
"Kamu sudah datang?"
Pertanyaan yang datang menyambut keberadaannya seketika membekukan diri.
Jasmine termenung tidak percaya menyaksikan satu sosok menghuni ruangan itu menyapa hangat.
Bermandikan cahaya mentari siluetnya nampak memesona.
Jasmine terdiam beberapa saat menyaksikan semua itu. Orang yang berhasil menariknya dari kegelapan, seseorang yang memperlihatkannya warna-warni dunia sangatlah luar biasa.
Ia melangkah pelan membuktikan jika itu adalah nyata. Senyum pun mengembang saat tatapan mereka saling bertemu.
"A-Ayana? Kenapa kamu ada di sini? Bukankah dokter mengatakan untuk bed rest?" tanya Jasmine bingung.
Ayana pun tersenyum lebar seraya melangkah ke depan hingga berdiri tepat di hadapan Jasmine.
"Aku sengaja datang setelah kamu meminta izin untuk menggunakan ruangan ini. Karena mual dan pusing juga sudah agak berkurang, aku memutuskan sekalian datang. Terlebih, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan," jelasnya.
Jasmine manggut-manggut paham dan mendapatkan kebenaran dari ucapan Seruni tadi.
Ia lalu berpindah ke sebuah meja di sudut ruangan dan berdiri di sana sambil mengeluarkan barang-barang bawaannya dari tas pundak.
"Apa yang ingin kamu tanyakan, An?" lanjutnya memanggil Ayana dengan sebutan yang hanya dirinya saja gunakan.
Suara flatshoes pelukis itu bergema di sana. Ia kembali mendekat pada Jasmine dengan lengkungan bulan sabit sempurna.
Aroma khas yang menguar dari tubuh sang sahabat menyebar ke indera penciuman.
Di hari pertama mereka bertemu, raksi bunga magnolia mengejutkannya.
Di tengah ketakutan serta kepelikkan yang sedang menerjang, Jasmine sempat terpaku sesaat. Ia tidak percaya bisa mencium bau tersebut dari orang yang baru pertama kali ditemuinya.
Sesuai nama tengah yang diberikan mendiang ayah dan ibu, Jasmine sering kali mencium aroma bunga tersebut di mansion.
Masih basah dalam ingatan bagaimana orang tuanya sering memberikan bunga magnolia sebagai hiasan di dalam kamar ataupun ruangan sekitar.
Mereka sangat senang dengan bunga berkelopak kecil itu di balik keharumannya terdapat makna yang menenangkan.
Sebagai lambang ketulusan cinta, itulah yang ayah dan ibunya katakan juga waktu itu.
"Sayang, putri cantiknya Mamah, jika suatu saat nanti kamu jatuh cinta pada seorang pangeran, maka labuh kan lah perasaan itu sepenuhnya. Jangan pernah menampik atau mengenyahkan rasa cinta di hatimu. Karena... saat hatimu berkata cinta pada dia, maka itulah yang sebenarnya kamu rasakan."
"Kalau aku tidak suka?"
"Maka hatimu akan berbicara tidak nyaman. Putri kecilnya Ayah, kamu berhak mendapatkan seorang pangeran yang benar-benar mencintaimu. Berikanlah bunga ini sebagai lambang jika kamu juga sangat mencintainya."
__ADS_1
"Jasmine akan memberikan bunga ini untuk Mamah dan Ayah."
"Eh? Kenapa?"
"Karena Mamah dan Ayah adalah dua orang yang sangat.... Jasmine cintai dan sayangi."
"Owh, anak Mamah menggemaskan sekali."
Kedua orang tuanya pun memeluk putri cantik mereka dengan erat. Ketiganya saling merangkul dengan senyum mengembang di wajah menawan tersebut.
Di tengah taman bunga yang ada di mansion, keluarga kecil itu menghabiskan waktu bersama dengan penuh cinta kasih.
Tidak ada yang mengganggu ketiganya dan hanya mereka di sana.
Itulah ingatan singkat yang tiba-tiba saja hinggap. Jasmine termenung menyelami batu kristal di atas meja.
"Jasmine... Jasmine... hei Jasmine." Ayana menggoyangkan bahu sempit sahabat terbaiknya berulang kali menyadarkan.
Sedetik kemudian Jasmine pun terkesiap langsung melirik samping singkat dan kembali ke posisi awal.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Ayana penasaran.
Jasmine mengulas senyum simpul dan mengusap batu kristal itu lembut.
Ayana tercengang singkat, maklum atas apa yang dirasakan oleh Jasmine. Memang tidak mudah menerima kenyataan bertahun-tahun disembunyikan.
Banyak kejadian di luar prediksi yang mengejutkan kala kebenaran itu terungkap.
"Apa kamu ingin menanyakan kenapa aku menolak mas Danieal hari itu? Sepertinya tanpa aku sebutkan jawabannya pun... kamu sudah tahu," kata Jasmine duduk dan memulai pekerjaannya.
