Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 116


__ADS_3

Akan ada masanya semua kejadian paling menyakitkan itu datang. Peristiwa tak terduga yang Allah hadirkan memang kadang kala mengantarkan kepedihan dan air mata.


Luka tak kasat mata lebih perih dibandingkan luka fisik. Bekasnya akan selalu menimbulkan pedih, meskipun sudah bertahun-tahun terlewati.


Namun, semua itu Allah hadirkan untuk memberikan kebaikan di dalamnya. Selagi percaya, yakin, dan menerima ketentuan yang telah Allah berikan maka kebahagiaan akan hadir setelahnya.


Ayana yang sudah pernah mengalami semua itu, kini kebaikan tengah mendatangi. Ia diberikan keluarga utuh serta suami yang berbalik mencintainya.


Penderitaan selama bertahun-tahun ia alami dibalas berkah luar biasa dan itulah yang ingin dirinya bagi bersama Bella.


Meskipun wanita itu telah menyakitinya berulang kali, tetapi hati kecil Ayana tetap menganggapnya seperti saudari sendiri. Terlebih begitu banyak kenangan yang pernah mereka habiskan bersama.


Sejak di bangku sekolah menengah pertama mereka bertemu untuk pertama kali. Setelah itu keduanya menjadi teman akrab dan duduk berdampingan di kelas.


Kadang kala teman-teman mereka yang lain menganggap keduanya seperti putri dan upik abu. Namun, baik Ayana dan Bella tidak mengindahkan hal itu, malah semakin membuat hubungan pertemanan tersebut semakin erat.


Ayana yang lahir dari keluarga sederhana kadang kala mendapatkan perlakuan tidak adil dari teman-teman sekelas yang lain.


Karena kebanyakan dari mereka berasal dari keluarga berada, Ayana beruntung bisa belajar di sekolah favorite di negaranya, yang berisi anak-anak dari kalangan atas. Ia bisa masuk ke sana sebab mendapatkan beasiswa.


Saat itu Bella lah yang selalu berada di garda paling depan untuk membantunya serta melawan mereka.


Teringat pada kejadian itu membuat Ayana selalu mengucapkan rasa syukur dan terima kasih. Berkat adanya Bella, ia bisa bertahan hingga lulus.


Namun, setelah tahun berganti hubungan pertemanan keduanya berubah menjadi istri sah dan madu. Cekcok di antara mereka semakin menjadi-jadi hingga detik ini.


"Apa kamu masih ingat dua belas tahun lalu? Kamu pernah mengatakan pada teman-teman sekelas kita ... jika Ayana dan Bella akan tetap menjadi teman. Tidak, kami akan menjadi keluarga layaknya saudari kandung. Kalian tidak bisa memperlakukan Ayana seenaknya ... karena dia sudah menjadi bagian dari keluarga Bella."


"Setelah mendengar itu semua darimu ... aku benar-benar merasa sangat bahagia. Ada orang yang mau berdiri di depan untuk membelaku, sejak saat itu teman-teman tidak lagi mengusikku. Sampai kamu pun memperkenalkanku pada om dan tante ... kalian memperlakukanku dengan sangat baik."


"Untuk semua yang sudah kamu lakukan di masa lalu aku benar-benar ingin mengucapkan terima kasih banyak, Bella. Berkat kebaikanmu di masa lalu aku bisa bertahan di sekolah dan lulus dengan baik." Ayana tanpa sadar mengeluarkan air mata yang terus menerus keluar tanpa henti.

__ADS_1


Ia pun terkekeh pelan sembari mengusap cairan bening di kedua pipi, lalu menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.


Manik basahnya kembali memandangi Bella yang masih diam seribu bahasa, setia mendengarkan perkataan Ayana.


"Itulah kenapa aku ingin melihatmu berubah. Bukan untuk aku ... tetapi demi kebaikanmu sendiri. Jujur, memang tidak mudah melupakan semua kejahatan yang telah kamu berikan ... karena aku juga bukan malaikat. Namun, aku benar-benar sudah memaafkan semua kesalahanmu, Bella."


"Aku harap kita bisa seperti dulu lagi, meskipun tidak akan sama," lanjut Ayana berceloteh panjang lebar.


Bella terdiam kaku mendengarkan kata demi kata keluar dari celah bibir ranum Ayana. Bayangan beberapa tahun ke belakang berkelebatan dalam ingatan.


Ia menyadari jika di masa sekolah dulu, dirinya sangat menyukai Ayana. Namun, di balik itu semua ia juga kadang kala iri akan kepintaran yang dimilikinya.


