang lalu saat Eliza masih hidup-" Celia menyambar ucapannya cepat. Iris cokelat kelamnya memandang lagi ke arah Kirana.

__ADS_1


"Dia menginginkan kamu untuk berada di keluarga ini menggantikan posisinya. Tentu saja kami tidak mau, karena ... kami menginginkan kamu sebagai menantu, Kirana. Bukan anak ataupun adik Danieal," lanjut Celia melebarkan pandangan wanita itu.


...***...


"Jadi, itu alasan Kirana meninggalkan kamu, Mas? Dia berpikir kalian tidak ingin membiarkan masuk ke keluarga ini?" tanya Ayana yang sedari tadi mendengarkan cerita sang kakak sambung mengenai Kirana.


Danieal mengangguk singkat. "Itu yang aku dengar, walaupun pada awalnya dia pergi tanpa kabar, tetapi orang yang Mas suruh untuk memata-matainya mengatakan hal tersebut."


"Mas tidak habis pikir ... bagaimana bisa dia berpikiran seperti itu? Dia terlalu kekanak-kanakan," ucapnya lagi.


Ayana menolehkan kembali kepalanya ke depan memandang bunga-bunga tumbuh subur di sana. Ruangan itu berada di lantai dua memperlihatkan pemandangan yang sangat menyejukkan.


Ayana terpaku dan seketika nyaman berada di sana. Selama tinggal di mansion keluarga Arsyad, ini pertama kalinya ia mengunjungi ruangan kerja sang kakak.


"Tapi yang aku lihat sekilas tadi, Kirana ... sepertinya benar-benar ingin bersama kalian. Aku tidak tahu apa ini hanya firasatku saja atau insting sebagai wanita, hanya saja Kirana cemburu mengetahui keberadaan ku di keluarga ini," ungkap Ayana mengutarakan isi hati.


"Cemburu? Kenapa harus cemburu? Seharusnya dia tidak pernah pergi tahun itu." Ada nada kekesalan yang bisa Ayana tangkap dari ucapan kakaknya ini.


"Bukankah dia seorang anak yatim piatu? Aku pernah berada di posisinya ... bagaimana irinya melihat teman-teman memiliki orang tua lengkap. Keluarga yang saling menyayangi dan mengasihi serta peduli satu sama lain."


"Terutama pada saat aku menikah dengan mas Zidan. Waktu itu aku bahagia mendapatkan keluarga baru lagi, tetapi di sisi lain ada perasaan iri. Kenapa? Karena aku melihat keluarga mas Zidan dan adiknya Gibran begitu harmonis."


"Yah, itu juga yang aku lihat dari Kirana," tutur Ayana panjang lebar. "Seolah aku melihat diriku sendiri di dalam cermin," lanjutnya lagi.


Danieal berbalik menghadap Ayana. Kedua tangan kekar itu pun terulur menangkup bahu sang adik dan membalikannya.


Mereka saling berhadapan menyelami keindahan bola mata masing-masing. Ayana mendongak menyaksikan pancaran keseriusan di sana.


"Jangan berkata seperti itu. Jangan pernah menganggap diri sendiri remeh, kamu istimewa bagi orang-orang yang menyayangimu."


"Mas, mamah, ayah, Zidan, adalah orang-orang beruntung itu. Kami semua senang bisa bertemu denganmu, Ayana. Terlebih sekarang kamu sudah menjadi keluarga kami. Jangan berkata seperti itu lagi, dan masalah Kirana biarkan saja," ucap Danieal menggebu-gebu.


Ayana mengulas senyum lembut lalu menggenggam lengan kokoh yang bertengger di bahunya.


"Terima kasih, Mas Danieal adalah kakak yang terbaik," pujinya.

__ADS_1


Dokter tampan itu pun mengembangkan kedua sudut bibir. "Kamu bisa saja."


Setelah itu mereka menikmati pemandangan di ruangan kerja bersama-sama.


...***...


Senja membawa jalan cerita berbeda lagi. Langit yang semula biru membentang dengan awan putih sebagai penghias, berganti semburan jingga di ufuk timur.


Cakrawala begitu cantik memberikan kembali pesona bahari kepada sang penikmat.


Setelah menikmati waktu bersama keluarga sambungnya, Ayana berpamitan pulang kepada mereka untuk menyiapkan makam malam bagi sang suami.


Celia, Adnan, dan Danieal pun mengantarnya sampai ke pekarangan. Mereka berbincang-bincang sebentar lalu melepaskan Ayana pergi.


Baru saja kendaraan roda empat itu keluar gerbang mansion keluarga Arsyad, tiba-tiba saja dari arah samping mobil seseorang menghalanginya.


Seketika itu juga Ayana langsung menginjak rem hingga membuat tubuhnya terantuk ke depan.


"Astaghfirullah, kenapa orang itu?" gumam Ayana memindai mobil merah di depan.


Tidak lama berselang sang pengemudi pun keluar. Seketika manik jelaga Ayana melebar sempurna melihat sosoknya berjalan mendekat.


Ketukan di jendela mobil pun terdengar nyaring, ia langsung membukanya sampai pandangan mereka bertemu satu sama lain.


"Kirana? Ada apa? Apa kamu ingin membicarakan sesuatu denganku?" tanya Ayana sembari menyembulkan kepalanya sedikit.


"Iya, ada yang ingin aku katakan padamu," balas Kirana tanpa cela.


"Oh baiklah, kalau begitu di mana kita harus bicara?" tanya Ayana kembali.


Kirana tidak langsung menjawab, menggulirkan matanya ke depan sekilas dan kepada lawan bicaranya lagi.


"Ikut aku!" titahnya. Tanpa menunggu jawaban Ayana, KIrana melangkahkan kaki menuju kendaraannya berada.


Ayana hanya mengulas senyum simpul melihat mobil itu melaju.

__ADS_1


"Baiklah, sepertinya kesalahpahaman ini harus diselesaikan," kata Ayana mengikutinya di belakang.


Di bawah langit senja sore hari ini, Ayana kembali mendapatkan sebuah tantangan baru. Ia sama sekali tidak gentar dan menghadapinya dengan tangan terbuka.


__ADS_2