
"Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung." (Q.S. Ali Imran: 200)
Kegelisahan semakin kuat menyapa sanubari setelah sekian lama berpisah. Layaknya ujung tombak tak kasat mata dipakai untuk membenah serta menguatkan diri mencuat ke permukaan, seketika menghancurkan segalanya.
Air mata tidak bisa dibendung kala satu sosok yang menemaninya di ruangan melebarkan senyum. Hampir tiga bulan mereka terpisah jarak dan waktu, dan saat ini ruang waktu mempertemukan kembali.
"Kamu sudah sadar?"
Pertanyaan itu terus berdengung dalam pendengaran. Ayana berusaha sekuat tenaga menahan rindu kian membuncah.
Ia menangis tanpa suara membiarkan air mata mengalir tak berkesudahan. Rasanya terlalu banyak hal yang ingin ia bagikan, tetapi bibir pucat itu terus mengatup rapat.
Sosok tadi lalu duduk tepat di samping ranjang rumah sakit, mengusap puncak kepalanya sayang.
"Apa semuanya baik-baik saja?"
Pertanyaan lain yang diajukan menambah sesak dalam dada. Hanya di hadapannya saja Ayana bisa menjadi diri sendiri.
Sosoknya yang kuat menghilang memperlihatkan sisi cengeng. Alhasil pria di sebelah memberikan sentilan pelan di dahi.
"Bagaimana kamu bisa mengorbankan diri sendiri untuk melawannya? Kamu tahu Allah memberikan satu nyawa agar dijaga dengan baik. Kamu tahu? Kamu membuat Mas takut setengah mati," ujarnya mengusap pelan puncak kepala Ayana.
"Ma-Mas Danieal," panggilnya penuh linangan air mata dengan suara parau nan lemah.
"Iya ini aku, kakakmu yang tampan," candanya mencairkan suasana.
"Kapan Mas pulang? Kenapa Mas pergi tanpa memberitahu dan pamitan padaku? Apa di sana Mas baik-baik saja? Mas makan teratur? Mas tidak tidur terlalu malam, kan? Mas selalu saja lupa makan dan sering tidur malam. Mas-" tanya Ayana menggebu-gebu.
"Kamu selalu saja memikirkan orang lain. Satu-satu tanyanya Mas sampai bingung harus menjawab yang mana dulu," kekeh Danieal memotong pertanyaan sang adik.
Ayana terkekeh pelan masih memandang lekat kakak angkatnya yang sudah dianggap seperti saudara kandung.
"Pekerjaan di sana memang belum sepenuhnya selesai, tetapi Mas bekerja keras untuk bisa cepat pulang. Alhamdulillah, Mas bisa melakukannya dan sekarang ada di sini."
__ADS_1
"Sebenarnya Mas mendengar semuanya dari Bening... kalau kamu melakukan-"
"Aku memang harus melakukan ini, Mas. Aku ingin almarhum dan almarhumah ayah dan mamah bisa tenang di sana. Masalah hukuman apa yang akan diterima wanita tua itu aku menyerahkannya pada Allah saja," balas Ayana dengan wajah pucatnya.
Danieal terkesiap menyaksikan masih ada sorot mata ketegasan di sana. Ia bangga sekaligus terkejut dan takut pada tindakan yang dilakukan adik kecilnya, terkadang di luar dugaan.
Ia kembali menyentil dahi lebar Ayana sedikit kuat.
"Jika kamu melakukannya lagi, Mas tidak akan memaafkan mu. Ini pertama dan terakhir kali kamu mengorbankan diri sendiri," celotehnya memberikan peringatan.
"Aku harap seperti itu," kata Ayana setengah bercanda.
Danieal yang hendak memberikan sentilan lagi pun menghentikan pergerakannya di udara kala Ayana memalingkan wajah menatap satu titik di langit-langit ruangan.
"Barusan aku bertemu ayah dan mamah. Mereka sangat tampan dan cantik... mereka juga mengatakan jika aku tidak usah dendam dan harus memaafkan orang yang telah menyakiti kita. Karena semuanya sudah ada ketentuannya sendiri, apa Mas mengerti maksudnya?" tanya Ayana tanpa mengalihkan pandangan.
