
Kejadian tidak diharapkan harus terjadi, menerjang bagaikan ombak ganas di lautan. Peristiwa mendebarkan datang melanda mengundang air mata tak berkesudahan.
Satu adegan menyakitkan merundung sembilu mengantarkan pada titik kesedihan tiada akhir. Lagi dan lagi kristal bening harus hadir sebagai bentuk luka di hati.
Sejak beberapa menit lalu, Jasmine menangis tanpa henti mengingat apa yang telah menimpa Ayana. Ia takut, benar-benar khawatir sesuatu tidak diinginkan bisa saja menimpa sang adik ipar dan calon keponakannya.
Danieal sedari tadi mendampingi mendekat dan berdiri tepat di hadapan sang istri. Ia mencengkeram kedua bahunya sedikit kencang menyalurkan kekuatan.
Jasmine yang tengah duduk di atas berankar melirik sekilas dan menjatuhkan pandangan ke bawah lagi seraya terisak.
"Shut, sudah Sayang jangan menangis. Aku yakin tidak akan ada sesuatu terjadi pada Ayana dan calon keponakan kita," ucapnya menenangkan.
Kepala berhijab itu menggeleng singkat. "Semua ini salahku. Andai saja aku lebih memperhatikannya, pasti... pasti Ayana tidak akan masuk rumah sakit." Jasmine semakin menangis kencang menangkup wajah berair di kedua telapak tangan.
Danieal terkesiap dan bergegas memeluk tubuh bergetar pasangan hidupnya. Ia mengerti pasti tidak mudah bagi Jasmine mendapati kecelakaan menimpa Ayana.
"Jangan menyalahkan diri sendiri, semua ini bukan salahmu, Sayang. Kita tidak tahu peristiwa apa yang menimpa, jadi... jangan menyalahkan diri terus." Danieal mengusap punggung kekasih hatinya pelan mengalirkan kekuatan.
Ia sendiri pun terkejut kala mendapatkan panggilan Zidan jika Ayana pendarahan. Ia takut keadaan itu membangkitkan masa lalunya lagi.
Di mana Ayana pernah mengalami kegagalan dan melihat banyak darah. Sebagai seorang kakak yang pernah mendengar dan ada di saat-saat sulitnya, Danieal tidak ingin mendapati sang adik terluka kembali.
Sudah cukup penderitaannya di masa lalu, biarkan sekarang Ayana menikmati kebahagiaannya. Meskipun ia sadar selagi hidup, cobaan serta ujian itu pasti akan selalu ada.
Ruang penangangan di buka, wanita berhijab keluar dari sana membuat Zidan yang terus menunggu kabar baik terperangah. Ia bangkit dari duduk dan mendekati dokter Bintang.
Dengan wajah pucat pasi, antara cemas, takut, dan khawatir ia menatap wanita di hadapannya ini lekat.
"Ba-bagaimana keadaannya, Dok?" cicitnya parau.
"Alhamdulillah, keadaan ibu dan bayi baik-baik saja. Pendarahan terjadi akibat benturan dan selebihnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Bayi kalian... benar-benar kuat. Kamu beruntung masih bisa memiliki mereka."
"Kamu bisa menemuinya setelah dipindahkan ke ruang rawat," jelas Bintang dan setelahnya melangkahkan kaki meninggalkan Zidan begitu saja.
"Terima kasih," lirihnya menghela napas lega dan mengucap syukur.
Kurang lebih sepuluh menit kemudian, Ayana sudah dipindahkan ke ruang inap. Di sana ia terbaring lemas dengan jarum infus menancap kembali di lengan kanan.
Kristal bening sang pianis meluncur bebas mendapati istri tercinta terkulai tak berdaya. Kedua kakinya berjalan lunglai, mendekati sang terkasih masih nyaman menutup mata.
Ia tiba di sofa tunggal samping ranjang dan menundukkan diri di sana. Tangan tegap Zidan terulur, menggenggam jari jemari lemas pujaan hati kuat dan memberikan kecupan demi kecupan di punggung tangannya.
"Sayang, ini aku. Bangun Sayang... aku merindukanmu," racau Zidan, beralih mengelus lembut puncak kepala Ayana.
__ADS_1
Seakan mendengar ucapan pasangan hidupnya, perlahan-lahan kelopak mata yang semula terkatup rapat mulai terbuka.
Sepasang iris cokelat karamel beningnya memperlihatkan diri lagi dan bergulir ke samping kanan di mana Zidan sudah mematung menyaksikan kesadarannya.
"Sayang? Alhamdulillah, terima kasih, ya Allah."
Zidan kembali mencium punggung tangan Ayana, kali ini lama dan dalam, cairan bening pun menitik tak tertahankan.
Pelukis cantik itu tidak langsung menjawab perkataan Zidan dan masih merespon apa yang terjadi. Sampai tidak lama kemudian ia sedikit bangkit dari berbaring sambil mencengkram tangan suaminya erat.
