Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 42


__ADS_3

Asam, manis, sebagai ibu baru lagi membuat Ayana kembali kewalahan. Setelah memeriksakan kandungannya ke rumah sakit, hasilnya pun menunjukkan jika ia tengah mengandung selama tiga minggu.


Dokter Bintang mengatakan jika trimester pertama sangatlah sulit dijalani. Kadang kala ada seorang ibu yang harus mendapatkan infusan, sebab tidak ada asupan nutrisi ke dalam tubuh. Karena mual yang kerap datang di pagi hari serta kurangnya napsu makan.


Bintang juga menyarankan Ayana untuk bed rest dari semua kegiatannya dan jangan terlalu stres, mengingat sang pelukis mempunyai riwayat keguguran.


Baik Ayana maupun Zidan, bekerja sama untuk menjadi calon orang tua terbaik bagi buah hatinya. Mereka memperhatikan segala keperluan mulai dari susu, buah-buahan, dan berbagai macam makanan bernutrisi lainnya.


Berita atas kehamilan Ayana secepat itu menyebar kepada keluarga masing-masing. Celia, Adnan, Arshan, Lina, dan Gibran langsung bertandang ke kediaman Zidan.


Mereka bahagia mendapatkan informasi menggembirakan atas hadirnya calon keluarga kecil itu.


Rasa suka cita yang mendera tersebut disambut sangat antusias dan syukur yang tidak bisa dibendung.


"Alhamdulillah, Mamah senang mendengarnya. Kamu akhirnya bisa hamil lagi," kata Lina di tengah-tengah sarapan.


Mereka sengaja mengadakan acara makan bersama sekalian untuk menjenguk Ayana. Di meja berbentuk segi panjang dengan banyaknya kursi di kedua sisi, di isi oleh keluarga Ayana maupun Zidan.


Mereka duduk saling berhadap-hadapan dan membangun keakraban satu sama lain menikmati hidangan yang sudah para pelayan berikan.


Di sana juga ada Jasmine yang ikut makan bersama. Keberadaannya sudah disetujui oleh kedua belah pihak, mereka pun sangat senang ada anggota keluarga baru lagi.


"Iya, Mah. Aku juga senang," balas Ayana membalas tatapan ibu mertuanya yang tepat berseberangan.


"Kamu harus menjaga kandungan ini sebaik-baiknya. Ah, kalau perlu bagaimana untuk sementara waktu kamu tinggal sama Mamah dulu?" ujar Celia yang berada di sampingnya.


"Ah, tidak usah Mah. Aku bisa mengurusnya, lagipula ada Mas Zidan yang selalu siaga," tolak Ayana halus, mau tidak mau Celia mengangguk setuju.


"Baiklah, Mamah akan sering datang kalau begitu," lanjutnya yang hanya ditanggapi anggukan oleh Ayana.


Para calon kakek pun memberikan petuah-petuahnya kepada Ayana maupun Zidan agar kejadian serupa tidak terulang kembali.


Mereka banyak menasehati Zidan untuk senantiasa menjadi suami dan calon ayah terbaik. Jangan pernah meninggalkan Ayana sendirian, harus terus berada di sampingnya, dan jangan menyakitinya, itulah yang terus dikatakan.


Zidan hanya manggut-manggut mengerti dan menerima semua perkataan mereka.


Di tengah aksi para orang tua memberikan nasehat kepada pasangan tersebut, Gibran mencondongkan badan ke depan menatap Jasmine yang sedari tadi menunduk seraya memasukan sarapan ke dalam mulut.


"Mbak... pasti tidak mudah bukan harus terlibat dalam hubungan menyedihkan mereka?" tanya Gibran mengejutkan.

__ADS_1


"Eh? Apa maksudmu?" Jasmine langsung mendongak dan membalas tatapan adik dari suami Ayana ini.


"Iya, maksudku, lihat saja bayi besar itu-" Gibran menunjuk ke arah sang kakak menggunakan dagu. "Dia benar-benar manja pada istrinya," lanjut pria itu lagi.


"Dia-"


"Siapa yang kamu sebut bayi besar, HAH?" Zidan melotot pada sang adik menyadari perkataan diam-diam nya.


Seketika Gibran tergelak seraya mengacungkan segelas air putih dan langsung diteguknya hingga tandas.


Semua orang yang ada di sana pun ikut tertawa bersama. Mereka senang bisa menikmati sarapan bersama keluarga dan membangun ikatan lebih kuat lagi.


Kehangatan itu sampai kepada perasaan terdalam Jasmine. Bagaimana sepanjang hidupnya ia tidak pernah merasakan seperti apa hangatnya sebuah keluarga.


Apa yang dinamakan sebagai keluarga cemara, kini bisa ia rasakan sendiri. Bola mata bulannya bergulir memandangi mereka satu persatu.


Wajah cerah nan ceria semua orang membuatnya tersenyum. Tidak lama setelah itu ia diam kembali merasakan perasaan bergejolak tak tentu arah.