Danieal diam beberapa saat, mencerna baik-baik perkataan adiknya barusan. Ia mengerti bagaimana kalutnya perasaan Ayana kali ini.
Ternyata memang benar yang paling berbahaya itu adalah musuh dalam selimut. Mereka terang-terangan menyakiti secara halus dan memberikan luka begitu kuat.
Danieal menarik napas pelan dan menghembuskannya perlahan berusaha menenangkan diri. Jauh dari lubuk hati paling dalam, ia sangat ingin memberikan balasan setimpal pada orang yang sudah menyakiti sang adik.
"Ayah dan ibu pasti sudah sangat tenang di alam sana, tetapi mereka juga tidak ingin anak kecil satu-satunya ini terus terluka."
"Makna dari memaafkan itu ada dua, yang pertama kamu bisa memaafkannya dengan tulus dan mengubur semuanya sedalam mungkin, dan yang kedua kamu memaafkannya, tetapi proses hukum akan tetap berjalan sebagaimana mestinya."
"Kamu harus memberikan keputusan yang bijak Ayana. Karena kamu sudah memulai ini, jadi selesaikanlah, apa pun yang akan kamu lakukan, itu memang sudah menjadi keputusannya. Karena Allah juga tidak akan membiarkan seseorang begitu saja tanpa diberi balasan setimpal," ungkap Danieal membuat Ayana diam seribu bahasa.
Kata maaf memang mudah untuk diberikan, tetapi luka tidak bisa sembuh hanya dalam satu detik. Semua butuh waktu dan prosesnya tidaklah mudah, terutama luka batin yang kerap kali merambat menjadi sebuah depresi maupun trauma.
"Kamu juga harus ingat jika di sini masih banyak orang-orang yang mencintai dan menyayangimu," kata Danieal lagi.
Ayana hanya bergumam hm sebagai jawab dengan banyaknya pikiran berseliweran.
__ADS_1
...***...
Selepas menghabiskan waktu kurang lebih setengah hari bersama sang kakak, kini giliran rekan-rekan sejawatnya datang berkunjung.
Ayana yang sudah bisa duduk di ranjang pun memindai mereka satu persatu. Di sana ada Bening, Ratu, Haikal, Gibran, dan sang suami di sampingnya.
Mereka bersyukur keadaan Ayana baik-baik saja tanpa ada luka fatal. Semua orang juga mengatakan agar ia jangan lagi melakukan tindakan sembrono seperti tadi.
"Kalau aku tahu kamu mengorbankan diri sendiri untuk mendapatkan bukti konkret... aku tidak akan membiarkannya," celoteh Bening yang tengah duduk di ujung ranjang rumah sakit.
"Semua orang sangat khawatir padamu, Sayang," lanjut Zidan memandang haru pada istrinya.
"Jangan sekali-kali Mbak melakukannya lagi. Aku yang akan mencegahnya," timpal Gibran.
"Saya benar-benar kecolongan," kata Haikal ikut tidak percaya.
"Aku minta maaf, hanya saja... aku tidak percaya jika tetua Ashraf bisa melakukan tindakan sejauh itu. Beliau-"
"Kamu salah Ayana." Perkataan Ratu pun menarik perhatian.
Semua atensi mengarah padanya membuat wanita paruh baya itu mengulas senyum penuh makna.
"Dari awal kamu sudah tahu jika tetua Ashraf akan melakukan hal keji, kan?" tanyanya kemudian.
Mendengar itu Ayana pun ikut mengembangkan kedua sudut bibir pucatnya. Ia tidak menyangka wanita yang tengah duduk di sofa tunggal samping ranjang memiliki pemikiran yang sama dengannya.
Tanpa ragu Ayana mengangguk begitu saja, dan hal tersebut semakin membuat yang lain terkejut tak karuan.
Mereka tidak menyangka penilaian Ayana terhadap tetua Ashraf sudah sejauh itu. Bahkan Zidan dan Gibran selaku cucu kandungnya pun tidak mengenal sang nenek sedalam pemahamannya.
"Karena dari awal saya mendapatkan jika pelakunya tetua Ashraf... saya sudah menduga temperamennya seperti apa ketika menginginkan sesuatu," ungkapnya kemudian.
Ratu masih melengkungkan bulan sabit sempurna dan mengangguk paham.
__ADS_1