Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 30


__ADS_3

Kesibukkan kembali melanda, semua orang melanjutkan pekerjaan mereka seperti biasa.


Begitu pula dengan galeri Ayana yang sudah dibuka lagi. Beberapa saat lalu Seruni datang dan meng-handle jalannya toko lukisan tersebut.


Ia melayani para pembeli dan membiarkan sang owner menyelesaikan urusannya terlebih dahulu.


Di ruangan belakang kasir, Ayana dan Zidan yang tengah duduk berhadapan dengan Jasmine pun tidak tahu harus berbuat apa.


Sedari duduk di tempat Danieal tadi, Jasmine terus bungkam dan menunduk dalam. Pasangan suami istri itu pun kembali saling pandang seolah berbicara lewat sorot mata.


Mereka takut dan khawatir sesuatu terjadi padanya. Namun, sebagai seorang pria yang kemungkinan besar menjadi penghalang para wanita pun, Zidan berinisiatif.


"Ah, kalau begitu aku pergi dulu yah, Sayang. Aku harus menjadwalkan konser di bulan depan," katanya memulai.


"Baiklah, semangat kerjanya," balas Ayana lalu menyalami punggung tangan suaminya.


"Em, aku pergi. Aku duluan yah, Jasmine. Sampai jumpa di rumah," ucapnya yang hanya dijawab anggukan oleh kedua wanita itu.


Zidan pun melarikan diri dari sana, kemudian melambaikan tangan di ambang pintu untuk sang istri. Ayana membalasnya singkat dan kembali menghadapi Jasmine setelah pintu tertutup rapat.


"Jadi, ada apa?" tanyanya langsung.


Seketika itu juga Jasmine mendongak, Ayana pun sadar jika keberadaan sang suami memang menjadi penghalang kebersamaan mereka.


"Apa kamu tidak apa-apa? Apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan? Tenang saja mas Zidan sudah pergi." Ingatnya lagi.


Jasmine mengulas senyum simpul. Ia merogoh tas selempang nya mengeluarkan sebuah kotak kecil dan disodorkan ke hadapan Ayana.


"Apa ini?" tanya pelukis itu heran.


"Buka saja, aku membuatnya di saat kamu sedang sibuk melukis. Sudah lama aku ingin memberikannya padamu," jelas Jasmine senang.


"Benarkah?" tanya Ayana sembari membuka penutup kotak tersebut dan mendapati gelang berlian di dalamnya.


"MasyaAllah, cantik sekali." Ia membawa dan menggenggamnya erat.


Ia memperlihatkannya tepat di depan wajahnya sendiri, dan tersadar jika ada bandul huruf G menggantung di tengah-tengahnya membuat ia sangat terkesan.


"Wah, masyaAllah, kamu yang membuatnya sendiri?" tanya Ayana lagi melirik sekilas pada Jasmine.


"Benar, aku membuatnya sendiri," ungkapnya lagi.


Ayana senang mendapatkan hadiah mewah seperti itu. Namun, ia menurunkannya lagi dan kembali melihat pada Jasmine.


"Tapi, aku tidak bisa menerima hadiah mewah ini. Aku merasa tidak pantas," kata Ayana mengeluh.

__ADS_1


"Jangan berkata seperti itu, Ayana. Kebaikanmu bahkan lebih berharga dari sebuah perhiasan. Aku hanya membuatnya dari apa yang aku bisa... maaf tidak seistimewah-"


"Tidak, Jasmine. Aku minta maaf, baiklah... aku akan menerimanya. Terima kasih banyak." Ayana langsung memotong ucapan Jasmine saat menyadari wanita itu masih dalam proses penyembuhan.


"Bisakah kamu memakaikannya padaku?" pinta Ayana kemudian.


Jasmine mengangguk semangat dan memakaikan gelang di pergelangan tangan sebelah kiri Ayana.


Perhiasan itu sangat kontras dengan bekas luka yang masih terlihat jelas di sana.


"Jadi, terlihat sangat cantik. Luka itu... tertutupi dengan baik," kata Jasmine seraya mengusap bekas sayatan di pergelangan tangan Ayana.


Sang empunya sadar dan menarik sudut bibirnya pelan.


"Terima kasih, Jasmine. Dia... jadi tidak terlihat," balasnya haru.


Jasmine menganggukkan kepala dan mereka pun tersenyum bersama-sama.


...***...


"Kenapa kamu lari, Danieal?" tanya Zidan yang berhasil menyusul sang kakak ipar dan menyeretnya ke kafe dekat galeri Ayana.


Danieal yang sudah merapihkan diri pun meneguk singkat kopi hangatnya.


Zidan tertawa singkat dan setelahnya menghela napas kasar.


