Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 34


__ADS_3

Sejak pertemuannya dengan Arfan tempo hari, Ayana lebih sering menghabiskan waktu bersamanya. Di manapun ia berada, sang pengusaha akan selalu menemani.


Sudah hampir satu bulan, hubungan mereka pun semakin akrab. Mereka juga sudah menjalin kerja sama untuk mengadakan pameran.


Tentu saja dengan adanya projek yang sama, mengharuskan keduanya untuk saling bertemu. Tak jarang keberadaan mereka menjadi tontonan menarik bagi pengunjung.


Orang-orang yang sering datang ke toko Ayana, sudah tidak asing lagi dengan pemandangan tersebut. Saat menjelang makan malam Arfan selalu datang dan menikmati santapan bersama Ayana.


Seperti siang ini, mereka kembali duduk saling berseberangan dengan berbagai makanan di meja. Ayana dan Arfan menikmatinya dan sesekali menawarkan pada para pengunjung yang sudah sedikit akrab.


Meskipun sudah memasuki jam makan siang, Ayana tidak pernah menutup toko. Siapa pun yang ingin masuk dan melihat-lihat hasil tangannya ia akan menyambut dengan baik.


"Apa desainnya seperti ini tidak apa-apa?" tanya Arfan seraya memperlihatkan beberapa lembar kertas pada lawan bicaranya.


Ayana yang tengah menikmati makanan pun mengalihkan perhatian. Ia mengambil benda itu lalu melihatnya satu persatu.


Di sana terdapat sebuah desain untuk ruangan yang hendak dijadikan pameran. Bibir ranum itu melengkung sempurna impiannya yang dulu bisa direalisasikan.


"Semuanya bagus-bagus, aku jadi bingung memilihnya," kata Ayana menoleh singkat pada pria di hadapannya.


Arfan pun melengkungkan bulan sabit sempurna menyaksikan reaksi Ayana. Hampir satu bulan penuh ini ia sudah menghabiskan banyak waktu bersamanya, selama itu pula mereka mulai mengenal satu sama lain.


Arfan menyadari jika Ayana adalah wanita yang sangat mandiri, tegas, lugas, baik, dan tidak pernah meninggalkan waktu ibadahnya.


Sedikitnya Arfan jadi terpengaruh oleh kebiasaannya itu. Ia mulai memperhatikan keimanan dan sedikit demi sedikit mendekatkan diri pada yang di atas.


Ia banyak belajar dari Ayana, sejatinya hidup sudah ada yang mengatur. Ia tidak lagi terobsesi pada dunia dan lebih mementingkan bekal untuk akhirat.


Orang-orang yang mengenal Arfan pun terkejut dengan perubahan tersebut. Terutama para karyawan di perusahaan yang mendapatkan peraturan baru dari sang atasan.


Arfan menambahkan jika waktu ibadah sudah tiba, mereka wajib menunaikan salat berjamaah bersama, kecuali yang berbeda agama dengannya.


Peraturan tersebut disambut baik oleh mereka. Para karyawan sangat senang dengan aturan baru yang diberikan oleh Arfan.

__ADS_1


Mereka juga meyakini jika hal itu dipengaruhi oleh Ayana. Karena sejak kehadiran sang pelukis di perusahaan, Arfan mulai berubah. Tidak sedikit dari para karyawan yang melihatnya bersama, mereka akan berpikir jika keduanya cocok satu sama lain.


"Ah, aku sudah memutuskan. Bagaimana kalau dengan desain yang ini saja? Tidak terlalu mewah dan juga sangat simple. Bagaimana menurut Mas Arfan?" Ayana memperlihatkan sebuah gambar yang menunjukkan tata letak sebuah gedung pameran.


"Aku setuju. Aku juga berpikir untuk menggunakan desain ini," kata Arfan mengiyakan.


"Syukurlah, kita bisa menggunakannya."


Setelah itu mereka lanjut lagi makan siang bersama. Kebersamaan mereka tidak pernah luput dari pandangan mata seseorang.


Selama itu pula Zidan terus mengawasi keduanya. Ia pun menyewa orang lain untuk tetap melihat apa yang sedang Ayana dan Arfan lakukan saat dirinya tidak bisa melihatnya sendiri.


Emosi memuncak saat mereka berdua saling melempar senyum. Dadanya bergemuruh mengalirkan amarah yang kian merundung.


Namun, ia berusaha mengendalikannya dan bersabar tidak mau situasi semakin rumit. Karena sejak malam itu Ayana benar-benar mendiaminya.


