Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 101


__ADS_3

Suara gebrakan meja mengejutkan beberapa anak buah tepat di hadapannya. Kemarahan sang pemilik perusahaan begitu mendominasi, berkas-berkas yang tergeletak pun menjadi sasaran amukan.


Kertas demi kertas melayang di udara kala pria tua itu menghamburkannya. Presdir Han terkejut kala mendapat kabar jika penghasilan perusahaan menurun drastis.


Banyak para investor menarik kembali dana yang sudah disuntikan ke perusahaan miliknya. Namun, setelah bertahun-tahun lamanya mereka mengambilnya lagi beserta keuntungan yang dihasilkan.


Tidak hanya itu, banyak sekali artikel-artikel yang memberitakan jika Presdir Han adalah seorang penguasa kejam.


Han Bose menggeram marah mengepalkan kedua tangan di atas meja. Manik sayu nya menatap tajam ketiga pekerja yang sedari tadi menundukkan kepala enggan bersitatap dengan sang penguasa tersebut.


"Bagaimana ini bisa terjadi? Siapa yang menyebarkan berita itu?" tanyanya langsung.


"Ka-kami mendengar seseorang menyebarkannya lewat email ke beberapa investor kita dan juga media. I-itulah kenapa mereka-"


Presdir Han kembali menggebrak meja kasar yang seketika memutuskan ucapan salah satu dari mereka. Saat hendak melayangkan ucapan lagi, tiba-tiba saja pintu ruangan dibuka begitu saja.


Baru saja membuka mulut pria bertubuh tinggi tegap nan kekar itu langsung menyodorkan benda pintar ke arah sang tuan.


"Kami mendapatkan informasi penting kenapa semua ini bisa terjadi," ungkapnya.


Presdir Han seketika mengambil tablet tersebut dan melihat detail kabar yang dibawa oleh orang kepercayaannya.


Detik demi detik berlalu, iris kelam sang pengusaha perlahan-lahan terbuka sampai terbelalak lebar. Ia tidak menyangka jika apa yang saat ini tengah diperhatikan adalah sebuah berita datang dari seseorang membuatnya obsesi.


"A-Ayana?" cicitnya sembari mengangkat kepala.


Pria berjas serba hitam itu pun mengangguk cepat. "Itu benar, Tuan. Selama ini tanpa kita sadari Ayana sudah bergerak."


"A-apa? Apa maksud-"


Belum sempat menyelesaikan perkataannya, pintu ruangan pun kembali dibuka. Mereka menoleh ke arah yang sama mendapati satu pria lagi datang ke sana.


"Ada apa lagi kali ini?" tanya Presdir Han geram.


"Ada undangan untuk Anda, Tuan," ujarnya seraya menjulurkan undangan berwarna hitam dengan garis merah.


Presdir Han pun mengambilnya melihat tanda lelehan lilin semerah darah sebagai perekatnya. Ada inisal G di sana yang langsung membuatnya tersadar.


"Dari Ayana, kah?" tanyanya kembali.

__ADS_1


"Itu benar Tuan, tadi ada seseorang yang mengantarkan undangan ini," jelas pria itu lagi.


"Siapa?" Pria tua itu pun menatapnya penasaran.


"Saya tidak tahu. Karena seluruh tubuhnya tertutup."


"Wanita atau pria?" tanya Presdir Han lagi dan lagi.


"Saya kurang yakin," balas pria itu yang membuat sang pengusaha melengkungkan sudut bibir.


"Jadi, dia sudah mulai bergerak?" gumamnya membuat beberapa orang di sana saling pandang tidak mengerti.


"Baiklah, saya mengerti. Kalian bisa kembali dan pastikan tidak ada berita apa pun lagi tentang saya," ujarnya telak.


Mereka pun mengangguk mengerti dan mulai membubarkan diri.


Di depan gedung berlantai enam puluh itu, seorang wanita berpakaian serba hitam mengenakan topi, kacamata, serta masker mendongak ke atas.


Dalam bayangannya jika pemilik bangunan tersebut sudah menerima undangan yang diberikan. Di balik kain yang menutupi sebagian wajahnya, seringaian pun tercetak.


"Maka permainan akan segera di mulai. Inilah puncaknya, maka nikmati kebebasan kalian," gumamnya lirih.


...***...


Ia menerima sebuah paket dari seseorang tidak dikenal dan berpikir jika itu adalah hadiah dari seorang penggemar.


Ia pun membawanya ke ruang latihan di mana di sana hanya ada Elisha yang tengah mempersiapkan keperluannya.