Jasmine berusaha melepaskan pikiran dangkal dari kepalanya dan ikut bergabung bersama keluarga Ayana serta Zidan lagi.


Namun, sekuat-kuatnya ia menahan segala kemelut dalam diri, tetap saja semua itu tidak bisa disembunyikan.


Karena bagaimanapun juga sudah bertahun-tahun Jasmine tidak tahu apa itu keluarga. Ia hanya tahu jika keluarga adalah saling membutuhkan satu sama lain.


Bagaikan simbiosis mutualisme antara dua organisme yang berbeda, tetapi saling menguntungkan satu sama lain.


Namun, ia juga sadar jika Jasmine berada dalam simbiosis parasitisme, di mana dirinya benar-benar sangat dirugikan.


Ia tidak jauh berbeda dari robot pekerja yang hanya diandalkan sebagai tukang pahat semata oleh sang paman. Padahal dirinya tahu dialah yang membunuh serta membantai habis orang tua dan juga keluarganya.


Rasa sakit itu tidak bisa pudar sepenuhnya begitu saja. Akan ada jejak yang setiap kali bisa terbuka, tanpa Jasmine sadari.


Sama seperti kondisinya saat ini, di tengah kehangatan keluarga mereka, ia benar-benar merasa asing. Jasmine ingin menepi dan pergi sejauh yang dirinya bisa.


Perasaan itu terus menguap membuatnya tanpa sadar bangkit dari duduk. Suara kursi yang berderit tersebut langsung menarik atensi semua orang di sana.


"Loh, Mbak? Kenapa?" tanya Gibran mendongak menatapnya.


Jasmine yang tengah mengepalkan kedua tangan seraya menunduk dalam pun terkejut. Ia mengangkat kepalanya lagi memandangi semua orang dan berlabuh pada Ayana.

__ADS_1


"A-ah, saya sudah selesai sarapan. Terima kasih banyak makanannya, saya minta maaf harus pergi duluan," katanya langsung melarikan diri dari sana.


Ayana yang melihat ekspresinya seperti itu lagi pun menyadari satu hal, "Jasmine, memang belum sembuh sepenuhnya," benaknya.


...***...


Taman belakang rumah menjadi tempat persembunyiannya kali ini. Jasmine memandangi berbagai jenis bunga tumbuh subur di sana.


Aromanya menyebar dan sedikit memberikan rasa tenang.


"Apa yang aku lakukan? Kenapa aku melarikan diri lagi? Aku benar-benar pengecut," celotehnya.


"Apa aku sudah membuat Ayana malu? Aku tidak tahu diri," katanya lagi terus menyalahkan diri sendiri.


Helaan napas kasar pun terdengar memilukan, ia melihat ke atas langit memandangi awan berarak perlahan.


"Bunga magnolia bisa diartikan sebagai kesucian dan ketulusan dalam memberikan cinta kepada pasangan, tetapi... aku ingin memberikannya padamu sebagai ikatan persaudaraan."


Suara itu membuat Jasmine menoleh ke belakang melihat Ayana mengulurkan serangkaian bunga magnolia dan berjalan mendekat.


Senyum yang mengembang di wajah cantiknya membuat Jasmine terpaku dan menerimanya.


"Terima kasih, Ayana. Aku minta maaf sudah-"


"Shut, tidak ada yang perlu kamu minta maafkan. Semua baik-baik saja, Jasmine. Jangan merasa seperti orang asing, kamu keluarga bagi kami," kata Ayana tulus.


Jasmine terkejut dengan bibir ranum terbuka pelan. Ia terus memandangi sepasang jelaga karamel Ayana lekat melihat kehangatan memancar di sana.


Ia mengeratkan pegangan di tangkai bunga itu dan meyakinkan diri sendiri untuk mengungkapkan niatnya.


"Ayana, terima kasih banyak sudah membantuku selama ini. Bahkan kamu memberikanku tempat tinggal sampai sekarang."


"Aku tidak tahu harus membalas mu seperti apa. Kamu mau membantu wanita asing sepertiku tanpa rasa curiga sedikitpun. Aku banyak berhutang budi padamu, Ayana. Entah bagaimana aku harus membalas semua kebaikanmu ini. Aku-"


"Maka jangan membalas apa pun. Aku tidak pernah mengharapkan balasan apa-apa darimu, Jasmine. Aku membantumu, sebab... aku seperti melihat diri sendiri dan... aku tidak bisa mengabaikannya," potong Ayana cepat.


Jasmine tersenyum haru dibuatnya. "Terima kasih, Ayana... terima kasih banyak. Karena itulah aku tidak ingin terus menerus merepotkan mu. Aku... akan pindah dari sini."


"APA?"

__ADS_1


Pertanyaan itu pun berasal dari balik punggung Ayana. Mereka pun menatap ke arah satu titik memandangi satu orang yang tidak diundang kedatangannya.


__ADS_2