"Bayiku! Bagaimana bayiku? Dia baik-baik saja, kan? Dia tidak terluka, kan? Dia sungguh baik-baik saja, kan? Dia-"
Dengan air mata berlinang Ayana terus memberikan berbagai pertanyaan mengenai calon buah hatinya. Ketakutan sebagai seorang ibu yang pernah kehilangan malaikat kecil menjadi pukulan telak.
Ayana takut benar-benar takut saat melihat darah menggenang di bawahnya beberapa saat lalu membangkitkan ingatan yang telah lama berakhir.
Zidan menangkup wajah cantik sang istri membuat ucapannya terhenti. Senyum lemah itu mengejutkan Ayana.
Pikirannya benar-benar tumpul. Ia berpikir jika sesuatu telah terjadi dan menangis sejadi-jadinya.
Suara isakkan itu memenuhi ruang inap yang sunyi senyap.
Beberapa saat kemudian sebelum Zidan membuka suara, gerakan di dalam perut mengejutkan. Ayana menjatuhkan pandangan ke bawah dan melihat perutnya masih menonjol.
"Dia... selamat? Dia benar-benar selamat?" racau Ayana lagi seraya mengusap perutnya sendiri.
"Itu benar, Sayang. Dokter bilang kamu dan anak kita baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan semua baik-baik saja!" tegas Zidan kembali mengusap kepala istrinya sayang.
"Syukurlah, Alhamdulillah ya Allah, terima kasih."
Ayana berbalik, menyamping ke arah sang suami dan kembali menangis kencang. Zidan mengangguk-anggukan kepala mengerti apa yang tengah dirasakan istrinya.
Ia pun memberikan elusan di punggung Ayana berusaha menyalurkan kekuatan.
Suasana di dalam ruangan menarik atensi pasangan lain di luar. Jasmine dan Daniela yang hendak melihat kondisi Ayana ikut lega mendengar percakapan mereka.
Danieal merangkul Jasmine erat yang sudah menangis haru. Ia senang tidak ada yang perlu ditakuti akan kondisi sang adik.
...***...
Beberapa saat kemudian, setelah Ayana dan Zidan melepaskan kelegaan satu sama lain, Danieal serta Jasmine menampakkan diri.
Ayana yang tengah duduk di atas ranjang pun terbelalak lebar. Ia merentangkan kedua tangan menyambut kedatangannya.
__ADS_1
"Jasmine." Panggil Ayana dengan suara gemetar.
Melihat hal itu sang kakak ipar pun bergegas mendekat dan langsung menerjangnya. Mereka saling berpelukan dan lagi-lagi menangis haru.
"Syukurlah Ayana... syukurlah," racau Jasmine mengucap syukur berulang kali.
Ayana mengangguk beberapa dan memeluk tubuh ramping kakak iparnya erat.
Beberapa saat kemudian, keduanya saling melepaskan. Pandangan mereka bertemu satu sama lain berbicara lewat sorot mata hangat dan seketika kekehan pelan pun tercetus.
Jasmine mengusap air mata di wajah cantik sang adik ipar, begitu pula sebaliknya.
"Syukurlah Ayana," kata Jasmine lagi.
"Em, Alhamdulillah, terima kasih," balas Ayana lemah.
Jasmine pun undur diri beberapa langkah ke belakang memberikan kesempatan kepada suaminya untuk menemui Ayana.
Danieal memberikan sentilan pelan di dahi sang adik dan tertawa haru melihat keadaan Ayana baik-baik saja.
Ia pun langsung memeluknya erat seraya mengatakan, "jangan melakukan apa pun lagi yang membuatmu bisa berada dalam bahaya. Apa kamu mengerti?" geraknya.
Di balik perut ratanya, Ayana hanya mengangguk sekilas. Danieal kembali melepaskan dan melihat perut adiknya yang masih terlihat sama.
"Apa keponakanku baik-baik saja?" tanyanya penasaran.
"Tentu saja, kata dokter keponakan Mas sangat kuat," jawab Ayana bangga.
"Syukurlah, Mas lega mendengarnya. Lain kali jangan melakukan apa pun yang bisa membahayakan kalian. Mengerti?" tegas Danieal lagi.
Ayana terkekeh dan mengiyakannya saja.
"Baik, aku mengerti."
"Dasar nakal!" Danieal kembali memberikan sentilan di dahinya yang kali ini lumayan kencang.
Ayana mengaduh kesakitan dan mengusap-usap keningnya pelan.
Zidan pun datang menghampiri dan memberikan kecupan mendalam di sana. Tidak hanya Ayana saja yang terkejut, tetapi Daneial dan Jasmine pun terbelalak.
Keduanya tidak menyangka Zidan bisa bersikap manis tepat di depan mereka.
"Sudahlah tidak usah terkejut seperti itu. Kalian juga sama saja," ucapnya duduk tepat di samping Ayana memandangi keduanya.
__ADS_1
Mereka lalu tertawa bersama melupakan sejenak apa yang terjadi.