"Asal kamu tahu, Jasmine terlihat tidak karuan. Maksudku, mungkin bisa saja dia berpikir, kenapa kamu menghindarinya? Itu terlihat jelas," kata Zidan memasukan sepotong cake dalam mulut.


"Benarkah?" tanya Danieal penasaran, Zidan hanya mengangguk mengiyakan.


Kini giliran ia yang menghela napas dan menyandarkan punggung di kursi kayu.


Para pelayan pun hilir mudik memandangi kedua tuannya. Mereka heran sekaligus senang bisa melihat Zidan dan Danieal mampir ke sana lagi.


"Aku sudah membuatnya salah paham, padahal niatku tidak seperti itu," keluhnya.


"Tetapi, sikapmu menunjukkannya," balas Zidan lagi dan lagi.


Kembali, Danieal menghela napas lalu menopang dagu di atas meja. Ia memandang keluar dengan perasaan campur aduk.


"Aku harus menjelaskannya," ujarnya lagi.


"Harus, kalau perlu kamu langsung melamarnya saja," jawab Zidan acuh tak acuh menghabiskan makanan manis di hadapannya.


"APA?" teriak Danieal mengundang atensi pengunjung lain.

__ADS_1


Zidan mengulas senyum lebar, senang bisa membalas candaannya tadi.


Di dalam galeri Ayana melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda. Ia menuangkan ide-ide yang sempat berhenti sementara ke atas kanvas.


Guratan demi guratan membentuk siluet seseorang. Ia senang bisa berada di dunianya lagi, sedangkan Jasmine sedari tadi terus memperhatikan.


"Apa mungkin... kakakmu menghindari ku?" tanya Jasmine setelah sekian lama bungkam.


Ayana yang sedang membuat garis pun menjadi melenceng keluar jalur. Ia menoleh pada Jasmine yang tengah menatapnya lekat.


Ia menarik bibir gugup dan menggulirkan bola mata ke arah lain.


"Ti-tidak, tentu saja itu tidak mungkin. Bagaimana bisa dokter menghindari pasiennya begitu saja?" Ayana tertawa canggung.


Jasmine kembali memandang ke bawah memikirkan sesuatu.


"Kenapa dia tiba-tiba saja pergi saat melihatku? Bahkan tidak hanya kali ini saja, di sesi pengobatan ku pun dia... selalu menghindari bertatapan denganku," jelas Jasmine sendu.


Ayana yang melihat ekspresinya seperti itu pun mengulas senyum lembut. Ia meletakkan kuas di atas dudukan kanvas dan berjalan mendekat lalu duduk kembali di hadapannya.


"Jasmine, memang sebenarnya ada aturan-aturan yang harus diterapkan kepada lawan jenis. Seperti menundukkan pandangan, tidak bersentuhan, dan lain sebagainya."


"Namun, semua itu ada ketentuan sendiri bagi seorang dokter. Alasan mas Danieal seperti itu mungkin-"


"Dia membenciku?" sambar Jasmine membuat Ayana terbelalak.


"Mana mungkin, mas Danieal membencimu. Di sangat menyukaimu." Entah sadar atau tidak Ayana mengatakan hal demikian dan membuka kartu kakaknya sendiri.


Tentu saja perkataannya tadi membuat Jasmine tercengang. Bola mata bulannya membulat sempurna yang seketika mengejutkan Ayana.


"A-ah, maksudku. Aku, mas Zidan, mamah, ayah, dan juga mas Danieal sangat menyukaimu. Kami, menyayangimu Jasmine," jelasnya kemudian.


Wanita itu pun mengangguk mengerti dan kembali memberikan senyum pelan. Ayana terkekeh canggung lagi dan menggaruk pangkal kepalanya singkat.


"Bagaimana aku bisa se-ceroboh ini? Aku tidak boleh mengatakannya jika bukan mas Danieal sendiri," benaknya menyesali perbuatan barusan.


"Baguslah kalau begitu, aku senang mendengarnya. Sekarang aku mengerti, terima kasih Ayana," ungkap Jasmine lagi.


Ayana hanya mengangguk dan lagi-lagi melengkungkan sudut bibir.


"Tenang saja, Jasmine. Di luar sana masih ada seseorang yang benar-benar menginginkanmu. Mungkin suatu saat nanti kamu bisa menjadi kakak ipar ku. Ya Allah berikanlah jalan terbaik untuk kami," monolognya dalam benak lagi.


Ia terus memandang Jasmine yang sudah beranjak dari duduk dan melihat-lihat karyanya di sana.


Wanita itu sangat cantik bagaikan bidadari yang turun dari khayangan, Ayana bersyukur setidaknya sekarang Jasmine sudah menjadi lebih baik.

__ADS_1


__ADS_2