
Memori kelam serta semua catatan di dalamnya dikubur rapat-rapat. Buku yang penuh dengan lika liku perjuangan hidup penuh dengan derai air mata harus ditutup dan tidak usah dibuka kembali.
Siapa pun pasti diuji untuk mendapatkan balasannya. Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang tidak akan membiarkan hamba-Nya terus terpuruk.
Jika sudah waktunya tiba, kebahagiaan itu pasti datang menghampiri. Tidak usah menyesali apa yang terjadi, tidak usah berandai-andai untuk mengulang masa lalu, sebab darinya ada pelajaran berharga.
Semua kejadian yang telah melewati pasti memberikan kesan mendalam. Entah itu memberikan kebaikan atau sebaliknya tergantung diri menyikapi semuanya.
Sama halnya yang telah dilalui seorang Ayana Ghazella. Biduk rumah tangga bersama sang pianis sekaligus pengusaha terus dihadang berbagai persoalan.
Baik itu datang secara personal ataupun lainnya, tetapi dua hal tersebut saling berkaitan satu sama lain.
Ayana tidak pernah menduga dan menyangka bisa bersama bahkan jatuh cinta sebegitu dalamnya kepada kerabat dekat pelaku pembunuhan ayah dan ibu.
Namun, kata cinta yang dulu begitu sering diucapkan kini masih belum terdengar jua. Zidan hanya memaklumi jika tidak mudah mengutarakan perasaan yang sama setelah terdapat luka besar di dasar hati.
Meskipun berhasil dijahit, diobati, tetapi bekasnya tetap ada. Sampai kapan pun, sampai masa berakhir pun, kenangan masa itu tidak akan pernah bisa dihapuskan begitu saja.
Dilupakan mungkin bisa saja dan diganti oleh kebahagiaan, tetapi memori masa-masa kelam itu masih mempunyai tempatnya sendiri.
Lima bulan terlewati sejak semua peristiwa menghadang terjadi secara bersamaan.
Selama itu pula hubungan Ayana dan Zidan berangsur-angsur semakin baik. Meskipun sempat mendapatkan kembali cacian serta makian dari keluarga besar Ashraf, tetapi keduanya tidak terlalu diambil pusing.
Karena Ayana berpikir tidak akan mungkin dirinya bisa menyatukan semua kepala. Mereka mempunyai pemikiran serta pendapat sendiri yang tidak bisa disama ratakan.
Ia hanya bersyukur Allah sudah membukakan semua kebenarannya serta pelaku bisa merasakan akibat yang telah diperbuat.
Harapan baru kembali datang, mimpi untuk menggapai sebuah harapan terpancar jelas.
Saat ini ia memilih vakum sementara dari dunia lukis untuk fokus mengurusi keluarganya.
Melakoni tugas sebagai istri dan ibu sangat dinikmati oleh Ayana. Ia senang bisa mendapatkan peran itu lagi terlepas dari semua yang terjadi.
Sama seperti hari-hari sebelumnya, Ayana sedang menyiapkan makan malam untuk sang suami. Di temani beberapa pelayan, ia begitu senang melakukan tugasnya.
Tepat di jam delapan sang pasangan hidup kembali. Buru-buru Ayana menyambut kepulangannya membiarkan Helena mengambil alih masakan.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, aku pulang," sapa suaminya, Zidan.
"Wa'alaikumsalam, selamat datang kembali ke rumah," balas Ayana menyalami tangannya singkat dan mengambil tas kerja serta membantu melepaskan jas kerja Zidan.
Pria itu tersenyum hangat lalu berjalan menuju meja makan. Sesampainya di sana Zidan langsung duduk begitu saja.
Helaan napas kasar terdengar, Ayana yang menyadari itu pun menautkan kening dalam.
"Apa banyak pekerjaan di kantor? Mas terlihat lelah sekali," katanya penasaran.
Zidan mengangguk lalu menarik istrinya pelan hingga membuat Ayana duduk di atas pangkuan.
Sang pianis kembali menghela napas seraya memeluk pinggang istrinya erat. Wajah lelahnya bersembunyi di dada pujaan hatinya melepaskan segala kepenatan.
Ayana mengulas senyum simpul dan membalas pelukannya tak kalah erat. Setelah itu memberikan belaian lembut dari puncak kepalanya sampai punggung.
"Apa yang terjadi, hm?" tanya Ayana hangat.
"Perusahaan... perusahaan mengalami penurunan secara drastis. Semua klien menarik kembali kerja sama dan menimbulkan kekacauan," keluhnya lirih.
