Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 81


__ADS_3

Kebenaran demi kebenaran terungkap satu persatu. Kebusukan Bagus Prakasa terbongkar sudah menyisakan kekesalan bagi masyarakat.


Kebanyakan mereka berang, tak luput sumpah serapah dilayangkan kepada pria berumur tersebut.


Bagus Prakasa, kini berada di rumah tahanan tengah menjalani pemeriksaan. Ia dikawal begitu ketat mengingat orang nomor satu di negara itu terkena masalah besar.


Semua orang di lingkungan terdekat maupun daerah tetangga, turun tangan ke kantor kepolisian. Mereka mengutarakan segala isi hati, ada pula yang mencaci maki bagaimana kejamnya masa lalu orang nomor satu tersebut.


Mereka mencak-mencak tersulut emosi membuat para petugas keamanan menjaga ketat kawasan kantor agar tidak terjadi kerusuhan.


Banyaknya orang yang berdatangan ke sana pun menarik perhatian para wartawan untuk meliput. Berita seputar Bagus Prakasa pun masih menyebar ke segala penjuru dan menjadi pembahasan panas.


Beberapa negara tetangga pun turut memberitakan betapa kejamnya Bagus Prakasa.


Ayana yang masih berada di rumah sakit pun menyaksikan berita itu seraya menikmati suapan demi suapan bubur oleh sang suami.


“Apa pria tua itu akan dipenjara?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari layar televisi.


"Sudah pasti, Sayang. Kamu pikir apa kejahatannya bisa dibiarkan begitu saja? Tentu tidak bisa, dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya."


Zidan membawakan segelas air dan dijulurkan pada kekasih hatinya.


Sorot mata Ayana berubah sendu, dan hal itu tidak luput dari perhatian sang pasangan hidup membuat kedua alisnya saling bertautan.


Zidan kembali menyendok sesuap bubur dan menjulurkan lagi pada Ayana.


"Apa yang kamu pikirkan, Sayang?" tanyanya khawatir, mengusap sudut bibir kekasih hatinya pelan.


Ayana masih memandang ke arah sama menyelam ke dalam ingatan.


"Lalu... bagaimana dengan Hana? Apa dia baik-baik saja?"


Pertanyaan Ayana mengambang beberapa saat. Sampai suara seseorang mengejutkan keduanya.


Ayana dan Zidan menoleh ke arah pintu masuk mendapati wanita berhijab abu mengulas senyum.


"Seperti biasa kamu selalu saja mementingkan orang lain. Bagaimana keadaanmu sekarang?"


"Mbak... Mbak Bening?" Ayana terkejut mendapati kakak perempuannya datang.


"Alhamdulillah, keadaan kami baik-baik saja," lanjutnya lagi.


"Alhamdulillah, aku senang mendengarnya." Bening mengulurkan sebelah tangan mengusap permukaan perut Ayana.


Kedua wanita itu mengulas senyum singkat membiarkan hening mengambil alih.


Sampai perkataan Ayana kembali mengenyahkan senyap.


"Hana... bagaimana keadaannya?"


Pertanyaan sama kembali berdengung. Sang pelukis terus memandang lekat Bening yang masih setia membungkam mulut.

__ADS_1


Kejadian yang menimpa Bagus Prakasa membongkar semua rahasia sejak lama mengendap.


Sebagai seorang anak, Hana Tsubasa sama sekali tidak tahu menahu apa yang sudah disembunyikannya sang ayah.


"Tentu, dia... sangat syok. Dia saat ini masih berada di istana putih. Meskipun banyak orang-orang berdatangan ke sana, Hana sama sekali tidak ada niatan untuk pergi. Dia-"


"Kenapa? Apa dia juga termasuk kaki tangan ayahnya? Benar juga, anak bisa saja ikut menyembunyikan kebusukan orang tuanya," timpal Zidan membuat Ayana maupun Bening menatap lekat.


"Tidak seperti itu. Alasan Hana tidak bisa meninggalkan kediamannya saat ini... karena banyak hal yang sudah terjadi di sana. Aku juga sempat meminta dia untuk pindah sementara ayahnya berada di kantor polisi, tapi iya itu... Hana tidak ingin pergi."


"Dia bilang, jika dia pergi, itu sama saja Hana ikut terlibat dalam kejahatan sang ayah," kata Bening menuturkan.


Ayana dan Zidan mengangguk setuju. Mereka sama-sama mengerti perihal yang terjadi kepada Bagus Prakasa.


Ayana terdiam, mencerna baik-baik perkataan sang kakak barusan. Ia tidak bisa membayangkan apa yang tengah Hana rasakan selama ini.


Kejadiannya hampir mirip dengan Jasmine. Mereka sama-sama menjadi korban keluarga yang terlalu egois.


Tanpa memikirkan perasaan yang lain mereka hanya mementingkan keinginannya sendiri.