Ia tidak pernah menyapanya lagi saat datang ke toko, hanya karyawannya saja yang menyambut kedatangan Zidan. Ia tahu sudah melakukan kesalahan yang teramat besar. Dirinya masih menganggap Ayana sebagai istrinya di masa lalu.


"Rasanya sangat sakit melihatmu selalu bersamanya. Kenapa? Kenapa Ayana? Apa kamu mau balas dendam padaku? Aku tahu kelakuanku waktu itu sangat tidak termaafkan, tetapi bisakah ... bisakah kita memulainya dari awal lagi? Aku benar-benar mencintaimu, Sayang," ungkapnya terus meracau di dalam mobil seraya terus melihat ke arah Ayana.


...***...


Ayana baru saja menikmati makan siang bersama Arfan, tidak lama setelah itu sang kakak datang dengan mengembangkan senyum tampannya.


Ayana yang tengah duduk di depan meja kasir menyambutnya hangat. Ia menopang dagu kala pandangan mereka bertemu satu sama lain.


"Mamah membawakan makan malam untukmu. Jangan terus-terusan bekerja dan membuat tubuhmu sakit," kata Danieal sembari meletakan kotak bekal.


"Wah, masyaAllah, Alhamdulillah. Kenapa mamah harus repot-repot membuatnya untukku?" ujarnya, manik jelaga itu berbinar senang.


"Mamah tidak mau melihatmu kecapean," jelas Danieal lalu menyapukan pandangan pada seluruh sudut toko.


Ruangan luas berbentuk kotak dengan nuansa putih itu pun hanya menyisakan beberapa pengunjung. Tidak jauh dari keberadaan mereka satu-satunya karyawan yang bekerja di sana tengah membersihkan peralatan melukis di etalase.

__ADS_1


Selain menjajakan karyanya, Ayana juga menjual alat-alat lukis lengkap ada di sana. Ia senang bisa mendapatkan toko yang diidam-idamkannya dari dulu.


"Apa kamu tahu?" tanya Daneal tanpa mengalihkan pandangan.


Ayana yang juga kembali disibukan dengan mengatur ulang alat lukisannya pun berdehem "hm?" sebagai jawaban.


"Sejak kamu bersama pria bernama Arfan itu ... Zidan selalu mengawasi kalian."


Gerakannya terhenti seketika, Ayana mengangkat kepalanya dan bertatap lagi dengan sang kakak sambung.


"Benarkah? Kenapa Mas baru membicarakannya sekarang?"


"Iya, Mas pikir kamu sudah tahu."


Ayana menghela napas kasar dan melihat ke arah luar jendela. Ia menangkap sebuah mobil hitam tidak jauh dari keberadaan toko.


"Jadi selama ini dia benar-benar mengawasi kami? Kenapa? Apa dia tidak suka melihat kesuksesanku?" tanya Ayana sedikit kesal.


"Sepertinya dia cemburu, Ghazella. Bukankah dia selalu menganggap mu seperti istrinya di masa lalu? yah, meskipun pada kenyataannya itu memang dirimu," timpal Danieal lagi.


Ayana terkekeh pelan dan fokus memperhatikan kendaraan di luar. "Sungguh menggelikan, aku tidak tahu apa yang dia rencanakan, tetapi ... aku tidak akan pernah kembali seperti dulu lagi. Sudah cukup semua penderitaanku berada di hari itu."


"Apa tidak ada kesempatan satu kali saja untuknya?" Tiba-tiba saja Danieal terpikir seperti itu.


Ayana menggeleng cepat seraya mengepal kedua tangan kuat. "Tidak!" Satu kata menjelaskan semuanya.


Danieal melihat ke arah genggaman tangannya dan tersenyum simpul. Tidak mudah bagi seseorang melupakan rasa sakit yang pernah ditorehkan oleh orang tercinta.


Butuh waktu seumur hidup untuk bisa melupakannya, sebab luka itu akan tetap ada dan menimbulkan kenangan yang tak berkesudahan.


Apalagi ada kejadian paling mengerikan yang pernah Ayana terima. Di saat ia kehilangan sang jabang bayi tidak ada sang suami mendampinginya.


Terlebih buah hati mereka pergi berkat ayahnya sendiri, dan pria itu malah menyalahkannya. Itulah luka paling besar yang tidak bisa Ayana lupakan.

__ADS_1


__ADS_2