"A-apa? Kenapa bisa?"
"Berita mengenai nenek sudah tersebar di kalangan pembisnis, itu sebabnya tidak ada yang percaya lagi pada perusahaan kita," jelas Zidan kembali.
Ayana diam beberapa saat dan melanjutkan ucapannya.
"Apa ini semua karenaku? Aku-"
"Tentu saja tidak!" Zidan mendorong tubuh Ayana cepat membuat tatapan mereka saling bertemu satu sama lain.
"Tidak seperti itu, Sayang. Semua yang terjadi akibat ulah nenek sendiri... dia sama sekali tidak bertanggungjawab dan mengakibatkan semua kekacauan ini," ungkapnya menggebu-gebu.
Tangan kanannya terangkat menangkup kuat rahang tegas sang istri.
"Jangan berpikiran seperti itu. Semua ini bukan salahmu," ucapnya dengan suara yang sangat lembut.
Ayana menganggukkan kepala singkat lalu membawa tangan tadi dan memberikan kecupan mendalam di telapaknya.
__ADS_1
Mendapatkan sikap manis dari istrinya Zidan benar-benar terharu. Meskipun masih belum ada kata cinta terucap lagi seperti hari-hari itu, tetapi dengan perlakuan impulsif yang dilayangkan Ayana, ia sudah merasakannya.
Ia kembali merengkuh Ayana erat tanpa memberikan kesempatan pada istrinya untuk pergi ke manapun.
"Bagaimana kalau... bagaimana kalau perusahaan sampai bangkrut? Aku takut tidak bisa menafkahi mu, Sayang," keluhnya lagi.
Tanpa diduga, Ayana melayangkan pukulan sedikit keras di belakang kepala Zidan. Sang empunya pun mengeluh pelan, terkejut sekaligus tidak percaya.
"Apa yang kamu lakukan, Sayang?" tanyanya kemudian.
"Dari mana datangnya pemikiran mu itu? Apa Mas bodoh? Bukankah Mas adalah seorang pianis terkenal yang sudah mendapatkan tempat di hati penikmatnya? Berjuanglah untuk terus mencapai kesuksesan itu lagi. Jika perusahan bangkrut, bukankah kamu masih seorang musisi?"
"Aku tidak mau hidup bersama seorang suami yang tidak mau berbuat apa-apa." Kini giliran Ayana mengeluh.
Mendengar semua perkataan istrinya, Zidan kembali melepaskan pelukan dan menghadapnya lagi.
"Baiklah, kamu benar. Untukmu aku akan bekerja keras. Agar keluarga kita tidak kekurangan apa pun," tegasnya yakin.
Ayana tersenyum lebar lalu menangkup wajah tampan sang suami.
"Itu baru suami yang aku idamkan. Bukan masalah materi yang aku permasalahkan, tetapi... tanggungjawab itu yang aku inginkan. Karena bagaimanapun juga kita tidak hidup hanya mengandalkan cinta semata. Iyah, realistis sajalah," ocehnya.
Zidan mengangguk-anggukan kepala mengerti. "Iya, aku sangat mengerti, Sayang. Sebagai seorang suami dan ayah... aku akan bekerja keras untuk menghidupi kalian. I love you," ungkapnya kesekian kali.
Lengkungan bulan sabit di wajah cantik Ayana semakin melebar. Ia hanya mengangguk, tetapi setelah itu memberikan kecupan mendalam di dahi tegas pasangan hidupnya.
Tidak lama kemudian, Ayana menarik diri, tetapi tidak diizinkan oleh sang suami. Zidan langsung membungkam benda istimewa itu memberikan penyatuan yang kian membara.
Sedari kepulangan Zidan, semua pelayan melipir ke belakang. Mereka tahu dan hapal bagaimana kebiasaan dua tuannya saat sedang bersama.
Helena pun setelah menyelesaikan masakan terakhirnya, langsung mengikuti pelayan lain. Ia memberikan waktu privasi kepada Ayana dan Zidan untuk menikmati waktu bersama.
Di tengah permainan yang masih terjalin, Ayana membuka mata memandang lekat sosok di depannya.
Sang pianis begitu menawan dengan menutup mata yang terlihat menikmati setiap sentuhan. Dalam diam Ayana mengembangkan senyum, setidaknya kehidupan rumah tangga mereka sudah jauh lebih baik.
Ia bersyukur atas apa yang terjadi mendatangkan kejutan tak terduga, walaupun harus dihiasi linangan air mata, tetapi setelahnya memberikan senyum tiada tara.
__ADS_1