"Jadi, sekarang Hana masih ada di istana putih?" tanya Ayana kemudian.


Bening mengangguk singkat dan menatapnya lekat.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanyanya lagi.


Ayana diam beberapa saat, menjatuhkan pandangan ke bawah. Bibir pucat nya menggulung pelan memikirkan banyak hal.


"Jadi, kesimpulannya adalah orang yang telah mengirimkan lukisan-lukisan itu padaku ayahnya sendiri? Karena dia ingin-"


"Dia ingin menghabisi mu dan membuat nama Hana mencuat untuk menggantikan mu, Ayana. Karena pria itu berpikir jika kamu tiada maka mimpi seorang Hana Tsubasa pun bisa lenyap."


"Kamu tahu sendiri jika Hana mengidap skizofrenia dan dia... berkhayal menjadi dirimu."


Bening kembali mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi.


Ayana maupun Zidan kembali tercengang, tidak percaya jika tujuan sebenarnya dari pesta teh itu adalah untuk melenyapkan dirinya.


Zidan langsung menggenggam tangan sang istri mengerti apa yang tengah dipikirkannya.


"Jangan banyak berpikir, kamu harus benar-benar istirahat yang cukup. Ini semua untuk kebaikan anak kita," ucapnya menenangkan.


Ayana mengangguk singkat membalas genggaman tangan sang suami.


"Aku hanya memikirkan... Hana. Dia, mempunyai mimpi yang sama sepertiku. Dia pantas menjadi pelukis hebat," balas Ayana membalas pandangan Zidan lalu beralih pada Bening.


Kedua orang itu pun mengangguk mengiyakan.


...***...


Beberapa hari kemudian, Ayana sudah keluar dari rumah sakit. Ia sengaja pulang ke kediaman orang tua sambungnya agar lebih bisa diperhatikan.

__ADS_1


Celia begitu memanjakan putri bungsunya dengan cekatan. Ayana sangat terharu dan bahagia mendapatkan perhatian dari sang ibu.


"Pokoknya mulai hari ini kamu tidak boleh pergi ke manapun tanpa seizin Mamah, ayah, Zidan, ataupun Danieal."


"Kamu harus banyak-banyak istirahat dan jangan pernah melakukan apa pun lagi yang bisa membahayakan."


"Bagaimana bisa Mamah sampai kecolongan kamu pergi ke pesta teh seperti itu? Ya Allah... kepalaku." Celia terus meracau sembari memijit-mijit pelan kepalanya yang berdenyut.


Ayana yang sedang selonjoran kaki di tempat tidur hanya terkekeh pelan.


"Mamah... sini duduk. Jangan terus mondar-mandir seperti itu kaya setrikaan saja."


Seketika Ayana tergelak. Celia cengo lalu bergegas mendekati sang putri.


Ia duduk tepat di samping Ayana dengan sorot mata tajam.


"Jadi, kalau menurut Jasmine aku boleh pergi... aku boleh pergi?"


Ayana semakin senang menggoda ibunya saat tidak mendengar kakak iparnya disebut. Celia melebarkan pandangan tidak menduga mendengar perkataan putri bungsunya.


Ia pun memberikan sentilan kasih sayang di dahi lebar Ayana. Sang empunya semakin tergelak kencang lalu memeluk ibunya, hangat.


"Aku hanya bercanda, Mah... jangan marah aku tidak bersungguh-sungguh," ucapnya tersenyum lebar.


Celia mendengus pelan lalu membalas pelukan Ayana tak kalah erat.


Sebelah tangannya pun mengusap perut membuncit sang putri beberapa kali.


Wajah sumringah calon nenek itu pun terpendar menambah kecantikan di usianya yang tidak lagi muda.


"Kamu harus menjaga kandungan ini dengan baik. Jangan sampai kejadian mengerikan itu terjadi lagi."


"Mamah tahu bagaimana rasanya kehilangan anak. Rasanya... sangat sakit melebihi apa pun," ucap Celia lirih masih memperhatikan perut Ayana.


Sang pelukis terdiam, membisu menyelami kata-kata dari wanita yang sudah mengangkatnya anak.


Kedua manik karamel itu berkaca-kaca, senyum penuh haru pun mengembang dengan sempurna.


"Iya, terima kasih banyak Mah. Aku akan menjaga dia sepenuh hati. Aku... tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya."


Ayana semakin mengeratkan pelukan, menyembunyikan wajah di ceruk leher Celia.


Entah sadar atau tidak air mata mengalir tak tertahankan.


Di luar kamar Zidan terharu sedan. Air mata mengalir begitu saja membuat sepasang mata elang menatapnya nyalang.


Kedua tangan melipat di depan dada sembari menghela napas memandangnya.


"Apa yang sedang kamu lakukan?"


Zidan berbalik, terkejut bukan main mendapati seseorang tepat di hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2