Tanpa mengatakan sepatah kata, kepala bersurai lembut itu menunduk dalam. Tetes-tetes kristal bening berjatuhan membasahi pakaian rumah sakit.


Melihat itu Ayana mengembangkan senyum tulus dan tidak lama berselang ia pun pamit pulang.


Setelah mendengar suara pintu tertutup, Bella mendongak lagi. Ia melihat ke samping tempat di mana Ayana berdiri tadi.


"Aku memang menganggap mu sebagai teman. Hari-hari yang pernah kita lewati bersama begitu indah dan menyenangkan, tetapi ... aku iri melihat hidupmu yang begitu mulus. Aku-" Bella tidak kuasa melanjutkan ucapannya dan menangis sejadi-jadinya.


Ayana baru saja menggeser pintu ruang inap Bella seraya mengusap jejak air mata di pipi, di saat kepala berhijabnya menoleh ke samping manik jelaga itu terbuka lebar.


Ia tidak tahu jika sedari tadi ada seseorang yang mendengarkan pembicaraannya dengan Bella. Ia berjalan beberapa langkah ke depan hingga membuat mereka saling berhadapan.


"Mas Zidan? Kenapa Mas masih ada di sini? Bukankah-"


Zidan langsung melemparkan diri memeluk Ayana erat. Ia tidak menyangka jika selama ini sang istri sudah mengalami perjalanan hidup yang teramat berat.


Zidan yang hendak memberitahu Ayana untuk ke perusahaan pun mengurungkan niat kala menangkap pembicaraan kedua wanita tersebut.


Ia diam di luar ruangan mendengarkan dengan seksama perkataan yang Ayana lontarkan. Hatinya terasa sakit saat sang istri mengungkapkan pernah melakukan mengakhiri hidup.

__ADS_1


Ia sangat terpukul, benar-benar terpukul dan menyalahkan diri sendiri mengetahui hal itu saat ini.


Ia ingin mengucapkan maaf, tetapi takut Ayana akan marah lagi dan menelannya kembali.


Zidan terus memberikan gerakan impulsif menyalurkan penyesalan dalam benak.


"Aku akan membahagiakanmu, Sayang," ungkapnya kemudian.


Ayana menyembunyikan wajah memerahnya di dada bidang sang suami lalu mengangguk pelan.


Malam menjelang, pasangan suami istri tersebut tengah menikmati waktu bersama di ruang pribadi.


Keduanya saling duduk bersebelahan di atas tempat tidur mendengarkan suara jam yang terus berdentang.


Tidak lama berselang, Zidan merunduk ke samping kiri membuka laci nakas. Ia mengeluarkan selembar surat yang sudah lama tergeletak di sana.


Ia menjulurkannya pada Ayana membuat sang istri menoleh dan menatap sekilas.


"Kamu tahu surat apa ini?" tanya Zidan kemudian.


Ayana mengangguk mengiyakan. "Surat perpisahan kita dan aku sudah memberikan tandatangannya di sini," balasnya seraya menunjuk tandatangannya sendiri.


"Untuk itu-" Zidan menarik kembali surat perpisahan mereka lalu merobeknya tepat di depan mata kepala Ayana hingga menjadi bagian kecil.


"Kita tidak membutuhkannya lagi. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku ... tidak aku berharap kita bisa sampai jannah-Nya bersama-sama. Aku mencintaimu, Sayang," ungkapnya kembali.


Ayana masih diam melihat apa yang sudah suaminya lakukan barusan. Ia terkesima akan tindakan yang Zidan berikan.


"Em, terima kasih banyak." Hanya itu yang bisa Ayana ucapkan.


Ia pun melemparkan diri ke dalam pelukan hangat sang suami. Zidan terkesiap dan membalas rengkuhan sang pujaan tak kalah erat.

__ADS_1


"Meskipun tidak ada kata cinta yang kamu berikan ... aku yakin kamu sudah menerimaku dengan sangat baik. Terima kasih, Sayang," benak Zidan memperhatikan wajah putih Ayana menempel di dadanya dan memberikan kecupan hangat di puncak kepala sang istri.


"Aku memang belum bisa mengatakan 'aku mencintaimu', tetapi ... aku sadar debaran jantung ini hanya ditujukan padamu. Entah kenapa ... aku masih tidak bisa mengungkapkannya lagi. Apa Mas Zidan tidak akan kecewa?" batin Ayana lalu mendongak pelan menyaksikan manik itu menutup rapat. "Aku yakin Mas Zidan akan menunggu," lanjutnya lagi.


__ADS_2