Tanpa menaruh curiga sedikit pun sang pianis membuka kotak tadi dan sedetik kemudian berteriak kencang.


Elisha sangat terkejut dan bergegas mendekati anak dari tuannya ini.


"A-apa yang terjadi?" tanyanya gugup.


Bella yang sudah melemparkan kotak itu pun menunjuk ke bawah.


"I-i-itu, lihat ke sana," titahnya takut-takut.


Kedua alis Elisha saling bertautan erat lalu merunduk melihat apa yang ditunjuk Bella. Ia pun terlonjak kala mendapati hal mengejutkan di dalamnya.

__ADS_1


"Ba-bagaimana bisa? Kenapa?" tanya Elisha gugup memandang Bella perlahan.


"A-aku juga tidak tahu, kenapa? A-apa ada orang lain yang tahu hal ini? Apa jangan-jangan dokter itu sudah menyebarkannya?" Bella semakin ketakutan.


Di dalam kotak tersebut terdapat beberapa lembar foto sekaligus boneka bayi berukuran kecil tengah menatap padanya.


Foto-foto itu memperlihatkan seorang Bella mulai dari keluar dari gedung apartemen miliknya sampai ke sebuah klinik yang sangat jauh dari ibu kota.


Di sana ia melakukan perbuatan yang sangat tercela. Kejadian tersebut berlangsung pada saat ia baru saja bercerai dengan Zidan.


Pada saat itu ia mendapati jika dirinya tengah berbadan dua. Namun, bersamaan dengan hal tersebut Bella mendapatkan undangan dari kedutaan untuk tampil di sebuah acara besar.


Di mana jika Bella menghadiri undangan tersebut maka namanya akan semakin melambung tinggi. Benar saja, setelah ia tampil di depan banyak orang yang berpengaruh di negaranya, popularitas seorang pianis wanita itu melambung tinggi.


Bella di undang ke mana-mana sampai ke luar negeri sekalipun. Namun, awal kehamilan membuat tubuhnya benar-benar drop.


Morning sickness yang dialaminya sangat mengganggu aktivitas bahkan sampai membuat ia tidak bisa bangun dari tempat tidur.


Alhasil wanita yang gila akan status sosial dan popularitas tersebut melakukan sebuah tindakan tidak terpuji.


Di mana ia datang ke seorang dokter kandungan untuk mencegah bayinya berkembang. Tidak lain dan tidak bukan Bella membunuh anaknya sendiri.


Setelah melakukan hal itu, ia semakin bebas pergi ke mana saja tanpa mempedulikan bayinya sedikit pun. Elisha satu-satunya saksi yang pada saat kejadian selalu membantu dan setia berada di sampingnya.


Bella juga tidak memberitahu Zidan mengenai kehamilannya tersebut. Ia belum siap punya anak dan mendapatkan kekangan untuk bed rest dari segala aktivitas yang tengah di jalaninya.


Tanpa Bella sadari apa yang menimpa dirinya adalah ujian dari Allah. Apa ia mampu mengatasi dan membiarkan anak itu berkembang dengan baik atau lebih memilih karier semata? Namun, apa yang terjadi, wanita workaholic itu lebih mementingkan pengakuan.


"A-apa ada seseorang yang sudah membocorkannya?" tanya Bella memandangi ke arah foto usg tergeletak di atas lantai.


"Tidak mungkin, kita sudah menyuap dokter itu untuk tutup mulut. Sekarang kliniknya saja sudah tidak ada dan pada saat kejadian pun tidak ada siapa pun di sana. Jadi bagaimana bisa?" tutur Elisha yang juga penasaran.


Dengan degup jantung bertalu kencang, Bella menggigit kuku-kuku panjangnya bergantian. Seketika pertahanannya runtuh mendapatkan terror secara tidak langsung.


Ia terguncang hebat mendapatkan ingatan satu setengah tahun lalu. Di mana pada saat itu tepat dua minggu perpisahannya dengan Zidan, ia mendapati dirinya tengah hamil muda.


Hal tersebut adalah rahasia besar yang tidak pernah Bella beritahukan kepada siapa pun, termasuk kedua orang tuanya.


Di luar gedung latihan, sosok seorang pria berpakaian serba hitam yang di telinganya di pasang earphone mengembangkan senyum.

__ADS_1


Ia menyaksikan lewat layar laptop seperti apa wajah Bella saat ini. Ia pun melaporkannya kepada orang yang berada beberapa kilometer dari tempatnya.


"Target sudah mendapatkan pekatnya," ujar si pria itu.


__ADS_2