Ia lalu menyuruh Ayana duduk di sampingnya, "tidak baik bagi wanita hamil berdiri." Itulah yang dikatakan Jasmine.
Ayana pun menurut dan mendudukkan diri tepat di sebelah.
Bola mata karamel itu fokus pada setiap pahatan yang diberikan Jasmine pada batu tersebut.
Helaan napas pelan pun terdengar, Jasmine hanya menggulirkan bola matanya sekilas tanpa mengatakan apa pun.
"Kamu benar... aku sudah tahu jawabannya. Cinta memang tidak bisa dipaksakan, tetapi Jasmine, bolehkah aku bertanya lagi?"
Kepala berhijab abunya mengangguk sekilas.
"Apa kamu pernah sedikit saja mengagumi mas Danieal?"
Pergerakan di atas batu kristalnya pun terhenti. Ia yang tengah menyemir permukaannya terdiam beberapa saat sebelum kembali melanjutkan.
__ADS_1
Melihat gelagatnya itu, kedua sudut mulut ranum sang pelukis melengkung sempurna. Ayana yakin masih ada kesempatan bagi kakaknya untuk bisa mendapatkan Jasmine.
Semua hanya butuh waktu, pikirnya yakin.
"Aku tidak tahu," balas Jasmine singkat dan melanjutkan pekerjaannya lagi.
"Jika kamu pernah merasakan hal itu dan... hatimu mengiyakannya, itu berarti perasaan yang sebenarnya, Jasmine. Ketika hati berbicara itulah yang tengah kamu rasakan."
Perkataan Ayana barusan sontak kembali mengejutkan. Ingatan beberapa saat lalu mengenai apa yang kedua orang tuanya katakan terdengar dari mulut sang sahabat.
Ia kembali membeku dengan pandangan lurus ke bawah.
"Bagaimana bisa? Bagaimana bisa Ayana mengatakan hal sama seperti mamah? Siapa Ayana ini sebenarnya? Dia... benar-benar banyak kejutan," monolog Jasmine dalam benak.
"Kadang kala pikiran berkata tidak saat hati berkata sebaliknya. Diri sendiri terkadang juga sering mengkhianati, hati dan pikiran sering tidak sinkron."
"Ego mempengaruhi yang memenangkan pikiran, sedangkan hati... berkata sebaliknya. Kita ingin apa, tetapi yang didapatkan apa. Karena kadang kala ego itu tadi menguasai. Maaf Jasmine, bukan maksudku menasehati mu ataupun memaksakan kehendak, tetapi... tidak ada salahnya bukan membuka hati untuk melakukan hal baru?" tutur Ayana panjang lebar.
Hal tersebut berhasil membuat Jasmine menoleh. Pandangannya jatuh ke pergelangan tangan Ayana di mana di sana melingkar gelang hasil buatannya.
Ia melepaskan sarung tangan dan menggenggam lengan sebelah kiri sang sahabat.
"Apa itu yang kamu pikirkan juga? Saat pikiranmu menolak keberadaan mas Zidan lagi... hatimu mengatakan sebaliknya?" Jasmine mengangkat kepala bertatapan lagi dengan Ayana.
Tanpa gentar sang pelukis mengangguk singkat.
"Benar, itulah yang aku lakukan. Kamu tahu berapa kali aku menolak mas Zidan? Bahkan aku sudah memberikan surat gugatan perceraian padanya. Namun, berkat kesungguhan yang diberikan mas Zidan hasilnya hatiku memenangkan semua keegoisan dalam diri," jelas Ayana kembali mengejutkan Jasmine.
Ia memang tidak pernah tahu seperti apa rumitnya rumah tangga yang sudah Ayana lewati.
Namun, ia bisa merasakan bagaimana rumit dan sakitnya semua itu.
Bukti dari fisik Ayana menjadi saksi bisu rasa sakit pernah terjadi.
"Jadi, Jasmine-" Ayana membalas genggaman tangannya tak kalah erat.
"Kamu jangan sampai kalah oleh pikiran negatif yang terus merundung. Berikan kesempatan pada hatimu untuk mengambil alih. Karena tidak ada yang lebih jujur dari sebuah gelenyar dalam dada. Aku yakin akan ada kebaikan menyertai," jelas Ayana kembali menasehati.
Jasmine hanya mengangguk singkat dan kembali mengulas senyum simpul. Ia sangat senang bisa dipertemukan dengan seseorang yang memberikan motivasi ke dalam hidupnya.
Ayana pun memeluknya erat mengusap punggung ramping itu berulang kali.
"Aku ingin melihatmu bahagia, Jasmine," kata Ayana lagi lirih.
Jasmine termangu, terkejut mendengar permintaan dari seseorang mengharapkan kebahagiaan dirinya yang tidak pernah ia dapatkan dari siapa pun.
__ADS_1