Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 53


__ADS_3

Zidan baru saja pulang dari pekerjaannya hari ini. Sejak malam itu ia masih belum bisa bertemu dengan Ayana lagi.


Kesibukan yang mendatanginya membuat ia harus tertahan. Latihan, konser, dan juga pekerjaan kantor semua dilakukan secara bersamaan.


Hari ini ia bertandang ke kediaman utama, sang ibu sejak sore hari tadi terus memaksanya untuk pulang ke sana. Mau tidak mau ia pun menerima suruhannya tersebut.


Ia pun tiba di rumah megah milik orang tuanya, nuansa elegan begitu kental terasa. Ia memarkirkan mobil di parkiran yang begitu luas. Banyak sekali mobil-mobil mewah terparkir di sana.


Zidan pun keluar dan buru-buru masuk ke dalam yang langsung disambut oleh beberapa pelayan. Ia berjalan dan berjalan mencari keberadaan sang ibu.


"Lihat siapa yang datang." Lina mengejutkannya yang baru saja menginjakan kaki hendak mencapai lantai dua.


Langkahnya pun terhenti, menoleh ke samping kiri di mana di ruang makan ia melihat wanita yang selama satu tahun lebih ini sudah menjungkirbalikkan dunianya.


"A-Ayana?" panggilnya gugup.


Bola mata itu pun memandangi kedua orang tuanya yang tengah menyunggingkan senyum manis. Ia berjalan pelan menuju meja makan seraya tidak melepaskan pandangan dari Ayana.


"Ke-kenapa kamu ada di sini?" tanyanya lagi.


"Mamah yang mengajak Ayana untuk makan malam bersama. Maaf yah Ayana, Mamah tidak bilang jika Zidan juga ikut makan bersama kita," kata Lina menjelaskan sembari memandangi mereka bergantian. Ia berharap pertemuan itu bisa mendekatkan keduanya lagi.


"Iya tidak apa-apa, Nyonya. Aku tidak keberatan," balas Ayana mengulas senyum simpul dan ada makna di baliknya.


"Bisakah kamu memanggilku Mamah? Rasanya kita seperti orang asing saja," balas Lina kemudian.


"Baiklah tidak masalah, Mamah." Panggil Ayana membuat degup jantung Zidan bertalu tak karuan.


Ia seperti merasakan suasana seperti dulu, di mana kehidupan harmonis mereka masih berlangsung. Lina yang mendengar itu pun mengembangkan senyum lebar.


"Kalau begitu ayo kita makan," ajaknya.

__ADS_1


Mereka pun duduk di kursi masing-masing. Zidan bergegas mendudukkan diri di sebelah sang ibu dan masih memperhatikan wanita di hadapannya.


Makan malam pun berjalan lancar, mereka banyak membicarakan apa yang sudah terjadi. Namun, tidak ada yang menyinggung mengenai masa lalu, terutama keguguran Ayana.


Ayana bersikap layaknya orang baru yang pertama kali ikut makan malam bersama keluarga tersebut. Ia sama sekali tidak mengindahkan sepasang onyx yang masih memperhatikannya.


Suasana di sana sama seperti masa lalu. Di mana Ayana masih sangat polos ikut ke dalam permainan yang dimainkan oleh sang suami serta madunya.


Dalam kehangatan itu, Ayana menahan segala kekesalan dalam diri atas apa yang mereka layangkan. Ia berharap bisa cepat pergi dari suasana memuakkan tersebut.


Namun, ia mencoba bertahan ada hal yang harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum meninggalkan tempat itu. Sesuatu yang bisa saja mengejutkan ketiga orang di sana.


"Ayana, kamu menerima undangan Mamah makan malam, apa itu artinya ... kamu juga mau bersama keluarga kami lagi?" tanya Lina di tengah-tengah pembicaraan dan sekilas menoleh pada putranya.


Seketika Ayana menghentikan kegiatannya, memandang lurus ke depan lalu menatap mereka satu persatu.


Ia melihat binar penuh harap, terutama dari pria pianis tersebut. Bibir ranumnya melengkung sempurna menyaksikan ekspresi keluarga tersebut.


Ayana mendengus pelan lalu menunduk seraya merogoh tas selempang yang berada di pangkuan. Ia mengeluarkan surat yang didapatinya dari pemberitahuan Danieal tadi pagi dan menggenggamnya kuat di bawah meja.


