Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 64


__ADS_3

Malam semakin larut, keadaan sekitar sangat sepi nan hening. Tidak ada tanda-tanda kehidupan apa pun dirasakan.


Sedari tadi Ayana masih terbangun tidak bisa memejamkan mata barang sedetik saja.


Kejadian beberapa saat lalu segar dalam ingatan membuat rasa bersalah semakin merajalela.


Ia pun menghadap ke samping kanan memandangi Zidan sudah menutup mata rapat di sofa.


Air mata mengalir begitu saja, helaan napas panjang terdengar nyaring menghempaskan keheningan.


Ruangan yang hanya diterangi lampu tidur tidak begitu jelas memperlihatkan keberadaan sang suami. Ayana mengigit bibir bagian dalamnya kuat, merasa bersalah.


"Kenapa tadi aku melakukan itu? Ya Allah, apa trauma hamba kembali lagi? Entah kenapa kejadian tahun itu teringat jelas. Seolah Mas Zidan-"


"Tidak, tentu saja tidak. Mas Zidan sudah berubah, apa yang... aku lakukan?"


"Astaghfirullahaladzim, ya Allah." Ayana terus beristighfar menahan kemelut dalam diri yang datang menerjang.


Ia tidak pernah tahu jika kejadian hari itu bisa teringat kembali. Ia tidak bisa mengontrol diri sendiri atas kenangan menyakitkan berputar bak kaset kusut.


Rasa takut, khawatir, cemas, dan pikiran negatif lainnya merundung bersamaan. Emosi kian menumpuk yang seketika meledak membuat Zidan harus mengalah dan membiarkannya sendirian.


Penyesalan datang membuat perasaan gamang. Ayana bangkit dari berbaring masih dengan memandangi sang suami.


Ia menghela napas kasar berusaha menenangkan diri sendiri dari keterkejutan datang melanda.


Tidak lama setelah itu, bayi dalam kandungan menendang beberapa kali. Ayana terkesiap seolah sang malaikat kecil menyadarkannya dari kebimbangan.


"Kamu juga meminta Mamah untuk... meminta maaf pada Ayah, kan? Baiklah kalau begitu mari kita lakukan. Mamah juga minta maaf padamu, yah sayang."


"Apa tadi kamu terkejut? Kamu tidak percaya Mamah melakukan itu pada Ayah, kan? Mamah benar-benar minta maaf."


"Baiklah kalau begitu, mari kita dekati Ayah," celoteh Ayana berbisik.


Ia pun bangkit dari tepi tempat tidur, lalu berjalan pelan-pelan mencapai Zidan. Hingga beberapa saat kemudian, ia berdiri tepat di samping sang suami.


Rasa menyesal pun semakin kuat, ia bersimpuh di sana sambil memandangi wajah damai pria tercintanya.


"Sayang... aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri dan... ketakutan itu datang begitu saja."


"Apa aku menyakitimu? Apa aku membuatmu terluka? Apa aku sudah mengecewakanmu? Maaf... aku tidak bermaksud-"


"Tidak Sayang!"

__ADS_1


Sepasang kelopak di hadapannya terbuka memperlihatkan lagi manik kelam yang kini memandangi Ayana lekat.


Ia terkesiap tidak percaya Zidan membuka matanya setelah mendengar apa yang dikatakan barusan.


"A-apa? Apa Mas tidak tidur?" tanya Ayana gugup.


Senyum simpul pun mengembang perlahan, sebelah tangan Zidan terangkat membelai pipi hangat sang istri.


"Bagaimana aku bisa tidur? Jika keadaanmu saja seperti ini? Aku sangat mengkhawatirkan mu, Sayang. Maaf... maaf jika aku egois. Aku hanya memikirkan keinginan diri sendiri tanpa memikirkan perasaanmu."


"Aku minta maaf. Aku bersalah, sudah melupakan kejadian itu begitu saja. Aku-"


"Tidak Mas! Jangan terus meminta maaf... aku yang seharusnya minta maaf. Aku... aku... ternyata aku belum sepenuhnya sembuh dari rasa takut itu."


"Trauma ini-"


Kembali, belum sempat Ayana menyelesaikan kalimatnya, Zidan bangkit dari tidur dan langsung menerjang tubuh istrinya erat.


Ayana terbelalak tidak percaya. Jantungnya hampir berhenti berdetak saat itu juga menerima perlakuan tak terduga dari Zidan.


"Tidak apa-apa. Sungguh tidak apa-apa, Sayang. Aku mengerti... aku tahu bagaimana rasanya untuk sembuh dari luka masa lalu."


"Trauma dan depresi... tidak mudah untuk dilupakan begitu saja. Jangan minta maaf, kita bisa mengatasinya bersama," bisik Zidan, Ayana semakin melebarkan pandangan tidak percaya.


Mereka saling merangkul satu sama lain berusaha menenangkan diri sendiri. Tidak mudah sembuh dari luka masa lalu, tidak mudah melupakan kejadian menyakitkan hanya sekejap saja, butuh perjuangan ekstra dan besar guna melewatinya.


Apalagi jika memberikan kesempatan kedua pada sang pelaku, butuh kelapangan hati yang tidak sedikit.


Ayana dan Zidan sama-sama menenangkan kegelisahan dengan saling berpelukan. Detak jantung keduanya seirama dengan kehangatan tubuh masing-masing saling menguatkan.


...***...


Jam menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Beberapa saat yang lalu Ayana melepaskan pelukan sang suami dan berdiri di depannya.


Kedua tangan itu pun terulur mendorong dada bidang Zidan hingga membuat punggung sang empunya terantuk kepala sofa.


Kepala bersurai hitam legam itu mendongak memandangi sepasang jelaga karamel di hadapannya.


Sorot mata tegas nan dalam seorang Ayana memindai prianya yang berada di bawah. Entah keberanian dari mana pelukis itu pun mengangkat kaki dan duduk begitu saja di pangkuan suaminya.


Jari jemari lentiknya membelai penuh sensual pelipis sang pujaan. Napasnya yang memburu menyadarkan Zidan kembali.


Ia mencengkram pelan pergelangan tangan Ayana dan menariknya begitu saja.

__ADS_1


"Jangan dipaksakan, aku tidak mau jika sampai kamu-"


Perkataan Zidan terputus kala Ayana memberikan ciuman mendalam. Maniknya terbelalak lebar tidak percaya dengan tindakan berani dilayangkan sang istri.


Permainan itu pun membuatnya terlena, Zidan terbawa suasana dan seketika mengambil alih.


Beberapa saat kemudian penyatuan mereka terputus. Benang saliva terulur di antara benda kenyal keduanya.


Napas yang saling memburu menandakan keinginan terdalam. Dengan perlakuan lembut Zidan mengusap sekitar mulut Ayana menggunakan ibu jari.


"Kenapa?"


Satu kata mengandung berjuta kebimbangan dalam diri.


"Aku hanya ingin melawan rasa sakit ini dan menghilangkan trauma. Aku tidak bisa terus terjebak di dalamnya dan membuat... kamu terluka," balas Ayana sembari mengusap pelan rahang tegas sang suami.


Zidan tersenyum lebar, menarik kembali tangan kekasih hatinya dan memberikan kecupan di telapaknya begitu dalam serta khidmat.


Kedua mata itu menutup rapat menyelami kehangatan yang kian menyambar. Perasaan penuh suka cita terus berdengung dalam benak.


Tidak lama berselang kelopaknya terbuka lagi memperlihatkan ketegasan serta keseriusan juga sorot mata dalam begitu apik menyapanya.


"Apa tidak apa-apa? Aku tidak ingin menyakitimu juga, Sayang. Sungguh... aku tidak apa-apa. Semua-"


Lagi dan lagi Ayana memotong perkataan dengan menangkup wajah tampan sang suami dan memberikan tamparan pelan di sana.


"Tidak! Aku tidak apa-apa... pernikahan ini berlandaskan antara dua orang, bukan hanya Mas saja, tetapi aku juga. Oleh sebab itu, aku tidak ingin membuat keadaan rumah tangga kita runyam hanya karena... hanya karena trauma ku saja," jelasnya lagi.


"Karena itu bantu aku lepas dari trauma ini," lanjut Ayana.


"Baiklah, aku akan membantumu sebisaku. Karena dari awal aku yang sudah menimbulkan trauma itu. Maka... marilah kita berpegangan tangan untuk memulai semuanya lagi dari awal," kata Zidan dijawab anggukan sang istri.


Kegiatan yang sempat tertunda kembali dilanjutkan dengan gerakan-gerakan impulsif. Perlahan Zidan melayangkan lagi aksinya.


Kali ini lebih lembut dari biasanya hingga membuat Ayana nyaman. Ia tidak akan melakukan sesuatu yang bisa membangkitkan kembali trauma sang istri.


Ia tidak ingin melihat Ayana ketakutan lagi. Karena melihatnya seperti itu bagaikan berada di masa lalu.


Zidan benar-benar menyesal sudah menorehkan luka teramat dalam di hati sang pujaan. Jika saja waktu bisa diputar, ia akan memperbaiki semuanya.


Namun, semua sudah menjadi bubur. Apa pun yang terjadi, tidak bisa kembali lagi. Sekarang hanya harus memperbaiki diri menjadi lebih baik dan tidak usah tengok ke belakang.


Biarkan masa lalu menguap dengan sendirinya dan sambut masa depan yang mengalir bagaikan air penuh suka cita.

__ADS_1


__ADS_2