"Saya mohon maaf tidak bisa memenuhi ekspetasi Anda. Saya menerima undangan ini sebab-" Ayana meletakkan surat tadi di atas meja.


"Mungkin secara negara saya dan tuan muda masih berstatus sebagai suami istri, tetapi secara agama talak sudah dijatuhkan. Saya tahu jika undangan ini dimaksudkan agar kami bisa bertemu satu sama lain, itulah alasan kenapa saya menerimanya."


"Karena saya mau meresmikan perpisahan kami." Tegas dan jelas, Ayana mengungkapkan tujuan utamanya datang ke sana. Ia lalu menyodorkan surat itu ke tengah-tengah mereka.


Ia mengangkat telapak tangannya dan memperlihatkan dengan jelas jika surat itu berasal dari kantor pengadilan agama. Zidan, Lina, dan Adnan pun menatap ke satu titik.


Mereka terkejut bukan main kala mengetahui surat panggilan tersebut. Ayana yang menyaksikan rekasi ketiganya tersenyum lebar.


Ia lalu menyampirkan tas selempangnya dan bangkit dari duduk.

__ADS_1


"Sudah tidak ada alasan bagi saya untuk berada di sini. Terima kasih atas undangan makan malamnya, saya sangat menikmatinya. Oh yah jangan lupa Tuan Muda untuk menandatangani surat itu," kata Ayana menarik perhatian.


Ketiganya mendongak menyaksikan keseriusan di wajah cantik Ayana. Lagi dan lagi sang pelukis pun menyunggingkan senyum penuh makna.


Zidan lalu ikut bangkit dari duduk membuat kursinya berdecit. "Apa maksudmu memberiku surat ini?" tanyanya nyalang sembari mengacungkan surat pemberian Ayana.


Wanita berhijab itu pun menatapnya dingin. "Seperti yang Anda ketahui jika surat itu dari pengadilan agama. Perlu saya tegaskan? Saya ingin bercerai dengan Anda!"


Setelah mengatakan itu Ayana pergi tanpa memberikan kesempatan mereka berbicara. Melihat kepergiannya, Zidan mematung seraya meremas surat tersebut.


"Kejar dia, Zidan," kata sang ibu mengingatkan.


Zidan pun berlari sekuat tenaga dan mencengkram pergelangan tangan Ayana. Keduanya berada di pekarangan yang sepi tidak ada siapa pun di sana.


"Tidak! Aku tidak mau berpisah darimu, Ayana. Aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kehilanganmu lagi. Aku benar-benar mencintaimu," kata Zidan jujur untuk kesekian kali.


Ayana melepaskan cengkeramannya kasar dan mendelik tajam. Ia melangkahkan kaki lagi tidak peduli apa yang baru saja dikatakan Zidan.


Pria itu kembali tidak membiarkan Ayana pergi. Ia memeluknya dari belakang dan semakin merapatkan tubuh ke punggung sang istri.


"Kamu masih istriku. Kamu masih menjadi pasangan halal ku, Ayana. Kamu masih orang yang mendampingiku. Ayana kembalilah aku mohon. Aku benar-benar minta maaf dan ... aku berjanji tidak akan menyianyiakan mu lagi," kata Zidan menggebu.


"Lepaskan!" Sekuat tenaga Ayana menarik lengan kekar yang melilit perut ratanya.


Setelah terlepas ia berbalik dan melayangkan tamparan keras di pipi mulus itu. Kedua matanya memerah memandangi Zidan lekat.


"Mudah kamu berkata seperti itu setelah apa yang terjadi? Aku menanggung sakit selama enam tahun ... aku menyimpan luka bertahun-tahun, dan aku kehilangan seorang anak yang bisa diharapkan agar hubungan kita membaik, tapi apa? Tapi apa balasan mu HAH?" balas Ayana menekan setiap katanya. "Kamu membunuhnya dengan sengaja."


Ia menggelengkan kepalanya berkali-kali dengan air mata tumpah begitu saja. "Hanya dalam satu setengah tahun kamu mampu berkata seperti itu? Di mana kekejaman mu waktu itu? Apa kamu tidak ingat sudah berapa kali menyakitiku? Apa kamu ingat?"


Ayana semakin tidak terkendali, dadanya naik turun seiring air mata mengalir. Bayangan saat-saat pengkhianatan suaminya terjadi kembali teringat.

__ADS_1


Ia mencengkram kedua tangan kuat menahan segala kesakitan yang kian menerjang dan kembali padanya.


__ADS_2